Monday, October 29, 2007

Be- O -eS -A- eN, baca lagi, BOSAN!

jadi menjelang pukul 3 sore waktu Melbourne alias...apa gitu namanya (south east australian something something..aaaargh, gitu deh pokoknya)
dari pagi jam 11 sampai jam segini,
baru ngerjain satu ujian biology dari tahun 2001!
belajar man, belajaaaaaaaaaaaaaaaar!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


hufff, okay, everything is under control.

ok,
biology exam is coming up right?!
nuril : "sadaaar!"
trus ngapain lo OL mulu?
nuril : "bosen."
ya elah, lo bukan bosen, tapi milih untuk bosen.
nuril:" eh sembarangan ye kalo ngomong, gw pites abis lo!"
trus napa emang?
nuril:"pokoknya gw muaaaaaaak banget. tapi sebenarnya gw mau belajar, buktinya ni gw ngerasa bersalah bgt krn ga belajar."
and...
nuril:"and....what the hell! why would you care?"
karna ga baek bosan ga nentu, lo lagi banyak setannya nih, makanya malas.
nuril: (diam)..."do you think so?"
yup, gw yakin banget ni.
nuril:"emang setan ngapain ke gw?"
ya bikin lo males, ga semangat, bosen, tu kan tanda2 org ga sukses.
Tuhan juga ga suka org2 kaya gitu.
nuril:(terbelalak), Tuhan! ya, Tuhan! aduh gw kok takut ni ya?"
kenapa?
nuril:"Tuhan gitu lho, kalo Tuhan ga suka ma gw, siapa coba yg nemenin gw lagi?!
aduh gw nyesel banget ni uda malas2. mau belajar ah!"

ya udah, pegi sono, salam buat luteinising hormone, oxytocine, B-lymphocyte, microvillis,random sampling...and and..
nuril:"diem lo, gw mau belajar!"

Thursday, October 25, 2007

tentang seorang gadis bernama NuriL [part 2]

Hampir siang. Sebentar lagi lunch time. Nuril mencoba mengalihkan perasaannya yang tertekan di kelas Bahasa Indonesianya ini ke newspaper The Age terbitan hari ini yang diniatkannya untuk dibaca siang ini. Jika saja tidak akan dianggap tidak sopan, ia pasti sudah menutup telinganya sedari tadi. Panas, hatinya panas. Setiap kata yang didengarnya seakan-akan meniris-niris perasaannya. Jika saja kata-kata itu berasal dari teman sekelasnya, maka mungkin ia akan mencoba membalasnya. Mungkin; karena jikapun itu temannya, sikapnya yang non-defensif untuk hal-hal yang berkenaan tentang dirinya sendiri hanya akan mengunci bibirnya rapat-rapat.

“Lihat ini, essai murid saya dari sekolah lain. Baru pertama kalinya buat komentar sudah bagus.”, seru gurunya sambil melemparkan sebundel lampiran kertas. Lampiran-lampiran berisi komentar atas sebuah kutipan yang diambil dari sebuah cerpen yang pernah dimuat di harian Kompas, Indonesia, itu pun mendarat di atas meja Nuril. Ia tak bereaksi untuk beberapa saat. Tangannya terkepal rapat di bawah meja, wajahnya datar tanpa ekspresi. Selang beberapa detik kemudian, diraihnyalah bundelan tadi.

Be objective and sportive, bisik hatinya. Mana tahu aku yang salah, bisik hatinya lagi.

Perlahan ditelusurinya lembaran-lembaran kertas itu. Kening yang sedari tadi datar sedikit demi sedikit mulai berkerut. Alis matanya mulai bertemu, menandakan ‘protest mode’-nya on.

His essay’s structure is exactly like mine. Then what the heck is this teacher’s problem?, desis Nuril dalam hati.

“Sudah kamu baca komentarnya? Kasihkan ke Mona dan Harrik supaya bisa dibaca juga.”, gurunya itu melanjutkan.

Pelan dan lemah, Nuril memberikan kertas-kertas itu ke ‘cuma-dua’ teman sekelasnya. Tanpa disadarinya, tiba-tiba isi pikirannya dari tadi pun terucap juga.

“Bu, saya ngerjainnya juga kaya gitu. Poin-poinnya malah ada yang sama persis sama poin-poin di komentar saya. Salahnya di mana, Bu?”

“Kamu baca lagi, pasti ada yang kamu lupa.”, respon gurunya.

“Tapi komentar saya kan tidak selesai, Bu. Waktunya tidak cukup kan?”, Nuril menoleh ke teman-teman sekelasnya, mencari dukungan. Harrik menggeleng kecil, seakan-akan mencoba menyampaikan pesan “Anisa, udah jangan dipancing tu guru!”.

“Kita harus mengakui kalau orang lain itu bisa lebih baik dari kita. Bukan kita yang terpintar.”, jawab gurunya lagi.

Teng, teng, teng, bel lunch time berbunyi.

Nuril menyambar semua buku-buku dan folder pelajarannya dan mengarah ke arah perpustakaan sekolah. Bukan untuk membaca The Age, tapi untuk membanting buku-bukunya di meja kecil yang terletak di pojok paling belakang perpustakaan. Ditariknya kursi lalu terduduklah ia dengan seluruh amarahnya. Tangisnya membuat bahunya naik turun tak keruan.

Apa salahnya, pikirnya. Siapa yang merasa lebih pintar dari orang lain? Yang ia inginkan hanya keadilan. Jika memang ia salah dalam mengerjakan komentar itu, tunjukkan letak kesalahannya agar ia bisa perbaiki. Benar bahwa dengan membaca komentar yang lebih bagus ia bisa belajar untuk memperbaiki teknik penulisannya. Tetapi apa perlu kelemahannya itu diekspose ke seluruh dunia untuk kemudian dibanding-bandingkan dengan cara yang menyakitkan seperti itu? Ia tidak bisa menerima itu semua.

