Thursday, July 18, 2019

Renungan Milad ke-7 Tahun LKC Dompet Dhuafa Aceh

Sudah 7 tahun Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Aceh berdiri. Sudah 7 tahun pula lembaga ini berbakti bagi Aceh, khususnya Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya. Sudah 111.483 jiwa yang menerima manfaat program-program kesehatan yang diluncurkan sejak 17 Juli 2012 silam hingga kini. Keberadaan 1 Gerai Sehat selaku klinik kesehatan tingkat pertama biasa pun bermetamorfosis mulai dari hanya melayani pasien member dhuafa (yang sudah terverifikasi) hingga kini sudah bekerjasama dengan BPJS agar lebih terintegrasi dengan layanan spesialistik di rumah sakit. Melayani lebih 80.000 dhuafa di klinik dengan segala lika-likunya, hingga memiliki beberapa komunitas binaan baik di desa-desa, sekolah dasar, kampus dan posyandu, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (ke depan akan disingkat dengan LKC) Dompet Dhuafa Aceh tak lepas dari proses bertumbuh yang luar biasa.

Semua proses pengembangan program tak luput dari banyak kegelisahan, harapan dan coret-coretan baik di atas kertas atau pikiran. Mungkinkah? Bisakah? Akankah? Lalu belum lagi dengan rintangan yang pasti sudah menanti di hadapan; sulitkah? Rumitkah? Menyerah sajakah? Diperjuangkankah?

Lalu semua pertanyaan tadi menemukan jawaban demi jawabannya. Membentuk program-program yang menemukan alurnya dalam memenuhi target dan tujuannya. Terkendala, dirapatkan, dicarikan solusinya, lalu berjalan kembali. Sungguh, di balik segala pencapaian LKC Dompet Dhuafa Aceh, ada banyak tenaga dan emosi yang terkuras. Ada banyak keluarga para karyawannya yang sabar memberi dukungan dari rumahnya masing-masing demi berjalannya tugas di lapangan. Ada banyak turun tangannya masyarakat dalam memastikan jalannya program sesuai rencana. Ada mitra-mitra dan donatur (ada lebih dari 50 lembaga/organisasi yang tercatat logonya, ratusan yang bersedekah dengan berbagai jumlah nominal) yang mendukung proses-proses LKC Dompet Dhuafa Aceh menuju tujuan sekaligus tagar yang kitausung sejak beberapa waktu ini, #SehatMilikSemua.

Meski secara usia LKC Dompet Dhuafa Aceh baru bisa masuk SD, ada 13 SD/MI binaan kita di Banda Aceh & Aceh Besar. Sejak 2015, kita mengembangkan Program Unggulan Anak Indonesia Sehat hingga hari ini di sekolah-sekolah tersebut dengan penekanan kuat di pengembangan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Menjalin hubungan mitra di tingkat kecamatan, desa dan dewan sekolah agar terintegrasinya dukungan dari berbagai pihak terus dilakukan. Memunculkan banyak pertanyaan tentang bagaimana program ini bisa terus berjalan meski LKC Dompet Dhuafa Aceh tak sedang turun ke sekolah. Pertanyaan demi pertanyaan terekam di notulensi. Untuk lalu mencari arah diskusinya. Arah solusinya.

LKC Dompet Dhuafa Aceh juga kini memiliki 8 posyandu binaan yang juga masih berlokasi di Banda Aceh & Aceh Besar. Kesemua posyandu itu juga dibina dengan banyak sekali pertanyaan. Bagaimana cara menjalankannya? Apa menu PMT (Pemberian Makanan Tambahan)-nya? Sudahkah semua kader paham pentingnya 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan)? Bagaimana jika ada yang kesulitan menyusui? Kooperatifkah bidan desanya dalam mengampu jalannya program?

Belum lagi pasien-pasien dhuafa yang meski sudah memiliki BPJS, namun tetap terkendala rutin datang ke rumah sakit rujukan provinsi di Banda Aceh untuk mengambil 400 kantong NaCl untuk keperluan cuci darah sementara mereka berada di Subulussalam (kurang lebih 9-11 jam perjalanan darat). Lalu kitapun berusaha membantu mengambilkan ke rumah sakit. Mengirimkan dengan ongkos kirim Rp. 500.000 per bulannya (dan ada 5 pasien dengan kebutuhan yang sama) dengan sebuah pertanyaan; sampai kapankah kita bisa membantu mereka? Mampukah kita secara finansial membantu mereka yang sakit kronis ini terus-menerus?

