Tuesday, December 18, 2007

18 Desember 2007

sudah 18 hari aku berada di Aceh lagi, di Indonesia lagi.
banyak hal yang terjadi di dalam 'sini' dan di luar 'sana'.
lebih banyak sendiri di rumah dan menghabiskan waktu dengan menukar-nukar channel TV karena acaranya tidak ada yang menarik hatiku, atau hal-hal tak tetap dan pasti lainnya.
sempat diminta menjadi interpreteur bagi jurnalis asing untuk sehari, tapi setelah itu tawaran bekerja lain belum ada.
sempat diajak keluar sama teman-teman ke Unsyiah Fair 07 (nonton konser Maidany hehe), terus ke... mana lagi ya? tidak ada!
kalau malam lebih terasa lagi nganggurnya.
biasanya ada PR yang kutunggui,
sekarang PR adik-adikku yang kumentori, jika tidak, mmm... ikutan nonton sinetron di TV tapi dengan pikiran kosong.
bukan tidak menyukuri keadaan,
aku sempat menggunakan waktu untuk menulis tulisan-tulisan fiktif untuk koleksi pribadiku,
sempat nongkrong di Furqan Agency buat boyong kaset nasyid baru dan majalah An-nida yang sudah beberapa tahun tak kujamah, mengunjungi sekolah lamaku untuk menjalin silaturrahmi lagi dengan adik-adik kelas sambil membenahi lagi tim nasyid akhwatnya yang memang butuh pelatih 'serius' (seribu jurusnya hehe), de el el.
tapi kesibukan-kesibukan seperti itu maya, tidak pasti.
walhasil?
aku gamang, sering sendiri.
mau kubagi dengan teman-temanku di sini keasingandan kebosanan ini,
kasihan... mereka kan sudah kuliah, sudah ada kesibukan lainyang lebih berarti.

sebenarnya salah sendiri,
mengapa tidak mencari kegiatan lain yang bermanfaat?
waktu itu ada untuk digunakan sebaik mungkin kan?
ok Tuhan, aku mohon jangan matikan lampu lima watt itu di hatiku agar aku tetap bisa membaca di kamar rinduku sendiri.....

baiklah, mau mengisi waktu lagi ni,
mau jumpa dengan kak Fardelyn Hacky Irawani dulu ya (kenalnya juga lewat multiply!)




*pembaca, ada sugesti?

Friday, December 14, 2007

namanya dimulai huruf N

yup, namanya dimulai dengan huruf N,
orangnya selalu menganggap dirinya yang paling manis, baik dan terpuji.
kalau udah ada kamera di tangannya yang dipoto pasti mukanya sendiri.
kalau lagi nulis di blognya pasti yang ditulis tentang dirinya.
kalau ada dua pilihan; dirinya atau orang lain, dia pasti memilih dirinya.
jika ia memang harus memilih lebih jauh, ia tentu tetap memilih dirinya.

moyangnya dulu mati karena tidak makan dan minum karena terlalu lama bercermin; biasa, ngaca diri yang dianggap terlalu mengagumkan.
pengikut orang ini banyak pula di seluruh dunia, terutama di Indonesia.
mau bukti?
punya friendster, myspace, facebook atau semacamnya?
nah, kalau punya dilihat saja, pasti ramai yang memiliki ciri-ciri di atas.


mmm.... siapakah si N ini?
*gak usah buru-buru jawabnya, ga ada hadiahnya kok wehehe..

Saturday, December 8, 2007

kuhidupkan radio...

dan kudengar berbagai suara.

"Kirim akuuuuuu malaikaaaat-Mu!!!", kata si Bunga Citra Lestari.
atau "I'm sorry goodbye...."-nya Krisdayanti.
terus si Gita Gutawa bilang gini, "Aku ingin jatuh cinta. Papa, biarkan aku..."
sementara si... siapa sih tu,
pokoknya gini nih si 'itu' nyanyi,
"Oh, kamu ketahuaaaan! ketahuaaan!" ni lagu sering dinyanyikan oleh adik-adik saya di rumah juga lagi! aduh pusing deh.

terus muter2 lagi salurannya
eh malah gini,
"Panas, panas, panas, panaaaas badan ini!", ini nih si Gigi. kepanasan katanya. tapi kata penyiarnya kok judulnya "Nakal" sih?

ah, apaan sih?
kok gini sih?
kenapa sih?
sih sih sih sih sihaaaaan deh loeeee!!!
hehe.

ehm, ehm, jadi kubuka televisi.
dan berbeda dari tahun lalu di mana sinetron-sinetron pada berlomba-lomba ingin membuat cerita yang religi dan berdasarkan kisah nyata dari majalah 'ini' atau 'itu',
sekarang sinetron-sinetron yang ada judulnya pada nama orang semua!
yang "Cahaya" lah, "Mutiara" lah, "Fitri"-lah, "Safira"-lah, "Aden aden Lumut" lah,
huff....
semuanya juga tentang hal yang sama; tentang seorang wanita lemah, miskin dan lugu dan dicintai oleh seorang pria yang kaya, santun de el el.
atau wanita kaya, terus prianya miskin.
atau dua-duanya miskin,
atau dua-duanya kaya; intinya kita muter-muter di isu keuangan lah (whaaat???)
aaaaah, yang jelas, wanitanya semuanya berkarakter mirip; lugu, lembut, CANTIK (obviously!) dan disukai semua orang.
terus prianya berkarakter GANTENG (biasanya aktornya blasteran walaupun berdasarkan ceritanya harus anak pribumi asli.. ah,kacau deh), baik, lembut de el el.
ada ibu perinya,
ada ilmu sihirnya,
dan ada keajaiban-keajaiban lainnya.
belakangan saya baru sadar,
yang memproduksi sinetron-sinetron tersebut itu ternyata rumah produksi yang sama,
PANTASLAH!
terus gak ada "Ani" atau "Budi" gitu?
itu kan nama-nama yang sering disebut-sebut waktu kita semua kelas satu SD dulu!
lebih Indonesia lagi!

kumatikan televisi,
kuhidupkan lagi radio,
aku memang lebih suka mendengar dari pada menonton.

dan kali ini aku terpaku; Letto.
dari dulu hingga sekarang aku tak begitu tertarik dengan musik pop Indonesia.
bagiku semuanya seperti gombal tak menentu.
paling banter kudengarkan lagu-lagu mereka jika 'kejombloanku' kambuh SEKALI-KALI,
itu pun tak pernah lama, biasanya juga akan segera kutukar dengan lantunan-lantunan lain dari Saujana atau Inteam.

namun Letto lain.
well, aku rasa lain.
lagu-lagunya secara tidak langsung bermakna parallel.
cinta yang mereka suguhkan terasa lebih luas dan lebih bisa diartikan dengan makna yang lebih banyak.
rupanya aku tak sendiri berpikir seperti ini,
salah satu temanku mengiyakan bahwa mereka memang bermaksud untuk membuat lagu-lagu mereka parallel dari awalnya! (tau dari infotainment ya neng? hehehe)

ingatkah kau kepada embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya?
ingatkah kau kepada angin yang berhembus mesra,
yang kan membelaimu, cinta!


intinya sih tetap sama, aku tak pernah dan bukan penggemar sinetron-sinetron dan lagu-lagu pop itu. makanya tiap malam aku selalu tidur lebih awal sekarang; dari pada melek ngeliatin aktor-aktor yang nyoba nangis tapi nangisnya nangis bawang bombay atau lagu-lagu yang merayu-rayu tapi rayuannya malah makin tambah ngantuk.






Monday, November 26, 2007

interval- isi hatiku.

