Tuesday, September 25, 2007

Hingga Ia pun Pergi..

Saturday, 1 September 2007, 11.04 am

Using the fact that f ’(x) = show that

the second derivative f ”(x) =

…..

Entah apa perasaan yang menggelayuti pikiranku, tiba-tiba kekosongan menyergapnya dan melumpuhkan tanganku untuk mencoba mengerjakan soal di atas. Huruf-huruf variables seperti x, n, p dan k menari-nari di pelupuk mataku. Dari arah atas, angka-angka pun turun, turut meramaikan tarian matematika huruf-huruf tersebut. Tak kusadari tanganku pun terangkat ingin mengusir tarian yang sangat menganggu itu. Mataku jadi berkunang-kunang karenanya. Namun isyarat tanganku diartikan sebagai kenyataan bertanya oleh sang guru dari depan kelas.

Bukan sebuah soal untuk ditanyakan sebenarnya; sedikit manipulasi sana-sini dengan mudah bias dibuktikan kebenaran second derivative-nya function itu. Beliau pun mulai menjelaskan dan setiap langkah yang diambilnya sudah kutebak 5 detik sebelum beliau benar-benar mengerjakannya.

Setelah beliau selesai, aku masih terhenyak duduk; tak ada reaksi. Tanpa bias kutahan, keluarlah sebuah kalimat terbodoh yang selalu kuharamkan untuk kuucapkan untuk diriku sendiri, “Sir, I am so stupid.”

Kudongakkan kepalaku yang sedari tadi menunduk. Baru kusadari wajahnya yang sedang menjelaskan pertanyaan tadi menyimpulkan sebuah senyum yang tak beda dari seseorang; menasihati dengan intonasi yang tak jauh berbeda, dan menyiratkan wibawa yang beratmosfir sama…

“You are not stupid, don’t say that. See, you’re good at algebra and manipulation. You’re really fast at working out how the shortest way of doing a question. You know what your problem is? You think… stop thinking and worrying, it’s not gonna get you anywhere.” , pelan tapi tegas dilugaskannya pikirannya tentangku. Agaknya, sinar mata yang layu ini membuatnya bertanya lebih jauh lagi.

“Are you okay?”

“No, Sir. I am not fine…”, akuku. Aku benar-benar lepas pegangan saat ini. “ My Dad has just told me that my Qur’an teacher has passed away last night.” Lepas juga kata-kataku.

“We all are alive, must die one day. Sooner or later, we’ll all do too…”, sinar matanya segaris dengan keabu-abuan rambutnya; penuh ketenangan seorang yang telah mengarungi kehidupan untuk beberapa saat lebih lama dariku yang masih setia dengan ketujuhbelasan yang rapuh ini.

Ia pun meninggalkanku sendirian, yang memang sudah sendiri sedari tadi. Perlahan dan lemah, kuperhatikan lagi tiap kata dalam SMS terakhir dari ayahku,

“Asswrwb.

Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Kakak, Waled Marzuki Nurul Awwal telah meninggalkan kita tadi pagi. Smg arwah beliau diterima Allah. Amin.”

*Nb : bagi anda yang bingung tentang siapa yang saya bicarakan, beliau adalah nama yang mungkin anda temui sebagai penghisab di kalendar-kalendar imsakiyah ramadhan yang beredar di Banda Aceh dan sekitarnya di tahun-tahun terdahulu.

No comments:

Post a Comment