Monday, November 12, 2007

Sebuah Balada di Tepi Danau

Beburung berdzikir di kandang Raudhah,

Menyambut azan di tabir senja…

Insan berkasih kerana Allah,

Bertemu, berpisah kerana cinta-Nya…

-Aisyah, dalam film “Syukur 21”

Teringatku akan sebait puisi itu yang pernah mati-matian kuhafal ketika masih di tsanawiyah dulu. Aku, yang masih berumur tiga belas tahun pada saat itu, mengaku bisa merasakan arti puisi itu dengan sebaik-baiknya. Tahu apa kau waktu itu, cibirku sinis.

Sepersekian detik kemudian, kutepis cibiran itu jauh-jauh. Bagaimanapun juga, bait itu telah berjasa banyak. Berapa puluh kali telah kugunakan bait itu untuk menghibur keresahan dan kegundahan orang lain? Berapa kali telah kusebut-sebut sendiri bait itu setiap kali aku akan berpisah dengan orang-orang yang kucintai? Berapa kali bait itu menginspirasi bait-bait pribadiku dalam wujud puisi-puisi tak berbunyi?

Apa karena ia yang mengucapkannya berwajah manis dan bersuara bak pembuluh rindu? Atau karena ia mengucapkannya kepada seseorang yang dicintainya namun harus berpisah setelah itu? Atau karena kesensitifitasanku atas bait-bait semacam itu?

Aku bingung dengan apa yang sedang kupikirkan.

Aku juga bingung dengan apa yang kulakukan saat ini. Tiba-tiba kudapati diriku telah duduk bersandar di sebuah pohon di tepi danau dekat sekolahku. Memandangi langit yang kebetulan biru, meresapi angin semilir yang membelai pipiku, membiarkan musik-musik bermain di telingaku sementara buku kimiaku tertutup rapat di pangkuanku.

Seekor angsa hitam melintas sendu di tengah danau yang sedang kupandangi. Beberapa bangau dan itik-itik cantik ikut meramaikan ballet alami ini. Ada sebuah pertunjukan di sini, pikirku. Mengapa tidak menjadi seorang penonton yang baik?

Slowly slow my child,

The world waits for you…

And your window of time,

Will come shining through…

Slowly slow don’t rush you know,

It’ll all come easy…

There’s something you can’t take back nor regret

For what you’re gonna get,

Need some thinking down the lead…

-Zain Bhika, “Slowly slow”

Perlahan suara merdunya melantun di telingaku. Ia sedang bernyanyi kepada anaknya. Menyuruhnya untuk pelan-pelan, tenang dan semuanya akan berjalan dengan baik. Butuh pemikiran sebelum membuat keputusan, katanya. Karena jika tidak, sesal selalu datang pada akhirnya…

Pipiku basah. Aku menangis. Angin semilir tadi terasa lebih dingin. Aku masih diam. Tak kutahan isakanku, tak ada orang di sini, pikirku.

Beberapa itik terbang rendah dan menyisir danau dengan kepakannya. Masih semilir anginku, turut terbelai pula daun-daun hijau baru di atasku.

Kupandangi langit lebih tajam. Tidak ada awan hari ini. Birunya sangat biru. Seakan-akan laut Bandaku telah berpindah ke atas situ.

Kugiring pandanganku ke riak lembut di danau di depanku. Ada berapa ribu ganggang yang menyatu dan menciptakan kelembutan warna hijau itu? Pekat sekali hijaunya, bagai enggan mengijinkan surya untuk meminjamkan sedikit cahaya ke dalamnya.

Kujatuhkan kini pandangku ke angsa hitam tadi. Mengapa hanya hitam? Di mana angsa putih yang selalu cantik menurutku? Angsa hitam tadi hanya melanjutkan balletnya, tak paham akan pertanyaan bodohku tentang angsa lain selain dirinya.

Seekor angsa lain pun melintas, entah dari mana. Putih, ya, warnanya putih. Tetapi mengapa aku tidak merasa lebih senang? Bukankah sebelumnya aku baru merindukan keputihan itu?

Oh, burung pun bernyanyi

Melepaskan rindu, yang terendam malu di balik qolbu…

Oh, angin pun menari

Mencari arti, adakah ini fitrah ataukah hiasan nafsu?

Di dalam sunyi, ia selalu hadir…

Di dalam sendiri ia selalu menyindir…

Kadang, meronta bersama air mata

Seolah tak kuasa menahan duka…

- Maidany, “Menunggu di Sayup Rindu”

Seekor burung bersiul dari atasku, angin semakin membelai lembut pipiku, yang semakin basah dengan sebuah asa. Sebuah asa yang kutakut, bukan milikku untuk kupertahankan…

Aku termenung di bawah mentari

Di antara megahnya alam ini…

Menikmati indahnya kasih-Mu

Kurasakan damainya hatiku…

Sabda-Mu bagai air yang mengalir,

Basahi terik panas di hatiku

Menerangi semua jalanku

Kurasakan tentramnya hatiku…

- Haddad Alwi, “Damai Bersama-Mu”

Aku teringat diriku, yang sedang menepi di lindung bayang dari terik hari ini. Danau dan segala pernak-pernik tataan-Nya perlahan datang memelukku dalam damai yang dalam.

Riak-riak lembut tadi mulai bergelombang kecil, mengalir dalam aliran tak jelas. Tetapi itu bukan tidak menambah kecantikannya. Kuangkat daguku menentang rebakan air mata yang menjadi-jadi. Aku benar-benar biru. Ada kesedihan seseorang yang kuresapi, yang kudramai, yang kudo’ai…

Kulirik sedikit ujung pemandanganku, ada bayang kerudung hitam melambai dari kejauhan. Kerudung itu tak sendiri, ada seorang pria muda berjalan di sisinya dengan ceriwis dua bocah kecil. Kualihkan pandang dan bisik hatiku ke sebelah lain, pemandangan tadi belum milikku.

Kupeluk lututku erat. Kukeluarkan telepon genggamku, kutelusuri satu per satu nomor di situ. Kulayangkan panggilan-panggilan tak berlanjut, sebuah kebiasaan lama yang hampir kulupakan. Kuletakkannya di atas tanah, kembali memandangi alam tanpa geming.

Aku sudah berhenti menangis. Ada kejar-kejaran di antara itik-itik di danau yang memancing senyum. Ada burung-burung merpati yang terbang rendah melewati kepalaku mengejutkan, juga memancing senyum. Ada kerumunan burung jenis lain di sebelah sana…, oh, kerudung hitam itu sedang tersenyum bersama pria itu. Kembali kualihkan pandangku.

When you feel alone in this world,

And there’s no body to count your tears,

Just remember no matter where you are,

Allah knows, Allah knows…

-Zain Bhika and Dawud Wharnsby Ali, “Allah knows”

Yeah, Allah knows.

Dan teleponku berdering. Aku pun mulai berbicara.

Coburg, 12 November 2007, 14.15 pm

No comments:

Post a Comment