Apa yang seharusnya bisa ditulis ketika pikiranku tertutup searak awan kelabu tipis yang tak berbentuk? Menggelayuti setiap helaan nafas dan detakan jantungku yang mulai tak teratur. Awan itu juga mengikuti setiap langkahku, setiap detik, setiap menit, setiap jam. Hingga aku pun mengaku kalah dan mengajak berbicara…
“Jadi, siapa dirimu?”, aku membuka percakapan.
“Kau kira aku siapa?”, balasnya bertanya.
Aku diam. Aku benar-benar tidak siap dibalas demikian. Aku tahu jawabannya, tetapi aku tidak mau mengakuinya. Simalakama.
“Jawab…”, bisiknya pelan.
“Aku, … aku tidak tahu.” Final ucapanku.
Ia menyandarkan punggungnya ke langit biru, mencoba mencari pegangan.
“Jangan berbohong padaku.”, serunya pelan dan tenang setelah ia benar-benar terpancang tenang di langit di atas kepalaku.
Aku menghela nafas panjang tanpa suara. Kiranya tak berguna perlawanan ini. Kuakui saja.
“Kau isi hatiku.” Lantas aku pun mengatup rapat.
Ia tersenyum. Kedua belah tangannya pun bertepuk dua kali; jawabanku benar.
Kupalingkan wajahku ke kehijauan semak di pinggir kananku. Aku malu.
“Apa yang membuatmu menghindar mengakuinya untuk beberapa waktu?”, tanyanya lagi.
Kulirik ia dengan seribu emosi. Bukankah ia tahu semuanya? Mengapa ia harus terus bertanya?
“Kau tahu semuanya. Berhenti bertingkah seperti pengacara pencari-cari kesalahan klien.” Jawabku datar.
“Tapi aku bertanya bukan karena ingin mengetahui jawabannya. Aku ingin menolongmu.”, disuruhnya angin yang berdesir untuk mengunjungi keningku, mengecup sekilas.
Keningku yang baru dikecup tadi pun berkerut tegas. Menolongku?
“Bagaimana?”, ketusku.
Ia semakin tersenyum. Kadang-kadang aku heran, bagaimana mungkin ia tersenyum di tengah kekelabuan dirinya (yang juga diriku). Apa yang ia minum atau apa yang ia makan?
“Kau butuh teman berbicara… seorang teman berbicara yang setia. Bukan yang selama ini kau kunjungi sekali-kali.”, lanjutnya. Ia terlihat lelah, sangat lelah. Batuk di sana-sini menyelangi, namun tatapannya masih memandang dalam. Aku salut akan cintanya padaku. Tapi aku terlalu angkuh; aku hampir tidak pernah mengunjunginya. Biasanya aku mendatangi beberapa kemayaan lewat layar yang lebih maya lagi.
“Dan.. kau mau menjadi ‘teman’ itu? Begitu maksudmu?”, selidikku.
Ia mengangguk. Masih pelan.
“Aku tidak begitu jauh darimu, tapi kau selalu menghindariku. Kelabuku sudah terlanjur kau ciptakan. Tak hendakkah kau memperbaikinya?” matanya makin sendu.
Aku sebenarnya terharu sangat. Ingin kudekap dirinya dan menyatu lagi denganku. Tapi aku masih terlalu angkuh untuk itu.
Kelabunya benar-benar menarik perhatianku. Itu aku yang ciptakan. Tapi aku malah takut untuk melihatnya, takut untuk berbicara dengannya yang makin kelabu. Aku selalu mencoba menghindar.
Aku memandang lurus. Ada kereta angin lewat sepintas.
“Kau tahu, kelabu itu dari siapa?” aku bertanya. Retoris.
Ia menggeleng lemah. Ia benar-benar tak bertenaga banyak lagi. Dan aku masih angkuh.
“Dari kemayaan duniaku. Dari kemayaan yang selama ini kugeluti. Dari kemayaan yang selama ini kupikir bisa membawaku terbang tinggi.” Pandanganku masih lurus.
Ia menghela lambat.
“Kau tak mau merubahnya? Tak mau pergi dan meninggalkan kemayaan itu?”, tanyanya lagi.
Kini aku yang menghela lambat.
“Aku tidak sanggup…”
“Tapi kau harus!”, ia mencoba terlihat tegas- tapi tetap lemah.
“Bukan tidak kucoba, tetapi…” aku tidak bisa menghabiskan sisa kalimatku.
“Tetapi kenapa?...”, kini ia terlihat sangat terpukul. Aku yang selalu terlihat tegar dan kuat ternyata bisa menyerah juga.
Ah, aku pusing. Aku hanya ingin menari dalam kesendirian. Biar Dia yang menjawab semua tanyaku.
“Dan kau mau aku hilang begitu saja?” tanyanya lagi. Kali ini jari-jari tangannya dimain-mainkannya; resah.
“Bukan, bukan begitu!”, elakku.
“Lantas apa?”, matanya berkaca-kaca.
“Kau terlalu cengeng, itu mengapa.” Aku mencoba berpaling.
Kini ia bersedu-sedan. Aku pun sebenarnya sedih.
“Baiklah, biar aku pergi saja. Temui hati lain untuk kau miliki. Mungkin hati yang lebih sering diam dalam renungan tentang-Nya tidak lagi cocok untukmu. Kau sudah terlalu asing. Kau merenungi hal lain sekarang.”, keluar juga isi hati dari isi hatiku.
Aku kecewa. Aku tidak mau dilabel seperti itu. Aku belum berubah. Aku masih yang dulu. Aku hanya butuh waktu untuk merenungi diri lagi. Aku benar-benar gamang.
Tiba-tiba kutantang langit.
“Tuhan, jika Kau memang di situ, tunjukkan padaku; apa hati kelabu ini masih milikku atau tidak! Tuhan, jika Kau memang Satu, lerai perselisihanku dan hatiku! Tuhan…” suaraku mulai serak. “Kumohon dengan sangat…”
Tanpa sadar, air mataku pun tumpah. Sebelum kusadari lebih jauh, sudah kudekap lagi bagian dari diriku yang telah lama menghilang itu.
Preston, 26 November 2007

Monday, November 12, 2007

Sebuah Balada di Tepi Danau

Beburung berdzikir di kandang Raudhah,

Menyambut azan di tabir senja…

Insan berkasih kerana Allah,

Bertemu, berpisah kerana cinta-Nya…

-Aisyah, dalam film “Syukur 21”

Teringatku akan sebait puisi itu yang pernah mati-matian kuhafal ketika masih di tsanawiyah dulu. Aku, yang masih berumur tiga belas tahun pada saat itu, mengaku bisa merasakan arti puisi itu dengan sebaik-baiknya. Tahu apa kau waktu itu, cibirku sinis.

Sepersekian detik kemudian, kutepis cibiran itu jauh-jauh. Bagaimanapun juga, bait itu telah berjasa banyak. Berapa puluh kali telah kugunakan bait itu untuk menghibur keresahan dan kegundahan orang lain? Berapa kali telah kusebut-sebut sendiri bait itu setiap kali aku akan berpisah dengan orang-orang yang kucintai? Berapa kali bait itu menginspirasi bait-bait pribadiku dalam wujud puisi-puisi tak berbunyi?

Apa karena ia yang mengucapkannya berwajah manis dan bersuara bak pembuluh rindu? Atau karena ia mengucapkannya kepada seseorang yang dicintainya namun harus berpisah setelah itu? Atau karena kesensitifitasanku atas bait-bait semacam itu?

Aku bingung dengan apa yang sedang kupikirkan.

Aku juga bingung dengan apa yang kulakukan saat ini. Tiba-tiba kudapati diriku telah duduk bersandar di sebuah pohon di tepi danau dekat sekolahku. Memandangi langit yang kebetulan biru, meresapi angin semilir yang membelai pipiku, membiarkan musik-musik bermain di telingaku sementara buku kimiaku tertutup rapat di pangkuanku.

Seekor angsa hitam melintas sendu di tengah danau yang sedang kupandangi. Beberapa bangau dan itik-itik cantik ikut meramaikan ballet alami ini. Ada sebuah pertunjukan di sini, pikirku. Mengapa tidak menjadi seorang penonton yang baik?

Slowly slow my child,

The world waits for you…

And your window of time,

Will come shining through…

Slowly slow don’t rush you know,

It’ll all come easy…

There’s something you can’t take back nor regret

For what you’re gonna get,

Need some thinking down the lead…

-Zain Bhika, “Slowly slow”

Perlahan suara merdunya melantun di telingaku. Ia sedang bernyanyi kepada anaknya. Menyuruhnya untuk pelan-pelan, tenang dan semuanya akan berjalan dengan baik. Butuh pemikiran sebelum membuat keputusan, katanya. Karena jika tidak, sesal selalu datang pada akhirnya…

Pipiku basah. Aku menangis. Angin semilir tadi terasa lebih dingin. Aku masih diam. Tak kutahan isakanku, tak ada orang di sini, pikirku.

Beberapa itik terbang rendah dan menyisir danau dengan kepakannya. Masih semilir anginku, turut terbelai pula daun-daun hijau baru di atasku.

Kupandangi langit lebih tajam. Tidak ada awan hari ini. Birunya sangat biru. Seakan-akan laut Bandaku telah berpindah ke atas situ.

Kugiring pandanganku ke riak lembut di danau di depanku. Ada berapa ribu ganggang yang menyatu dan menciptakan kelembutan warna hijau itu? Pekat sekali hijaunya, bagai enggan mengijinkan surya untuk meminjamkan sedikit cahaya ke dalamnya.

Kujatuhkan kini pandangku ke angsa hitam tadi. Mengapa hanya hitam? Di mana angsa putih yang selalu cantik menurutku? Angsa hitam tadi hanya melanjutkan balletnya, tak paham akan pertanyaan bodohku tentang angsa lain selain dirinya.

Seekor angsa lain pun melintas, entah dari mana. Putih, ya, warnanya putih. Tetapi mengapa aku tidak merasa lebih senang? Bukankah sebelumnya aku baru merindukan keputihan itu?

Oh, burung pun bernyanyi

Melepaskan rindu, yang terendam malu di balik qolbu…

Oh, angin pun menari

Mencari arti, adakah ini fitrah ataukah hiasan nafsu?

