Monday, November 26, 2007

interval- isi hatiku.

Apa yang seharusnya bisa ditulis ketika pikiranku tertutup searak awan kelabu tipis yang tak berbentuk? Menggelayuti setiap helaan nafas dan detakan jantungku yang mulai tak teratur. Awan itu juga mengikuti setiap langkahku, setiap detik, setiap menit, setiap jam. Hingga aku pun mengaku kalah dan mengajak berbicara…
“Jadi, siapa dirimu?”, aku membuka percakapan.
“Kau kira aku siapa?”, balasnya bertanya.
Aku diam. Aku benar-benar tidak siap dibalas demikian. Aku tahu jawabannya, tetapi aku tidak mau mengakuinya. Simalakama.
“Jawab…”, bisiknya pelan.
“Aku, … aku tidak tahu.” Final ucapanku.
Ia menyandarkan punggungnya ke langit biru, mencoba mencari pegangan.
“Jangan berbohong padaku.”, serunya pelan dan tenang setelah ia benar-benar terpancang tenang di langit di atas kepalaku.
Aku menghela nafas panjang tanpa suara. Kiranya tak berguna perlawanan ini. Kuakui saja.
“Kau isi hatiku.” Lantas aku pun mengatup rapat.
Ia tersenyum. Kedua belah tangannya pun bertepuk dua kali; jawabanku benar.
Kupalingkan wajahku ke kehijauan semak di pinggir kananku. Aku malu.
“Apa yang membuatmu menghindar mengakuinya untuk beberapa waktu?”, tanyanya lagi.
Kulirik ia dengan seribu emosi. Bukankah ia tahu semuanya? Mengapa ia harus terus bertanya?
“Kau tahu semuanya. Berhenti bertingkah seperti pengacara pencari-cari kesalahan klien.” Jawabku datar.
“Tapi aku bertanya bukan karena ingin mengetahui jawabannya. Aku ingin menolongmu.”, disuruhnya angin yang berdesir untuk mengunjungi keningku, mengecup sekilas.
Keningku yang baru dikecup tadi pun berkerut tegas. Menolongku?
“Bagaimana?”, ketusku.
Ia semakin tersenyum. Kadang-kadang aku heran, bagaimana mungkin ia tersenyum di tengah kekelabuan dirinya (yang juga diriku). Apa yang ia minum atau apa yang ia makan?
“Kau butuh teman berbicara… seorang teman berbicara yang setia. Bukan yang selama ini kau kunjungi sekali-kali.”, lanjutnya. Ia terlihat lelah, sangat lelah. Batuk di sana-sini menyelangi, namun tatapannya masih memandang dalam. Aku salut akan cintanya padaku. Tapi aku terlalu angkuh; aku hampir tidak pernah mengunjunginya. Biasanya aku mendatangi beberapa kemayaan lewat layar yang lebih maya lagi.
“Dan.. kau mau menjadi ‘teman’ itu? Begitu maksudmu?”, selidikku.
Ia mengangguk. Masih pelan.
“Aku tidak begitu jauh darimu, tapi kau selalu menghindariku. Kelabuku sudah terlanjur kau ciptakan. Tak hendakkah kau memperbaikinya?” matanya makin sendu.
Aku sebenarnya terharu sangat. Ingin kudekap dirinya dan menyatu lagi denganku. Tapi aku masih terlalu angkuh untuk itu.
Kelabunya benar-benar menarik perhatianku. Itu aku yang ciptakan. Tapi aku malah takut untuk melihatnya, takut untuk berbicara dengannya yang makin kelabu. Aku selalu mencoba menghindar.
Aku memandang lurus. Ada kereta angin lewat sepintas.
“Kau tahu, kelabu itu dari siapa?” aku bertanya. Retoris.
Ia menggeleng lemah. Ia benar-benar tak bertenaga banyak lagi. Dan aku masih angkuh.
“Dari kemayaan duniaku. Dari kemayaan yang selama ini kugeluti. Dari kemayaan yang selama ini kupikir bisa membawaku terbang tinggi.” Pandanganku masih lurus.
Ia menghela lambat.
“Kau tak mau merubahnya? Tak mau pergi dan meninggalkan kemayaan itu?”, tanyanya lagi.
Kini aku yang menghela lambat.
“Aku tidak sanggup…”
“Tapi kau harus!”, ia mencoba terlihat tegas- tapi tetap lemah.
“Bukan tidak kucoba, tetapi…” aku tidak bisa menghabiskan sisa kalimatku.
“Tetapi kenapa?...”, kini ia terlihat sangat terpukul. Aku yang selalu terlihat tegar dan kuat ternyata bisa menyerah juga.
Ah, aku pusing. Aku hanya ingin menari dalam kesendirian. Biar Dia yang menjawab semua tanyaku.
“Dan kau mau aku hilang begitu saja?” tanyanya lagi. Kali ini jari-jari tangannya dimain-mainkannya; resah.
“Bukan, bukan begitu!”, elakku.
“Lantas apa?”, matanya berkaca-kaca.
“Kau terlalu cengeng, itu mengapa.” Aku mencoba berpaling.
Kini ia bersedu-sedan. Aku pun sebenarnya sedih.
“Baiklah, biar aku pergi saja. Temui hati lain untuk kau miliki. Mungkin hati yang lebih sering diam dalam renungan tentang-Nya tidak lagi cocok untukmu. Kau sudah terlalu asing. Kau merenungi hal lain sekarang.”, keluar juga isi hati dari isi hatiku.
Aku kecewa. Aku tidak mau dilabel seperti itu. Aku belum berubah. Aku masih yang dulu. Aku hanya butuh waktu untuk merenungi diri lagi. Aku benar-benar gamang.
Tiba-tiba kutantang langit.
“Tuhan, jika Kau memang di situ, tunjukkan padaku; apa hati kelabu ini masih milikku atau tidak! Tuhan, jika Kau memang Satu, lerai perselisihanku dan hatiku! Tuhan…” suaraku mulai serak. “Kumohon dengan sangat…”
Tanpa sadar, air mataku pun tumpah. Sebelum kusadari lebih jauh, sudah kudekap lagi bagian dari diriku yang telah lama menghilang itu.
Preston, 26 November 2007

