Wednesday, December 3, 2008

CURAHAN HATI lewat NASYID

Meniti Mimpi
Album : Cahya Ilahi
Munsyid : Hijjaz
http://liriknasyid.com


Kau terdengar kicauan beburung
Yang menyanyi di dada pelangi
Kau menggapai awan dilangit memutih
Dirimu lebur dimamah mentari

Kau impikan harapan menggunung
Di lorong hanyir kehidupanmu
Kau hirup sari madu bunga beracun
Mewarnai dunia misteri mimpimu

Kau calari setangkai hati ibunda
Yang meniti di bilahan hari-hari
Kau hitamkan wajah ayahanda
Yang mengharapkan sinar kehidupan

Apalah yang hendak diharapkan lagi
Semua sudah jadi takpasti
Bangkitlah segera dari mimpi ngeri
Pulihkan kembali sebuah harga diri

Sinar hidupmu tiada nyalaan api
Berlabuhlah di muara ini
Pasrahkanlah hidupmu ke lorong ilahi
Di sana menanti syurga yang abadi
Di sana menanti syurga yang hakiki

Thursday, November 13, 2008

Sang Bapak

Aku lapar
Aku menggelepar
Sang Bapak hanya melihat sebentar
Lalu berkoar-koar

"Dalam telunjuk yang sekarang, Ia lapar, Ia menggelepar," tunjuk Sang Bapak
"Demi Sang Penguasa,
Saya akan menyiram negeri ini dengan pasir yang terbuat dari permata
Saya akan menyelimuti malam kampung ini dengan kain sarung sutera"

Aku masih lapar
Aku menggelepar
Sang Bapak melihat lagi sebentar
Lalu kembali berkoar-koar

"Dalam telunjuk yang sekarang, Ia lapar, Ia menggelepar," seru Sang Bapak
"Lihat sayap saya lebar
Lihat badan saya besar
Nanti pasti tak ada lagi yang lapar."

Aku tetap lapar
Aku tetap menggelepar
Sang Bapak tetap melihat sebentar
Sembari tetap berkoar-koar

"Dalam telunjuk yang sekarang, Ia lapar, Ia menggelepar," ratap Sang Bapak
"Wahai Penelunjuk, di mana ceramahmu tentang perut yang kenyang?
Di mana petuahmu tentang hati yang lapang?
Di mana ceritamu tentang negeri yang tenang?"

Aku sudah tidak lagi lapar
Aku sudah tak lagi menggelepar
Sang Bapak sekedar melihat sebentar
Lalu melanjutkan berkoar-koar

"Dalam telunjuk yang sekarang, Ia lapar, Ia menggelepar," teriak Sang Bapak
"Dalam rangkulan Saya, rumput akan berbunga padi
Dalam rangkulan Saya, kelapa akan berbuah berlian jeli
Dan Saya bisa pastikan, dalam rangkulan Saya, tak akan ada yang mati seperti ini."

Sang Bapak menunjukiku
Aku hanya menatap, ada Izrail di sebelahnya,
mendekat ke arahku,
dan ke arahnya.



Banda Aceh, 13 November 2008
*tahun depan pemilu, kan?*

Wednesday, October 22, 2008

100 tahun sudah ia tiada!

Siapa tak kenal Tjoet Njak Dhien? Pahlawan nasional yang satu ini telah membuat Aceh tersohor dengan semangat kepahlawanan yang tinggi. Lukisan Tjoet Njak Dhien sering dijumpai si ruangan-ruangan kelas SD di berbagai provinsi di Indonesia. Biasanya beliau digambarkan dengan pakaian adat Aceh dan sanggul rambut khas milik wanita Aceh terdahulu yang sering digambarkan tertutupi selembar kain kerudung. Tentu saja pemajangan di kelas-kelas itu ada objektifnya. Paling tidak anak-anak tahu bahwa pahlawan tidak selamanya laki-laki dan bahwa Aceh di sudut paling atas Sumatera itu punya andil dalam memperjuangkan keperawanan negeri dari hawa nafsu penjajah yang sempat membuat nenek moyang kita mengemisi hasil kebunnya sendiri lebih dari tiga abad lamanya.

Ya, hampir semua orang tahu Tjoet Njak Dhien. Orang Aceh mungkin akan berbusa-busa mulutnya jika menurutkan kebanggaannya dalam bernarasi tentang hebatnya Tjoet Njak Dhien dan wanita-wanita Aceh lainnya dalam mengusung perjuangan, tegarnya mereka ditinggal pergi suami-suami mereka atas nama memerangi yang bathil dan tabah serta kokohnya iman mereka ketika para suami berguguran satu per satu di medan laga. Uniknya, ketersohoran Tjoet Njak Dhien membuat beberapa orang luar Aceh mengenali pakaian adat wanita Aceh sebagai pakaiannya Tjoet Njak Dhien dari pada pakaian adatnya negeri Tjoet Njak Dhien.

Tapi apa semua orang Aceh yang tahu Tjoet Njak Dhien meneladani beliau? Apa semua yang bangga akan jerih payah dan tetesan darah beliau demi sepotong kehormatan nanggroe ini sudah meneruskan kebanggaan itu? Dan apa semua tahu, bahkan sampai kerentaan menyongsong dan pintu kematian beliau terbuka lebar, beliau masih tetap berperang?

Tidak. Tidak semua orang Aceh benar-benar meneladani beliau, tidak semua orang meneruskan kecintaan beliau dalam mempertahankan kehormatan nanggroe ini dan tidak semua orang tahu bahwa beliau selalu berperang bahkan saat sisa nafasnya sudah bisa dihitung dengan jumlah lembaran-lembaran Juz Amma.

Suami pertama Tjoet Njak Dhien bernama Teuku Ibrahim Lamnga. Saat perang Aceh meletus tahun 1873, suami Tjoet Njak Dien turut aktif di garis depan. Konsekuensinya, Teuku Ibrahim jarang berkumpul dengan istri dan anaknya. Tjoet Njak Dhien selalu mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan. Jika suaminya pulang sesekali, beliau selalu mendorong dan membakar semangat juang suaminya dan hanya membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kaum kafir Belanda. Terkadang, untuk mengobati kerinduan pada suaminya yang berada jauh di medan perang, sambil membuai sang buah hatinya, ia menyanyikan syair-syair yang menumbuhkan semangat perjuangan.

Bukankah keteguhan Tjoet Njak Dhien dalam mengartikan makna perjuangan tersirat di setiap perbuatannya? Mulai dari mengikhlaskan kepergian suaminya untuk berjuang, meninabobokan anaknya dengan syiar-syair perjuangan sampai tetap membakar semangat juang suaminya tanpa memedulikan kerinduan naluriah seorang wanita kepada kekasihnya.

Sekarang, mari bandingkan beliau dengan istri-istri produk modernisasi hari ini yang jika suaminya pergi maka ia pun ikut-ikutan pergi – tanpa izin tentunya – dan boro-boro menidurkan anaknya dengan syair-syair perjuangan, meninabobokan anaknya saja jarang karena ada banyak arisan. Bukankah perilaku Tjoet Njak Dhien di atas merupakan wujud kepahlawanan sejati dari seorang istri yang sebenarnya patut diteladani?

