Monday, October 15, 2007

tentang seorang gadis bernama NuriL

Februari 1990, Peudaya (Aceh Pidie, NAD, Indonesia)

Ernawati mantong[1]…”, usul seorang pria yang baru menjadi seorang kakek dalam kehidupannya. Betapa kebahagiannya tergambar jelas di wajahnya.

Bek hai, Irnawati leubeeh lagak[2].”, usul istri sang pria yang tak kalah bahagianya.

Meu’ah Mak, Yah. Tapi kamoe ka meupakat bahwa nan jih Nuril Annissa[3]…”, sela sang ayah dari pintu depan rumah.

Februari 2003, Banda Aceh

Annisa…itu kan artinya wanita, pikirnya di sela-sela kelas bahasa Arabnya yang lebih mirip pasar ikan dari pada sebuah kelas di sebuah madrasah tsanawiyah ternama di Banda Aceh. Nuril tetap memancangkan matanya ke papan tulis di hadapan mejanya; ya, ia duduk tepat di depan meja guru.

Entah apa alasannya memilih posisi tersebut dulu di hari pertama semester genap kelas 2 MTsN ini. Ia suka mencari sensasi, mungkin. Lagipula, bukankah dulu waktu kelas 1, posisi duduknya yang paling belakang selalu menyusahkannya untuk mendengarkan penjelasan guru-gurunya lantaran ada Mulya, Oni, Fahmi, Vina dan Sani yang akan senantiasa mengajaknya berbicara tentang hal-hal lain selain pelajaran sekolah. Nilainya sempat anjlok sesaat, yang masih bisa ditolerir oleh orang tuanya. Lulusan SD memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri, begitu alasannya. Meskipun ia tahu bahwa alasan itu kurang tepat, akhirnya gelar rangking satu pun diraihnya kembali di caturwulan terakhir kelas 1 tahun lalu.

Huff…, Nuril menarik nafas panjang. Cara ejaan namanya tidak sesuai dengan yang sedang dilihatnya di papan tulis. Harusnya Annisa, bukan Annissa, batinnya dalam hati. Ia menggerutu kecil, sebenarnya apa sih bedanya? Toh, ia tidak pernah dipanggil dengan nama keduanya itu. Ia selalu dipanggil dengan…

“Ririn, minggir dikit napa man? Kepala Qe (baca: kamu) gede kali (baca: sekali), aku gak bisa liat papannya.”, protes Vina, temannya yang duduk di deretan belakang.

Nuril menggeser posisi duduknya.

“Nuril, nanti siang latihan. Jangan lupa!”, teriak Fery, sang ketua kelas dari bagian bangku cowok. Ia mengingatkan Nuril tentang latihan untuk penampilan akhir tahun dalam acara perpisahan dengan siswa-siswi kelas 3 nanti siang sehabis sekolah. Nuril setengah mengangguk, masih berdebat dalam dirinya tentang Annissa dan Annisa.

Lagipula, Annisa itu kan berstruktur Asy-syamsiah, jadi kalau pun harus disambung dengan kata An-Nuur, harusnya kan jadinya Nurinnisaa bukan Nuril Annissa! Ah, Nuril merasa ia mulai berbicara ngawur. Biarlah, asal masih bisa dengan gampang dikenal. Apalah arti sebuah nama, pikirnya kemudian.

“Woi Nuklir, udah dengar nasyid terbaru dari Rabbani tu? Ya, yang judulnya Intifadah tu? Keren kali kan?”, asal saja Mulya berbicara setengah berteriak dari bangkunya di sebelah Fery. Anak yang satu ini memang lebih sering memplesetin nama Nuril jadi Nuklir. Alasannya karena Nuril gampang diganggu, marah lalu meledak seperti bom nuklir. Mungkin alasan Mulya benar, karena saat ini Nuril sudah pasang muka ‘mogok bicara’ kepadanya.

“Riril, pinjam pulpennya boleh?”, sapa Maulida, teman sebangkunya yang lebih sering ngomong dengan buku pelajarannya dari pada dengan Nuril. Ia punya nama panggilan sendiri untuk Nuril juga, tipikal.

“Boleh”, jawab Nuril pelan. Ah, kelas terlalu ribut pikirnya. Guru bahasa Arab mereka seperti biasa selalu mendatanginya sebagai pelarian ‘teman berbicara’ karena seisi kelas tak ada yang serius mendengarkan. Nuril meladeni niat gurunya yang memang sudah tahu persis bahwa ia punya minat lebih dalam hal bahasa asing. Di balik basa-basinya, ia sebenarnya ingin melanjutkan materi pelajaran. Tapi ah, pikirnya, kok kesannya seakan-akan tidak ada perkembangan ya? Memang lebih baik belajar dengan ustadz nanti malam, pikirnya. Kelas bahasa Arab di pesantren dekat rumahnya yang hampir tiap malam didatanginya pun memberikan perasaan tenang.

