Wednesday, November 7, 2007

Teknik Sipil; apa berarti "keren"?

Pikiran ini sudah ada di pikiran saya sejak beberapa tahun yang lalu dan sejak awal tahun ini semakin membuat saya semakin bertanya-tanya; ada apa dengan jurusan Teknik Sipil yang membuat semua terhipnotis untuk mengatakan “kereeeen” jika ada yang mengaku kuliah di jurusan tersebut?
Mulai dari stereotype di kalangan teman-teman saya sendiri di mana kebanyakan kaum prianya ketika masih di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas selalu berangan-angan ingin menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik, jurusan Teknik Sipil.
“Mau kuliah di mana nanti, Fery?”, tanyaku pada salah seorang teman lelakiku semasa tsanawiyah dulu.
“Teknik sipil, tapi aku mau coba FKIP Fisika dan Matematika juga.”, jawabnya sambil memandang langit.
“Taufiq, maunya kemana?”, tolehku kepada teman lelaki yang lain.
“Mmm… kalau bisa mungkin Teknik Sipil juga.”, jawabnya santai.
***
“Eh, kalau Mirza, sekarang di mana?”, tanyaku pada temanku saat berkomunikasi lewat yahoo messenger beberapa bulan yang lalu. Aku menanyakan kabar seorang teman lelaki semasa SMA dulu yang aku tahu bernilai akademis tinggi.
“Teknik Sipil, lewat USMU lagi!”, jawab temanku tersebut.
***
Ok, sekedar stereotype, right? Dan saya bisa dibuktikan salah adanya. Tapi ide bahwa Teknik Sipil itu ‘keren’ masih saya temui di mana-mana! Bukan mengesampingkan kepopularitasan Fakultas Kedokteran dan Ekonomi atau fakultas-fakultas lainnya, hanya saja ide ‘keren’ ini terasa unik, beda dari ide ‘wow’ yang ditunjukkan masyarakat untuk fakultas-fakultas lainnya.
Sebagai contoh, tempo hari saya sedang ‘ber-friendster-ria’ dan akhirnya mendaratlah saya di sebuah profil salah seorang teman wanita semasa tsanawiyah dulu. Di bagian affiliation, ia menyatakan bahwa ia adalah mahasiswi di Fakultas Teknik, jurusan Teknik Sipil, Unsyiah, Banda Aceh. Di bagian comment-nya, saya temukan beberapa comment yang menyelamatinya atas keberadaannya sebagai seorang mahasiswi baru; tentu saja, di Teknik Sipil. Di antaranya adalah sebagai berikut:
“wessss... aneuk tekhnik ne...
wuah.. wuah....”
Ok, apa saya terlalu subjektif? Dan keberadaan fakultas-fakultas lain saya pandang sebelah mata? Tidak! Hanya saja…. Aneh, bagi saya ini aneh. Ada semacam kesan ‘ciee… yang udah nikah ni, wuah..wuah..’ dalam comment di atas. Seperti sesuatu yang benar-benar seremonial, sesuatu yang benar-benar agung. Sedangkan yang memberi comment ini, yang kebetulan diterima di Fakultas Keguruan Ilmu dan Pendidikan jurusan Matematika, tak menerima comment-comment senada.
Contoh kedua; bahkan penulis-penulis kondang meminjam Fakultas Teknik, khususnya jurusan Teknik Sipil sebagai salah satu factor yang digunakan untuk membangun karakter semacam ‘perfect boy (atau ikhwan sempurna lah jika diinginkan)’ di mata pembaca.
Dalam cerita “Ketika Mas Gagah Pergi” misalnya, mbak Helvy TR menggambarkan diri sang Gagah sebagai berikut:
“Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !”
-“Ketika Mas Gagah Pergi”, Helvy Tiana Rosa
