Monday, October 1, 2007

?

Aku tiba-tiba ingin menoreh kata,

Yang menyeruak,

Yang menggebrak.

Aku tiba-tiba ingin menatap merpati,

Yang menari-nari,

Yang melesat ke kebiruan tinggi.

Aku tiba-tiba ingin terus tersenyum,

Terulum dalam malam,

Tak kelam dalam rembulan.

Dentingan piano mulai mengiringi desahku.

Alunan biola pun turut menemani kerlingan mataku.

Petikan-petikan dawai gitar lalu meramaikan imajiku.

Sesuatu bernama rindu berlabuh teduh.

Mengetuk-ngetuk tiap sisi hati

Tak tahu awalnya, tapi pasti akhirnya.

Ah hati;

Tiba-tiba sungai di tepinya mengalir lagi.

Tiba-tiba langit di junjungannya mencerah lagi.

Jika kau intip dari tingkapnya,

Jangan kau lewatkan sumringah rautku.

Hendaknya kau tangkap ada yang sendu.

Tapi tidak, ini bukan kisah merah jambu.

Ini bukan rindu yang menggebu.

Ini hanya kedamaian yang biru.

Aku telah menerima cinta-Nya,

Yang diungkapkan-Nya lewat seratus empat belas surat,

Yang kutelusuri lagi dan lagi setiap hari…

Aku telah menerima cinta-Nya,

Yang selalu menatap ke dalam retina,

Yang selalu mendengar tanpa keluhan…

Aku telah menerima cinta-Nya,

Hingga cinta kecil di telapak tanganku kulepas,

Hingga mulai lagi kumerangkak walau kemarin aku berlari!

No comments:

Post a Comment