Di dalam sunyi, ia selalu hadir…

Di dalam sendiri ia selalu menyindir…

Kadang, meronta bersama air mata

Seolah tak kuasa menahan duka…

- Maidany, “Menunggu di Sayup Rindu”

Seekor burung bersiul dari atasku, angin semakin membelai lembut pipiku, yang semakin basah dengan sebuah asa. Sebuah asa yang kutakut, bukan milikku untuk kupertahankan…

Aku termenung di bawah mentari

Di antara megahnya alam ini…

Menikmati indahnya kasih-Mu

Kurasakan damainya hatiku…

Sabda-Mu bagai air yang mengalir,

Basahi terik panas di hatiku

Menerangi semua jalanku

Kurasakan tentramnya hatiku…

- Haddad Alwi, “Damai Bersama-Mu”

Aku teringat diriku, yang sedang menepi di lindung bayang dari terik hari ini. Danau dan segala pernak-pernik tataan-Nya perlahan datang memelukku dalam damai yang dalam.

Riak-riak lembut tadi mulai bergelombang kecil, mengalir dalam aliran tak jelas. Tetapi itu bukan tidak menambah kecantikannya. Kuangkat daguku menentang rebakan air mata yang menjadi-jadi. Aku benar-benar biru. Ada kesedihan seseorang yang kuresapi, yang kudramai, yang kudo’ai…

Kulirik sedikit ujung pemandanganku, ada bayang kerudung hitam melambai dari kejauhan. Kerudung itu tak sendiri, ada seorang pria muda berjalan di sisinya dengan ceriwis dua bocah kecil. Kualihkan pandang dan bisik hatiku ke sebelah lain, pemandangan tadi belum milikku.

Kupeluk lututku erat. Kukeluarkan telepon genggamku, kutelusuri satu per satu nomor di situ. Kulayangkan panggilan-panggilan tak berlanjut, sebuah kebiasaan lama yang hampir kulupakan. Kuletakkannya di atas tanah, kembali memandangi alam tanpa geming.

Aku sudah berhenti menangis. Ada kejar-kejaran di antara itik-itik di danau yang memancing senyum. Ada burung-burung merpati yang terbang rendah melewati kepalaku mengejutkan, juga memancing senyum. Ada kerumunan burung jenis lain di sebelah sana…, oh, kerudung hitam itu sedang tersenyum bersama pria itu. Kembali kualihkan pandangku.

When you feel alone in this world,

And there’s no body to count your tears,

Just remember no matter where you are,

Allah knows, Allah knows…

-Zain Bhika and Dawud Wharnsby Ali, “Allah knows”

Yeah, Allah knows.

Dan teleponku berdering. Aku pun mulai berbicara.

Coburg, 12 November 2007, 14.15 pm

Friday, November 9, 2007

Mereview Sebuah Review

entah dorongan dari mana, tiba-tiba selepas magrib dan tilawah saya membuka kembali entry diary saya dari 2.5 tahun yang lalu, di hari pertama saya menginjakkan kaki saya di Negeri Kangguru ini.
Saya bilang di situ, saya kedinginan dan hampir beku.
maklum saja, waktu itu pertengahan bulan Juli, pertengahan musim dingin di Melbourne.
begini isi entry diary saya waktu itu...


Melbourne, Juli 2005 (tidak ada tanggal, payah ya saya waktu itu?!)

Welcome to Australia!


Wow, it is the first day! Waktu pertama kali nyampe tadi, aku ngerasain sesuatu yang keren; aku ngeliat nafas yang keluar dari mulutku kaya di film-film!

Terus kita dijemput oleh supervisor dari sekolah dan homestay (‘ortu’ di sini).

Kita dibawa ke sekolah buat liat-liat and terus kita dibawa ke rumah.

Tahu nggak, sarapannya kereeeeeeeen… hehehehe (alaaaah, paling-paling satu atau dua bulan lagi bakal rindu sama thimphan juga!)

But anyway, I love it. Kita dikasih kamar yang bagus, but still cold lho…

Oh ya, kita juga dibeliin pajamas musim dingin beserta sandal dalam rumahnya and many thing else-lah…

Btw nih, ngantuk!

Udahan yach…

Besok-besok kita sambung lagi, key?


***


Lalu entry berikutnya malah bikin saya senyum-senyum sendiri; benar-benar sebuah jiwa yang hampir tak saya kenali lagi! seakan-akan, tulisan itu milik seseorang yang lain. seakan-akan, saya tak pernah berada di posisi itu. begini entry berikutnya, tepatnya di bulan Agustus 2005...


1 Agustus 2005, di kamar…

Assalamu’alaikum Rin,

Udah hampir sebulan kita di sini.

Ada banyak hal yang harus aku ceritain.

Minggu pertama, aku homesick beraaaaat…

Sampai nangis-nangis dan nggak berhenti-berhenti. Ibu angkatku alhamdulillah ngerti dan banyak kasih advise, tenang dikit deh…

Eh, udah tenang di hati, giliran otak-ku yang shock!

Masih di minggu pertama aku anggap semua pelajaran itu pelajaran Bahasa Inggris semua jadi aku mikirnya gini nih, “Koq ni pelajaran ga ada abis-abisnya ya?!”

Hehehe… gila bok!

Temen-temennya aneh lho, Rin! Ada yang ke sekolah pake make up (90+… %), cerewet (semua!) de el el. Tapi aku tetap aja ngiri ma mereka karena mereka ‘sebenarnya’ bisa ngerti pelajaran dengan baik.

Mana waktu awal masuk ke sekolah ini pake acara dikenalin di depan anak-anak di panggung waktu general assembly lagi! Malu… but it’s kz-lah, Allah punya rencana!

Rupanya ada beberapa anak Indonesia lain di sini tapi… jarang ngomong tuh! Au’ napa, nanti kenal dan bicara juga.

Baju seragamnya keren,… tapi tetap aja dingin!

Se-cool-cool-nya sekolah ini, lebih cool lagi cuacanya!!!

Aku aja bobo’-nya pake baju 3 lapis, sarung tangan, kaos kaki, kerudung dan 3 lapis selimut; berat nggak tuh? Kalau di sini biasa aja kali yeee? Coba dibawa ke Banda aceh, melelehlah semua salju (emang ada salju di Aceh?) alias keringatan melulu! Hehehe…

Weekend kemaren aku nelpon ke rumah.

Waaaaa…. Banjir! Sesenggukan super hebat!

Nggak nyangka mama bakal semangatin segitunya, hiks, hiks, sedih deh…

Besoknya kita ke city, biasa lah, jalan-jalan.

Dan ternyata ibu-ibu di mana-mana sama aja; jalan 1 jam beli barang 1 gram,

Weleh-weleh… gimana nggak pegal?

Minggu kedua, sekolah lagi. Udah lumayan ngerti sistemnya.

Aku juga udah mulai sadar kalau ini Australia, makanya semua orang pada ngomong English (telat banget ya? Hihihi…)

Tiap pagi aku masih kedinginan, susah aja.

Aku juga down abis nih! Banyak PR yang harus dikerjain.

Mana nggak ngerti-ngerti amat lagi, pokoknya ruwet.

Masih teringat rumah terus-terusan, tiba-tiba nangis, senyum sendiri, waaaaah, gila deh!

Yang biasanya bergantung (emangnya kelelawar???) sama teman sekarang sudah harus sadarkan diri...

Pokoknya di sini aku dibanting 180o!

Minggu ini kami dua kali excursions. Excursion itu ya Rin, semacam perjalanan ke luar sekolah atas alasan yang berkenaan dengan pelajaran gitu.

Jadi kami ke Melbourne Town Hall buat Physics terus ke Moonee Ponds buat Arts.

Yang pertama yang buat Physics itu, kami nonton pertunjukan tentang Albert Einstein yang aku sama sekali nggak ngerti! (English semua sih! Huh!) ngomong English kok di hidung gitu sih?! Nggak kedengaran apa-apa tau! Dasar Australian accent! Ada banyak anak-anak sekolah lain di sini, tapi kenapa ya kita diliatin aneh gitu? Apa karena London bombing yang baru-baru itu ya?! Ah, PD aja lagi.

Terus yang kedua buat Arts, kami sketching object di sini. Aku jumpa beberapa warga local yang sempat menyampaikan simpati mereka atas tuduhan teroris kepada muslim di sini (serius banget neeeeh, hehe)

Eh udah dulu ya, mau buat PR ni!


***


ah, itu 2.5 tahun yang lalu, sesuatu yang saya harap sudah berubah ke arah yang lebih baik, ameen..
sekarang, semua worries itu sudah menguap.
rindu rumah bukan lagi hal baru,
kesusahan dalam English juga sudah banyak berkurang,
pertanyaan-pertanyaan atau pengalaman-pengalaman miring di bus, train, tram atau tempat-tempat umum lain yang berkenaan dengan agama sudah bisa saya lewati sebaik mungkin...
ketergantungan akan teman juga sudah jauh berkurang; saya akhirnya sadar jika DIA lah teman sejati.
wah, hidup. Besok ada apa lagi ya?
Tak terasa tak lama lagi saya harus meninggalkan Australia dan semua kenangan-kenangan ini (yang sudah berhasil memenuhi sebuah buku kwarto 100 halaman!).
akhirnya high school akan berakhir juga,
saya praktisnya bukan anak sekolahan lagi,
WELCOME TO THE REAL WORLD, NURIL!
doakan saya semakin bisa mengerti arti hidup ini...
perjuangan baru saja dimulai!