Monday, November 12, 2007

Sebuah Balada di Tepi Danau

Beburung berdzikir di kandang Raudhah,

Menyambut azan di tabir senja…

Insan berkasih kerana Allah,

Bertemu, berpisah kerana cinta-Nya…

-Aisyah, dalam film “Syukur 21”

Teringatku akan sebait puisi itu yang pernah mati-matian kuhafal ketika masih di tsanawiyah dulu. Aku, yang masih berumur tiga belas tahun pada saat itu, mengaku bisa merasakan arti puisi itu dengan sebaik-baiknya. Tahu apa kau waktu itu, cibirku sinis.

Sepersekian detik kemudian, kutepis cibiran itu jauh-jauh. Bagaimanapun juga, bait itu telah berjasa banyak. Berapa puluh kali telah kugunakan bait itu untuk menghibur keresahan dan kegundahan orang lain? Berapa kali telah kusebut-sebut sendiri bait itu setiap kali aku akan berpisah dengan orang-orang yang kucintai? Berapa kali bait itu menginspirasi bait-bait pribadiku dalam wujud puisi-puisi tak berbunyi?

Apa karena ia yang mengucapkannya berwajah manis dan bersuara bak pembuluh rindu? Atau karena ia mengucapkannya kepada seseorang yang dicintainya namun harus berpisah setelah itu? Atau karena kesensitifitasanku atas bait-bait semacam itu?

Aku bingung dengan apa yang sedang kupikirkan.

Aku juga bingung dengan apa yang kulakukan saat ini. Tiba-tiba kudapati diriku telah duduk bersandar di sebuah pohon di tepi danau dekat sekolahku. Memandangi langit yang kebetulan biru, meresapi angin semilir yang membelai pipiku, membiarkan musik-musik bermain di telingaku sementara buku kimiaku tertutup rapat di pangkuanku.

Seekor angsa hitam melintas sendu di tengah danau yang sedang kupandangi. Beberapa bangau dan itik-itik cantik ikut meramaikan ballet alami ini. Ada sebuah pertunjukan di sini, pikirku. Mengapa tidak menjadi seorang penonton yang baik?

Slowly slow my child,

The world waits for you…

And your window of time,

Will come shining through…

Slowly slow don’t rush you know,

It’ll all come easy…

There’s something you can’t take back nor regret

For what you’re gonna get,

Need some thinking down the lead…

-Zain Bhika, “Slowly slow”

Perlahan suara merdunya melantun di telingaku. Ia sedang bernyanyi kepada anaknya. Menyuruhnya untuk pelan-pelan, tenang dan semuanya akan berjalan dengan baik. Butuh pemikiran sebelum membuat keputusan, katanya. Karena jika tidak, sesal selalu datang pada akhirnya…

Pipiku basah. Aku menangis. Angin semilir tadi terasa lebih dingin. Aku masih diam. Tak kutahan isakanku, tak ada orang di sini, pikirku.

Beberapa itik terbang rendah dan menyisir danau dengan kepakannya. Masih semilir anginku, turut terbelai pula daun-daun hijau baru di atasku.

Kupandangi langit lebih tajam. Tidak ada awan hari ini. Birunya sangat biru. Seakan-akan laut Bandaku telah berpindah ke atas situ.

Kugiring pandanganku ke riak lembut di danau di depanku. Ada berapa ribu ganggang yang menyatu dan menciptakan kelembutan warna hijau itu? Pekat sekali hijaunya, bagai enggan mengijinkan surya untuk meminjamkan sedikit cahaya ke dalamnya.

Kujatuhkan kini pandangku ke angsa hitam tadi. Mengapa hanya hitam? Di mana angsa putih yang selalu cantik menurutku? Angsa hitam tadi hanya melanjutkan balletnya, tak paham akan pertanyaan bodohku tentang angsa lain selain dirinya.