Tak hanya menyulut semangat kepahlawanan di rumah tangganya, Tjoet Njak Dhien juga lantang menyuarakan semangat juang di alam terbuka. Ketika Mesjid Besar Aceh (sekarang Mesjid Raya Baiturrahman, red) dibakar di tengah-tengah Perang Aceh, Tjoet Njak Dhien, dengan amarah dan semangat yang menyala-nyala berseru, “Hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala, tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda?” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perhatikan kata-kata Tjoet Njak Dhien di atas, bukankah beliau juga sedang berbicara kepada kita juga, orang-orang mukmin yang bernama orang Aceh? Dan lihatlah, mesjid-mesjid kita di mana-mana sedang ‘dibakar’ oleh kemalasan kita untuk memakmurkannya dengan ibadah. Jangankan mempertahankan kehormatan mesjid-mesjid itu jika suatu hari kita diserang oleh musuh antah-berantah dengan semangat kepahlawanan yang dimiliki oleh Tjoet Njak Dhien, bergerak dari keudee kuphie untuk memenuhi panggilan shalat magrib yang singkat itu saja kita masih malas!

Suatu hari, suaminya meninggal dalam suatu pertempuran. Tjoet Njak Dhien sama sekali tidak kehilangan pijakan, bahkan semangat juangnya semakin berkobar. Meski berstatus janda muda dengan seorang anak, Tjoet Njak Dhien tetap menggerilyai Belanda.

Pada 1878, Tjoet Njak Dhien menikah dengan Teuku Umar atas dasar ikatan berjuang fi Sabilillah. Teuku Umar kian mendapatkan dukungan. Meskipun telah menikah sebelumnya, Tjoet Njak Dien lah yang paling berpengaruh terhadap Teuku Umar. Tjoet Njak Dhienlah yang senantiasa membangkitkan semangat juangnya, mempengaruhi, mengekang tindakannya, sekaligus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Tjoet Njak Dhien sendiri juga ikut bertempur bersama suaminya; Tjoet Njak Dhien membangkitkan semangat juang dan kepahlawanan di rumah tangganya dan di medan pertempuran sekaligus, sesuatu yang sepatutnya dimiliki oleh setiap wanita mukmin yang bernama orang Aceh. Sudahkah semangat yang sama ada di tiap keluarga kita?

Dalam sebuah serangan ke Meulaboh Teuku Umar tertembak pada 11 Februari 1899. Dengan tabah dan tawakal Tjoet Njak Dien menerima berita duka ini. Sepeninggal Teuku Umar, selama enam tahun, Tjoet Njak Dien mengoordinasikan serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Segala benda berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk mengisi kas peperangan hingga putri bangsawan ini pun kian menurun kesehatannya akibat persediaan makanan yang sangat terbatas di dalam hutan, tempat selama itu ia bergerilya.

Mempertahankan kehormatan negeri dari percobaan penjajahan jihad namanya ,wajib hukumnya. Mengorbankan semua apa yang kita punya demi kelancaran perjuangan juga merupakan salah satu tuntutan dari jihad itu sendiri. Tjoet Njak Dhien telah melakukannya, dengan semangat kepahlawanan yang sebenar-benarnya. Tak peduli kebangsawanannya, tak peduli hartanya, tak peduli kesehatannya.

Lihat betapa lantang dan beraninya Tjoet Njak Dhien dalam menyebarkan benih-benih keberanian untuk berjuang dalam setiap kata-katanya! Lihat bagaimana rencongnya terhunus dan mengumumkan perang melawan penjajah! Dan lihatlah, ia seorang wanita dan ialah yang mengoordinasikan serangan! Hendak dicari di mana lagi semangat kepahlawanan serupa ini? Bukankah masih ada di antara para wanita kita yang lebih peduli tentang bedak mereka dari pada masa depan negerinya?

Hingga suatu hari perjuangannya mempertahankan negeri diuji. Seorang tangan kanannya berkhianat karena sudah tidak tahan lagi melihat Tjoet Njak Dhien menderita hidup di dalam hutan. Tjoet Njak Dhien pun ditangkap dan dibawa ke Kutaraja (sekarang Banda Aceh, red).

Bahkan dalam keadaan tangan terikat pun, wanita mulia ini masih bisa menebarkan aroma jihad ke seluruh Aceh. Penempatan Tjoet Njak Dhien di Kutaraja ternyata mengundang kedatangan para pengikutnya ke kota itu! Karena khawatir masih bisa menggerakkan semangat perjuangan Aceh, Tjoet Njak Dien akhirnya dijatuhi hukuman pengasingan ke Sumedang, Jawa Barat.

Di Sumedang, tak banyak yang mengenalinya. Selama masa tahanan hingga akhir hayatnya, ia dikenal masyarakat sebagai Ibu Perbu (Ratu). Baru pada tahun 60-an, berdasarkan keterangan dari pemerintah Belanda, baru diketahui bahwa Ibu Perbu itulah Tjoet Njak Dhien.

Ketika tiba di Sumedang, Tjoet Njak Dhien sudah tua renta dan bermata rabun. Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih dan juga sebuah periuk nasi dari tanah liat tak lekang dari tangannya. Dia datang ersama seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Teungku Nana berusia 15 tahun sebagai tahanan politik Belanda pada 11 Desember 1906. Tjoet Njak Dhien lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Bupati tak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat.

Sebagai tahanan politik, Tjoet Njak Dhien jarang keluar rumah. Meskipun demikian, banyak sekali ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang mengunjunginya, untuk belajar mengaji padanya meskipun matanya sudah rabun – karena ternyata banyak sekali ayat suci yang dihafalnya.

Memang tak lagi ia menghunus rencong melawan penjajah, tetapi lihatlah ia sedang menghunus pedang ilmunya untuk memerangi kebodohan. Bukankah ini semangat kepahlawanan yang sejati, terus berjuang memerangi ketidakadilan, kezaliman dan kebodohan dengan tiap potensi yang sudah diberikan Tuhan kepada kita?

Selain mengajar mengaji, Tjoet Njak Dhien hanyalah berdzikir dan beribadah di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Ia terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta di usia senjanya. Di antara mereka yang datang untuk belajar mengaji, banyak yang membawakan makanan atau pakaian. Hal ini selain karena mereka menaruh hormat dan simpati yang besar kepada beliau, juga karena Tjoet Njak Dhien masih tak bersedia menerima apapun yang diberikan oleh Belanda. Keadaan ini terus berlangsung hingga 6 November 1908, saat Tjoet Njak Dhien meninggal dunia.

Jika anda laki-laki, maka merasa malulah. Ini seorang wanita yang sedang kita bicarakan dan dengan berbagai keterbatasannya sebagai seorang wanita, ia masih bisa mengibarkan bendera perjuangan sejak remaja hingga di penghujung usianya!

Jika anda seorang wanita, maka ikut merasa malulah. Ini seorang wanita, bangsawan pula, yang tidak hidup dalam rumah ber-AC atau anaknya memakai popok yang baru harus diganti setelah beberapa kali buang air kecil. Ini seorang wanita yang hidup dari satu hutan ke hutan lainnya dan rela mengorbankan semua hartanya atas nama perjuangan. Ini juga seorang wanita yang tidak cengeng ditinggal berjuang oleh suaminya dan terus setia hingga suaminya pergi meninggalkannya. Ini seorang wanita yang kata-katanya pembakar semangat, yang tetap bisa mengurus anak dan suami sementara pemikirannya unggul dan bisa memimpin serangan-serangan.