Wednesday, November 7, 2007

Teknik Sipil; apa berarti "keren"?

Pikiran ini sudah ada di pikiran saya sejak beberapa tahun yang lalu dan sejak awal tahun ini semakin membuat saya semakin bertanya-tanya; ada apa dengan jurusan Teknik Sipil yang membuat semua terhipnotis untuk mengatakan “kereeeen” jika ada yang mengaku kuliah di jurusan tersebut?
Mulai dari stereotype di kalangan teman-teman saya sendiri di mana kebanyakan kaum prianya ketika masih di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas selalu berangan-angan ingin menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik, jurusan Teknik Sipil.
“Mau kuliah di mana nanti, Fery?”, tanyaku pada salah seorang teman lelakiku semasa tsanawiyah dulu.
“Teknik sipil, tapi aku mau coba FKIP Fisika dan Matematika juga.”, jawabnya sambil memandang langit.
“Taufiq, maunya kemana?”, tolehku kepada teman lelaki yang lain.
“Mmm… kalau bisa mungkin Teknik Sipil juga.”, jawabnya santai.
***
“Eh, kalau Mirza, sekarang di mana?”, tanyaku pada temanku saat berkomunikasi lewat yahoo messenger beberapa bulan yang lalu. Aku menanyakan kabar seorang teman lelaki semasa SMA dulu yang aku tahu bernilai akademis tinggi.
“Teknik Sipil, lewat USMU lagi!”, jawab temanku tersebut.
***
Ok, sekedar stereotype, right? Dan saya bisa dibuktikan salah adanya. Tapi ide bahwa Teknik Sipil itu ‘keren’ masih saya temui di mana-mana! Bukan mengesampingkan kepopularitasan Fakultas Kedokteran dan Ekonomi atau fakultas-fakultas lainnya, hanya saja ide ‘keren’ ini terasa unik, beda dari ide ‘wow’ yang ditunjukkan masyarakat untuk fakultas-fakultas lainnya.
Sebagai contoh, tempo hari saya sedang ‘ber-friendster-ria’ dan akhirnya mendaratlah saya di sebuah profil salah seorang teman wanita semasa tsanawiyah dulu. Di bagian affiliation, ia menyatakan bahwa ia adalah mahasiswi di Fakultas Teknik, jurusan Teknik Sipil, Unsyiah, Banda Aceh. Di bagian comment-nya, saya temukan beberapa comment yang menyelamatinya atas keberadaannya sebagai seorang mahasiswi baru; tentu saja, di Teknik Sipil. Di antaranya adalah sebagai berikut:
“wessss... aneuk tekhnik ne...
wuah.. wuah....”
Ok, apa saya terlalu subjektif? Dan keberadaan fakultas-fakultas lain saya pandang sebelah mata? Tidak! Hanya saja…. Aneh, bagi saya ini aneh. Ada semacam kesan ‘ciee… yang udah nikah ni, wuah..wuah..’ dalam comment di atas. Seperti sesuatu yang benar-benar seremonial, sesuatu yang benar-benar agung. Sedangkan yang memberi comment ini, yang kebetulan diterima di Fakultas Keguruan Ilmu dan Pendidikan jurusan Matematika, tak menerima comment-comment senada.
Contoh kedua; bahkan penulis-penulis kondang meminjam Fakultas Teknik, khususnya jurusan Teknik Sipil sebagai salah satu factor yang digunakan untuk membangun karakter semacam ‘perfect boy (atau ikhwan sempurna lah jika diinginkan)’ di mata pembaca.
Dalam cerita “Ketika Mas Gagah Pergi” misalnya, mbak Helvy TR menggambarkan diri sang Gagah sebagai berikut:
“Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !”
-“Ketika Mas Gagah Pergi”, Helvy Tiana Rosa
Kita semua tahu bagaimana kelanjutan cerita “Ketika Mas Gagah Pergi” bukan? Seorang kakak laki-laki ‘hampir-sempurna’ yang pada akhirnya harus kembali ke hadhirat-Nya lewat sebuah kecelakaan ini merebut perhatian dan air mata majoritas pembacanya (termasuk saya hiks hiks). Intinya, semasa hidupnya, Mas Gagah ini benar-benar tipe ‘menantu idaman’.
Atau mari kita lihat cerita pendek berjudul “Telepon Pinky”, yang merupakan bagian dari kumcer “Cinta Tak Pernah Menari” karya Asma Nadia.
Kebetulan saya dihadiahi buku tersebut oleh seorang teman sekolah yang berasal dari Jakarta. Liburan musim dingin lalu dia sempat liburan ke Jakarta dan memberikan saya oleh-oleh berupa kumcer tersebut. Adapun secara singkat, kisah ini menceritakan tentang keinginan seorang Inne untuk menelepon kembali ‘Mas Aan’-nya; anak bekas guru Mamanya yang jauh lebih tua dari padanya. Mereka bertemu saat kebetulan Mama Inne mengajaknya untuk mengunjungi bekas gurunya tersebut. Setelah pertemuan singkat itu, mereka diceritakan sempat menjalin komunikasi selama kurang lebih tiga tahun lewat surat-surat, kartu ulang tahun, kartu valentine dan hadiah-hadiah kecil lainnya. Hubungan ini pun lama-kelamaan berakhir dan pada suatu titik, Inne ingin menelepon Wisnu, mencoba menjalin komunikasi lagi dengannya.
Sebagaimana ketika membaca kisah-kisah yang penuh deskripsi pada umumnya, saya mulai membangun imajinasi tersendiri tentang tokoh Mas Aan alias Anindra Wisnu ini.
Masih di awal cerita ketika saya menemukan bahwa suaranya jenis bariton (memangnya baritone itu gimana ya?), kulitnya kecokelatan, mengenakan sepasang kacamata minus dan kedua bola matanya hitam pekat. (Ok, bisa dibayangkan? Hehe..)
Lalu menjelang pertengahan cerita, terbacalah oleh saya deskripsi berikut ini:
“Aan itu pelajar teladan se-Jogja, Inne. Dia baru saja meraih PMDK untuk Fakultas Tekhnik, Jurusan Tekhnik Sipil!”
- “Telepon Pinky” dalam “Cinta tak Pernah Menari”, Asma Nadia
Tuingg?!!! Ada apa dengan Teknik Sipil dan “cowok keren”?!!!! apa ada semacam korelasi atau semacamnya di antara keduanya begitu???
Intinya, saya menangkap kesan bahwa berkuliah di Teknik Sipil itu bisa dipakai untuk membangun karakter berupa “Mas Gagah” atau “Mas Aan” yang notabene tidak bisa dikatakan tidak mengagumkan. Lantas, apa ini karena stereotype atau saya yang masih bersifat subjektif?
Jadi sekali lagi, Teknik Sipil; apa berarti "keren"?
Maaf jika blog entry ini tidak membuat sebuah kesimpulan apapun, saya hanya ingin mencurahkan pikiran saya. Ada masukan?
Buat yang pernah atau sedang di Teknik Sipil, diharapkan untuk memegang kepala anda erat-erat agar tidak terbang saat membaca tulisan ini, hehe…

Sunday, November 4, 2007

Tuhan, ada cerita!

Tuhan... baru dua ujian yang kulalui,
ada sederet yang akan kutemui,
kemalasan bukan alasan yang harus dicari-cari,
karena ia yang Kau kutuk selalu membisiki.

Tuhan, kepalaku Kau uji pula,
sebagiannya bertalu-talu tak kentara,
bagai gong dipukul bergema,
tak hendak paham beban di jiwa.

Tuhan, sejak kapan aku lupa tuk meyakini-Mu?
secara sudah lebih dari sering kutimba ilmu
tapi bagai orang asing tak pernah bertemu
kucicip sesisip kasih-Mu bagai jemu

Tuhan, kuhadiri sekolah, tak kukunjungi belaka
tak hanya teori, tapi pembuktian juga kucoba
mereka berkata, aku akan berjaya
entah itu ramalan, entah itu doa.

Tuhan, hari ini sudah berlembar-lembar latihanku
tumpul sudah pensil di tanganku
sementara kepalaku masih kuanggap buntu,
apa yang salah denganku?