Diraihnya sebuah buku tulis, dibukanya halaman terakhir dari buku itu. Ia benar-benar sesak nafas. Ia harus melepaskan emosi ini, pikirnya. Maka disambarnyalah penanya…

Pernah kau terjatuh?

Dipaksa melihat borokmu tepat di saat kau mau borok itu disembuhkan?

Dituntut untuk menuntut saat tuntutan tidak hanya satu?

Disuruh berlari saat kau masih gamang dalam merangkak?

Bukan diangkat, tapi malah diperintahkan untuk berangkat.

Bukan dituntun, tapi malah disuruh untuk menuntun.

Bukan diri merasa pintar,

Justru tahu bahwa masih membikin onar.

Lantas cermin perbandingan itu harusnya dipakai untuk bercermin,

Bukan digunakan untuk memecahkan kepala yang tak dingin…

Melbourne, winter 2006

Wednesday, October 24, 2007

Tentang seorang Ahmad...

Suatu ketika, beberapa anak mengikuti
sebuah lomba mobil balap mainan.
Suasana sungguh meriah siang itu,
sebab, ini adalah babak final. Hanya
tersisa 4 orang sekarang dan mereka
memamerkan setiap mobil mainan yang
dimiliki. Semuanya buatan sendiri,
sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Ahmad.
Mobilnya tak istimewa, namun ia
termasuk dalam 4 anak yang masuk final.
Dibanding semua lawannya, mobil Ahmad
lah yang paling tak sempurna. Beberapa
anak menyangsikan kekuatan mobil itu
untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Tiba lah saat yang dinantikan. Final
kejuaraan mobil balap mainan. Setiap
anak mulai bersiap di garis start,
untuk mendorong mobil mereka kencang-
kencang. Di setiap jalur lintasan,
telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap"
keciln ya. Lintasan itu berbentuk
lingkar an dengan 4 jalur terpisah
diantara nya.

Namun, sesaat sebelum mulai, Ahmad
meminta waktu sebentar untuk berdoa.
Matanya terpejam, dengan tangan yang
bertangkup memanjatkan doa. Lalu,
semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku
siap!".
Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu
hentakan kuat, mereka mulai mendorong
mobilny a kuat-kuat. Semua mobil itu pun
meluncur dengan cepat. Setiap orang
bersorak-so rai, bersemangat, menjagokan
mobiln ya masing-masing. "Ayo..ayo...
cepat..cepat, maju..maju", begitu
teriak mereka. Ahha...sang pemenang
harus ditentukan, tali lintasan finish
pun telah terlambai. Dan, Ahmad lah
pemenangnya. Ya, semuanya senang,
begitu juga Ahmad. Ia berucap, dan
berkomat-kamit lagi dalam
hati. "Alhamdulillah, terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Ahmad maju
ke depan dengan bangga. Sebelum piala
itu diserahkan, ketua panitia
bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi
berdoa kepada Allah swt agar kamu
menang, bukan?". Ahmad terdiam. "Bukan,
Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata
Ahmad.
Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak
adil untuk meminta pada Allah swt untuk
menolongmu mengalahkan saudaramu yang
lain. "Aku, hanya bermohon pada Allah
swt, supaya aku tak menangis, jika aku
kalah."
Semua hadirin terdiam mendengar itu.
Setelah beberapa saat, terdengarlah
gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi
ruangan.


Sumber : Aldakwah.org

Tuesday, October 23, 2007

Suaramu bukan Milikku

dalam keriyuh-rendahan nada-nadaku
ada kamu, ada kamu, ada kamu.
suaramu yang bukan milikku.

terkadang kubiarkan lalu bagai peluit,
terkadang kusimak bait per bait,
terkadang membuatku terlilit.

kamu, kamu dan kamu.
suaramu bukan milikku,
tapi selalu bisa kudengarkan sambil lalu.

kamu, kamu dan kamu.
suaramu bukan milikku
menemani jam kosong sepiku.

kamu, kamu dan kamu.
suaramu bukan milikku
tetapi selalu tetap di situ.

kamu, kamu dan kamu,
suaramu bukan milikku,
tapi apa daya darimu?



















lha wong kamu, kamu dan kamu adalah munsyid yang mengisi play list winamp-ku dengan nasyid-nasyidmu ;D
hehehe...

Saturday, October 20, 2007

sebuah naskah yang dimuat di majalah sekolah

“Ms. Niswanto, would I receive something for this year’s Khayyam[1]?”, tanya Mr. Jackson kepadaku ketika berpapasan di tangga sebuah gedung sekolahku. Mr. Jackson adalah guru bahasa Inggris yang paling berumur dan berpengalaman di sekolah kami.

Aku menoleh kepadanya. Nelangsa. Dalam dekapanku masih terpeluk erat buku-buku dan folder pelajaranku untuk jam pelajaran berikutnya. Benar-benar tak kuharapkan ‘tantangan’ macam ini sekarang. Benar bahwa aku suka menulis, terutama essai-essai formal dan puisi. Namun chemistry practical report dan beberapa assignments lain yang due minggu depan sudah pasti akan mengisi weekendku kali ini.

Di satu pihak, aku benar-benar menikmati keikutertaanku tahun lalu dalam menyumbangkan naskah cerita naratif tentang kedatanganku ke Australia. Tahun ini, tentu saja aku akan merasa lebih dari senang untuk menyumbangkan tulisanku lagi untuk diaudisi dan diedit lalu diterbitkan. Namun apa yang harus aku tulis? Dan lagi, di mana ia yang bernama ‘waktu kosong’ untuk kepergunakan? Ah, kepalaku berdenyut. Jangankan untuk menulis sesuatu yang kusenangi, untuk sesuatu yang harus kukumpulkan minggu depan aku masih belum sepenuhnya bisa me-manage-nya.