Seekor angsa lain pun melintas, entah dari mana. Putih, ya, warnanya putih. Tetapi mengapa aku tidak merasa lebih senang? Bukankah sebelumnya aku baru merindukan keputihan itu?

Oh, burung pun bernyanyi

Melepaskan rindu, yang terendam malu di balik qolbu…

Oh, angin pun menari

Mencari arti, adakah ini fitrah ataukah hiasan nafsu?

Di dalam sunyi, ia selalu hadir…

Di dalam sendiri ia selalu menyindir…

Kadang, meronta bersama air mata

Seolah tak kuasa menahan duka…

- Maidany, “Menunggu di Sayup Rindu”

Seekor burung bersiul dari atasku, angin semakin membelai lembut pipiku, yang semakin basah dengan sebuah asa. Sebuah asa yang kutakut, bukan milikku untuk kupertahankan…

Aku termenung di bawah mentari

Di antara megahnya alam ini…

Menikmati indahnya kasih-Mu

Kurasakan damainya hatiku…

Sabda-Mu bagai air yang mengalir,

Basahi terik panas di hatiku

Menerangi semua jalanku

Kurasakan tentramnya hatiku…

- Haddad Alwi, “Damai Bersama-Mu”

Aku teringat diriku, yang sedang menepi di lindung bayang dari terik hari ini. Danau dan segala pernak-pernik tataan-Nya perlahan datang memelukku dalam damai yang dalam.

Riak-riak lembut tadi mulai bergelombang kecil, mengalir dalam aliran tak jelas. Tetapi itu bukan tidak menambah kecantikannya. Kuangkat daguku menentang rebakan air mata yang menjadi-jadi. Aku benar-benar biru. Ada kesedihan seseorang yang kuresapi, yang kudramai, yang kudo’ai…

Kulirik sedikit ujung pemandanganku, ada bayang kerudung hitam melambai dari kejauhan. Kerudung itu tak sendiri, ada seorang pria muda berjalan di sisinya dengan ceriwis dua bocah kecil. Kualihkan pandang dan bisik hatiku ke sebelah lain, pemandangan tadi belum milikku.

Kupeluk lututku erat. Kukeluarkan telepon genggamku, kutelusuri satu per satu nomor di situ. Kulayangkan panggilan-panggilan tak berlanjut, sebuah kebiasaan lama yang hampir kulupakan. Kuletakkannya di atas tanah, kembali memandangi alam tanpa geming.

Aku sudah berhenti menangis. Ada kejar-kejaran di antara itik-itik di danau yang memancing senyum. Ada burung-burung merpati yang terbang rendah melewati kepalaku mengejutkan, juga memancing senyum. Ada kerumunan burung jenis lain di sebelah sana…, oh, kerudung hitam itu sedang tersenyum bersama pria itu. Kembali kualihkan pandangku.

When you feel alone in this world,

And there’s no body to count your tears,

Just remember no matter where you are,

Allah knows, Allah knows…

-Zain Bhika and Dawud Wharnsby Ali, “Allah knows”

Yeah, Allah knows.

Dan teleponku berdering. Aku pun mulai berbicara.

Coburg, 12 November 2007, 14.15 pm

Friday, November 9, 2007

Mereview Sebuah Review

entah dorongan dari mana, tiba-tiba selepas magrib dan tilawah saya membuka kembali entry diary saya dari 2.5 tahun yang lalu, di hari pertama saya menginjakkan kaki saya di Negeri Kangguru ini.
Saya bilang di situ, saya kedinginan dan hampir beku.
maklum saja, waktu itu pertengahan bulan Juli, pertengahan musim dingin di Melbourne.
begini isi entry diary saya waktu itu...


Melbourne, Juli 2005 (tidak ada tanggal, payah ya saya waktu itu?!)

Welcome to Australia!


Wow, it is the first day! Waktu pertama kali nyampe tadi, aku ngerasain sesuatu yang keren; aku ngeliat nafas yang keluar dari mulutku kaya di film-film!

Terus kita dijemput oleh supervisor dari sekolah dan homestay (‘ortu’ di sini).

Kita dibawa ke sekolah buat liat-liat and terus kita dibawa ke rumah.

Tahu nggak, sarapannya kereeeeeeeen… hehehehe (alaaaah, paling-paling satu atau dua bulan lagi bakal rindu sama thimphan juga!)

But anyway, I love it. Kita dikasih kamar yang bagus, but still cold lho…

Oh ya, kita juga dibeliin pajamas musim dingin beserta sandal dalam rumahnya and many thing else-lah…

Btw nih, ngantuk!

Udahan yach…

Besok-besok kita sambung lagi, key?


***


Lalu entry berikutnya malah bikin saya senyum-senyum sendiri; benar-benar sebuah jiwa yang hampir tak saya kenali lagi! seakan-akan, tulisan itu milik seseorang yang lain. seakan-akan, saya tak pernah berada di posisi itu. begini entry berikutnya, tepatnya di bulan Agustus 2005...