Hingga kini 2 dari 5 pasien cuci darah di atas akhirnya menghembuskan nafasnya, kitamasih membantu mengambilkan dan mengirimkan kebutuhan pengobatan mereka untuk terakhir kalinya. Lalu pasien-pasien dengan macam-macam diagnosa lainnya; meski sudah memiliki BPJS namun masih butuh transportasi, butuh pendampingan (sebab belum paham harus ke mana dan bagaimana di Banda Aceh) dan segala hal-hal operasional lain yang tidak ditanggung BPJS, kemanakah mereka akan mencari? Kitaterus bertanya dalam hati. Meski dengan hanya 1 mobil ambulans, LKC Dompet Dhuafa Aceh masih rutin mengantar dan menjemput puluhan pasien dari desanya ke Gerai Sehat atau rumah sakit setiap minggunya, sesanggup-sanggupnya.

Dengan segala pergerakan zaman, LKC Dompet Dhuafa Aceh mulai menyesuaikan irama. Mencoba mengabarkan pada dunia mengenai semua pertanyaan kitadi media sosial. Bermimpi suatu hari bisa mengelola akun Youtube agar bisa menceritakan kepada dunia apa yang para pasien dhuafa rasakan serta bagaimana program-program kesehatan lainnya masih dibutuhkan di banyak area terpinggir dan marginal. Berharap bisa mengelola lebih banyak corong suara agar makin banyak yang bisa bermitra dan bergerak bersama dalam mewujudkan, lagi-lagi, #SehatMilikSemua.

Kini, mengelola 9 Pos Sehat dan Komunitas Senam, LKC Dompet Dhuafa Aceh mulai memasuki pintu baru yang lebih besar pertanyaan-pertanyaannya; bagaimana pendekatan terbaik mengajak mencegah terjadinya banyak penyakit terutama PTM (Penyakit Tidak Menular)? Bisakah? Mungkinkah? Akankah? Kita terus berupaya mengadakan pelatihan, penyuluhan, kampanye dan berbagai tools lainnya. Namun menjajaki jalan promotif dan preventif kesehatan ini tak bisa sesegera efek Paracetamol bagi yang sedang mengalami nyeri. Masih panjang jalan yang harus ditempuh menuju penguatan status kesehatan masyarakat dari segala level. Ya, bahkan jika fokus kami adalah kesehatan dhuafa, tanpa berfokus pada status kesehatan masyarakat secara umum pun tak bisa. Sebab pada akhirnya, status kesehatan masyarakat adalah hasil dari tak hanya dhuafanya, tapi juga masyarakat umum dalam satu daerah tersebut. Kita berpikir, mengembangkan program kesehatan bagi masyarakat umum (yang tentu saja sesuai kriteria) justru adalah tool yang sangat baik dalam meningkatkan status kesehatan para dhuafanya juga di daerah tersebut.

Maka di sinilah kami, masih terus bertanya dan bertanya. Untuk terus menemukan jawaban demi jawaban. Agar bisa terus berbakti. Agar terus bisa bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat. Agar mampu mewujudkan mimpi-mimpi yang tertunda. Demi kemanusiaan. Demi kesehatan. Demi kebaikan. Demi bangsa dan ummat yang lebih sehat, baik raganya, maupun jiwanya.

Milad mubarak ke-7 tahun, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Aceh.

Teruslah “bertanya” tiada henti.


dr. Nuril Annissa Niswanto,
Banda Aceh, 17 Juli 2012 – 17 Juli 2019.

Saturday, July 21, 2018

"What am I Doing for My Life Right Now?"

"Kapan sekolah lagi?"

"Kok ga kerja di X/Y/Z, kan gajinya banyak di sana!"

"Ngapain kerja di puskesmas, bakti pula, ga jelas kan?"

"Kerja? Ninggalin anak di "sekolah"? Cepat kali ninggalin anak!"