Seabad sudah sejak kakinya tak lagi berpijak di bumi. Seabad sudah sejak matanya terpejam abadi. Seabad sudah sejak lisannya tak lagi menyulut api berani. Seabad sudah sejak rencongnya tinggal sendiri.

Sementara kita masih di sini, masih di atas bumi yang sama dengan tantangan yang berbeda. Seorang pahlawan tidak akan diam, ia akan terus berjuang dengan setiap kekuatan yang dimilikinya. Ada kerusakan moral, ada ketidakseimbangan sosial, ada kebodohan, ada kekurangpahaman akan agama, dan ada sedaftar panjang hal lain yang harus kita perangi. Buktikan bahwa kita juga bisa seperti Tjoet Njak Dhien, buktikan bahwa kita mewarisi kecintaannya akan negeri ini dan akan senantiasa memperjuangkan kehormatannya seperti beliau. Penuhi panggilannya sebagai mukmin bernama orang Aceh. Perangi dengan tinta, perangi dengan lisan, perangi dengan tangan, dan lalu, perangi dengan doa! (Real, dari berbagai sumber)


*sebenarnya ini buat buletin d'zero FLP NAD edisi OKtober-NOvember (promosiiii promosiiiiii) tapi gpp deh....hehehe...mau sharing aja :D

Tuesday, October 21, 2008

Antara Aku dan Ari

Saya bukan penonton TV yang baik. Jika remote sudah berada di tangan saya, biasanya yang akan saya lakukan adalah menekan tombol-tombol channel ke atas dan ke bawah; mengganti-ganti sekedar ingin melihat pertukaran warna secara kilat di layar tv saja. Biasanya saya akan berhenti jika ada iklan komersial yang menarik. Ya, saya lebih suka menonton iklan dan meneliti berbagai pesan yang ingin disampaikan, mirip dengan kritik sastra yang sering saya lakukan semasa SMA dulu di Melbourne sih.
Suatu sore, tanggal 20 Oktober 2008, seperti biasa saya nukar-nukar channel. Benar-benar tidak peduli. Sampai akhirnya mata saya terhipnotis oleh sebuah scene.
Tumben saluran TV ini menampilkan sesuatu yang menarik perhatian saya. Lebih dari sering saya justru muak dengan acara-acara (lebih tepatnya sinetron) yang mereka tampilkan. Semuanya berbau ‘cinderellaisme’, semuanya memotret kehidupan gadis miskin dan pria kaya dan asmara di antara keduanya dan bla bla bla, ga penting banget deh buat dibahas.
Tapi apa yang saya lihat sore itu melelehkan sebongkah es dalam mataku. Benar-benar memecah karang keangkuhan, meluluhlantakkan benteng kesombongan.
Seorang anak laki-laki yang mungkin seusia adik bungsu saya yang masih kelas 2 SD, dengan kulit bersisik seperti biawak dari ujung kepala sampai ujung jari-jari kaki, ya, semuanya bersisik! Saya sempat bergidik.
Namanya Ari. Di layar TV-ku, ia sedang menangis, sangat pilu, tanpa pakaian bagian atas sehingga bisa kulihat setiap jengkal sisiknya. Tangis pilu di Jalan Palem Indah, RT 7/1 No.66, Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang itu tak butuh waktu lama membuatku melakukan hal yang sama di Aceh.
Kulit tubuhnya tak seperti anak seusianya. Terlihat kasar dan pecah-pecah. Hampir menyerupai batang kayu. Mulai kepala hingga ujung kaki. Ari mengalami kelainan kulit itu sejak lahir. Kepalanya terkesan plontos. Tapi bukan tak ada rambut, hanya memang rambut tak mampu berdiri tegak di kepalanya. Kulitnya yang pecah-pecah menyerupai kayu. Tak bisa digerakan sedikit pun. Bahkan kelopak mata tak bisa dipejamkan saat kaku menyerang kulit. Untuk mengembalikan kelenturan kulit, dikatakan harus melumuri tubuh Ari dengan salep kulit. Itu dilakukan setiap habis mandi. Dalam sehari perlu dimandikan sebanyak tiga kali. Atau jika tak ada salap, Ari, tiap kali merasa kulitnya mengering dan menimbulkan rasa sakit dan nyeri, akan segera menyiramkan air ke sekujur tubuhnya. Kata kakeknya, bahkan kadang-kadang Ari akan membasahi tubuhnya berkali-kali dalam waktu kurang dari setengah jam.
Tak ada SD yang ingin menerimanya. Padahal kata seorang dokter ahli kulit di acara tersebut, kelainan itu genetik, tidak menular. Tetapi tetap saja masyarakat terlalu jijik dengan keadaannya. Kecuali seorang ustadzah muda yang sudi mengajarinya mengaji dan mengenalkan huruf-huruf kepadanya.
Tepat di bagian ketika Ari terseok-seok berjalan karena jari kakinya tumbuh tidak sempurna, lengkap dengan baju koko dan peci putihnya, membaca ‘A – Ba – Ta’, aku luruh dari egoku.
Seorang Ari masih semangat belajar. Seorang Ari masih semangat mengaji. Sementara aku, dan bahkan kita semua masih sering menyia-nyiakan kesehatan ini dan mungkin bolong-bolong tilawahnya.
Adegan selanjutnya, lebih miris. Ari berkata, “Ari mau jadi tentara waktu besar.”
Semua orang memang bisa bermimpi, dan mimpi itu tak berbatas. Dalam mimpi seorang pengemis bisa menjadi Menteri Kesejahtraan, dalam mimpi seorang Susan bisa menjadi seorang dokter, dalam mimpi seorang anak TK bisa menjadi seorang artis terkenal.
Tetapi bagaimana dengan Ari? Bahkan untuk bermimpi saja ia sering tak bisa; malam-malamnya diisi dengan erangan kesakitan karena kulitnya mengering dan minta terus-terusan dibasahi.
Di mana orang tuanya? Tak tahu. Mereka menitipkan Ari ke kakek-neneknya sejak kecil. Mereka tak ada, dengan alasan mencari nafkah. Entah apa pekerjaan mereka, mereka tak pernah pulang menjemput Ari ke rumah baru hasil nafkah yang selama ini mereka cari.
Selanjutnya, kelihatan mengapa saya membenci saluran TV ini. Sebuah kenyataan di masa lampau terangkat. Konon, katanya ibunya sering mengikat biawak di rumah semasa kehamilan Ari. Kalau bepergian selalu dibawa-bawa, bahkan ada yang dibiarkan mati di empang. Dan mulailah acara tersebut menghubung-hubungkan antara kenyataan di masa lampau itu dengan ‘karma’ yang mungkin menimpa Ari.
Ah, memang sudah takdir Allah, bisikku. Ari tak pernah kena karma, Ari lahir seperti kertas putih tak bernoda.
Di akhir acara, Ari menangis lagi. Ia berbisik lirih, “Ibu, Bapak…Ari rindu sama Ibu dan Bapak.”
Tiba-tiba aku sadar, ayah dan ibuku sedang tak ada di rumah.