1 Agustus 2005, di kamar…

Assalamu’alaikum Rin,

Udah hampir sebulan kita di sini.

Ada banyak hal yang harus aku ceritain.

Minggu pertama, aku homesick beraaaaat…

Sampai nangis-nangis dan nggak berhenti-berhenti. Ibu angkatku alhamdulillah ngerti dan banyak kasih advise, tenang dikit deh…

Eh, udah tenang di hati, giliran otak-ku yang shock!

Masih di minggu pertama aku anggap semua pelajaran itu pelajaran Bahasa Inggris semua jadi aku mikirnya gini nih, “Koq ni pelajaran ga ada abis-abisnya ya?!”

Hehehe… gila bok!

Temen-temennya aneh lho, Rin! Ada yang ke sekolah pake make up (90+… %), cerewet (semua!) de el el. Tapi aku tetap aja ngiri ma mereka karena mereka ‘sebenarnya’ bisa ngerti pelajaran dengan baik.

Mana waktu awal masuk ke sekolah ini pake acara dikenalin di depan anak-anak di panggung waktu general assembly lagi! Malu… but it’s kz-lah, Allah punya rencana!

Rupanya ada beberapa anak Indonesia lain di sini tapi… jarang ngomong tuh! Au’ napa, nanti kenal dan bicara juga.

Baju seragamnya keren,… tapi tetap aja dingin!

Se-cool-cool-nya sekolah ini, lebih cool lagi cuacanya!!!

Aku aja bobo’-nya pake baju 3 lapis, sarung tangan, kaos kaki, kerudung dan 3 lapis selimut; berat nggak tuh? Kalau di sini biasa aja kali yeee? Coba dibawa ke Banda aceh, melelehlah semua salju (emang ada salju di Aceh?) alias keringatan melulu! Hehehe…

Weekend kemaren aku nelpon ke rumah.

Waaaaa…. Banjir! Sesenggukan super hebat!

Nggak nyangka mama bakal semangatin segitunya, hiks, hiks, sedih deh…

Besoknya kita ke city, biasa lah, jalan-jalan.

Dan ternyata ibu-ibu di mana-mana sama aja; jalan 1 jam beli barang 1 gram,

Weleh-weleh… gimana nggak pegal?

Minggu kedua, sekolah lagi. Udah lumayan ngerti sistemnya.

Aku juga udah mulai sadar kalau ini Australia, makanya semua orang pada ngomong English (telat banget ya? Hihihi…)

Tiap pagi aku masih kedinginan, susah aja.

Aku juga down abis nih! Banyak PR yang harus dikerjain.

Mana nggak ngerti-ngerti amat lagi, pokoknya ruwet.

Masih teringat rumah terus-terusan, tiba-tiba nangis, senyum sendiri, waaaaah, gila deh!

Yang biasanya bergantung (emangnya kelelawar???) sama teman sekarang sudah harus sadarkan diri...

Pokoknya di sini aku dibanting 180o!

Minggu ini kami dua kali excursions. Excursion itu ya Rin, semacam perjalanan ke luar sekolah atas alasan yang berkenaan dengan pelajaran gitu.

Jadi kami ke Melbourne Town Hall buat Physics terus ke Moonee Ponds buat Arts.

Yang pertama yang buat Physics itu, kami nonton pertunjukan tentang Albert Einstein yang aku sama sekali nggak ngerti! (English semua sih! Huh!) ngomong English kok di hidung gitu sih?! Nggak kedengaran apa-apa tau! Dasar Australian accent! Ada banyak anak-anak sekolah lain di sini, tapi kenapa ya kita diliatin aneh gitu? Apa karena London bombing yang baru-baru itu ya?! Ah, PD aja lagi.

Terus yang kedua buat Arts, kami sketching object di sini. Aku jumpa beberapa warga local yang sempat menyampaikan simpati mereka atas tuduhan teroris kepada muslim di sini (serius banget neeeeh, hehe)

Eh udah dulu ya, mau buat PR ni!


***


ah, itu 2.5 tahun yang lalu, sesuatu yang saya harap sudah berubah ke arah yang lebih baik, ameen..
sekarang, semua worries itu sudah menguap.
rindu rumah bukan lagi hal baru,
kesusahan dalam English juga sudah banyak berkurang,
pertanyaan-pertanyaan atau pengalaman-pengalaman miring di bus, train, tram atau tempat-tempat umum lain yang berkenaan dengan agama sudah bisa saya lewati sebaik mungkin...
ketergantungan akan teman juga sudah jauh berkurang; saya akhirnya sadar jika DIA lah teman sejati.
wah, hidup. Besok ada apa lagi ya?
Tak terasa tak lama lagi saya harus meninggalkan Australia dan semua kenangan-kenangan ini (yang sudah berhasil memenuhi sebuah buku kwarto 100 halaman!).
akhirnya high school akan berakhir juga,
saya praktisnya bukan anak sekolahan lagi,
WELCOME TO THE REAL WORLD, NURIL!
doakan saya semakin bisa mengerti arti hidup ini...
perjuangan baru saja dimulai!