...And all comments are out there sprawling around like they're supposed to "adorn" our lives as always.

Oh, I'm writing this after months of not saying anything here. I feel so wasted by not doing so. But it really is my forever-heart-to-read. Entries I post here means things I'm ready to open up for. And that requires more and more energies nowadays to do so.

I once didn't think much when comes to writing myself up here. I was like, judge me please I won't care. But coming to this age of 2 years less than being thirty, I got this "boundaries" even closing up. No, it is not for the fear of being judged personally. It is more about what judgments my close ones would receive. I mean, less opening ups mean less dramas, less controversies thus my family and I would go on with my life without any pressure. For example, I have turned off my birthday notification on Facebook for the past 3 years. Just because. And I'm not planning to do the vice versa soon. This one thing actually feels so good; to have your birthday as a solemn thing between you and your close relatives and friends.💙

But, it itches me inside. Since the initial purpose of having a blog at all is to be read publicly. To spread awareness, to challenge the odd of being unfair, to show where I stand among so many issues out there in world, including the on-going illegal occupation by Israel upon Palestine. Then coming back to this, I'm asking myself a lot of question in the past 4 years; since I got my self tied to a special love-bound-from-Above named marriage. It turned out that the only humanly attentions that matter most are only from your family, your spouse, your child. Other than that are something that shouldn't define much of ourselves. But, as my husband always urges, I need to go out there and keep searching for "what I'm made for". For it is really important to find what we're actualizing for in this life. And if you have been out, and still want to come home, you will always have a place to return. I'm at ease, but I was still struggling with myself then. And it ended up I prolonged the domain without writing as I believe, one day I'll come back to it.

As far as I can recall, I rarely write in English here. And uniquely, I get to be more flowing when writing in English. So for this kind of entry, this suits me the best. And probably, this will be my "ride" for a while to release up much from within.

So, back to the question of "what I'm doing for my life right now". Basically it turned out, apparently, I love being married and having a family. I once thought that being committed means being tied and limited in so many aspects. But I know now I was wrong. In the past 4 years, I have come across so many lessons to learn from. And they ultimately are forming what I am now.

I got married on October 2014. On June 2015, My husband and I decided to go on with the option of me having compulsory internship as an MD out of town; long distance marriage for a year did leave us so many tears and memories in one of those "life folders" of mine. I gave birth to my son in March 2016. He was a special one born with asphyxia, low birth weight and ABO incompatibility. Up to this point I'm writing this, he's been hospitalized for 4 times. Once for being born prematurely, once for heavy dehydration from excessive vomiting due to bacterial infection, twice for having febrile convulsions. I mean, he's so strong I break my walls of tears all the time. All these years of having him since birth, I cry a lot questioning myself, doubting much of me being a mother. My husband kept telling me that i can't keep blaming myself up. For no matter how hard we try, life will always find a way to test us.

And here I am having a stand in my life holding to a never-ending hope. That I try. That I go on. That I move up, not just on.

I went on to work in Puskesmas nearby for one year 2017-2018. It was good in work hour (I got to go home at 1 PM, Monday-Saturday, breastfeeding Bilal was so great with this timing) but definitely not a work for earning money from. I was working there for a learning process. And learning process it was. I did not hope much for financial convenience, and apparently it disturbed so many people so they started questioning me. My husband would be the first to support my "learning process". For my bigger dreams in the future depend on what I understand of about the grass root. And there was not enough experience during internship at Puskesmas for only 4 months. I needed more, a year would be sufficient, I thought. And there I was, learning so many things without much I could describe here in my blog; the ups, the downs, the cheers, the heats, the cools ect. A year went by without me telling a lot about it. But one thing for sure, that one year experience being an MD in Puskesmas provided some insights needed in my current job of being the director of Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Aceh since this July 2018.💚