Tuhan, kutulis puisi ini
karena aku tak punya sesiapa untuk berbagi
resah, ketakutan dan rindu ini tak mungkin kusebari
demi semua jiwa juga mengalami

Tuhan, satu lagi ada pinta
biar kisah ini hanya milik kita
jangan ceritakan pada ia yang bernama Nisa
kasihan, katanya ada asa lain yang menggoda




Melbourne, 4 nov 07

Thursday, November 1, 2007

Kalau hidup kita difilmkan, soundtracknya apa? [idea by Hendra Veejay]



semalam saya sempat minta masukan-masukan tertentu tentang DIA pada Hendra Veejay, seorang penulis unik dari FLP Bandung (kalau tidak salah bukan begitu? ;D) yang kebetulan sudah masuk dalam ym list saya (ga nyambung banget sih!)
tak hanya beliau, ada beberapa orang lain di ym list saya yang saya minta lalu terima taushiyah-taushiyahnya, semua mengantarkan saya ke satu dari sekian pertemuan paling manis dengan-Nya, alhamdulillah (terima kasih kepada anda semua, semoga DIA membalas jasa kalian)
sempat saya menulis sebuah puisi tadi malam, namun berhubung laptop saya freeze dan saya harus me-restart lagi, maka hilanglah semua yang sudah saya tulis.
awalnya saya kecewa tidak bisa mem-post puisi tersebut yang saya kira satu dari sedikit puisi yang bisa direnungi bersama MP'ers lainnya.
namun kemudian saya ingat, jika DIA, sebagai Pembaca Segala-gala tentu sudah 'membacanya' dari dulu.
maka saya percaya bahwa DIA sebagai Pembaca Terbaik bisa mengirimkan saya analisa dan kritiknya secara lebih pribadi dan saya menantikan itu...

anyway,
saya lalu disuguhi sebuah 'masukan yang off track' oleh Hendra Veejay sesaat sebelum beliau memutuskan untuk pulang (dari warnet kah? ;D),
masukannya berbunyi seperti ini
"eh... baca MP ku deh, ada tulisan baru... "Kalau hidup kita difilmkan, soundtracknya apa" terus cobain deh, pasti rada terhibur..."

terus saya cobain
jadi begini permainannya

Buka software pemutar musik (iTunes, Winamp, Media Player, dll)
  1. Simpan lagu yang disuka (kalau bisa di atas 30)
  2. Setting acak atau “shuffle”
  3. Mainkan
  4. Setiap 1 situasi, tulis lagu yang diputar
  5. Untuk situasi selanjutnya, cukup pilih “Next”
  6. Jangan curang, nikmati dan terima lagu yang diputar apa adanya sebagai soundtrack
  7. Kecuali kalau lagu yang sama terputar lagi, baru boleh klik “Next”
  8. Adapun situasi-situasinya adalah; Opening Credits, Waking Up, First Day At School, Falling In Love, The Relationship, Fight Song, Breaking Up, Prom Night, Life, Mental Breakdown, Driving, Flashback, Getting Back Together, Wedding, Birth of Child, Final Battle, Death Scene, Funeral Song, End Credits



nah, beginilah hasilnya dengan "film kehidupan" saya

1. Opening credits ; Saujana- Saujana
yup, lagu Saujana yang dibawakan oleh grup nasyid Saujana dalam album Jalan Sehala ini kayanya boleh deh jadi opening credit. musiknya yang mellow tapi beating dengan ritmik teratur bernuansa oriental disertai lirik tentang gunung Fuji di Jepang, kelopak-kelopak bunga Sakura... hehe, pura-pura saya lahir di Jepang kali ya...terus nama aktor-aktornya muncul di sisi layar satu-satu....wuizzz....





2. Waking Up : Sami Yusuf - Al-Mu'allim
mmm...subhanallah, yang ini harus diaminkan deh... kalau setiap pagi saya bangun dengan mengingat Rasulullah sebagai teladan terbaik sepanjang masa, pasti hidup saya (baca: film saya) akan selalu mencoba mengikuti jejak-jejak beliau, amiiiiin.... (sejauh ini, film saya masih membahagiakan ni, selanjutnya apa ya?)




3. First Day at School : Yusuf Islam and Children - I Look I See
Waduh, cocok banget, anak baik! masuk sekolah langsung deh nalar 'observasi'-nya muncul, I look, I look I see, I see the world of beauty....hehehe... bagus, bagus, perhatikan alam ini dan temui jalan-Nya, terus baca ayat-ayat-Nya di alam ini nak...nanti hidupmu akan diterangi oleh-Nya terus amiiiin....








4. Falling in Love : Sherina - Lihatlah Lebih Dekat
ya elaaah, jatuh cinta kok malah lagu perpisahan gini sih?! lagu ini kan soundtracknya film Petualangan Sherina, favourite saya waktu masih SD dulu di mana Sherina harus berpisah dengan teman-temannya saat harus pindah ke Bandung!!! O....., I get it, jadi jatuh cintanya pas SD gitu ya? terus karena harus lanjut ke SMP n ga jumpa lagi sama si 'itu' jadinya sedih gitu ya? hehehehe....hatiku sedih, hatiku gundah..tak ingin pergi berpisaaaah ;D cape deeeh! hehehe..








5. The Relationship : Tazakka - Rumahku Syurgaku

lebih ga bener ni, tadi kan katanya masih SD, lha kok sudah harus berkeluarga? kacau man, kacau! tapi kalau dipikir-pikir untuk sebuah relationship memang hubungan keluarga itu adalah yang paling menenangkan...rumah itulah istana kita, di mana relationship antara ibu, ayah, dan anak-anak yang sesuai jalan-Nya akan membuat gubuk menjadi sebuah istana.....:)




6. Fight Song : Edcoustic - Menjadi Diriku
memang saya main filmnya ditakdirkan tidak untuk berantem oleh SUTRADARAnya. jadi adegannya kali gini ya; diajak baku hantam malah mundur sambil ngomong gini, terimalah aku seperti apa adanya, aku hanya insan biasa tak mungkin sempurnaaaa.... (hehe, bilang aja takut, malah ngajak negosiasi hihi...) musiknya yang pop abis dengan drumnya yang kentara sih bisa diartiin gini; musuhnya ga peduli dengan negosiasinya n hantaam!! xp



7. Breaking Up : Saujana - Inikah Ertinya Cinta?
kacauuu kacauuuu, dari tadi kok patah hati terus sih? :( hehe..
tapi di sini tu beda lho, kalau menurut lagu ini yang rupanya masih dari Saujana juga, saya meninggalkan si 'itu' karena saya masih ingin mencari cinta yang lebih sejati....cinta DIA yang tadi malam sempat saya kira hilang (astaghfirullah..)



8. Prom Night : UNIC - Tika Itu
kalo di sini sih, kata teman-teman sekolah promnya bakal seru, bakal rame dengan musik, tarian, makanan dan....mungkin 'sedikit' alkohol; having fun-lah (pengumuman; SAYA GAK IKUTAN). tapi soundtrack saya kok malah sedih gini ya?! hehe... ceritanya lagu ini tu gini; saya harus berpisah dengan orang yang saya cintai karena harus pergi mencari cita-cita (mungkin merantau ya?) ...mmm.. ok lah, masih masuk akal. karena habis sekolah ini saya kan emang harus pisah sama teman-teman di sini karena harus kembali ke Indonesia..



9. Life : Gradasi - Persembahan Cinta
alhamdulillah, normal lagi deh hidup saya (baca: film saya). hidup saya yang memang sering terseret-seret dalam salahnya arti cinta palsu yang sering dirujuk orang dengan istilah VMJ alias Virus Merah Jambu akhirnya kembali ditarik lagi oleh-Nya lewat cara-Nya....acapella beritmik lembut dan teratur dengan pengungkapan rasa yang terindah tentang berkembangnya cinta yang semerbak wangi dalam jiwa seperti menggambarkan diri saya yang sangat labil dalam memegang kata yang satu itu; cinta.



10. Mental Breakdown : Dawud Wharnsby Ali - Crazy Spots I've Prayed
dalam kehancuran hidupnya atas masalah-masalah yang menimpanya, rupanya tokoh kita yang satu ini masih bisa shalat di mana saja macam yang dinyanyiin sama Dawud ( di ruang ganti supermarket pun jadi! hehe)
bagus, nak...gitu dong, kalau having mental breakdown, shalat terus sabar... insya Allah pasti pertolongan Allah datang juga bagi mereka yang sabar.






11. Driving : Hafiz Hamidun - Dengarkanlah Segalanya
jadi sambil driving di Inggris misalnya (amin...suatu saat nanti mungkin), jadi teringat siapa gitu di Indonesia sedang nungguin kepulangan saya kan lagunya tentang seseorang yang sedang menyanyikan kerinduannya akan seseorang yang satunya lagi yang sedang jauuuh di mana gitu...mungkin ini lagi merantau ronde dua kali ya (insya Allah, aminn...)? hehe...tapi boleh lah untuk driving, nenangi jiwa. :)



12. Flashback : Zain Bhikha - You Are Very Special
ok, jadi flashbacknya ke siapa ni? ke seseorang yang very special gitu? ok deh, klop.xp










13. Getting Back Together : Justice Voice - Ternyata
Ternyata, Allah sayang kita!!! alhamdulillah deh, kalau gitu kita bisa getting back together karena Allah sayang kita semua, jadi ga boleh berantem lagi oqah say? (halah)


14. Wedding : Tompi - Balonku
ini ni yang paling ga waras, harusnya ni lagu buat the first day at school di TK gitu...masa buat nikah sih? OGAH.