“So, is that a ‘yes’?”, desak Mr. Jackson.

“I’ll try, Sir. But it’s not a promise. I’m overloaded by work.”, kujawab sesopan mungkin.

Dan entah inspirasi dari mana dan kapan, tiba-tiba kudapati diriku sedang menyerahkan draft pertama kepadanya di senin pagi kemudian.

Dua bulan kemudian, kudapati draft-ku yang dikembalikan lengkap dengan komentar-komentarnya, kesalahan-kesalahan dalam penyusunan kalimat atau frasa-frasa tertentu dan hal-hal gramatis lainnya.

“You know, it’s quite unique of you to have written this piece. I’ve never seen teenagers at your age write this way.”, senyumnya. “Sorry it took awhile for me to go through it and edit it. It’s in. I would like to see the second draft please”, sambungnya.

Maka kuperhatikan lagi draft pertamaku dan kuselesaikan draft keduaku. Begini ceritanya…

……

……

……

One night, my slumber was dreamless.

In the following morning, I woke up with it.

My slumber left me a quest,

To be solved, to be defined.

About something that was sung cheerfully.

About something that was praised up to the heaven.

It was known as love.

I didn’t quite know why love was sung,

Why love was praised,

Why love was addressed enticingly by those who admit to love

One thing I did know about love,

It had made my mother pray for my father’s safety every morning…

Further than that? I knew no more.

Out of my dreaming curiosity,

I walked through the bush of roses and hurt by its thorns.

I ran through the sand storm and blinded awhile by it.

But I enjoyed the complexity of this quest though,

Even if it was as complicated as finding the probability of whether it would rain in the following year.

One day, I stepped into a room full of knowledge.

A wise man started talking about truth, feeling, emotions and… love.

I straightened my back and sat properly as I wanted to know more about this very word.

I listened to him and every word he said about love.

The room eventually faded away as well as his disappearance.

I was left by myself.

Then I suddenly fell lugubrious,

For the answer of my quest floating high above the stars.

I cried,

I cried more.

It didn’t last for long.

I stood up and looked up,

So that all my tears would leak out no more.

A screen appeared next,

Full of choices.

“Should I opt one?” I asked.

“Yes”, a strange man said, with a smile.

The man was in a black suit, fairly charming and heart-melting

That time, I knew I had fallen in love,

With the man in black suit.

I knew I was sunk in it,

Couldn’t get out and was breathless.

I attempted to hypothesize the possibilities and manipulated some variables,

So that I could do an investigation there, right now.

But I couldn’t.

He made me shut my mouth.

He stole the lock of my heart’s door.

He watered the flowers of passion in the front yard of my feeling.

This love bound me sometimes,

Like the covalent bond formed between the two fluorine atoms.

It put me in danger in other times,

As if it damaged one of my motor neurons and stopped me from having a plantar reflex.

But then,

In one of the mornings,

He knocked at my heart’s door and smiled.

“This is my last smile for you. Pass my regards to the wind…”, and off he went.

I lost my ground.

I reached for a rope.

I grasped nothing.

I ran out of the air of life.

Then why did they say that the colour of love is pink,

Like the one they always advertised on February 14th?

Or why did they say it was dark red like a heart,

Like the one they always put between the words “I” and “You”?

It wasn’t as enchanting as they had been gossiping about,

I didn’t see anything like that!

I only saw my broken heart!

Then He came, with countless buckets of roses,

Offered me another love.

But I had already suffered from post traumatic stress disorder,

I shook my head.

I said, “No!”

He looked undistracted. “You won’t be left alone. Trust me… I am the Only One, The Most Merciful, The Most Compassionate.”

I moved my head to the north,

He was there.

I moved my head to the south,

He was there.

I moved my head to the west,

He was there.

I moved my head to the east now and I could guess that

He was there too.

He was The Greatest Ever,

I was astounded.

I questioned Him, “Who are You?”

“The air belongs to me.”

“You haven’t answered my question, who are You?”

“The wind also belongs to me.”

“What are You trying to say?”

“I am the owner of love…”

I couldn’t remember how I had fallen for another love,

But this was different.

This love never abandoned me.

He fulfilled His words that He would never leave those who love Him sincerely,

He had said he would come in a thousand steps if you came to Him in one step.

He would watch over you every second, every moment.

I was cured.

I was fine.

I was done…

That was it what I had been searching for.

And the man in black suit?

Let’s forget about him for a moment…

By Nuril Annissa Niswanto 12B

18th of May 2007



[1] Khayyam adalah majalah literature tahunan milik sekolah saya di mana students bisa ikut kontribusi

Monday, October 15, 2007

tentang seorang gadis bernama NuriL

Februari 1990, Peudaya (Aceh Pidie, NAD, Indonesia)

Ernawati mantong[1]…”, usul seorang pria yang baru menjadi seorang kakek dalam kehidupannya. Betapa kebahagiannya tergambar jelas di wajahnya.

Bek hai, Irnawati leubeeh lagak[2].”, usul istri sang pria yang tak kalah bahagianya.

Meu’ah Mak, Yah. Tapi kamoe ka meupakat bahwa nan jih Nuril Annissa[3]…”, sela sang ayah dari pintu depan rumah.

Februari 2003, Banda Aceh

Annisa…itu kan artinya wanita, pikirnya di sela-sela kelas bahasa Arabnya yang lebih mirip pasar ikan dari pada sebuah kelas di sebuah madrasah tsanawiyah ternama di Banda Aceh. Nuril tetap memancangkan matanya ke papan tulis di hadapan mejanya; ya, ia duduk tepat di depan meja guru.