My son doesn't stay at home with a specific paid-baby sitter. We don't have any assistance for household chores for so many reasons; mainly because we know how it feels years ago, we used to have so many to help us around and it didn't turn out well most of the times. So having a son while I still go to work, we decide to have him enrolled in a Toddler Class half day. He doesn't get taught of reading and counting; that we want to postpone until he turns 7 year old later. The class we chose is all about semi day care with activities suitable for the toddler ages. And the caretakers, alhamdulillah, met our expectations after once choosing one wrong school a year before. Now I'm at ease, my son is not fed with TV and gadgets while we're away, but with other activities. We introduce him to digital life, yes, but it is from my husband and I, he knows about it, not from other people. I wouldn't elaborate so much about this working mom vs stay at home ones. I guess if you ever surfed this blog, you would know where I stand on this issue and I prefer not to have the debate elongated.😉

And the story will keep rolling. All these "ties" of having a family never chain me up; instead, they make me feel anchored so i would sail life with something to hold on for. We'll see soon where I will end up at later. So, what am I doing with my life right now? I don't know. I'm still walking on it.😊



Monday, October 2, 2017

Kapan Terakhir Kali

Kapan Terakhir Kali?

Kapan terakhir kali
Kita menelusuri ruas jalan kota
Sambil tertawa di balik helm yang pelindung wajahnya tutup-buka
Mengenang masa tersenyum diam saat ditanya "kapan nikah" oleh dunia

Kapan terakhir kali
Kita duduk memandangi Pulau Weh dari tepi Alue Naga
Sambil menyeruput teh dingin dan mie rebus sekedar ala-ala
Lalu malu-malu wefie sambil menyembunyikan kamera di balik meja

Kapan terakhir kali
Kita berbicara menjelaskan satu-dua
Tentang hidup sebelum ikatan diberi tanda
Sampai-sampai porsi makanan tak terjamah habis hangatnya

Kapan terakhir kali
Kita membagi kejutan-kejutan mesra berupa
Bunga atau hadiah yang disembunyikan sedemikian rupa
Merayakan entah Kamis keberapa

Kapan terakhir kali
Kita berhenti menyatakan cinta
Sekarang personifikasi nanti metafora
pada kata-kata dan pesan suara Whatsapp tak berjeda

Kapan terakhir kali
Kapan terakhir kali
Kapan terakhir kali

Jika yang kuhitung kapan terakhir kali
Maka aku akan lupa mengira

Bahwa pelukanmu tanpa kata saat aku menahan nyeri pasca operasi
Bahwa tiba-tiba pesan masuk memberi tahu pulsa baru terisi
Bahwa kaurapikan lagi dan lagi serakan barang oleh sang buah hati
Bahwa kaumenyisihkan banyak tapi bukan untuk dirimu sendiri
Bahwa kau selalu mengatakan, bahwa kita masih romantis yang dini

Yang tak lagi terkurung bunga
Yang tak lagi terikat waktu hampa
Yang tak lagi termakna rayuan jenaka

Tapi tangan yang menggenggam menghangatkan
Atau menarik panas saat demam menyerang sang pasangan

Tapi ciuman di dahi dan punggung tangan
Saat hendak berpisah sejenak baik kerja atau perjalanan

Tapi seminar dan kelas orang tua yang meminta harga
Yang kita hadiri meski bukan berlimpah tabungan harta

Tapi bahagia yang tak terukur bulan madu ke mana-mana
Melainkan cukup kerupuk lampu merah dua puluh lima dapat tiga

Sebab kita bukan lagi kasih sayang antara dua
Melainkan kedamaian berjumlah tiga
Hanya Tuhan yang tahu, bila menjadi lebih dan meriah

Dan ketahuilah, Sayang
Belum ada terakhir kalinya
Kau atau aku berhenti mengucapkan cinta
Mungkin tak banyak lewat kata
Tapi dengan segenap jiwa, raga dan bait-bait doa




2 Oktober 2014 - 2 Oktober 2017

Sudah 3 tahun, dan semoga terus bertambah hingga kita bisa terus anniversary di surga sama-sama. 
Allahumma amin..


Sharing Perlengkapan ASI Eksklusif Bilal Part 6 (habis); Manajemen ASI Perah

Nomor satu, mari kita ingat kembali bahwa produksi ASI sangat erat kaitannya dengan psikologis sang ibu. Makin rileks, makin hepi, makin ikhlas melalui satu demi satu proses menyusui, makin insya Allah akan dicukupkan ASI-nya oleh Allah.

