Wednesday, October 10, 2007

"I wanna get married!!!"

“I wanna get married!”

Bibirku mengerucut. Protes. Not again…

“Hebah, I don’t wanna talk about it again” ujarku sambil menatapnya sungguh-sungguh sementara jari-jariku tetap menari di atas keyboard komputer sekolah di perpustakaan, sedang membalas email.

“Look, he’s my fiancée.” ,sambungnya sambil menunjuk ke layar komputer di depannya.

Mulutku makin mengerucut. Mmm….ganteng banget sih nggak, tapi jelek banget juga gak (emang ganteng itu gimana sih? Hehe..). Yang jelas buat ukuran sini, cowok tersebut biasa aja, walaupun kalau dibawa pulang ke Aceh pasti bakal abis dicomot sama ‘cewek-cewek gaul’ di seputaran kota.

“Where is he?”, penasaran juga. Ah, kalau cinta sudah melekat apapun terasa seperti cokelat (wuiiiih romantis euy).

Lebanon.” , ujarnya malu-malu.

Gedubraaaaak. Import toh? Alah mak! Hidungnya mancung, kurus tinggi, kulitnya juga gak putih-putih banget; biasa aja. Dengan sunglasses coklat dan topi koboy beserta tangan yang berkecak di pinggang. Berlatarkan rumah-rumah yang tersusun di tanah perbukitan khas Lebanon. Tipikal.

“How did you meet him, by the way?”, aku makin penasaran. Ni cowok pasti pinter merayu…dalam bahasa Arab tentunya misalnya gini Habibtiiiiii oh habibtiiiiiii…..!!!! hehehe…ngawur!

“When I went to Lebanon, I met him. We talked and talked. He got my msn from my cousin and then we talked and talked more.”, sambungnya setengah melamun.

Cousin? Kacau deh. Sepupu, sepupu… kalau uda ngomong tentang orang Lebanon kalau gak melibatkan sepupu kayaknya emang ga pernah afdhol. Mau masalah jodoh kek, masalah balas dendam kek, masalah yang lain-lain kek. Maaf aja, tapi semua juga tau kok kalau dalam adat Lebanon, hampir bisa dibilang semua orang dengan surname yang sama itu sepupu. Dan kalau uda sepupu, siap-siap aja untuk saling kunjung-mengunjungi, bahas-membahas gossip de el el.

“Hey, do you think I should get married next year?”

Tuiiing, taon depan? Tidaaaaak, jangaaaaaan. Semua termakan dalam teriakanku dalam hati.

“Hebah, go to uni. Get married later.” Jawabku datar. Ni anak kenapa sih, hari gini!!! ini bukan pertama kalinya ia menyinggung-nyinggung hal yang satu ini.

“So what? I don’t wanna go to uni. Im sick of studying.” Kesalnya.

“Ummm…wait until you get married and you’ll say ‘owh how I wish I could go to uni and study and not just cooking and cleaning’.” Paparku panjang lebar.

“What’s wrong with cooking and cleaning?”, tanyanya.

“Nothing. Seriously nothing. But if you’re gonna come there and get married to him. What are you gonna do for the rest of your lifetime? Just staying at home all day and cooking and cleaning for the visitors who’re coming over at night and just having parties all week?”, serangku.

“Yeah, of course. I love parties.”, senyum nakalnya merekah. Huh, dasar.

“But why do you wanna marry him? Why not other guy from here or something??”, aku benar-benar hilang akal.

“He said he loved me and he’d marry me!!”, belanya.

Ampuuuun deh, dasar cowok dan dasar cewek!!!!!!!!! Dasar cowok selalu punya kata-kaya merayu dan dasar cewek yang dengan gampangnya terayu!

“Please tell me your parents know about him.” Mataku belum lepas dari layar komputer di depanku.

“Nope, they don’t.”

Aku berhenti mengetik. Ni anak benar-benar butuh ‘ceramah’.

“Hebaaaaaah…”, pelasku. “And you’re telling me all this plan to go to Lebanon, you wanna marry him and bla bla and your parents don’t know anything about him?”. Kesal, benar-benar kesal. Seperti ada perasaan terkhianati. Bisa kubayangkan orang tuaku akan kecewa dan sedih jika aku sembunyi-sembunyi di belakang punggung mereka merencanakan sesuatu semacam ini. Aku tidak akan pernah mau itu terjadi.

“Hebah, I beg you. Please don’t do that.”, hilang kata-kata.

“But why????...”, ia masih bertanya.

“Hebah, getting married isn't only about getting together and make love. Getting married is about being in the same room with a guy who probably snores when he sleeps, splashes the tooth paste when he brushes, makes a lot of noises when he eats. You also will need to think about the shopping list, the rent, the bills, and owh, did I mention about kids too?”, ceracasku. “See, getting married is a whole lot of commitment. Don’t only think about the getting fun part only. There’s more to it.”, kupaparkan isi hatiku sejak dulu mengenai hal sensitive ini.

“All right, calm down. Im not gonna eat you.”, ia mencoba bercanda.

Aku pun minta ijin dan pindah tempat. Ku-log off komputer yang sedari tadi beroperasi atas user name-ku. Aku pusing, benar-benar pusing.

Apa ini karena usia tujuh belasnya? Atau apa ini cuma panggilan menyempurnakan diinnya? Tapi, kenapa malah ada ketidaksetujuan membayang perlahan di pikiranku?

Pusing, masih pusing. Antara kehalalan untuk menyempurnakan diin sekarang dan ketidakdewasaan kami makhluk bernama remaja tujuh belasan dalam mengarungi sesuatu bernama ikatan seumur hidup…

Tidak, tidak segampang itu, otak kecilku berbisik. Oh well, bukan urusanku dan aku tidak mau tau. Ada ujian percobaan yang harus kurampungkan sebisa mungkin minggu ini. Bukan waktu untuk memikirkan tentang hal-hal yang tidak relevan dalam hal apapun. Termasuk tentang senyum sahabatku yang kemerah-mudaan di pojok ruang komputer khusus kelas 11 dan 12 itu.

Ada komen tambahan?

No comments:

Post a Comment