Tungkop, 20 Oktober 2008, 16.30 WIB

Friday, October 10, 2008

CURHAT... ada masukan?

assalamu'alaikum MP'ers...uda lama ga ngempi nih.....

sibuk kuliah.....
sibuk latihan dengan Ceudah (tim nasyidku)...
sibuk bersih2 rumah....
sibuk mikir....
yah,
yang terakhir itu yang bikin saya makin menghindar dari dunia maya....


SIBUK MIKIR.



judul curhatan saya itu,
SIBUK MIKIR.




ya, saya berusia 18 tahun. perempuan. ga cacat lahir batin alhamdulillah.
uda mulai kuliah, kedokteran lagi (beberapa bilang gini, "wooooooowwwwww")
uda mulai kerja di usia 17, jadi tentor di SSC cabang Banda Aceh, guru di Lab School Unsyiah, freelance translator di beberapa NGO, dll,
sejarah keorganisasian saya cukup mendukung CV melamar kerja,
banyak yang bilang saya mirip Neno Warisman,
dan bersikap lebih dewasa untuk yang seusia saya,
saya selalu disuap untuk memahami diri saya seperti itu, hingga suatu hari seseorang berkata,


"ternyata untuk suatu hal, kamu masih sangat seperti anak-anak ya, Dek..."

apa itu 'suatu hal' yang sang pembicara katakan di atas?
mari saya eja katanya;
huruf pertamanya C
huruf keduanya I
huruf ketiganya N
hufur keempatnya T
huruf kelimanya A

kalau digabung jadi C-I-N-T-A, cinta, CiNtA, CINTA....

pernah saya berkenalan dengan seseorang lelaki di dunia maya yang kebetulan sedang bersekolah di luar negeri dan hubungan itu berkembang terus dan terus hingga bahkan di ebberapa waktu saya rasa cukup emosional. bagaimana bisa emosional? karena memang kebetulan saya waktu itu juga sedang bersekolah di Australia, menyelesaikan SMA saya atas nama beasiswa juga sehingga banyak suka duka merantau yang kami bagi bersama dalam komunikasi kami. plus kami sama-sama dari Aceh, jadilah kadang2 mengenang kampung halaman bersama untuk mengusir rindu rumah alias homesick.

setahun, ya setahun berjalan hingga aku mulai sadar bahwa ada virus-virus merah jambu yang muncul dalam hatiku, bahwa aku mengharapkan yang lebih darinya, bahwa aku seperti menemukan kepingan puzzle yang lama menghilang...

tidak, bukan setelah setahun kami kenal perasaan itu muncul, tetapi SELAMA setahun kami kenal. ya, virus-virus merah jambu itu TUMBUH bukan NUMPLEK dari pohon asam dekat rumahku.

lama-lama aku mulai tidak nyaman, awalnya sedikit tidak nyaman, lama-lama jadi lebih tidak nyaman dan akhirnya sangat amat tidak nyaman. komunikasi kami tetap lancar; sms, chatting, telepon, email dan ya, bahkan kartu pos. hal ini justru membuatku makin merasa membohongi sebuah janji di masa lalu.

bagaimana dari pihak sang lelaki? sampai saat ini saya tidak tahu apa yang dia rasakan kepada saya.

hingga akhirnya ia pulang kembali ke aceh untuk musim panas. tiba-tiba 'ketidaknyamanan' itu memuncak dan plek, aku tiba-tiba kalap. kujawab smsnya singkat2, kubiarkan saja telepon genggamku berdering jika namanya yang tertera di layarnya dan ah, banyak hal yang tiba-tiba terasa 180 derajat berbeda dengan apa yang pernah kurasakan kepadanya.

hingga aku mendengar kabar bahwa ia sudah memiliki belahan hati di suatu tempat yang lain. meski itu kabar burung, aku tidak mempersoalkan kebenaran berita itu,

aku hanya menangis sambil tertawa dan melamun,
menangis karena tiba-tiba harapanku kandas
tertawa karena aku begitu terseret arus virus merah jambuku tanpa logika,
melamun karena aku merasa telah terlalu GR selama ini dan karena aku hampir melanggar janjiku di masa silam itu.


hingga ada seorang lelaki lain yang aku kenal lewat dunia maya juga, datang menanyakan kesediaanku untuk ditunggunya suatu hari nanti, siapa tahu, aku bisa melengkapi separuh dinnya,

sebenarnya bisa saja kukatakan "ya", gampang, perasaan bisa ditumbuhkan.
tapi entah kenapa aku berbelit-belit menyampaikan jawaban, dibillang gantung bukan, dibilang jelas bukan, pokoknya untuk mengakhiri semua, aku mengatakan "Tidak"

ada lagi seorang lelaki rekan kerjaku yang sempat bertanya, "Nuril asalnya dari mana?"
aku menjawab, "Padang Tijie. Abang?"
"OOhhh...insya Allah Padang Tijie juga" sambil tersenyum ia menjawab seperti itu.
semua orang di situ sudah senyum-senyum sementara aku bingung sendirian.


sebenarnya, di tiga skenario di atas,
ada hal-hal yang berkaitan erat dengan sebuah janjiku di masa silam.
1. dengan yang di luar negeri, sebenarnya saya bisa saja menanyakan perasaannya kepada saya. syukur-syukur kalau dia tidak ikut-ikutan terjangkit virus merah jambu. kalau iya? ini dia masalahnya. saya tidak mau pacaran sementara saya tidak sanggup untuk menikah sekarang.

2. dengan yang menanyakan kesediaan saya, jujur saya agak kurang nyaman dengan pertanyaan berupa "boleh ditunggu?" karena kesannya tetap tidak berupa kepastian. plus saya tahu sebuah kisah tentangnya dan seorang teman dekat saya di masa lampau yang saat itu masih mengganggu saya. (buat yang merasa diomongin, sorry ya, ga maksud ngungkit2 masa lalu, cuma untuk bahan renungan aja sedikit)

3. dengan rekan kerja itu, saya sebenarnya pura-pura bingung. tidak berusaha nangkap kesan-kesan merah jambu apapun.


kesimpulannya sebenarnya adalah:
SAYA MEMANG MASIH SANGAT KECIL DALAM HAL CINTA. saya akui sikap saya menarik diri drastis dari peredaran dengan yang di skenario pertama itu kekanak-kanakan, dan jika itu membuat banyak praduga yang tidak mengenakkan, saya minta maaf sebesar-besarnya (saya yakin yang sedang saya bicarakan di sini akan tahu sedang dibicarakan tanpa saya harus sebut namanya)

tapi justru saat-saat itu saya belajar bahwa itu kekanak-kanakan dan itu karena memang saya masih kekanak-kanakan. saya sudah belajar untuk menutup pintu hati untuk virus-virus merah jambu itu kepada anda, jadi saya mohon maafkan saya atas silap yang pernah saya lakukan walaupun komunikasi kita sudah sangat jarang sekarang.

buat yang ada di skenario kedua, saya mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, anda telah membuka mata saya untuk memahami arti metamorfosis kehidupan; tak akan ada kupu-kupu tanpa ada ulat. larva dan kepompong terlebih dahulu. jika satu tahap dilewati maka metamorfosis tak akan sempurna. ya, saya memang harus belajar banyak sebelum bisa jadi kupu-kupu. tak boleh langsung terbang tanpa belajar merayap...