15. Birth of Child : Dawud Wharnsby Ali - The Blue Sky is Blue
mmmm....lagunya sih emang dari perspektif anak kecil, tapi bukan bayi! jadi gini aja, anaknya ini uda gede terus ngomong gini ke ibunya (mmm...saya ya? hehe): i dont wanna be a grown up like the grown ups i have seen, cuz the grown ups i have seen seem not to have much fun, they dont get down on the floor enough to pray or to play with the toy!
ok deh sayang, jangan cerewet, ibu lagi masak ni! ( hehe)


16. Final Battle : Tashiru - Optimis Sajalah
aduh kang Hendra, kok ga bilang-bilang sih ini film eksyen? berantem mulu. tuh, saya orangnya damai, dari pada berantem, nasyid aja yuk! (apaan sih?)












17. Death Scene : Opick - Rapuh

sedang menghela nafas terakhir, detik waktu terus berjalan berhias gelap dan terang, suka duka, tangis dan tawa tergores bagai lukisan ....semua itu diflash back oleh DIA; semua amalan saya yang lebih banyak melupakan-Nya dan rapuh dalam memegang sebongkah cinta titipan-Nya... aduh filmnya mulai menyedihkan, siap2 sapu tangan!










15. Funeral Song : Dawud Wharnsby Ali - Afraid to Read
justru karena amalan saya yang terkadang kurang ikhlas, tiba-tiba sang aktor utama merasa takut bahwa ia akan merasa takut untuk melihat buku amalannya seperti soundtracknya : that day, I'll be so afraid to read (baca: buku amalan), every harsh word that i've spoken, everytime that i have lied


16. End Credit : Sherina - Bintang-bintang
no comment deh, uda cape2 serius kok malah dapat ini sih buat credit akhirnya..ya udah ga papa, musiknya yang lembut bisa mengiringi nama-nama aktor dan semua pihak yang telah membantu terwujudnya film ini....

Monday, October 29, 2007

Be- O -eS -A- eN, baca lagi, BOSAN!

jadi menjelang pukul 3 sore waktu Melbourne alias...apa gitu namanya (south east australian something something..aaaargh, gitu deh pokoknya)
dari pagi jam 11 sampai jam segini,
baru ngerjain satu ujian biology dari tahun 2001!
belajar man, belajaaaaaaaaaaaaaaaar!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


hufff, okay, everything is under control.

ok,
biology exam is coming up right?!
nuril : "sadaaar!"
trus ngapain lo OL mulu?
nuril : "bosen."
ya elah, lo bukan bosen, tapi milih untuk bosen.
nuril:" eh sembarangan ye kalo ngomong, gw pites abis lo!"
trus napa emang?
nuril:"pokoknya gw muaaaaaaak banget. tapi sebenarnya gw mau belajar, buktinya ni gw ngerasa bersalah bgt krn ga belajar."
and...
nuril:"and....what the hell! why would you care?"
karna ga baek bosan ga nentu, lo lagi banyak setannya nih, makanya malas.
nuril: (diam)..."do you think so?"
yup, gw yakin banget ni.
nuril:"emang setan ngapain ke gw?"
ya bikin lo males, ga semangat, bosen, tu kan tanda2 org ga sukses.
Tuhan juga ga suka org2 kaya gitu.
nuril:(terbelalak), Tuhan! ya, Tuhan! aduh gw kok takut ni ya?"
kenapa?
nuril:"Tuhan gitu lho, kalo Tuhan ga suka ma gw, siapa coba yg nemenin gw lagi?!
aduh gw nyesel banget ni uda malas2. mau belajar ah!"

ya udah, pegi sono, salam buat luteinising hormone, oxytocine, B-lymphocyte, microvillis,random sampling...and and..
nuril:"diem lo, gw mau belajar!"

Thursday, October 25, 2007

tentang seorang gadis bernama NuriL [part 2]

Hampir siang. Sebentar lagi lunch time. Nuril mencoba mengalihkan perasaannya yang tertekan di kelas Bahasa Indonesianya ini ke newspaper The Age terbitan hari ini yang diniatkannya untuk dibaca siang ini. Jika saja tidak akan dianggap tidak sopan, ia pasti sudah menutup telinganya sedari tadi. Panas, hatinya panas. Setiap kata yang didengarnya seakan-akan meniris-niris perasaannya. Jika saja kata-kata itu berasal dari teman sekelasnya, maka mungkin ia akan mencoba membalasnya. Mungkin; karena jikapun itu temannya, sikapnya yang non-defensif untuk hal-hal yang berkenaan tentang dirinya sendiri hanya akan mengunci bibirnya rapat-rapat.

“Lihat ini, essai murid saya dari sekolah lain. Baru pertama kalinya buat komentar sudah bagus.”, seru gurunya sambil melemparkan sebundel lampiran kertas. Lampiran-lampiran berisi komentar atas sebuah kutipan yang diambil dari sebuah cerpen yang pernah dimuat di harian Kompas, Indonesia, itu pun mendarat di atas meja Nuril. Ia tak bereaksi untuk beberapa saat. Tangannya terkepal rapat di bawah meja, wajahnya datar tanpa ekspresi. Selang beberapa detik kemudian, diraihnyalah bundelan tadi.

Be objective and sportive, bisik hatinya. Mana tahu aku yang salah, bisik hatinya lagi.

Perlahan ditelusurinya lembaran-lembaran kertas itu. Kening yang sedari tadi datar sedikit demi sedikit mulai berkerut. Alis matanya mulai bertemu, menandakan ‘protest mode’-nya on.

His essay’s structure is exactly like mine. Then what the heck is this teacher’s problem?, desis Nuril dalam hati.

“Sudah kamu baca komentarnya? Kasihkan ke Mona dan Harrik supaya bisa dibaca juga.”, gurunya itu melanjutkan.

Pelan dan lemah, Nuril memberikan kertas-kertas itu ke ‘cuma-dua’ teman sekelasnya. Tanpa disadarinya, tiba-tiba isi pikirannya dari tadi pun terucap juga.

“Bu, saya ngerjainnya juga kaya gitu. Poin-poinnya malah ada yang sama persis sama poin-poin di komentar saya. Salahnya di mana, Bu?”

“Kamu baca lagi, pasti ada yang kamu lupa.”, respon gurunya.

“Tapi komentar saya kan tidak selesai, Bu. Waktunya tidak cukup kan?”, Nuril menoleh ke teman-teman sekelasnya, mencari dukungan. Harrik menggeleng kecil, seakan-akan mencoba menyampaikan pesan “Anisa, udah jangan dipancing tu guru!”.

“Kita harus mengakui kalau orang lain itu bisa lebih baik dari kita. Bukan kita yang terpintar.”, jawab gurunya lagi.

Teng, teng, teng, bel lunch time berbunyi.

Nuril menyambar semua buku-buku dan folder pelajarannya dan mengarah ke arah perpustakaan sekolah. Bukan untuk membaca The Age, tapi untuk membanting buku-bukunya di meja kecil yang terletak di pojok paling belakang perpustakaan. Ditariknya kursi lalu terduduklah ia dengan seluruh amarahnya. Tangisnya membuat bahunya naik turun tak keruan.

Apa salahnya, pikirnya. Siapa yang merasa lebih pintar dari orang lain? Yang ia inginkan hanya keadilan. Jika memang ia salah dalam mengerjakan komentar itu, tunjukkan letak kesalahannya agar ia bisa perbaiki. Benar bahwa dengan membaca komentar yang lebih bagus ia bisa belajar untuk memperbaiki teknik penulisannya. Tetapi apa perlu kelemahannya itu diekspose ke seluruh dunia untuk kemudian dibanding-bandingkan dengan cara yang menyakitkan seperti itu? Ia tidak bisa menerima itu semua.

Diraihnya sebuah buku tulis, dibukanya halaman terakhir dari buku itu. Ia benar-benar sesak nafas. Ia harus melepaskan emosi ini, pikirnya. Maka disambarnyalah penanya…

Pernah kau terjatuh?

Dipaksa melihat borokmu tepat di saat kau mau borok itu disembuhkan?

Dituntut untuk menuntut saat tuntutan tidak hanya satu?

Disuruh berlari saat kau masih gamang dalam merangkak?

Bukan diangkat, tapi malah diperintahkan untuk berangkat.

Bukan dituntun, tapi malah disuruh untuk menuntun.

Bukan diri merasa pintar,

Justru tahu bahwa masih membikin onar.

Lantas cermin perbandingan itu harusnya dipakai untuk bercermin,

Bukan digunakan untuk memecahkan kepala yang tak dingin…

Melbourne, winter 2006

Wednesday, October 24, 2007

Tentang seorang Ahmad...

Suatu ketika, beberapa anak mengikuti
sebuah lomba mobil balap mainan.
Suasana sungguh meriah siang itu,
sebab, ini adalah babak final. Hanya
tersisa 4 orang sekarang dan mereka
memamerkan setiap mobil mainan yang
dimiliki. Semuanya buatan sendiri,
sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Ahmad.
Mobilnya tak istimewa, namun ia
termasuk dalam 4 anak yang masuk final.
Dibanding semua lawannya, mobil Ahmad
lah yang paling tak sempurna. Beberapa
anak menyangsikan kekuatan mobil itu
untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Tiba lah saat yang dinantikan. Final
kejuaraan mobil balap mainan. Setiap
anak mulai bersiap di garis start,
untuk mendorong mobil mereka kencang-
kencang. Di setiap jalur lintasan,
telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap"
keciln ya. Lintasan itu berbentuk
lingkar an dengan 4 jalur terpisah
diantara nya.