Entah apa alasannya memilih posisi tersebut dulu di hari pertama semester genap kelas 2 MTsN ini. Ia suka mencari sensasi, mungkin. Lagipula, bukankah dulu waktu kelas 1, posisi duduknya yang paling belakang selalu menyusahkannya untuk mendengarkan penjelasan guru-gurunya lantaran ada Mulya, Oni, Fahmi, Vina dan Sani yang akan senantiasa mengajaknya berbicara tentang hal-hal lain selain pelajaran sekolah. Nilainya sempat anjlok sesaat, yang masih bisa ditolerir oleh orang tuanya. Lulusan SD memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri, begitu alasannya. Meskipun ia tahu bahwa alasan itu kurang tepat, akhirnya gelar rangking satu pun diraihnya kembali di caturwulan terakhir kelas 1 tahun lalu.

Huff…, Nuril menarik nafas panjang. Cara ejaan namanya tidak sesuai dengan yang sedang dilihatnya di papan tulis. Harusnya Annisa, bukan Annissa, batinnya dalam hati. Ia menggerutu kecil, sebenarnya apa sih bedanya? Toh, ia tidak pernah dipanggil dengan nama keduanya itu. Ia selalu dipanggil dengan…

“Ririn, minggir dikit napa man? Kepala Qe (baca: kamu) gede kali (baca: sekali), aku gak bisa liat papannya.”, protes Vina, temannya yang duduk di deretan belakang.

Nuril menggeser posisi duduknya.

“Nuril, nanti siang latihan. Jangan lupa!”, teriak Fery, sang ketua kelas dari bagian bangku cowok. Ia mengingatkan Nuril tentang latihan untuk penampilan akhir tahun dalam acara perpisahan dengan siswa-siswi kelas 3 nanti siang sehabis sekolah. Nuril setengah mengangguk, masih berdebat dalam dirinya tentang Annissa dan Annisa.

Lagipula, Annisa itu kan berstruktur Asy-syamsiah, jadi kalau pun harus disambung dengan kata An-Nuur, harusnya kan jadinya Nurinnisaa bukan Nuril Annissa! Ah, Nuril merasa ia mulai berbicara ngawur. Biarlah, asal masih bisa dengan gampang dikenal. Apalah arti sebuah nama, pikirnya kemudian.

“Woi Nuklir, udah dengar nasyid terbaru dari Rabbani tu? Ya, yang judulnya Intifadah tu? Keren kali kan?”, asal saja Mulya berbicara setengah berteriak dari bangkunya di sebelah Fery. Anak yang satu ini memang lebih sering memplesetin nama Nuril jadi Nuklir. Alasannya karena Nuril gampang diganggu, marah lalu meledak seperti bom nuklir. Mungkin alasan Mulya benar, karena saat ini Nuril sudah pasang muka ‘mogok bicara’ kepadanya.

“Riril, pinjam pulpennya boleh?”, sapa Maulida, teman sebangkunya yang lebih sering ngomong dengan buku pelajarannya dari pada dengan Nuril. Ia punya nama panggilan sendiri untuk Nuril juga, tipikal.

“Boleh”, jawab Nuril pelan. Ah, kelas terlalu ribut pikirnya. Guru bahasa Arab mereka seperti biasa selalu mendatanginya sebagai pelarian ‘teman berbicara’ karena seisi kelas tak ada yang serius mendengarkan. Nuril meladeni niat gurunya yang memang sudah tahu persis bahwa ia punya minat lebih dalam hal bahasa asing. Di balik basa-basinya, ia sebenarnya ingin melanjutkan materi pelajaran. Tapi ah, pikirnya, kok kesannya seakan-akan tidak ada perkembangan ya? Memang lebih baik belajar dengan ustadz nanti malam, pikirnya. Kelas bahasa Arab di pesantren dekat rumahnya yang hampir tiap malam didatanginya pun memberikan perasaan tenang.

“Yiyin, fi ayyi sa’ah tastayyqidhiina hadza sabaahaan?”, serang kak Nurul yang punya nama panggilan lain untuk Nuril. Kak Nurul adalah seniornya yang malam itu, menanyakan pukul berapa ia bangun pagi. Sekedar pemanasan percakapan dalam bahasa Arab. Nuril tersenyum, ia benar. Di sinilah ia bisa belajar lebih banyak.

Februari 2007, Coburg (Melbourne, Victoria, Australia)

Okay, as the introduction, mention your name and your particular interest in Islamic studies.”, intsruksi Mr. Belal Assad, guru Islamic studies Nuril di Australian International Academy, sekolah yang dihadirinya lewat beasiswa tersebut masih terngiang. Ini saatnya ia mengerjakan instruksi gurunya tersebut.

My name is Anisa, and my particular interest in Islamic studies is tawheed.”, jawabnya lugas.

Ya, Anisa. Ia sudah bertukar nama panggilan. Semua ini berawal dari peristiwa di bulan Juli 2004 itu, saat guardiannya yang menjemputnya dari bandara udara Tullamarine Melbourne lebih mengingat nama keduanya dari pada nama pertamanya. Sejak saat itu, ia selalu dikenalkan dengan nama keduanya tersebut kepada semua orang lain. Maka ia pun melanjutkan ‘keterlanjuran’ itu, mengingat bahwa nama pertamanya lebih terdengar seperti noodle(baca: mie instant) dari pada Nuril. Hanya saja kali ini, tak ditekankannya bunyi tasydid di ‘n’ atau ‘s’-nya, netral pikirnya.

Anisa, what a really nice name.”, sambut gurunya. “That, in arabic, means, somebody who is really nice, masha Allah…”, senyum teduhnya menjelaskan.

Nuril hanya bisa tersenyum balik, hal itu baru diketahuinya.