Wednesday, November 7, 2007

Teknik Sipil; apa berarti "keren"?

Pikiran ini sudah ada di pikiran saya sejak beberapa tahun yang lalu dan sejak awal tahun ini semakin membuat saya semakin bertanya-tanya; ada apa dengan jurusan Teknik Sipil yang membuat semua terhipnotis untuk mengatakan “kereeeen” jika ada yang mengaku kuliah di jurusan tersebut?
Mulai dari stereotype di kalangan teman-teman saya sendiri di mana kebanyakan kaum prianya ketika masih di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas selalu berangan-angan ingin menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik, jurusan Teknik Sipil.
“Mau kuliah di mana nanti, Fery?”, tanyaku pada salah seorang teman lelakiku semasa tsanawiyah dulu.
“Teknik sipil, tapi aku mau coba FKIP Fisika dan Matematika juga.”, jawabnya sambil memandang langit.
“Taufiq, maunya kemana?”, tolehku kepada teman lelaki yang lain.
“Mmm… kalau bisa mungkin Teknik Sipil juga.”, jawabnya santai.
***
“Eh, kalau Mirza, sekarang di mana?”, tanyaku pada temanku saat berkomunikasi lewat yahoo messenger beberapa bulan yang lalu. Aku menanyakan kabar seorang teman lelaki semasa SMA dulu yang aku tahu bernilai akademis tinggi.
“Teknik Sipil, lewat USMU lagi!”, jawab temanku tersebut.
***
Ok, sekedar stereotype, right? Dan saya bisa dibuktikan salah adanya. Tapi ide bahwa Teknik Sipil itu ‘keren’ masih saya temui di mana-mana! Bukan mengesampingkan kepopularitasan Fakultas Kedokteran dan Ekonomi atau fakultas-fakultas lainnya, hanya saja ide ‘keren’ ini terasa unik, beda dari ide ‘wow’ yang ditunjukkan masyarakat untuk fakultas-fakultas lainnya.
Sebagai contoh, tempo hari saya sedang ‘ber-friendster-ria’ dan akhirnya mendaratlah saya di sebuah profil salah seorang teman wanita semasa tsanawiyah dulu. Di bagian affiliation, ia menyatakan bahwa ia adalah mahasiswi di Fakultas Teknik, jurusan Teknik Sipil, Unsyiah, Banda Aceh. Di bagian comment-nya, saya temukan beberapa comment yang menyelamatinya atas keberadaannya sebagai seorang mahasiswi baru; tentu saja, di Teknik Sipil. Di antaranya adalah sebagai berikut:
“wessss... aneuk tekhnik ne...
wuah.. wuah....”
Ok, apa saya terlalu subjektif? Dan keberadaan fakultas-fakultas lain saya pandang sebelah mata? Tidak! Hanya saja…. Aneh, bagi saya ini aneh. Ada semacam kesan ‘ciee… yang udah nikah ni, wuah..wuah..’ dalam comment di atas. Seperti sesuatu yang benar-benar seremonial, sesuatu yang benar-benar agung. Sedangkan yang memberi comment ini, yang kebetulan diterima di Fakultas Keguruan Ilmu dan Pendidikan jurusan Matematika, tak menerima comment-comment senada.
Contoh kedua; bahkan penulis-penulis kondang meminjam Fakultas Teknik, khususnya jurusan Teknik Sipil sebagai salah satu factor yang digunakan untuk membangun karakter semacam ‘perfect boy (atau ikhwan sempurna lah jika diinginkan)’ di mata pembaca.
Dalam cerita “Ketika Mas Gagah Pergi” misalnya, mbak Helvy TR menggambarkan diri sang Gagah sebagai berikut:
“Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !”
-“Ketika Mas Gagah Pergi”, Helvy Tiana Rosa
Kita semua tahu bagaimana kelanjutan cerita “Ketika Mas Gagah Pergi” bukan? Seorang kakak laki-laki ‘hampir-sempurna’ yang pada akhirnya harus kembali ke hadhirat-Nya lewat sebuah kecelakaan ini merebut perhatian dan air mata majoritas pembacanya (termasuk saya hiks hiks). Intinya, semasa hidupnya, Mas Gagah ini benar-benar tipe ‘menantu idaman’.
Atau mari kita lihat cerita pendek berjudul “Telepon Pinky”, yang merupakan bagian dari kumcer “Cinta Tak Pernah Menari” karya Asma Nadia.
Kebetulan saya dihadiahi buku tersebut oleh seorang teman sekolah yang berasal dari Jakarta. Liburan musim dingin lalu dia sempat liburan ke Jakarta dan memberikan saya oleh-oleh berupa kumcer tersebut. Adapun secara singkat, kisah ini menceritakan tentang keinginan seorang Inne untuk menelepon kembali ‘Mas Aan’-nya; anak bekas guru Mamanya yang jauh lebih tua dari padanya. Mereka bertemu saat kebetulan Mama Inne mengajaknya untuk mengunjungi bekas gurunya tersebut. Setelah pertemuan singkat itu, mereka diceritakan sempat menjalin komunikasi selama kurang lebih tiga tahun lewat surat-surat, kartu ulang tahun, kartu valentine dan hadiah-hadiah kecil lainnya. Hubungan ini pun lama-kelamaan berakhir dan pada suatu titik, Inne ingin menelepon Wisnu, mencoba menjalin komunikasi lagi dengannya.
Sebagaimana ketika membaca kisah-kisah yang penuh deskripsi pada umumnya, saya mulai membangun imajinasi tersendiri tentang tokoh Mas Aan alias Anindra Wisnu ini.
Masih di awal cerita ketika saya menemukan bahwa suaranya jenis bariton (memangnya baritone itu gimana ya?), kulitnya kecokelatan, mengenakan sepasang kacamata minus dan kedua bola matanya hitam pekat. (Ok, bisa dibayangkan? Hehe..)
Lalu menjelang pertengahan cerita, terbacalah oleh saya deskripsi berikut ini:
“Aan itu pelajar teladan se-Jogja, Inne. Dia baru saja meraih PMDK untuk Fakultas Tekhnik, Jurusan Tekhnik Sipil!”
- “Telepon Pinky” dalam “Cinta tak Pernah Menari”, Asma Nadia
Tuingg?!!! Ada apa dengan Teknik Sipil dan “cowok keren”?!!!! apa ada semacam korelasi atau semacamnya di antara keduanya begitu???
Intinya, saya menangkap kesan bahwa berkuliah di Teknik Sipil itu bisa dipakai untuk membangun karakter berupa “Mas Gagah” atau “Mas Aan” yang notabene tidak bisa dikatakan tidak mengagumkan. Lantas, apa ini karena stereotype atau saya yang masih bersifat subjektif?
Jadi sekali lagi, Teknik Sipil; apa berarti "keren"?
Maaf jika blog entry ini tidak membuat sebuah kesimpulan apapun, saya hanya ingin mencurahkan pikiran saya. Ada masukan?
Buat yang pernah atau sedang di Teknik Sipil, diharapkan untuk memegang kepala anda erat-erat agar tidak terbang saat membaca tulisan ini, hehe…