Iya, cukup. Saya ga bilang banyak atau melimpah. Sebab Maha Suci Allah yang memberikan kecukupan rezeki bagi setiap ciptaan-Nya, termasuk anak yang dititipkan melalui rahim kita. Dan definisi "cukup" tiap individu itu berbeda. Jadi jangan minder lihat yang lebih, jangan jumawa lihat yang kurang. ☺

Oke, kapan jadwal paling baik untuk mompa/merah ASI?

1) Saat ASI sudah keluar namun belum maksimal. Perah setiap 2-4 jam sekali. Konsistenlah, insya Allah hasil perahan akan meningkat pelan-pelan, sambil tetap coba nenenin langsung (baik si bayi uda ngerti ngisap ASI-nya atau belum) sesering mungkin buat mancing produksi ASI.

2) Beberapa saat sebelum jadwal menyusui si bayi. Biasanya kita kan tau setelah beberapa hari, si bayi ini kebiasaannya gimana. Nah, jika si bayi kira-kira setengah jam lagi akan bangun, perahlah. Tenang, bahkan saat kita kira payudara kosong, mekanisme suckling bayi secara fitrah tetap memancing ASI insya Allah. Bayi adalah "pompa ASI" paling hebat sedunia, percayalah! 😊

3) Malam sampai pagi. Sebab hormon prolaktin paling banyak diproduksi pada waktu tersebut. Buat yang sering/rutin mompa pasti ngeh dan sering "kejar setoran" pas waktu ini. Terutama jika bayi sudah mulai tidur lebih lama sebab sistem cernanya mulai makin sempurna (biasanya usia >3 bulan). Bayi bobo, emak mompa sambil merem. 😴

4) Jika payudara masih penuh sementara bayi sudah/masih kenyang atau sedang ingin main & ga mau nyusu dulu/GTM sebab tumbuh gigi dsb. Pokoknya ingat, kosongin payudara sering-sering = mancing ASI lebih banyak lagi insya Allah.

Jangan lupa berdoa sama Allah. Minta diberi kekuatan, kemampuan dan kesabaran. Jadi ibu itu ga mudah tapi ga boleh nyerah. Semoga melalui ASI kita Allah memberi sumber energi bagi anak kita untuk jadi generasi terbaik di masanya. Allahumma amin. 😊

Berikut captured from buku #CatatanAyahASI tentang #ManajemenASIP alias #ManajemenASIperah. Cekidot.

✔ Botol kaca preferred; ASI ga nempel
✔ Botol plastik oke, asal BPA free
✔ Botol harus bersih + steril
✔ ASIP jangan penuh botol sebab memuai
✔ Pake plastik khusus ASIP boleh
✔ Jangan plastik es lilin tapi 😅
✔ Takaran diset sekali minum






#SharingPerlengkapanASIXnyaBilal partise terakhir (huff akhirnyaa, atau well, sementara haha), masih dari buku #CatatanAyahASI tentang #ManajemenASIperah atau #ManajemenASIP dalam hal #penyimpananASIP
✔ ASIP fresh suhu kamar (16-29C) tahan 3-4jam
✔ Jika kamar bersih+sehat, 6-8jam
✔ Dengan #coolerbag + #icepack/#icegel (15C) 12-24jam
✔ASIP fresh di kulkas bawah (4C) 48-72jam
✔Jika ruang ASIP diperah bersih+sehat, 5-6hari
✔ASIP mencair dari beku, 24jam
✔ ASIP di freezer (beku) tahan 6 bulan (ideal)
✔Atau boleh sampai 12 bulan jika terdesak
✔ Gimanapun upayakan perpendek usia ASIP
✔ Penggunaan <8hari di kulkas bawah saja
✔ Zat anti bakteri ASI lebih tahan di kulkas bawah
✔ Yang di atas cuma panduan umum
✔ Kalau bayi masih mau meski lewat waktu+belum berubah bau dan rasa, coba  berikan dulu pada bayi.

Banyak baca dan belajar lagi aja yaa. Semua yang di sini cuma seuprit dari ilmu tentang ASI yang sesunguhnya. Saya share sebab saya ingat slogan Bang Azwar Hasan​, I share therefore I am (truly meaningful, bang!). Lebih kurang pasti ada. Semoga bermanfaat! ^^