Bel istirahat pun berbunyi, Nuril dan teman-temannya sepakat untuk pergi ke perpustakaan sekolah, sekedar surfing the net dan menemukan hal-hal lucu untuk ditertawakan, refreshing.

Maliha, salah seorang temannya pun segera pergi ke sebuah website yang memberikan fasilitas kamus bahasa inggris yang menjelaskan arti kosakata tertentu bagi siswa-siswi kurang vocabulary macam mereka. Iseng, diisinya kolom search dengan nama seorang teman laki-laki mereka yang kebetulan berpostur tambun. Namanya Hanni. Jawabannya pun kontan membuat mereka terbahak-bahak.

Someone who is really fat, tertulis di layar komputer. Mereka semua mengangguk-angguk setuju sambil tidak bisa menahan tawa.

“Hey, type in Anisa”, iseng Nuril.

Maka keluarlah sebuah definisi di layar komputer tersebut.

Someone who is really sweet.

Ah, pikir Nuril, internet mah tidak bisa dipercaya.

September 2007, Preston (Melbourne, Victoria, Australia)

Anisa, anisa….you know what that means?”, tanya seorang sahabatnya yang sudah beranak dua dan berkebangsaan Arab Saudi di Preston Mosque, sebuah mesjid local dekat homestay-nya.

No, what does that mean?”, pancing Nuril.

It means, a girl who’s not married yet.”, urainya.

Kontan Nuril tertawa kecil. Lantas ia pun kembali bertanya.

So when I get married, insha Allah, what will happen to my name? What will I be called with?”, candanya.

Sekarang gilirannya tertawa kecil.

Madame Anisa.”, serunya sambil tersenyum. “It also means somebody who is nice, innocent…”, sambungnya. “It is a really nice name.”

Oktober 2007, Reservoir (Melbourne, Victoria, Australia)

Tiba-tiba Nuril teringat masa-masa kanak-kanaknya yang sering bingung tentang makna namanya. Kini, di sini ia menemukan banyak sekali dan ia berharap semua itu . Entah apa yang membawanya ke kenangan lama itu malam ini. Tiba-tiba ia memutuskan untuk menuliskannya dalam bentuk sebuah cerita pendek fiktif yang menggunakan sudut pandang orang ketiga dan fakta-fakta yang benar-benar terjadi.

Keadaannya yang meriang dan sedikit bersuhu tinggi tidak bisa menahan inspirasinya. Harus tertulis, harus, pikirnya. Setelah selesai kira-kira pukul 10 malam waktu Melbourne, dipublikasikannyalah cerita itu di blog pribadinya yang biasa diakses melalui URL www.noorrea90.multiply.com.

Malam itu, ia tahu ia akan bermimpi tentang kenangan-kenangan lama itu lagi.



[1] Ernawati saja

[2] janganlah, Irnawati lebih bagus

[3] Maaf Pak, Bu..tapi kami sudah mufakat bahwa namanya Nuril Annissa

Sunday, October 14, 2007

mari berpuisi lagi

lucu, benar-benar lucu.
terlalu lucu aku lupa untuk tertawa.

aneh, benar-benar aneh.
terlalu aneh aku lupa untuk terkesima.

zebra, singa, harimau, kangguru, koala, platipus,
wombat, merpati, musang, gajah, jerapah,
....

rasanya belum cukup kusebut isi kebun binatang untuk perasaan ini.

kucing, anjing, kerbau, sapi, biri-biri, ayam, bebek, angsa,
....

masih belum cukup juga.



huff....dosa, dosa.
dosa, dosa, dosa.


masih dosa, dosa, dosa, dosa.

perhatian: otak sang pengarang sedang tidak pada tempatnya

Wednesday, October 10, 2007

"I wanna get married!!!"

“I wanna get married!”

Bibirku mengerucut. Protes. Not again…

“Hebah, I don’t wanna talk about it again” ujarku sambil menatapnya sungguh-sungguh sementara jari-jariku tetap menari di atas keyboard komputer sekolah di perpustakaan, sedang membalas email.

“Look, he’s my fiancĂ©e.” ,sambungnya sambil menunjuk ke layar komputer di depannya.

Mulutku makin mengerucut. Mmm….ganteng banget sih nggak, tapi jelek banget juga gak (emang ganteng itu gimana sih? Hehe..). Yang jelas buat ukuran sini, cowok tersebut biasa aja, walaupun kalau dibawa pulang ke Aceh pasti bakal abis dicomot sama ‘cewek-cewek gaul’ di seputaran kota.

“Where is he?”, penasaran juga. Ah, kalau cinta sudah melekat apapun terasa seperti cokelat (wuiiiih romantis euy).

Lebanon.” , ujarnya malu-malu.

Gedubraaaaak. Import toh? Alah mak! Hidungnya mancung, kurus tinggi, kulitnya juga gak putih-putih banget; biasa aja. Dengan sunglasses coklat dan topi koboy beserta tangan yang berkecak di pinggang. Berlatarkan rumah-rumah yang tersusun di tanah perbukitan khas Lebanon. Tipikal.

“How did you meet him, by the way?”, aku makin penasaran. Ni cowok pasti pinter merayu…dalam bahasa Arab tentunya misalnya gini Habibtiiiiii oh habibtiiiiiii…..!!!! hehehe…ngawur!

“When I went to Lebanon, I met him. We talked and talked. He got my msn from my cousin and then we talked and talked more.”, sambungnya setengah melamun.

Cousin? Kacau deh. Sepupu, sepupu… kalau uda ngomong tentang orang Lebanon kalau gak melibatkan sepupu kayaknya emang ga pernah afdhol. Mau masalah jodoh kek, masalah balas dendam kek, masalah yang lain-lain kek. Maaf aja, tapi semua juga tau kok kalau dalam adat Lebanon, hampir bisa dibilang semua orang dengan surname yang sama itu sepupu. Dan kalau uda sepupu, siap-siap aja untuk saling kunjung-mengunjungi, bahas-membahas gossip de el el.