Sunday, November 4, 2007

Tuhan, ada cerita!

Tuhan... baru dua ujian yang kulalui,
ada sederet yang akan kutemui,
kemalasan bukan alasan yang harus dicari-cari,
karena ia yang Kau kutuk selalu membisiki.

Tuhan, kepalaku Kau uji pula,
sebagiannya bertalu-talu tak kentara,
bagai gong dipukul bergema,
tak hendak paham beban di jiwa.

Tuhan, sejak kapan aku lupa tuk meyakini-Mu?
secara sudah lebih dari sering kutimba ilmu
tapi bagai orang asing tak pernah bertemu
kucicip sesisip kasih-Mu bagai jemu

Tuhan, kuhadiri sekolah, tak kukunjungi belaka
tak hanya teori, tapi pembuktian juga kucoba
mereka berkata, aku akan berjaya
entah itu ramalan, entah itu doa.

Tuhan, hari ini sudah berlembar-lembar latihanku
tumpul sudah pensil di tanganku
sementara kepalaku masih kuanggap buntu,
apa yang salah denganku?

Tuhan, kutulis puisi ini
karena aku tak punya sesiapa untuk berbagi
resah, ketakutan dan rindu ini tak mungkin kusebari
demi semua jiwa juga mengalami

Tuhan, satu lagi ada pinta
biar kisah ini hanya milik kita
jangan ceritakan pada ia yang bernama Nisa
kasihan, katanya ada asa lain yang menggoda




Melbourne, 4 nov 07

Thursday, November 1, 2007

Kalau hidup kita difilmkan, soundtracknya apa? [idea by Hendra Veejay]



semalam saya sempat minta masukan-masukan tertentu tentang DIA pada Hendra Veejay, seorang penulis unik dari FLP Bandung (kalau tidak salah bukan begitu? ;D) yang kebetulan sudah masuk dalam ym list saya (ga nyambung banget sih!)
tak hanya beliau, ada beberapa orang lain di ym list saya yang saya minta lalu terima taushiyah-taushiyahnya, semua mengantarkan saya ke satu dari sekian pertemuan paling manis dengan-Nya, alhamdulillah (terima kasih kepada anda semua, semoga DIA membalas jasa kalian)
sempat saya menulis sebuah puisi tadi malam, namun berhubung laptop saya freeze dan saya harus me-restart lagi, maka hilanglah semua yang sudah saya tulis.
awalnya saya kecewa tidak bisa mem-post puisi tersebut yang saya kira satu dari sedikit puisi yang bisa direnungi bersama MP'ers lainnya.
namun kemudian saya ingat, jika DIA, sebagai Pembaca Segala-gala tentu sudah 'membacanya' dari dulu.
maka saya percaya bahwa DIA sebagai Pembaca Terbaik bisa mengirimkan saya analisa dan kritiknya secara lebih pribadi dan saya menantikan itu...

