Thursday, October 25, 2007

tentang seorang gadis bernama NuriL [part 2]

Hampir siang. Sebentar lagi lunch time. Nuril mencoba mengalihkan perasaannya yang tertekan di kelas Bahasa Indonesianya ini ke newspaper The Age terbitan hari ini yang diniatkannya untuk dibaca siang ini. Jika saja tidak akan dianggap tidak sopan, ia pasti sudah menutup telinganya sedari tadi. Panas, hatinya panas. Setiap kata yang didengarnya seakan-akan meniris-niris perasaannya. Jika saja kata-kata itu berasal dari teman sekelasnya, maka mungkin ia akan mencoba membalasnya. Mungkin; karena jikapun itu temannya, sikapnya yang non-defensif untuk hal-hal yang berkenaan tentang dirinya sendiri hanya akan mengunci bibirnya rapat-rapat.

“Lihat ini, essai murid saya dari sekolah lain. Baru pertama kalinya buat komentar sudah bagus.”, seru gurunya sambil melemparkan sebundel lampiran kertas. Lampiran-lampiran berisi komentar atas sebuah kutipan yang diambil dari sebuah cerpen yang pernah dimuat di harian Kompas, Indonesia, itu pun mendarat di atas meja Nuril. Ia tak bereaksi untuk beberapa saat. Tangannya terkepal rapat di bawah meja, wajahnya datar tanpa ekspresi. Selang beberapa detik kemudian, diraihnyalah bundelan tadi.

Be objective and sportive, bisik hatinya. Mana tahu aku yang salah, bisik hatinya lagi.

Perlahan ditelusurinya lembaran-lembaran kertas itu. Kening yang sedari tadi datar sedikit demi sedikit mulai berkerut. Alis matanya mulai bertemu, menandakan ‘protest mode’-nya on.

His essay’s structure is exactly like mine. Then what the heck is this teacher’s problem?, desis Nuril dalam hati.

“Sudah kamu baca komentarnya? Kasihkan ke Mona dan Harrik supaya bisa dibaca juga.”, gurunya itu melanjutkan.

Pelan dan lemah, Nuril memberikan kertas-kertas itu ke ‘cuma-dua’ teman sekelasnya. Tanpa disadarinya, tiba-tiba isi pikirannya dari tadi pun terucap juga.

“Bu, saya ngerjainnya juga kaya gitu. Poin-poinnya malah ada yang sama persis sama poin-poin di komentar saya. Salahnya di mana, Bu?”

“Kamu baca lagi, pasti ada yang kamu lupa.”, respon gurunya.

“Tapi komentar saya kan tidak selesai, Bu. Waktunya tidak cukup kan?”, Nuril menoleh ke teman-teman sekelasnya, mencari dukungan. Harrik menggeleng kecil, seakan-akan mencoba menyampaikan pesan “Anisa, udah jangan dipancing tu guru!”.

“Kita harus mengakui kalau orang lain itu bisa lebih baik dari kita. Bukan kita yang terpintar.”, jawab gurunya lagi.

Teng, teng, teng, bel lunch time berbunyi.

Nuril menyambar semua buku-buku dan folder pelajarannya dan mengarah ke arah perpustakaan sekolah. Bukan untuk membaca The Age, tapi untuk membanting buku-bukunya di meja kecil yang terletak di pojok paling belakang perpustakaan. Ditariknya kursi lalu terduduklah ia dengan seluruh amarahnya. Tangisnya membuat bahunya naik turun tak keruan.

Apa salahnya, pikirnya. Siapa yang merasa lebih pintar dari orang lain? Yang ia inginkan hanya keadilan. Jika memang ia salah dalam mengerjakan komentar itu, tunjukkan letak kesalahannya agar ia bisa perbaiki. Benar bahwa dengan membaca komentar yang lebih bagus ia bisa belajar untuk memperbaiki teknik penulisannya. Tetapi apa perlu kelemahannya itu diekspose ke seluruh dunia untuk kemudian dibanding-bandingkan dengan cara yang menyakitkan seperti itu? Ia tidak bisa menerima itu semua.

Diraihnya sebuah buku tulis, dibukanya halaman terakhir dari buku itu. Ia benar-benar sesak nafas. Ia harus melepaskan emosi ini, pikirnya. Maka disambarnyalah penanya…

Pernah kau terjatuh?

Dipaksa melihat borokmu tepat di saat kau mau borok itu disembuhkan?

Dituntut untuk menuntut saat tuntutan tidak hanya satu?

Disuruh berlari saat kau masih gamang dalam merangkak?

Bukan diangkat, tapi malah diperintahkan untuk berangkat.

Bukan dituntun, tapi malah disuruh untuk menuntun.

Bukan diri merasa pintar,

Justru tahu bahwa masih membikin onar.

Lantas cermin perbandingan itu harusnya dipakai untuk bercermin,

Bukan digunakan untuk memecahkan kepala yang tak dingin…

Melbourne, winter 2006

No comments:

Post a Comment