“Hey, do you think I should get married next year?”

Tuiiing, taon depan? Tidaaaaak, jangaaaaaan. Semua termakan dalam teriakanku dalam hati.

“Hebah, go to uni. Get married later.” Jawabku datar. Ni anak kenapa sih, hari gini!!! ini bukan pertama kalinya ia menyinggung-nyinggung hal yang satu ini.

“So what? I don’t wanna go to uni. Im sick of studying.” Kesalnya.

“Ummm…wait until you get married and you’ll say ‘owh how I wish I could go to uni and study and not just cooking and cleaning’.” Paparku panjang lebar.

“What’s wrong with cooking and cleaning?”, tanyanya.

“Nothing. Seriously nothing. But if you’re gonna come there and get married to him. What are you gonna do for the rest of your lifetime? Just staying at home all day and cooking and cleaning for the visitors who’re coming over at night and just having parties all week?”, serangku.

“Yeah, of course. I love parties.”, senyum nakalnya merekah. Huh, dasar.

“But why do you wanna marry him? Why not other guy from here or something??”, aku benar-benar hilang akal.

“He said he loved me and he’d marry me!!”, belanya.

Ampuuuun deh, dasar cowok dan dasar cewek!!!!!!!!! Dasar cowok selalu punya kata-kaya merayu dan dasar cewek yang dengan gampangnya terayu!

“Please tell me your parents know about him.” Mataku belum lepas dari layar komputer di depanku.

“Nope, they don’t.”

Aku berhenti mengetik. Ni anak benar-benar butuh ‘ceramah’.

“Hebaaaaaah…”, pelasku. “And you’re telling me all this plan to go to Lebanon, you wanna marry him and bla bla and your parents don’t know anything about him?”. Kesal, benar-benar kesal. Seperti ada perasaan terkhianati. Bisa kubayangkan orang tuaku akan kecewa dan sedih jika aku sembunyi-sembunyi di belakang punggung mereka merencanakan sesuatu semacam ini. Aku tidak akan pernah mau itu terjadi.

“Hebah, I beg you. Please don’t do that.”, hilang kata-kata.

“But why????...”, ia masih bertanya.

“Hebah, getting married isn't only about getting together and make love. Getting married is about being in the same room with a guy who probably snores when he sleeps, splashes the tooth paste when he brushes, makes a lot of noises when he eats. You also will need to think about the shopping list, the rent, the bills, and owh, did I mention about kids too?”, ceracasku. “See, getting married is a whole lot of commitment. Don’t only think about the getting fun part only. There’s more to it.”, kupaparkan isi hatiku sejak dulu mengenai hal sensitive ini.

“All right, calm down. Im not gonna eat you.”, ia mencoba bercanda.

Aku pun minta ijin dan pindah tempat. Ku-log off komputer yang sedari tadi beroperasi atas user name-ku. Aku pusing, benar-benar pusing.

Apa ini karena usia tujuh belasnya? Atau apa ini cuma panggilan menyempurnakan diinnya? Tapi, kenapa malah ada ketidaksetujuan membayang perlahan di pikiranku?

Pusing, masih pusing. Antara kehalalan untuk menyempurnakan diin sekarang dan ketidakdewasaan kami makhluk bernama remaja tujuh belasan dalam mengarungi sesuatu bernama ikatan seumur hidup…

Tidak, tidak segampang itu, otak kecilku berbisik. Oh well, bukan urusanku dan aku tidak mau tau. Ada ujian percobaan yang harus kurampungkan sebisa mungkin minggu ini. Bukan waktu untuk memikirkan tentang hal-hal yang tidak relevan dalam hal apapun. Termasuk tentang senyum sahabatku yang kemerah-mudaan di pojok ruang komputer khusus kelas 11 dan 12 itu.

Ada komen tambahan?

Monday, October 8, 2007

ujian; apa berarti belajar?

jadi ini menjelang pukul 10 malam dan besok saya punya ujian percobaan Psikologi tahap 1 dan Matematika tahap 2 dan bukannya tenggelam dalam bahan-bahan bacaan tentang perbandingan antara teori-teori James Watson dan Carl Rogers atau hubungan antara vector dan arah terbang sebuah pesawat, saya malah kemari dan memutar-mutar mouse, klik sana-sini, liat-liat blog orang lain de el el.

kenapa?

karena saya sedang tidak ingin belajar.

saya tidak sendirian, poing, poing, poing, barusan uda 3 orang online di msn mesenger saya (mau ujian juga besok) yang akan bertambah jumlahnya semakin malam melarut nantinya.

kenapa saya tidak mau belajar?

mmmm...pertanyaan bagus.

kata guru matematika saya yang sudah saya anggap sebagai 'kakek-serep' karena kakek saya sedang berada jauh dari saya, jangan belajar semalam sebelum ujian.

kenapa?

karena itu berarti kamu gak siap dari kemaren-kemaren.
jangan stress, katanya lagi. jangan bingung dan takut, tambahnya kemudian.

kenapa?, begitu saya tanyakan pada beliau.

katanya, karena kalau bingung dan takut-takut padahal uda banyak latihan-latihan ngerjain soal-soal ujian lagi dan lagi dari bulan-bulan kemarin dan uda mantap dalam mengenali jawaban macam apa yang diinginkan oleh pertanyaan,
berarti jawabannya cuma satu; TIDAK MENARUH KEPERCAYAAN SAMA YANG DI ATAS.

mmmm....interesting point, Pak.

terus kenapa bukannya gak ngerjain hal laen dan malah ke MP?

mmmm...pertanyaan bagus selanjutnya.

karena saya sedang ingin menulis.
di titik ini, saya berhenti, jeda sesaat.