buat yang di skenario ketiga, no comment.

sekarang? alhamdulillah saya berhasil melewati fase-fase kelabu itu dan saya benar-benar merasa bebas untuk mengepakkan sayap saya lagi.


pasti ada yang bingung tentang janji di masa silam itu.
janji itu pernah saya ucapkan di sebuah rumah Allah di kawasan Gegerkalong, Bandung, tepatnya di komplek Daarut-tauhid. selesai dari salah satu tarawih ramadan itu, saya, yang sedang menahan merebaknya virus merah jambu kepada seorang teman sekelas yang mengenalkan saya kepada nasyid hingga akhirnya saya mencoba belajar lebih banyak tentang Islam dan memutuskan untuk hijrah, berjanji,

"Ya Allah, aku tak akan membiarkan lidah ini mengutarakan cinta kepada siapapun kecuali kepada Engkau, Rasulmu, guru-guruku, orang tuaku, saudari-saudariku, sahabat-sahabat perempuanku dan kepada orang-orang yanag sesuai di jalan-Mu....dan Rabb, tahan lidah ini jika hendak mengutarakan cinta yang merah jambu kepada seorang pria sebelum ijab qabul, sebelum aku boleh memegang tangannya. Rabb, aku ingin bersih dari itu semua, aku ingin menyimpan cintaku hanya kepada satu orang dan aku ingin suatu hari ketika aku menjumpainya aku bisa berkata, "kau tahu, banyak cinta yang kutepis dalam hidupku karena aku dari dulu menunggumu dan mencintaimu dan aku sudah setia dari dulu..."





n.b.:
maaf jika entry blog ini terkesan muluk (tapi inilah adanya)
maaf jika ada pihak-pihak tertentu yang ikut-ikutan terbawa
maaf jika kesannya saya menghiba,
maaf...karena saya benar-benar tak tahu harus menceritakan ini kepada siapa-siapa yang lain...




Darussalam, 9 Oktober 2008


Friday, August 29, 2008

Sebatang Bambu

baru balik dari kampus sebagai seorang mahasiswi baru yang baru menyerahkan barang2 yang akan dibawa ke AKMK (aksi kemanusian mahasiswa kedokteran) fakultas kedokteran universitas syiah kuala 2008,

trus katanya ntar jam 2 harus balik lagi buat tausiyah ramadhan plus konvoy ke Simpang Lima 'n Stui (hayyooooo...yang tau Banda Aceh tau donk daerah2 iniiiii) untuk Aksi Simpatik untuk Ramadhan gitu deh... yah sambil nunggu, ke warnet, ngecek sana-sini,

mau ngepost tulisan di MP tapi kok ga ada inspirasi ya?!!!

terus cek email deh, dan ada seorang rekan tentor di bimbel yang memang senang ngirim (atau lebih tepatnya forward) tulisan2 penuh hikmah dan kali ini ada satu lagi artikel yang nyentuh banget, cucok dengan kondisiku yang diamuk badai emosi dan ujian-ujian lainnya (yahhh...semua yang hidup pasti ada masalah juga!)

jadi ya..dishare gitu deh ke MP'ers, mau? (pake gaya iklan 3 )

Sebatang Bambu

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."

Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….., kemudian dia berkata kpd petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna ketimbang batang bambu yg lain. Inilah aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yg sarat, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa.

Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Inilah aku, Tuhan…perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki."

p.s. : Ya Allah, aku siap untuk mengejar mimpiku lagi!

Sebatang Bambu

baru balik dari kampus sebagai seorang mahasiswi baru yang baru menyerahkan barang2 yang akan dibawa ke AKMK (aksi kemanusian mahasiswa kedokteran) fakultas kedokteran universitas syiah kuala 2008,

trus katanya ntar jam 2 harus balik lagi buat tausiyah ramadhan plus konvoy ke Simpang Lima 'n Stui (hayyooooo...yang tau Banda Aceh tau donk daerah2 iniiiii) untuk Aksi Simpatik untuk Ramadhan gitu deh... yah sambil nunggu, ke warnet, ngecek sana-sini,

mau ngepost tulisan di MP tapi kok ga ada inspirasi ya?!!!

terus cek email deh, dan ada seorang rekan tentor di bimbel yang memang senang ngirim (atau lebih tepatnya forward) tulisan2 penuh hikmah dan kali ini ada satu lagi artikel yang nyentuh banget, cucok dengan kondisiku yang diamuk badai emosi dan ujian-ujian lainnya (yahhh...semua yang hidup pasti ada masalah juga!)

jadi ya..dishare gitu deh ke MP'ers, mau? (pake gaya iklan 3 )

Sebatang Bambu

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."

Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….., kemudian dia berkata kpd petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna ketimbang batang bambu yg lain. Inilah aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yg sarat, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa.

Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Inilah aku, Tuhan…perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki."

p.s. : Ya Allah, aku siap untuk mengejar mimpiku lagi!

Tuesday, August 19, 2008

Puisi untuk Pelangi

Puisi untuk Pelangi

Gemuruh di belakang rusukku mengawal kagum
Kau malah tersenyum
Menelungkup indah kau mengerjapkan warna
Aku makin terpana
Bayu menggelepar, lazuardi meratap
Demi indahmu yang bahkan tak tetap

Oh aku insan fana tak patut mencintai
Cintai senyummu yang jauh di kaki mimpi
Meski kumembubung dan menawarkan cintaku
Kepingan emas di selingkaranmu hanya akan menertawakanku

Aku sadar engkau maya
Tapi apa cinta kenal rupa?
Aku paham aku papa
Tapi apa cinta kenal harta?
Aku tahu kau terlalu indah
Tapi apa cinta tak lebih megah?

Biar kau menari dan aku tetap sendiri
Biar kau terlukis dan aku tetap meringis
Satu yang kau harus mengerti
Cinta dan kekagumanku padamu tak kan berhenti

Pepasir di kakiku berbisik, gebyar samudera di depanku berisik
Melatari orkestra pesonaku padamu, wahai Sang Cantik




Tungkop, 14 Agustus 2008, ba'da subuh,
pelengkap kisah sekeping hati di dunia seberang

Friday, August 1, 2008

Rencana A

Lueng Bata, 31 Juli 2008, siang.

“Hallo, assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam (warahmatullah)”

“Apa kabar?”

“Baik, alhamdulillah.”

“Kapan pengumuman?”

“Tanggal 2.”

“Gimana perasaannya?”

“Biasa aja.”

Tunggu, barusan aku bilang ‘biasa aja’?! Oh well, aku terlalu lelah untuk berpikir lurus belakangan ini. Jelas-jelas kata-kata itu bertolak belakang dengan isi hatiku. Ah, bukan hal yang terlalu penting untuk diralat, pikirku. Biar saja, sang penelepon mengira-ngira sendiri. Aku lelah. Badanku lelah, pikiranku lelah, hatiku lelah.

Lampriek, 31 Juli 2008, sore.

“Udah lulus di mana, dek?”

“Aduh kakak, bikin tambah deg-degan aja. Belum pengumuman kak.”

Di window yahoo messenger ini lidahku tak mendustai isi hatiku. Meski demikian aku masih lelah, terlalu lelah malah.


Darussalam (di atas boncengan sebuah sepeda motor) 31 Juli 2008, magrib.