Namun, sesaat sebelum mulai, Ahmad
meminta waktu sebentar untuk berdoa.
Matanya terpejam, dengan tangan yang
bertangkup memanjatkan doa. Lalu,
semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku
siap!".
Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu
hentakan kuat, mereka mulai mendorong
mobilny a kuat-kuat. Semua mobil itu pun
meluncur dengan cepat. Setiap orang
bersorak-so rai, bersemangat, menjagokan
mobiln ya masing-masing. "Ayo..ayo...
cepat..cepat, maju..maju", begitu
teriak mereka. Ahha...sang pemenang
harus ditentukan, tali lintasan finish
pun telah terlambai. Dan, Ahmad lah
pemenangnya. Ya, semuanya senang,
begitu juga Ahmad. Ia berucap, dan
berkomat-kamit lagi dalam
hati. "Alhamdulillah, terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Ahmad maju
ke depan dengan bangga. Sebelum piala
itu diserahkan, ketua panitia
bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi
berdoa kepada Allah swt agar kamu
menang, bukan?". Ahmad terdiam. "Bukan,
Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata
Ahmad.
Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak
adil untuk meminta pada Allah swt untuk
menolongmu mengalahkan saudaramu yang
lain. "Aku, hanya bermohon pada Allah
swt, supaya aku tak menangis, jika aku
kalah."
Semua hadirin terdiam mendengar itu.
Setelah beberapa saat, terdengarlah
gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi
ruangan.


Sumber : Aldakwah.org

Tuesday, October 23, 2007

Suaramu bukan Milikku

dalam keriyuh-rendahan nada-nadaku
ada kamu, ada kamu, ada kamu.
suaramu yang bukan milikku.

terkadang kubiarkan lalu bagai peluit,
terkadang kusimak bait per bait,
terkadang membuatku terlilit.

kamu, kamu dan kamu.
suaramu bukan milikku,
tapi selalu bisa kudengarkan sambil lalu.

kamu, kamu dan kamu.
suaramu bukan milikku
menemani jam kosong sepiku.

kamu, kamu dan kamu.
suaramu bukan milikku
tetapi selalu tetap di situ.

kamu, kamu dan kamu,
suaramu bukan milikku,
tapi apa daya darimu?



















lha wong kamu, kamu dan kamu adalah munsyid yang mengisi play list winamp-ku dengan nasyid-nasyidmu ;D
hehehe...

Saturday, October 20, 2007

sebuah naskah yang dimuat di majalah sekolah

“Ms. Niswanto, would I receive something for this year’s Khayyam[1]?”, tanya Mr. Jackson kepadaku ketika berpapasan di tangga sebuah gedung sekolahku. Mr. Jackson adalah guru bahasa Inggris yang paling berumur dan berpengalaman di sekolah kami.

Aku menoleh kepadanya. Nelangsa. Dalam dekapanku masih terpeluk erat buku-buku dan folder pelajaranku untuk jam pelajaran berikutnya. Benar-benar tak kuharapkan ‘tantangan’ macam ini sekarang. Benar bahwa aku suka menulis, terutama essai-essai formal dan puisi. Namun chemistry practical report dan beberapa assignments lain yang due minggu depan sudah pasti akan mengisi weekendku kali ini.

Di satu pihak, aku benar-benar menikmati keikutertaanku tahun lalu dalam menyumbangkan naskah cerita naratif tentang kedatanganku ke Australia. Tahun ini, tentu saja aku akan merasa lebih dari senang untuk menyumbangkan tulisanku lagi untuk diaudisi dan diedit lalu diterbitkan. Namun apa yang harus aku tulis? Dan lagi, di mana ia yang bernama ‘waktu kosong’ untuk kepergunakan? Ah, kepalaku berdenyut. Jangankan untuk menulis sesuatu yang kusenangi, untuk sesuatu yang harus kukumpulkan minggu depan aku masih belum sepenuhnya bisa me-manage-nya.

“So, is that a ‘yes’?”, desak Mr. Jackson.

“I’ll try, Sir. But it’s not a promise. I’m overloaded by work.”, kujawab sesopan mungkin.

Dan entah inspirasi dari mana dan kapan, tiba-tiba kudapati diriku sedang menyerahkan draft pertama kepadanya di senin pagi kemudian.

Dua bulan kemudian, kudapati draft-ku yang dikembalikan lengkap dengan komentar-komentarnya, kesalahan-kesalahan dalam penyusunan kalimat atau frasa-frasa tertentu dan hal-hal gramatis lainnya.

“You know, it’s quite unique of you to have written this piece. I’ve never seen teenagers at your age write this way.”, senyumnya. “Sorry it took awhile for me to go through it and edit it. It’s in. I would like to see the second draft please”, sambungnya.

Maka kuperhatikan lagi draft pertamaku dan kuselesaikan draft keduaku. Begini ceritanya…

……

……

……

One night, my slumber was dreamless.

In the following morning, I woke up with it.

My slumber left me a quest,

To be solved, to be defined.

About something that was sung cheerfully.

About something that was praised up to the heaven.

It was known as love.

I didn’t quite know why love was sung,

Why love was praised,

Why love was addressed enticingly by those who admit to love

One thing I did know about love,

It had made my mother pray for my father’s safety every morning…

Further than that? I knew no more.

Out of my dreaming curiosity,

I walked through the bush of roses and hurt by its thorns.

I ran through the sand storm and blinded awhile by it.

But I enjoyed the complexity of this quest though,

Even if it was as complicated as finding the probability of whether it would rain in the following year.

One day, I stepped into a room full of knowledge.

A wise man started talking about truth, feeling, emotions and… love.

I straightened my back and sat properly as I wanted to know more about this very word.

I listened to him and every word he said about love.

The room eventually faded away as well as his disappearance.

I was left by myself.

Then I suddenly fell lugubrious,

For the answer of my quest floating high above the stars.

I cried,

I cried more.

It didn’t last for long.

I stood up and looked up,

So that all my tears would leak out no more.

A screen appeared next,

Full of choices.

“Should I opt one?” I asked.

“Yes”, a strange man said, with a smile.

The man was in a black suit, fairly charming and heart-melting

That time, I knew I had fallen in love,

With the man in black suit.

I knew I was sunk in it,

Couldn’t get out and was breathless.

I attempted to hypothesize the possibilities and manipulated some variables,

So that I could do an investigation there, right now.

But I couldn’t.

He made me shut my mouth.

He stole the lock of my heart’s door.

He watered the flowers of passion in the front yard of my feeling.

This love bound me sometimes,

Like the covalent bond formed between the two fluorine atoms.

It put me in danger in other times,

As if it damaged one of my motor neurons and stopped me from having a plantar reflex.

But then,

In one of the mornings,

He knocked at my heart’s door and smiled.

“This is my last smile for you. Pass my regards to the wind…”, and off he went.

I lost my ground.

I reached for a rope.

I grasped nothing.

I ran out of the air of life.

Then why did they say that the colour of love is pink,

Like the one they always advertised on February 14th?

Or why did they say it was dark red like a heart,

Like the one they always put between the words “I” and “You”?

It wasn’t as enchanting as they had been gossiping about,

I didn’t see anything like that!

I only saw my broken heart!

Then He came, with countless buckets of roses,

Offered me another love.

But I had already suffered from post traumatic stress disorder,

I shook my head.

I said, “No!”

He looked undistracted. “You won’t be left alone. Trust me… I am the Only One, The Most Merciful, The Most Compassionate.”

I moved my head to the north,

He was there.

I moved my head to the south,

He was there.

I moved my head to the west,

He was there.

I moved my head to the east now and I could guess that

He was there too.

He was The Greatest Ever,

I was astounded.

I questioned Him, “Who are You?”

“The air belongs to me.”

“You haven’t answered my question, who are You?”

“The wind also belongs to me.”

“What are You trying to say?”

“I am the owner of love…”

I couldn’t remember how I had fallen for another love,

But this was different.

This love never abandoned me.

He fulfilled His words that He would never leave those who love Him sincerely,

He had said he would come in a thousand steps if you came to Him in one step.

He would watch over you every second, every moment.

I was cured.

I was fine.

I was done…

That was it what I had been searching for.

And the man in black suit?

Let’s forget about him for a moment…

By Nuril Annissa Niswanto 12B

18th of May 2007



[1] Khayyam adalah majalah literature tahunan milik sekolah saya di mana students bisa ikut kontribusi

Monday, October 15, 2007

tentang seorang gadis bernama NuriL

Februari 1990, Peudaya (Aceh Pidie, NAD, Indonesia)

Ernawati mantong[1]…”, usul seorang pria yang baru menjadi seorang kakek dalam kehidupannya. Betapa kebahagiannya tergambar jelas di wajahnya.

Bek hai, Irnawati leubeeh lagak[2].”, usul istri sang pria yang tak kalah bahagianya.