....

dalam 2 minggu, saya akan resmi selesai tugas sebagai seorang siswi. tidak akan ada lagi bel sekolah, tidak akan ada lagi guru yang ngejar-ngejar laporan praktikum atau studi empiris, tidak akan ada lagi kesepakatan untuk tidak mengumpulkan tugas pada waktunya sebagai wujud protes terhadap guru (ckckckck...)...

tidak akan ada lagi seragam sekolah.

ANEH.

BENAR-BENAR ANEH.

tanpa seragam sekolah...

dulu ketika saya masih TK, saya ingat sering ingin tumbuh dewasa agar bisa melihat isi lemari kaca berisi perabotan-perabotan tertentu milik ibu saya tanpa harus naik ke atas kursi terlebih dulu.

sering juga saya cemburu melihat teman-teman bermain saya (yang paling kurang lebih tua 3 tahun dari saya) bisa lebih dulu bersekolah. jadilah saya masuk sekolah lebih awal setahun karena itu.

sekarang, saat semuanya telah menjadi nyata, kok kayanya masa-masa TK dulu harusnya lebih saya hargai ya? nah kan, poing, poing, 2 lagi online di msn messenger.

benar-benar random malam ini, benar-benar tidak waras.

oh well, ujian besok, ujian....belajar? ummmmm.......mungkin besok pagi lirik-lirik aja buku Oxford Study Guide for Psychology sebentar.

apa lagi....mmmm....masih random, maaf jika isi blog saya masih tidak bisa mengusir rasa bosan anda, hahahaha...

Thursday, October 4, 2007

SMS: ????

Tetap istiqomah, Ukhti. Selamat berjuang. Semoga Allah menyertai anti.

Sender : Ikhwan +62817xxx

Senyum timbul dari cakrawalanya dengan malu-malu. Serasa ada hangat menyelusup dada dan membuat jantung berdegup lebih cepat. Otaknya pun sekejap bertanya, ”Ada apa? Sungguh, bukan apa-apa. Aku hanya senang karena ada saudara yang menyemangatiku.” Si akhwat menyangkal hatinya cepat-cepat. Dan ia bergegas meninggalkan kamarnya, ada dauroh. Ia berlari sambil membawa sekeping rasa bahagia membaca SMS tadi yang sebagian besar bukan karena isinya, melainkan karena nama pengirimnya.

Ana lagi di bundaran HI, Ukhti. Doakan kami bisa memperjuangkan ini.

Sender : Ikhwan +628179823xxx

Untuk apa dia memberitahukan ini padaku. Bukankah banyak ikhwan atau akhwat lain? Nada protes bergema di benaknya. Tapi di suatu tempat, entah di mana ada derak-derak yang berhembus lalu. Derak samar bangga menjadi perempuan yang terpilih yang di-SMS-nya.

Pagi itu, handphone kesayangannya berbunyi.

Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti.

Dada membuncah hampir meledak bahagia. Dia bahkan ingat hari lahirku! Dibacanya dengan berbunga-bunga. Tapi pengirimnya

Sender : Akhwat +6281349696xxx

Senyum tergurat memudar. Tarikan napas panjang. Kecewa, bukan dari dia. Ringtone-nya berbunyi lagi.

Ukhti, Selamat hari lahir. Semoga hari-hari yang dijalani lebih memberi arti.

Sender : Ikhwan +628179823xxx

Dia! Semburat jingga pagi jadi lebih indah berlipat kali. Senyumnya mengembang lagi. Dan bunga-bunga itu mekar-lah pula.

Cerita di atas tadi selurik gerak hati seorang akhwat di negeri antah berantah yang sangat dekat dengan kita. Gerak hati yang mungkin pernah bersemayam di dada kita juga. Bisa jadi kita mengangguk-angguk tertawa kecil atau berceletuk pelan, ”Seperti aku nih,” saat membacanya. Hayo ngaku! He he he

Mari kita cermati fragmen terakhir dari cerita tadi. Kalimat SMS keduanya persis sama, yang intinya mengucapkan dan mendoakan atas hari lahir (mungkin mencontek dari sumber yang sama he he he). SMS sama tapi berhasil menimbulkan rasa yang jelas berbeda. Karena memang ternyata lebih berarti bagi si akhwat adalah pengirimnya, bukan apa yang dikatakannya.

Namun sebenarnya, apakah Allah membedakan doa laki-laki dan perempuan? Mengapa menjadi lebih bahagia saat si Gagah yang mendoakan? Semoga selain mengangguk-angguk dan tertawa kecil, kita juga berani memandang dari sudut pandang orang ketiga. Dengan memandang tanpa melibatkan rasa (atau nafsu?), kita akan bisa berpikir dengan cita rasa lebih bermakna.

Konon, cerita tadi terus berlanjut.

Suatu hari yang cerah, sang akhwat mendapat kiriman dari si ikhwan itu. Sebuah kartu biru yang sangat cantik. Tapi sayang, isinya tidak secantik itu. Menghancurkan hati akhwat menjadi berkeping-keping tak berbentuk lagi. Kartu biru itu adalah kartu undangan pernikahan si ikhwan. Dengan akhwat lain, tentu saja. Berbagai Tanya ditelannya. Mengapa dia menikah dengan akhwat lain? Bukankah dia sering mengirim SMS padaku? Bukankah dia sering me-miscall ku untuk qiyamull lail? Bukankah dia ingat hari lahirku? Bukankah dia suka padaku? Mengapa? Mengapa???

Dan air mata berjatuhan di atas bantal yang diam. Teman, jangan bilang, yaa!!! dia hanya tidak tahu, ikhwan itu juga mengirimkan SMS, miscall, mengucapkan selamat hari lahir dan bersikap yang sama ke berpuluh akhwat lainnya!