anyway,
saya lalu disuguhi sebuah 'masukan yang off track' oleh Hendra Veejay sesaat sebelum beliau memutuskan untuk pulang (dari warnet kah? ;D),
masukannya berbunyi seperti ini
"eh... baca MP ku deh, ada tulisan baru... "Kalau hidup kita difilmkan, soundtracknya apa" terus cobain deh, pasti rada terhibur..."

terus saya cobain
jadi begini permainannya

Buka software pemutar musik (iTunes, Winamp, Media Player, dll)
  1. Simpan lagu yang disuka (kalau bisa di atas 30)
  2. Setting acak atau “shuffle”
  3. Mainkan
  4. Setiap 1 situasi, tulis lagu yang diputar
  5. Untuk situasi selanjutnya, cukup pilih “Next”
  6. Jangan curang, nikmati dan terima lagu yang diputar apa adanya sebagai soundtrack
  7. Kecuali kalau lagu yang sama terputar lagi, baru boleh klik “Next”
  8. Adapun situasi-situasinya adalah; Opening Credits, Waking Up, First Day At School, Falling In Love, The Relationship, Fight Song, Breaking Up, Prom Night, Life, Mental Breakdown, Driving, Flashback, Getting Back Together, Wedding, Birth of Child, Final Battle, Death Scene, Funeral Song, End Credits



nah, beginilah hasilnya dengan "film kehidupan" saya

1. Opening credits ; Saujana- Saujana
yup, lagu Saujana yang dibawakan oleh grup nasyid Saujana dalam album Jalan Sehala ini kayanya boleh deh jadi opening credit. musiknya yang mellow tapi beating dengan ritmik teratur bernuansa oriental disertai lirik tentang gunung Fuji di Jepang, kelopak-kelopak bunga Sakura... hehe, pura-pura saya lahir di Jepang kali ya...terus nama aktor-aktornya muncul di sisi layar satu-satu....wuizzz....





2. Waking Up : Sami Yusuf - Al-Mu'allim
mmm...subhanallah, yang ini harus diaminkan deh... kalau setiap pagi saya bangun dengan mengingat Rasulullah sebagai teladan terbaik sepanjang masa, pasti hidup saya (baca: film saya) akan selalu mencoba mengikuti jejak-jejak beliau, amiiiiin.... (sejauh ini, film saya masih membahagiakan ni, selanjutnya apa ya?)




3. First Day at School : Yusuf Islam and Children - I Look I See
Waduh, cocok banget, anak baik! masuk sekolah langsung deh nalar 'observasi'-nya muncul, I look, I look I see, I see the world of beauty....hehehe... bagus, bagus, perhatikan alam ini dan temui jalan-Nya, terus baca ayat-ayat-Nya di alam ini nak...nanti hidupmu akan diterangi oleh-Nya terus amiiiin....








4. Falling in Love : Sherina - Lihatlah Lebih Dekat
ya elaaah, jatuh cinta kok malah lagu perpisahan gini sih?! lagu ini kan soundtracknya film Petualangan Sherina, favourite saya waktu masih SD dulu di mana Sherina harus berpisah dengan teman-temannya saat harus pindah ke Bandung!!! O....., I get it, jadi jatuh cintanya pas SD gitu ya? terus karena harus lanjut ke SMP n ga jumpa lagi sama si 'itu' jadinya sedih gitu ya? hehehehe....hatiku sedih, hatiku gundah..tak ingin pergi berpisaaaah ;D cape deeeh! hehehe..








5. The Relationship : Tazakka - Rumahku Syurgaku

lebih ga bener ni, tadi kan katanya masih SD, lha kok sudah harus berkeluarga? kacau man, kacau! tapi kalau dipikir-pikir untuk sebuah relationship memang hubungan keluarga itu adalah yang paling menenangkan...rumah itulah istana kita, di mana relationship antara ibu, ayah, dan anak-anak yang sesuai jalan-Nya akan membuat gubuk menjadi sebuah istana.....:)




6. Fight Song : Edcoustic - Menjadi Diriku
memang saya main filmnya ditakdirkan tidak untuk berantem oleh SUTRADARAnya. jadi adegannya kali gini ya; diajak baku hantam malah mundur sambil ngomong gini, terimalah aku seperti apa adanya, aku hanya insan biasa tak mungkin sempurnaaaa.... (hehe, bilang aja takut, malah ngajak negosiasi hihi...) musiknya yang pop abis dengan drumnya yang kentara sih bisa diartiin gini; musuhnya ga peduli dengan negosiasinya n hantaam!! xp



7. Breaking Up : Saujana - Inikah Ertinya Cinta?
kacauuu kacauuuu, dari tadi kok patah hati terus sih? :( hehe..
tapi di sini tu beda lho, kalau menurut lagu ini yang rupanya masih dari Saujana juga, saya meninggalkan si 'itu' karena saya masih ingin mencari cinta yang lebih sejati....cinta DIA yang tadi malam sempat saya kira hilang (astaghfirullah..)



