Wednesday, October 24, 2007

Tentang seorang Ahmad...

Suatu ketika, beberapa anak mengikuti
sebuah lomba mobil balap mainan.
Suasana sungguh meriah siang itu,
sebab, ini adalah babak final. Hanya
tersisa 4 orang sekarang dan mereka
memamerkan setiap mobil mainan yang
dimiliki. Semuanya buatan sendiri,
sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Ahmad.
Mobilnya tak istimewa, namun ia
termasuk dalam 4 anak yang masuk final.
Dibanding semua lawannya, mobil Ahmad
lah yang paling tak sempurna. Beberapa
anak menyangsikan kekuatan mobil itu
untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Tiba lah saat yang dinantikan. Final
kejuaraan mobil balap mainan. Setiap
anak mulai bersiap di garis start,
untuk mendorong mobil mereka kencang-
kencang. Di setiap jalur lintasan,
telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap"
keciln ya. Lintasan itu berbentuk
lingkar an dengan 4 jalur terpisah
diantara nya.

Namun, sesaat sebelum mulai, Ahmad
meminta waktu sebentar untuk berdoa.
Matanya terpejam, dengan tangan yang
bertangkup memanjatkan doa. Lalu,
semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku
siap!".
Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu
hentakan kuat, mereka mulai mendorong
mobilny a kuat-kuat. Semua mobil itu pun
meluncur dengan cepat. Setiap orang
bersorak-so rai, bersemangat, menjagokan
mobiln ya masing-masing. "Ayo..ayo...
cepat..cepat, maju..maju", begitu
teriak mereka. Ahha...sang pemenang
harus ditentukan, tali lintasan finish
pun telah terlambai. Dan, Ahmad lah
pemenangnya. Ya, semuanya senang,
begitu juga Ahmad. Ia berucap, dan
berkomat-kamit lagi dalam
hati. "Alhamdulillah, terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Ahmad maju
ke depan dengan bangga. Sebelum piala
itu diserahkan, ketua panitia
bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi
berdoa kepada Allah swt agar kamu
menang, bukan?". Ahmad terdiam. "Bukan,
Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata
Ahmad.
Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak
adil untuk meminta pada Allah swt untuk
menolongmu mengalahkan saudaramu yang
lain. "Aku, hanya bermohon pada Allah
swt, supaya aku tak menangis, jika aku
kalah."
Semua hadirin terdiam mendengar itu.
Setelah beberapa saat, terdengarlah
gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi
ruangan.


Sumber : Aldakwah.org

No comments:

Post a Comment