Kita semua tahu bagaimana kelanjutan cerita “Ketika Mas Gagah Pergi” bukan? Seorang kakak laki-laki ‘hampir-sempurna’ yang pada akhirnya harus kembali ke hadhirat-Nya lewat sebuah kecelakaan ini merebut perhatian dan air mata majoritas pembacanya (termasuk saya hiks hiks). Intinya, semasa hidupnya, Mas Gagah ini benar-benar tipe ‘menantu idaman’.
Atau mari kita lihat cerita pendek berjudul “Telepon Pinky”, yang merupakan bagian dari kumcer “Cinta Tak Pernah Menari” karya Asma Nadia.
Kebetulan saya dihadiahi buku tersebut oleh seorang teman sekolah yang berasal dari Jakarta. Liburan musim dingin lalu dia sempat liburan ke Jakarta dan memberikan saya oleh-oleh berupa kumcer tersebut. Adapun secara singkat, kisah ini menceritakan tentang keinginan seorang Inne untuk menelepon kembali ‘Mas Aan’-nya; anak bekas guru Mamanya yang jauh lebih tua dari padanya. Mereka bertemu saat kebetulan Mama Inne mengajaknya untuk mengunjungi bekas gurunya tersebut. Setelah pertemuan singkat itu, mereka diceritakan sempat menjalin komunikasi selama kurang lebih tiga tahun lewat surat-surat, kartu ulang tahun, kartu valentine dan hadiah-hadiah kecil lainnya. Hubungan ini pun lama-kelamaan berakhir dan pada suatu titik, Inne ingin menelepon Wisnu, mencoba menjalin komunikasi lagi dengannya.
Sebagaimana ketika membaca kisah-kisah yang penuh deskripsi pada umumnya, saya mulai membangun imajinasi tersendiri tentang tokoh Mas Aan alias Anindra Wisnu ini.
Masih di awal cerita ketika saya menemukan bahwa suaranya jenis bariton (memangnya baritone itu gimana ya?), kulitnya kecokelatan, mengenakan sepasang kacamata minus dan kedua bola matanya hitam pekat. (Ok, bisa dibayangkan? Hehe..)
Lalu menjelang pertengahan cerita, terbacalah oleh saya deskripsi berikut ini:
“Aan itu pelajar teladan se-Jogja, Inne. Dia baru saja meraih PMDK untuk Fakultas Tekhnik, Jurusan Tekhnik Sipil!”
- “Telepon Pinky” dalam “Cinta tak Pernah Menari”, Asma Nadia
Tuingg?!!! Ada apa dengan Teknik Sipil dan “cowok keren”?!!!! apa ada semacam korelasi atau semacamnya di antara keduanya begitu???
Intinya, saya menangkap kesan bahwa berkuliah di Teknik Sipil itu bisa dipakai untuk membangun karakter berupa “Mas Gagah” atau “Mas Aan” yang notabene tidak bisa dikatakan tidak mengagumkan. Lantas, apa ini karena stereotype atau saya yang masih bersifat subjektif?
Jadi sekali lagi, Teknik Sipil; apa berarti "keren"?
Maaf jika blog entry ini tidak membuat sebuah kesimpulan apapun, saya hanya ingin mencurahkan pikiran saya. Ada masukan?
Buat yang pernah atau sedang di Teknik Sipil, diharapkan untuk memegang kepala anda erat-erat agar tidak terbang saat membaca tulisan ini, hehe…

1 comment:

  1. Mungkin commentnya telat ya...

    kalau boleh berpendapat, jurusan teknik sipil adalah jurusan dengan karakteristik pembentukan lulusan yang kuat dan tangguh (ya.. rata2 hampir sama dengan teknik pertambangan dan geologi lah... ). Yang kemudian dapat menjadikannya berkarakter kuat dan mengagumkan adalah karena tuntutan profesi dan tanggung jawab yang besar serta sisi kesosialan yang tinggi (coba cek.. insinyur sipil yang meminta honor untuk pembangunan masjid,dll, rasa2nya amat jarang sekali...).

    ReplyDelete