8. Prom Night : UNIC - Tika Itu
kalo di sini sih, kata teman-teman sekolah promnya bakal seru, bakal rame dengan musik, tarian, makanan dan....mungkin 'sedikit' alkohol; having fun-lah (pengumuman; SAYA GAK IKUTAN). tapi soundtrack saya kok malah sedih gini ya?! hehe... ceritanya lagu ini tu gini; saya harus berpisah dengan orang yang saya cintai karena harus pergi mencari cita-cita (mungkin merantau ya?) ...mmm.. ok lah, masih masuk akal. karena habis sekolah ini saya kan emang harus pisah sama teman-teman di sini karena harus kembali ke Indonesia..



9. Life : Gradasi - Persembahan Cinta
alhamdulillah, normal lagi deh hidup saya (baca: film saya). hidup saya yang memang sering terseret-seret dalam salahnya arti cinta palsu yang sering dirujuk orang dengan istilah VMJ alias Virus Merah Jambu akhirnya kembali ditarik lagi oleh-Nya lewat cara-Nya....acapella beritmik lembut dan teratur dengan pengungkapan rasa yang terindah tentang berkembangnya cinta yang semerbak wangi dalam jiwa seperti menggambarkan diri saya yang sangat labil dalam memegang kata yang satu itu; cinta.



10. Mental Breakdown : Dawud Wharnsby Ali - Crazy Spots I've Prayed
dalam kehancuran hidupnya atas masalah-masalah yang menimpanya, rupanya tokoh kita yang satu ini masih bisa shalat di mana saja macam yang dinyanyiin sama Dawud ( di ruang ganti supermarket pun jadi! hehe)
bagus, nak...gitu dong, kalau having mental breakdown, shalat terus sabar... insya Allah pasti pertolongan Allah datang juga bagi mereka yang sabar.






11. Driving : Hafiz Hamidun - Dengarkanlah Segalanya
jadi sambil driving di Inggris misalnya (amin...suatu saat nanti mungkin), jadi teringat siapa gitu di Indonesia sedang nungguin kepulangan saya kan lagunya tentang seseorang yang sedang menyanyikan kerinduannya akan seseorang yang satunya lagi yang sedang jauuuh di mana gitu...mungkin ini lagi merantau ronde dua kali ya (insya Allah, aminn...)? hehe...tapi boleh lah untuk driving, nenangi jiwa. :)



12. Flashback : Zain Bhikha - You Are Very Special
ok, jadi flashbacknya ke siapa ni? ke seseorang yang very special gitu? ok deh, klop.xp










13. Getting Back Together : Justice Voice - Ternyata
Ternyata, Allah sayang kita!!! alhamdulillah deh, kalau gitu kita bisa getting back together karena Allah sayang kita semua, jadi ga boleh berantem lagi oqah say? (halah)


14. Wedding : Tompi - Balonku
ini ni yang paling ga waras, harusnya ni lagu buat the first day at school di TK gitu...masa buat nikah sih? OGAH.


15. Birth of Child : Dawud Wharnsby Ali - The Blue Sky is Blue
mmmm....lagunya sih emang dari perspektif anak kecil, tapi bukan bayi! jadi gini aja, anaknya ini uda gede terus ngomong gini ke ibunya (mmm...saya ya? hehe): i dont wanna be a grown up like the grown ups i have seen, cuz the grown ups i have seen seem not to have much fun, they dont get down on the floor enough to pray or to play with the toy!
ok deh sayang, jangan cerewet, ibu lagi masak ni! ( hehe)


16. Final Battle : Tashiru - Optimis Sajalah
aduh kang Hendra, kok ga bilang-bilang sih ini film eksyen? berantem mulu. tuh, saya orangnya damai, dari pada berantem, nasyid aja yuk! (apaan sih?)












17. Death Scene : Opick - Rapuh

sedang menghela nafas terakhir, detik waktu terus berjalan berhias gelap dan terang, suka duka, tangis dan tawa tergores bagai lukisan ....semua itu diflash back oleh DIA; semua amalan saya yang lebih banyak melupakan-Nya dan rapuh dalam memegang sebongkah cinta titipan-Nya... aduh filmnya mulai menyedihkan, siap2 sapu tangan!










15. Funeral Song : Dawud Wharnsby Ali - Afraid to Read
justru karena amalan saya yang terkadang kurang ikhlas, tiba-tiba sang aktor utama merasa takut bahwa ia akan merasa takut untuk melihat buku amalannya seperti soundtracknya : that day, I'll be so afraid to read (baca: buku amalan), every harsh word that i've spoken, everytime that i have lied


16. End Credit : Sherina - Bintang-bintang
no comment deh, uda cape2 serius kok malah dapat ini sih buat credit akhirnya..ya udah ga papa, musiknya yang lembut bisa mengiringi nama-nama aktor dan semua pihak yang telah membantu terwujudnya film ini....