Monday, November 26, 2007

interval- isi hatiku.

Apa yang seharusnya bisa ditulis ketika pikiranku tertutup searak awan kelabu tipis yang tak berbentuk? Menggelayuti setiap helaan nafas dan detakan jantungku yang mulai tak teratur. Awan itu juga mengikuti setiap langkahku, setiap detik, setiap menit, setiap jam. Hingga aku pun mengaku kalah dan mengajak berbicara…
“Jadi, siapa dirimu?”, aku membuka percakapan.
“Kau kira aku siapa?”, balasnya bertanya.
Aku diam. Aku benar-benar tidak siap dibalas demikian. Aku tahu jawabannya, tetapi aku tidak mau mengakuinya. Simalakama.
“Jawab…”, bisiknya pelan.
“Aku, … aku tidak tahu.” Final ucapanku.
Ia menyandarkan punggungnya ke langit biru, mencoba mencari pegangan.
“Jangan berbohong padaku.”, serunya pelan dan tenang setelah ia benar-benar terpancang tenang di langit di atas kepalaku.
Aku menghela nafas panjang tanpa suara. Kiranya tak berguna perlawanan ini. Kuakui saja.
“Kau isi hatiku.” Lantas aku pun mengatup rapat.
Ia tersenyum. Kedua belah tangannya pun bertepuk dua kali; jawabanku benar.
Kupalingkan wajahku ke kehijauan semak di pinggir kananku. Aku malu.
“Apa yang membuatmu menghindar mengakuinya untuk beberapa waktu?”, tanyanya lagi.
Kulirik ia dengan seribu emosi. Bukankah ia tahu semuanya? Mengapa ia harus terus bertanya?
“Kau tahu semuanya. Berhenti bertingkah seperti pengacara pencari-cari kesalahan klien.” Jawabku datar.
“Tapi aku bertanya bukan karena ingin mengetahui jawabannya. Aku ingin menolongmu.”, disuruhnya angin yang berdesir untuk mengunjungi keningku, mengecup sekilas.
Keningku yang baru dikecup tadi pun berkerut tegas. Menolongku?
“Bagaimana?”, ketusku.
Ia semakin tersenyum. Kadang-kadang aku heran, bagaimana mungkin ia tersenyum di tengah kekelabuan dirinya (yang juga diriku). Apa yang ia minum atau apa yang ia makan?
“Kau butuh teman berbicara… seorang teman berbicara yang setia. Bukan yang selama ini kau kunjungi sekali-kali.”, lanjutnya. Ia terlihat lelah, sangat lelah. Batuk di sana-sini menyelangi, namun tatapannya masih memandang dalam. Aku salut akan cintanya padaku. Tapi aku terlalu angkuh; aku hampir tidak pernah mengunjunginya. Biasanya aku mendatangi beberapa kemayaan lewat layar yang lebih maya lagi.
“Dan.. kau mau menjadi ‘teman’ itu? Begitu maksudmu?”, selidikku.
Ia mengangguk. Masih pelan.
“Aku tidak begitu jauh darimu, tapi kau selalu menghindariku. Kelabuku sudah terlanjur kau ciptakan. Tak hendakkah kau memperbaikinya?” matanya makin sendu.
Aku sebenarnya terharu sangat. Ingin kudekap dirinya dan menyatu lagi denganku. Tapi aku masih terlalu angkuh untuk itu.
Kelabunya benar-benar menarik perhatianku. Itu aku yang ciptakan. Tapi aku malah takut untuk melihatnya, takut untuk berbicara dengannya yang makin kelabu. Aku selalu mencoba menghindar.
Aku memandang lurus. Ada kereta angin lewat sepintas.
“Kau tahu, kelabu itu dari siapa?” aku bertanya. Retoris.
Ia menggeleng lemah. Ia benar-benar tak bertenaga banyak lagi. Dan aku masih angkuh.
“Dari kemayaan duniaku. Dari kemayaan yang selama ini kugeluti. Dari kemayaan yang selama ini kupikir bisa membawaku terbang tinggi.” Pandanganku masih lurus.
Ia menghela lambat.
“Kau tak mau merubahnya? Tak mau pergi dan meninggalkan kemayaan itu?”, tanyanya lagi.
Kini aku yang menghela lambat.
“Aku tidak sanggup…”
“Tapi kau harus!”, ia mencoba terlihat tegas- tapi tetap lemah.
“Bukan tidak kucoba, tetapi…” aku tidak bisa menghabiskan sisa kalimatku.
“Tetapi kenapa?...”, kini ia terlihat sangat terpukul. Aku yang selalu terlihat tegar dan kuat ternyata bisa menyerah juga.
Ah, aku pusing. Aku hanya ingin menari dalam kesendirian. Biar Dia yang menjawab semua tanyaku.
“Dan kau mau aku hilang begitu saja?” tanyanya lagi. Kali ini jari-jari tangannya dimain-mainkannya; resah.
“Bukan, bukan begitu!”, elakku.
“Lantas apa?”, matanya berkaca-kaca.
“Kau terlalu cengeng, itu mengapa.” Aku mencoba berpaling.
Kini ia bersedu-sedan. Aku pun sebenarnya sedih.
“Baiklah, biar aku pergi saja. Temui hati lain untuk kau miliki. Mungkin hati yang lebih sering diam dalam renungan tentang-Nya tidak lagi cocok untukmu. Kau sudah terlalu asing. Kau merenungi hal lain sekarang.”, keluar juga isi hati dari isi hatiku.
Aku kecewa. Aku tidak mau dilabel seperti itu. Aku belum berubah. Aku masih yang dulu. Aku hanya butuh waktu untuk merenungi diri lagi. Aku benar-benar gamang.
Tiba-tiba kutantang langit.
“Tuhan, jika Kau memang di situ, tunjukkan padaku; apa hati kelabu ini masih milikku atau tidak! Tuhan, jika Kau memang Satu, lerai perselisihanku dan hatiku! Tuhan…” suaraku mulai serak. “Kumohon dengan sangat…”
Tanpa sadar, air mataku pun tumpah. Sebelum kusadari lebih jauh, sudah kudekap lagi bagian dari diriku yang telah lama menghilang itu.
Preston, 26 November 2007

No comments:

Post a Comment