“Dek, nomor SNMPTN adek berapa?”

“1081101005. Kenapa, Kak Sisca?”

“Katanya pengumumannya udah keluar. Ni mau dicariin sama Kak Nanda. Nanti kakak hubungi lagi, ya.”

Kukira pengumumannya tanggal 2. Ah, satu lagi informasi salah bagi sang penelepon tadi siang.

Sebuah SMS masuk. Nama yang tertera di layar Nokia 3110C itu berbunyi ‘SSC_K Nanda’

“Nuril slamat yach dirimoe lulus dFK USK…kpn syukuran’a?, he..he..”

Aku menangis. Terus menangis di sajadah shalat magribku.

Tungkop, 31 Juli 2008, menjelang isya.

“Alhamdulillah didi udah lulus di ilmu komputer univ. Diponegoro Semarang.”

“Alhamdulillah, jd deh qt satu leting, Allah memperkenankan doa2 qt… Dilla n Dita biidznillah, lwt d FK USK. Nuz di Mipa Bio USK.”

Dan berjubelan lagi sms lain datang ke dalam layar Nokia 3110C ini. Siswa-siswiku lulus. Aku turut bahagia setulus-tulusnya. Aku menangis lagi.

“Rin, no spmb qe berapa?” kubalas dengan nomor SNMPTN-ku.

1 menit kemudian,

“Rin slamat ya… alhamdulillah q “LEWAT d FK unsyiah”… jgn lupa bersyukur tu, aq turut brbhgia.”

Aku terharu, bukan karena kelulusan itu. Tapi karena ia bukan orang terakhir yang menanyakan nomor itu dan mencari tahu arah jalan hidupku lewat dunia maya. Tiba-tiba lelahku hilang, banyak yang mencintaiku. Aku baru tahu itu.

“Kakak, selamat ya. Kakak lulus di FK, kan?”

“Adek?”

“Nggak lulus, kak.”

“Kak, harus coba taon depan. Mungkin masih ada harapan dengan STIS dan STAN.”

“Kakak yakin Allah adil dengan usaha yang kita kasi. Adek uda berusaha maximal, pasti akan dibalas setimpal insya Allah. Bukan dengan yang sangat baik, tapi pasti dengan yang terbaik.”

Lulus tidak lulusnya dirimu tak menentukan dewasa tidaknya dirimu, bisikku.


Tungkop, 31 Juli 2008, ba’da isya.

“Assalamu’alaikum. Lewat motivasi dan doa2 antum semua, Allah memberikan kelulusan di Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Unsyiah kepada Nuril. Terima kasih! n_n”

Tungkop, 1 Agustus 2008, jam 1 malam.

Doraemon di Nokia itu terus berteriak ada SMS. Ada beberapa yang menelepon, tak semua kuangkat.

“Ingat waktu dulu kita serung cemas dan gelisah setiap kali liat nilai TO kita yang down ya kak. Alhamdulillah, sekarang kita satu universitas. Jangan sok2 ya kak.”

Iya, aku ingat masa-masa itu. Ah, waktu cepat sekali berlalu.

Tungkop, 1 Agustus 2008, jam 8 pagi.

“So?”

“So..?”

“Udah ada keputusan?”

“Ya.”

Beurawee, 1 Agustus 2008, membuka halaman depan rencana A

Monday, July 28, 2008

sebuah puisi - dadakan

lembah ini memang sunyi

hanya ada kicau seruni dan nyiur bernyanyi

tapi kau di sini selalu temani

menghapus setiap bulir duka dan mencinta dengan setulus jiwa

tak tahu hendak membalas apa

emas aku tak punya

permata aku tak berada

cuma doa yang bertabur mesra

untuk seorang hamba di sana

cinta ini untukmu mengalir deras

kasih ini untukmu menyinari cerah

sayang ini untukmu membasahi dengan damai

untuk seorang hamba di sana

tak hatimu tak hatiku kan kujaga

tak sukamu tak sukaku kan kubina

tak rindumu tak rinduku kan kusimpan

untuk seorang hamba di sana

tak mungkin kupungkiri takut kehilangan

tak mungkin kuingkari takut berjauhan jiwa

tak mungkin kuelaki takut kau kecewa akan cinta kita

untuk seorang hamba di sana

sujud-sujudmu biar mengembara

sujud-sujudku akan coba mencari arah

sujud-sujud kita moga mengundang cinta-Nya

untuk seorang hamba di sana

suaramu mengunci amarah

limpahan pandangmu membuka kelapangan

seluruh harapmu kan kutata

untuk seorang hamba di sana

terima kasih telah mencintaiku apa adanya

terima kasih telah mengencangkan sayapku sebisanya

terima kasih telah memberi warna di pelangi tanpa rasa

untuk seorang hamba di sana

aku meminta kau memohon

semoga dua-dua lorong berdebu kita

dibersihkan Dia dengan air dari Syurga

Lampriek, Banda Aceh, 28 Juli 2008

*wahai hamba Allah di sana, aku mencintaimu setulus-tulusnya*

Friday, July 11, 2008

tak pernah bumi ini mengadu...

walau terinjak tapak, namun tetap tumbuh!


itulah penggalan dari sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Fully feat Vagabond, yang katanya salah satu OST Ayat-ayat Cinta (kurang tau bener atau nggak).

penggalan itu mengusikku.
aku tiba-tiba diam. aku berpikir.
iya, bumi ini tidak pernah mengadu walau bermilyar orang menginjaknya dengan berbagai kesombongan (ya,bahkan kesombongan pun bermacam jenisnya, tidak hanya parpol-parpol yang ada di dunia ini). ia diam, ia menanti perintah Sang Perkasa untuk suatu hari nanti mengguncangkan diri, membuat para penginjaknya ketakutan dan hilang harapan. bumi tak pernah mengadu, sementara aku? ah, bahkan punya keluarga utuh, uang saku lebih dari cukup dan pengalaman-pengalaman akademis yang belum tentu dimiliki remaja-remaja lainnya masih belum bisa membuatku berhenti mengeluhkan banyak hal.


gempita puja-puji semesta selaraskan pengakuan pada Yang Esa..


satu lagi penggalan liriknya menohokku. pohon di belakang rumahku sedang bertasbih menyebut-Nya, komputer yang sedang kuoperasikan mengirim sinyal-sinyal syukur pada-Nya, debu-debu yang memenuhi kota Banda Aceh mendesirkan nama-Nya saat menghiasi pinggiran-pinggiran jalan. dan aku? ah, bahkan al-ma'tsurat tadi pagi kulewatkan.



belai angin pada dedaunan ingatkan kembang untuk tetap merekah.


ya, angin-angin pengingat memang bertiup mesra di dedaunan kehidupan sekitarku agar aku bisa tetap ingat pada-Nya dan terus menuju Dia.


melukis wajah-Mu di langit-langit hatiku
aku kehabisan beberapa pewarna
aku kehabisan pewarna hijau yang bisa menenggelamkan alamku ke dalam danau-Mu
aku kehabisan pewarna putih yang bisa mengurung angkuhku saat bercinta dengan-Mu
aku kehabisan pewarna biru yang bisa menjadi latar pelangi-pelangi rasaku pada-Mu

memetaforakan-Mu dalam buku harianku
aku kehabisan kata-kata
aku kehabisan kata sayang untuk menceritakan merah jambunya Kau padaku
aku kehabisan kata rindu untuk mengabarkan berdentumnya jantung saat Kau memanggilku
aku kehabisan kata sifat untuk menulis indahnya Kau kepadaku.