Meu’ah Mak, Yah. Tapi kamoe ka meupakat bahwa nan jih Nuril Annissa[3]…”, sela sang ayah dari pintu depan rumah.

Februari 2003, Banda Aceh

Annisa…itu kan artinya wanita, pikirnya di sela-sela kelas bahasa Arabnya yang lebih mirip pasar ikan dari pada sebuah kelas di sebuah madrasah tsanawiyah ternama di Banda Aceh. Nuril tetap memancangkan matanya ke papan tulis di hadapan mejanya; ya, ia duduk tepat di depan meja guru.

Entah apa alasannya memilih posisi tersebut dulu di hari pertama semester genap kelas 2 MTsN ini. Ia suka mencari sensasi, mungkin. Lagipula, bukankah dulu waktu kelas 1, posisi duduknya yang paling belakang selalu menyusahkannya untuk mendengarkan penjelasan guru-gurunya lantaran ada Mulya, Oni, Fahmi, Vina dan Sani yang akan senantiasa mengajaknya berbicara tentang hal-hal lain selain pelajaran sekolah. Nilainya sempat anjlok sesaat, yang masih bisa ditolerir oleh orang tuanya. Lulusan SD memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri, begitu alasannya. Meskipun ia tahu bahwa alasan itu kurang tepat, akhirnya gelar rangking satu pun diraihnya kembali di caturwulan terakhir kelas 1 tahun lalu.

Huff…, Nuril menarik nafas panjang. Cara ejaan namanya tidak sesuai dengan yang sedang dilihatnya di papan tulis. Harusnya Annisa, bukan Annissa, batinnya dalam hati. Ia menggerutu kecil, sebenarnya apa sih bedanya? Toh, ia tidak pernah dipanggil dengan nama keduanya itu. Ia selalu dipanggil dengan…

“Ririn, minggir dikit napa man? Kepala Qe (baca: kamu) gede kali (baca: sekali), aku gak bisa liat papannya.”, protes Vina, temannya yang duduk di deretan belakang.

Nuril menggeser posisi duduknya.

“Nuril, nanti siang latihan. Jangan lupa!”, teriak Fery, sang ketua kelas dari bagian bangku cowok. Ia mengingatkan Nuril tentang latihan untuk penampilan akhir tahun dalam acara perpisahan dengan siswa-siswi kelas 3 nanti siang sehabis sekolah. Nuril setengah mengangguk, masih berdebat dalam dirinya tentang Annissa dan Annisa.

Lagipula, Annisa itu kan berstruktur Asy-syamsiah, jadi kalau pun harus disambung dengan kata An-Nuur, harusnya kan jadinya Nurinnisaa bukan Nuril Annissa! Ah, Nuril merasa ia mulai berbicara ngawur. Biarlah, asal masih bisa dengan gampang dikenal. Apalah arti sebuah nama, pikirnya kemudian.

“Woi Nuklir, udah dengar nasyid terbaru dari Rabbani tu? Ya, yang judulnya Intifadah tu? Keren kali kan?”, asal saja Mulya berbicara setengah berteriak dari bangkunya di sebelah Fery. Anak yang satu ini memang lebih sering memplesetin nama Nuril jadi Nuklir. Alasannya karena Nuril gampang diganggu, marah lalu meledak seperti bom nuklir. Mungkin alasan Mulya benar, karena saat ini Nuril sudah pasang muka ‘mogok bicara’ kepadanya.

“Riril, pinjam pulpennya boleh?”, sapa Maulida, teman sebangkunya yang lebih sering ngomong dengan buku pelajarannya dari pada dengan Nuril. Ia punya nama panggilan sendiri untuk Nuril juga, tipikal.

“Boleh”, jawab Nuril pelan. Ah, kelas terlalu ribut pikirnya. Guru bahasa Arab mereka seperti biasa selalu mendatanginya sebagai pelarian ‘teman berbicara’ karena seisi kelas tak ada yang serius mendengarkan. Nuril meladeni niat gurunya yang memang sudah tahu persis bahwa ia punya minat lebih dalam hal bahasa asing. Di balik basa-basinya, ia sebenarnya ingin melanjutkan materi pelajaran. Tapi ah, pikirnya, kok kesannya seakan-akan tidak ada perkembangan ya? Memang lebih baik belajar dengan ustadz nanti malam, pikirnya. Kelas bahasa Arab di pesantren dekat rumahnya yang hampir tiap malam didatanginya pun memberikan perasaan tenang.

“Yiyin, fi ayyi sa’ah tastayyqidhiina hadza sabaahaan?”, serang kak Nurul yang punya nama panggilan lain untuk Nuril. Kak Nurul adalah seniornya yang malam itu, menanyakan pukul berapa ia bangun pagi. Sekedar pemanasan percakapan dalam bahasa Arab. Nuril tersenyum, ia benar. Di sinilah ia bisa belajar lebih banyak.

Februari 2007, Coburg (Melbourne, Victoria, Australia)

Okay, as the introduction, mention your name and your particular interest in Islamic studies.”, intsruksi Mr. Belal Assad, guru Islamic studies Nuril di Australian International Academy, sekolah yang dihadirinya lewat beasiswa tersebut masih terngiang. Ini saatnya ia mengerjakan instruksi gurunya tersebut.

My name is Anisa, and my particular interest in Islamic studies is tawheed.”, jawabnya lugas.

Ya, Anisa. Ia sudah bertukar nama panggilan. Semua ini berawal dari peristiwa di bulan Juli 2004 itu, saat guardiannya yang menjemputnya dari bandara udara Tullamarine Melbourne lebih mengingat nama keduanya dari pada nama pertamanya. Sejak saat itu, ia selalu dikenalkan dengan nama keduanya tersebut kepada semua orang lain. Maka ia pun melanjutkan ‘keterlanjuran’ itu, mengingat bahwa nama pertamanya lebih terdengar seperti noodle(baca: mie instant) dari pada Nuril. Hanya saja kali ini, tak ditekankannya bunyi tasydid di ‘n’ atau ‘s’-nya, netral pikirnya.

Anisa, what a really nice name.”, sambut gurunya. “That, in arabic, means, somebody who is really nice, masha Allah…”, senyum teduhnya menjelaskan.

Nuril hanya bisa tersenyum balik, hal itu baru diketahuinya.

Bel istirahat pun berbunyi, Nuril dan teman-temannya sepakat untuk pergi ke perpustakaan sekolah, sekedar surfing the net dan menemukan hal-hal lucu untuk ditertawakan, refreshing.

Maliha, salah seorang temannya pun segera pergi ke sebuah website yang memberikan fasilitas kamus bahasa inggris yang menjelaskan arti kosakata tertentu bagi siswa-siswi kurang vocabulary macam mereka. Iseng, diisinya kolom search dengan nama seorang teman laki-laki mereka yang kebetulan berpostur tambun. Namanya Hanni. Jawabannya pun kontan membuat mereka terbahak-bahak.

Someone who is really fat, tertulis di layar komputer. Mereka semua mengangguk-angguk setuju sambil tidak bisa menahan tawa.

“Hey, type in Anisa”, iseng Nuril.

Maka keluarlah sebuah definisi di layar komputer tersebut.

Someone who is really sweet.

Ah, pikir Nuril, internet mah tidak bisa dipercaya.

September 2007, Preston (Melbourne, Victoria, Australia)

Anisa, anisa….you know what that means?”, tanya seorang sahabatnya yang sudah beranak dua dan berkebangsaan Arab Saudi di Preston Mosque, sebuah mesjid local dekat homestay-nya.

No, what does that mean?”, pancing Nuril.

It means, a girl who’s not married yet.”, urainya.

Kontan Nuril tertawa kecil. Lantas ia pun kembali bertanya.

So when I get married, insha Allah, what will happen to my name? What will I be called with?”, candanya.

Sekarang gilirannya tertawa kecil.

Madame Anisa.”, serunya sambil tersenyum. “It also means somebody who is nice, innocent…”, sambungnya. “It is a really nice name.”

Oktober 2007, Reservoir (Melbourne, Victoria, Australia)

Tiba-tiba Nuril teringat masa-masa kanak-kanaknya yang sering bingung tentang makna namanya. Kini, di sini ia menemukan banyak sekali dan ia berharap semua itu . Entah apa yang membawanya ke kenangan lama itu malam ini. Tiba-tiba ia memutuskan untuk menuliskannya dalam bentuk sebuah cerita pendek fiktif yang menggunakan sudut pandang orang ketiga dan fakta-fakta yang benar-benar terjadi.

Keadaannya yang meriang dan sedikit bersuhu tinggi tidak bisa menahan inspirasinya. Harus tertulis, harus, pikirnya. Setelah selesai kira-kira pukul 10 malam waktu Melbourne, dipublikasikannyalah cerita itu di blog pribadinya yang biasa diakses melalui URL www.noorrea90.multiply.com.

Malam itu, ia tahu ia akan bermimpi tentang kenangan-kenangan lama itu lagi.



[1] Ernawati saja

[2] janganlah, Irnawati lebih bagus

[3] Maaf Pak, Bu..tapi kami sudah mufakat bahwa namanya Nuril Annissa