Ironis. Sedih, tapi menggelikan, menggelikan tapi menyedihkan. Sekarang siapa yang bisa disalahkan? Akhwat memang seyogiyanya menyadari dari awal, SMS-SMS yang terasa indah itu bukan tanda ikatan yang punya kekuatan apa-apa. Siapa yang menjamin bahwa ikhwan itu ingin menikahinya? Bila ia berharap, maka harapanlah yang akan menyuarakan penderitaan itu lebih nyaring.

Tetapi para ikhwan juga tak bisa lari dari tanggung jawab ini. Allahualam apapun niatnya, semurni apapun itu, ingatlah, SMS melibatkan dua orang, pengirim dan penerima. Putih si pengirim, tak menjamin putihnya juga si penerima. Bisa jadi ia akan berwarna merah muda. Merah muda di suatu tempat di hati atau menjadi rona di pipi yang tak akan bisa disembunyikan di depan Allah.

Bagi perempuan, SMS-SMS dan bentuk perhatian sejenis dari laki-laki bisa menimbulkan rasa yang sama bentuknya dengan senyuman, kedipan menggoda, dan daya tarik fisik perempuan lainnya bagi laki-laki.

Menimbulkan sensasi yang sama. Ketika perempuan bertanya berbagai masalah pribadinya padamu, seringkali bukan solusi yang ingin dicari utamanya. Melainkan dirimu. Ya, sebenarnya perempuan ingin tahu pendapatmu tentang dia, apakah dirimu memperhatikannya, bagaimana caramu memandang dirinya. Dirimu, dirimu, dan dirimu, dan kami ”kaum hawa”- sayangnya, juga memiliki percaya diri yang berlebihan, atau bisa dibahasakan lain dengan mudah Ge-Er Jadi, tolong hati-hati dengan perhatianmu itu.

Paling menyedihkan saat ada seorang aktivis yang tiba-tiba berkembang gerak dakwahnya atau semangat qiyamul lailnya karena terkait satu nama. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Ketika kita menyandingkan niat tidak karena Allah semata, maka apalah harganya! Apa harganya berpeluh-payah bukan karena Dia, tapi karena dia. Seseorang yang sama sekali bukan apa-apa, lemah seperti manusia lainnya.

Laki-laki dan wanita diciptakan berbeda bukan saling memusuhi, bukan juga saling bercampur tak bertepi, tapi semestinya saling menjaga diri. Secara fisik, emosional, atau kedua-duanya. SMS tampak aman dari pandangan orang lain, hubungan itu tak terlihat mata. Tapi wahai, syetan semakin menyukainya. Mereka berbaris di antara dua handphone itu. Maka dimanapun mereka berada, syaitan tetaplah musuh yang nyata!

Wahai akhwat, bila kau menginginkan SMS-SMS itu, tengoklah inbox-mu. Bukankah disana tersusun dengan manis SMS-SMS dari saudarimu. Saudari-saudarimu yang dengan begitu banyak aktivitas, amanah, kelelahan, dan kesedihan yang sangat memerlukan perhatianmu. Juga begitu banyak teman-temanmu yang belum mengenal Islam menunggu kau bawakan SMS-SMS cahaya untuk mereka.

Ada saatnya. Ya, ada saatnya nanti handphone kita dihiasi SMS-SMS romantis. SMS-SMS yang walaupun hurufnya berwarna hitam semua, tapi tetap bernadakan merah muda. Untuk seseorang dan dari seseorang yang sudah dihalalkan kita berbagi hidup, dan segala kata cinta di alam semesta.

Cinta yang bermuara pada penciptaNya. Cinta dalam Cinta. Bersabarlah untuk indah itu.

Ummi, abi lagi ngisi ta’lim di kampus pelangi. Di depan abi ada beribu bidadari-bidadari berjilbab rapi, tapi tak ada yang secantik bidadariku di istana Baiti Jannati. Miss u my sweety.

Abi, yang teguh ya, pangeranku, rumah ini terasa gersang tanpa teduh wajahmu. Luv yaa

Ya, hanya untuk dia kita tulis the Pinkest Short Massage Services. SMS-SMS paling merah muda. (www.baitijannati.wordpress.com)

Monday, October 1, 2007

?

Aku tiba-tiba ingin menoreh kata,

Yang menyeruak,

Yang menggebrak.

Aku tiba-tiba ingin menatap merpati,

Yang menari-nari,

Yang melesat ke kebiruan tinggi.

Aku tiba-tiba ingin terus tersenyum,

Terulum dalam malam,

Tak kelam dalam rembulan.

Dentingan piano mulai mengiringi desahku.

Alunan biola pun turut menemani kerlingan mataku.

Petikan-petikan dawai gitar lalu meramaikan imajiku.

Sesuatu bernama rindu berlabuh teduh.

Mengetuk-ngetuk tiap sisi hati

Tak tahu awalnya, tapi pasti akhirnya.

Ah hati;

Tiba-tiba sungai di tepinya mengalir lagi.

Tiba-tiba langit di junjungannya mencerah lagi.

Jika kau intip dari tingkapnya,

Jangan kau lewatkan sumringah rautku.

Hendaknya kau tangkap ada yang sendu.

Tapi tidak, ini bukan kisah merah jambu.

Ini bukan rindu yang menggebu.

Ini hanya kedamaian yang biru.

Aku telah menerima cinta-Nya,

Yang diungkapkan-Nya lewat seratus empat belas surat,

Yang kutelusuri lagi dan lagi setiap hari…

Aku telah menerima cinta-Nya,

Yang selalu menatap ke dalam retina,

Yang selalu mendengar tanpa keluhan…

Aku telah menerima cinta-Nya,

Hingga cinta kecil di telapak tanganku kulepas,

Hingga mulai lagi kumerangkak walau kemarin aku berlari!