Tuhan, aku menyeret langkahku
mereka bilang aku butuh bertemu dengan-Mu
tapi apa dayaku
aku masih mencari alamat-Mu





Banda Aceh, 11 Juli 2008

Wednesday, July 9, 2008

Rencana-rencana Hidupku

assalamu'alaikum MP'ers, apa kabar??
selama ini saya jarang nulis, merasa bersalah sih, tetapi saya benar-benar tidak ada waktu untuk berpikir dalam-dalam sebab sibuk dengan pekerjaan saya sebagai tentor English di salah satu bimbingan belajar di Banda Aceh. di sana, saya sibuk dengan program intensif SNMPTN 2008 di mana saya juga terlibat sebagai siswa di dalamnya! ya, selain menjadi tentor, karena saya sendiri baru menamatkan SMA maka saya pun harus pintar-pintar membagi waktu antara menyiapkan bahan mengajar dan bahan yang harus dipelajari sebagai siswa...huff, a b c d (aduh bok, cape deh hehe)


akhirnya tanggal 2 dan 3 juli pun lewat, SNMPTN sudah saya jalani dan saya berdoa tulus semoga siswa-siswa saya dan saya sendiri mendapatkan yang terbaik. nah, sekarang saya mau sok berani ah, mau nulis rencana-rencana hidup saya ke depan. udah sih disusun, tapi ini umum-umum saja. saya menanti masukannya ya! saya posting tulisan ini bukan karena mau sia-sia lho! (idiiih maksa banget deh)



ehm, ehm, mari mulai.



rencana A
saya lulus di pilihan pertama SNMPTN (saya ngambil program IPA) yaitu di Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. nah, di situ saya akan belajar sungguh-sungguh, buat tugas-tugas dengan bener (ga nyontek2 n ngejar2 deadline ga nentu deh, janji!) terus bisa ngambil spesialis di obstetriciatry (bener gini tulisannya? hihi) alias kandungan...denger2 dokter kandungan itu masih lebih banyak yang cowok ya? padahal kan para ibu-ibu yang hamil kayanya kan lebih nyaman dengan sesama wanita kali ya.... trus...mm..apa ya, oh ya, menggarap sebuah novel yang ada kaitannya dengan Schitzophrenia, pake data2 medis dan psikologis, maunya sih garapannya boleh cepat bileh lama siapnya, yang penting jadi, soalnya selama ini nulis ga pernah selesai-selesai...AYO SEMANGAT!

trus, S2 di Oxford University atau di mana aja, asal masih di Inggris universitynya...



rencana B
saya lulus di pilihan kedua, yaitu FKIP Biologi. nah, kalau ini kasusnya, saya mau nanti saya tidak sekedar jadi PNS yang sekedar mengisi jam-jam pelajaran dengan khutbah-khutbah membosankan. saya mau skill saya dalam hal bahasa Inggris tidak terbuang sia-sia. saya mau mengajar Biologi dalam bahasa Inggris. jujur ya, saya ngidam ngajar di salah satu sekolah yang berada di bawah yayasan PASIAT, misalnya Fatih Bilingual School yang ada di Banda Aceh. mmm...trus, saya punya obsesi menemukan siswa unik-unik atau YANG MEREFLEKSIKAN SAYA waktu saya muda dulu (zeuh...memangnya udah tua banget apa?!) buat saya pinjam dalam novel saya yang akan saya garap hati-hati. nah, kali ini tema novelnya ntar lebih ke psikologis-pendidikan.. sedikit berbeda dengan yang di rencana A.

trus S2 nya tetap di Inggris, mau fokus ke sisi biologisnya daripada pendidikannya, ntar pendidikannya kita godok pake bacaan-bacaan pribadi dan seminar-seminar lain.




rencana C
saya tidak lulus SNMPTN
kalau gini saya mau ikut program extensi FKIP Matematika aja ah (tuiiing??? matematika?) iya, matematika. Terus nambah kerja di bimbingan belajar tempat saya bekerja, jadi tentor matematika sekalian yang memang sangat susah mencarinya....trus apa lagi ya, oh ya, dengan gaji sedikit berlebih mau beli kamera yang BENER2 bisa diajak berkreasi dan bermimpi...habisnya, kamera Canon A400 saya baru aja rusak, hiks, saya sedih sekali, inikah rasanya kehilangan sesuatu yang kita cintai apa adanya? baru deh, saya ngerti gimana rasanya patah hati mereka-mereka yang sudah dewasa itu
saya juga mau tetap bekerja sebagai freelance translator, so, english saya ga hilang gitu aja. 3 tahun di negeri orang kalau sampai hilang english saya, waduh,...jangan deh....

trus saya S2, masih ngebet pengen ke Inggris, masih sama dengan yang di rencana-rencana sebelumnya.









dalam semua rencana di atas, saya punya keinginan-kenginan tertentu lain misalnya jadi penyiar radio yang stasiun radionya berlandaskan misi-misi pengembangan pendidikan atau yang dekat2 situlah. trus saya juga mau kembali ke Melbourne suatu hari nanti, ingin menyelami alam dalam kediaman lagi, merenungi esensi diri di tengah-tengah taman kota, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di Banda Aceh. sekaligus saya mau bertemu lagi dengan semua orang yang telah menyukseskan proses refleksi diri saya selama di Melbourne dulu, saya belajar banyak hal di sana, salah satunya adalah menyontek itu menunjukkan jati diri kita yang takut menerima konsekuensi

di atas semua keinginan itu, saya ingin sekali membuktikan kepada orang tua saya bahwa saya bisa menjadi lebih dewasa, bahwa saya sudah bisa diberi kepercayaan, bahwa saya bisa membanggakan mereka, bahwa saya tidak hanya bisa membuat mereka khawatir karena sering tergesa-gesa dalam membuat keputusan.

dan yang terakhir, jika memang umur saya sepanjang itu dan Allah mengijinkan,
saya ingin menamai salah satu anak perempuan saya dengan nama Rayyan Lisabrina

Saturday, June 21, 2008

Pelangi-pelangi

pelangi-pelangi melebur menjadi gincu-gincu murahan
mengecat langit tanpa pola
rerintik tertawa
beburung terkikik

pelangi-pelangi melebur menjadi gincu-gincu murahan
mengecat langit tanpa pola
manusia berserak
bayinya terbengkalai

pelangi-pelangi melebur menjadi gincu-gincu murahan
mengecat langit tanpa pola
penyair bersorak
puisi-puisi bertahta

pelangi-pelangi melebur menjadi gincu-gincu murahan
mengecat langit tanpa pola
makhluk ilmu berkerut-kerut
pemikiran-pemikiran berjalan

pelangi-pelangi melebur menjadi gincu-gincu murahan
mengecat langit tanpa pola
ada yang tak berubah
baik raut maupun sikapnya

pelangi-pelangi melebur menjadi gincu-gincu murahan
mengecat langit tanpa pola
aku membaca cuaca
tak hendak memberi ekspresi apa-apa