“Yiyin, fi ayyi sa’ah tastayyqidhiina hadza sabaahaan?”, serang kak Nurul yang punya nama panggilan lain untuk Nuril. Kak Nurul adalah seniornya yang malam itu, menanyakan pukul berapa ia bangun pagi. Sekedar pemanasan percakapan dalam bahasa Arab. Nuril tersenyum, ia benar. Di sinilah ia bisa belajar lebih banyak.

Februari 2007, Coburg (Melbourne, Victoria, Australia)

Okay, as the introduction, mention your name and your particular interest in Islamic studies.”, intsruksi Mr. Belal Assad, guru Islamic studies Nuril di Australian International Academy, sekolah yang dihadirinya lewat beasiswa tersebut masih terngiang. Ini saatnya ia mengerjakan instruksi gurunya tersebut.

My name is Anisa, and my particular interest in Islamic studies is tawheed.”, jawabnya lugas.

Ya, Anisa. Ia sudah bertukar nama panggilan. Semua ini berawal dari peristiwa di bulan Juli 2004 itu, saat guardiannya yang menjemputnya dari bandara udara Tullamarine Melbourne lebih mengingat nama keduanya dari pada nama pertamanya. Sejak saat itu, ia selalu dikenalkan dengan nama keduanya tersebut kepada semua orang lain. Maka ia pun melanjutkan ‘keterlanjuran’ itu, mengingat bahwa nama pertamanya lebih terdengar seperti noodle(baca: mie instant) dari pada Nuril. Hanya saja kali ini, tak ditekankannya bunyi tasydid di ‘n’ atau ‘s’-nya, netral pikirnya.

Anisa, what a really nice name.”, sambut gurunya. “That, in arabic, means, somebody who is really nice, masha Allah…”, senyum teduhnya menjelaskan.

Nuril hanya bisa tersenyum balik, hal itu baru diketahuinya.

Bel istirahat pun berbunyi, Nuril dan teman-temannya sepakat untuk pergi ke perpustakaan sekolah, sekedar surfing the net dan menemukan hal-hal lucu untuk ditertawakan, refreshing.

Maliha, salah seorang temannya pun segera pergi ke sebuah website yang memberikan fasilitas kamus bahasa inggris yang menjelaskan arti kosakata tertentu bagi siswa-siswi kurang vocabulary macam mereka. Iseng, diisinya kolom search dengan nama seorang teman laki-laki mereka yang kebetulan berpostur tambun. Namanya Hanni. Jawabannya pun kontan membuat mereka terbahak-bahak.

Someone who is really fat, tertulis di layar komputer. Mereka semua mengangguk-angguk setuju sambil tidak bisa menahan tawa.

“Hey, type in Anisa”, iseng Nuril.

Maka keluarlah sebuah definisi di layar komputer tersebut.

Someone who is really sweet.

Ah, pikir Nuril, internet mah tidak bisa dipercaya.

September 2007, Preston (Melbourne, Victoria, Australia)

Anisa, anisa….you know what that means?”, tanya seorang sahabatnya yang sudah beranak dua dan berkebangsaan Arab Saudi di Preston Mosque, sebuah mesjid local dekat homestay-nya.

No, what does that mean?”, pancing Nuril.

It means, a girl who’s not married yet.”, urainya.

Kontan Nuril tertawa kecil. Lantas ia pun kembali bertanya.

So when I get married, insha Allah, what will happen to my name? What will I be called with?”, candanya.

Sekarang gilirannya tertawa kecil.

Madame Anisa.”, serunya sambil tersenyum. “It also means somebody who is nice, innocent…”, sambungnya. “It is a really nice name.”

Oktober 2007, Reservoir (Melbourne, Victoria, Australia)

Tiba-tiba Nuril teringat masa-masa kanak-kanaknya yang sering bingung tentang makna namanya. Kini, di sini ia menemukan banyak sekali dan ia berharap semua itu . Entah apa yang membawanya ke kenangan lama itu malam ini. Tiba-tiba ia memutuskan untuk menuliskannya dalam bentuk sebuah cerita pendek fiktif yang menggunakan sudut pandang orang ketiga dan fakta-fakta yang benar-benar terjadi.

Keadaannya yang meriang dan sedikit bersuhu tinggi tidak bisa menahan inspirasinya. Harus tertulis, harus, pikirnya. Setelah selesai kira-kira pukul 10 malam waktu Melbourne, dipublikasikannyalah cerita itu di blog pribadinya yang biasa diakses melalui URL www.noorrea90.multiply.com.

Malam itu, ia tahu ia akan bermimpi tentang kenangan-kenangan lama itu lagi.



[1] Ernawati saja

[2] janganlah, Irnawati lebih bagus

[3] Maaf Pak, Bu..tapi kami sudah mufakat bahwa namanya Nuril Annissa

No comments:

Post a Comment