Banda Aceh, 21 Juni 2008

Thursday, May 15, 2008

Suci Sekeping Hati

Suci Sekeping Hati
Album : Kembara Cinta
Munsyid : Saujana
http://liriknasyid.com


Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang

Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa

Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pastikan hinggap

Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba

Tuesday, May 6, 2008

mohon doanya!

assalamu'alaikum MP'ers!
berhubung dunia terus berputar dan saya (dan juga anda) bertambah tua,
maka tuntutan kehidupan terus bertambah.

maka saya yang sudah menamatkan SMA sekitar 6 bulan yang lalu yang kebetulan saya selesaikan di Australia atas nama beasiswa (alhamdulillah) akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingkat tinggi di Banda Aceh, Indonesia; daerah di mana saya menghabiskan waktu "9 tahun wajib belajar" saya dulu.

atas dasar itu, saya pun akan insya Allah mengikuti bimbingan belajar intensive SPMB (yang sekarang sudah berganti nama menjadi SNM-PTN) di sebuah layanan bimbingan belajar di Banda Aceh di mana saya juga merupakan seorang tentor di dalamnya. Yap, dua peran harus saya coba lakoni dalam kurang lebih dua bulan ke depan; mengajar dan belajar.

oleh karena itu saya mohon doanya agar Allah memberikan yang terbaik untuk saya. jika memang lulus tes dan menjadi seorang mahasiswi adalah yang terbaik atau sebaliknya maka saya akan ikhlas menerimanya. tentu saja, doa tidak lengkap tanpa ikhtiar. oleh karena itu pula, doakan saya bisa tetap keep up dengan rutinitas "berwajah dua" (karena mengajar 'n belajar ganti-gantian hehe...) ini.

doakan pula saudara-saudari kita yang lain yang juga sedang berjuang di "jalan" yang sama, amin...




Banda Aceh, 6 Mei 2008


nb : Ya Allah, bantu aku untuk menentukan pilihan yang terbaik dalam hal SNM-PTN ini dan yang "itu" (pssst...yang ini rahasia ) dan tetap fokus di jalan-Mu apapun yang terjadi.

Friday, May 2, 2008

surat cinta seorang mahasiswa matematika (hahahaha)

Saat aku bersua dengan eksponen jiwamu,
sinus kosinus hatiku bergetar
Membelah rasa

Diagonal-diagonal ruang hatimu
bersentuhan dengan diagonal-diagonal bidang hatiku

Jika aku adalah akar-akar persamaan
x1 dan x2
maka engkaulah persamaan dengan akar-akar
2(x1) dan 2(x2)

Aku ini manusia biasa
Dari himpunan yang kosong
Kaulah integral belahan jiwaku
Kaulah kodomain dari fungsi hatiku

Kemana harus kucari modulus vektor hatimu?
Dengan besaran apakah harus kunyatakan cintaku?

kulihat variabel dimatamu
Matamu bagaikan 2 elipsoid
hidungmu bagaikan asimptot-asimptot hiperbola
kulihat grafik cosinus dimulutmu

modus ponen…. podue tollens….
entah dengan modus apa kusingkap
logika hatimu…..
Beribu-ribu matriks ordo 2×2 kutempuh
Bagaimana kuungkap adjoinku padamu

kujalani tiap barisan geometri yang tak hingga jumlahnya
tiap barisan aritmatika yang tak terhitung…

Akhirnya kutemui determinan matriks hatimu
Tepat saat jarum panjang dan pendek
berimpit pada pukul 10.54 6/11

n.b : yang buat ini rekan kerja saya sendiri. kalau ada order seputar hal terkait bisa lobi saja, hehe...

cinta; secara psikologis (hahahaha)

aku ingin tidur tapi gelisah terus,
kata orang sih, gejala-gejala virus merah jambu!


ah, seandainya saja Freud ada di sini,
aku ingin bertanya padanya,
"Pak Freud, tiap malam aku bermimpi tentangnya.
ke mana kupergi kulihat wajahnya."

entah kenapa bisa kubayangkan Pak Freud berkata,
"Alam unconscious-mu mulai berkata lebih dari pre dan consciousmu.
maka itu mimpimu menjadi mediator penyampai pesan sang unconscous malang yang tak mungkin berbicara langsung padamu."

"Lagipula kau wanita. pasti kau tidak menyelesaikan Elektra konflikmu. Kau cemburu pada ibumu karena menarik perhatian ayahmu ketika kau lima tahun dulu."

sekonyong-konyong Sperry datang menerobos,
"Freud, kau gila! mana itu unconscious-mu? aku tidak bisa membuat hipotesis dan kemungkinan-kemungkinan apapun darinya! tak bisa kuobservasi 'pikiran maya' itu!"

"anak ini hanya mengalami peningkatan jumlah serotonin dalam aliran darahnya sehingga pipinya memerah. progesterone-nya sedikit melunjak sehingga ia menangkap feromone dari makhluk satunya lagi yang berkapasitas lebih tinggi dalam hal testosterone. oleh karena itu adrenalinnya ikut-ikutan melonjak sehingga jantungnya berdegup lebih kencang, tangannya gemetaran, pikirannya tidak konsentrasi dan gelisah sepanjang hari. wajar kan kalau 'flight or fight' responsenya bekerja!"

"Sini biar ku-lobotomy corpus collosumnya biar otak kanannya tidak menyampaikan impi-impiannya ke otak kirinya terus-terusan!"

tiba-tiba Watson datang entah dari mana,
"salah! wajar saja ia begitu! bukankah ia telah mengalami operant conditioning belaka? ia mengasosiasikan ketampanan wajah dan kebaikan diri pria itu dengan kebahagiaan alias reward. so, wajar dong kalau ia mau lagi, lagi dan lagi bertemu dengannya!"

"yup, tepat sekali! seperti hukumku dengan percobaan kucingku!" seru Thorndike entah dari mana.

"ah itu aja kok susah! eh, kamu sering mengingat-ingatnya bukan?" ada yang datang lagi.

aku mengangguk.

"ya iyalah, masa ya iya dong. itu berarti dari sensory memorymu kau sudah meng-encode-kan ke long term memory-mu yang memang berkapasitas limitless! terus kamu terus-terusan retrieval sih, jadi kamu ingat-ingat terus di short term memory dan akhirnya karena nyesak, jadi kebawa ke sensory memory lagi deh!" oh rupanya ada si Miller nimbrung.

aku makin bingung.

lalu datanglah Maslow,
"Kita ini manusia. bukan sekantong karung dengan metabolisme empiris bagaikan robot." ia menatap tajam Sperry.
"atau makhluk perempuan yang pikirannya tak jelas berada di mana dan cemburu karena tidak punya (maaf) penis seperti katamu." Freud tertunduk.
"atau kaset kosong perekam yang memutar segalanya selalu." telunjuk Maslow menuding Miller.
"apalagi seperti binatang yang bisa dilatih menekan tombol untuk diberi makan saja seperti kucingmu!" Thorndike tersinggung, Watson sembunyi.

"anak ini hanya manusia yang bebas berpikir, bertindak, dan punya free will. ia punya segala kebebasan untuk memutuskan, termasuk memutuskan untuk jatuh cinta! dari piramida kebutuhanku bisa diukur jelas bahwa makan-minumnya beres, keamanannya terjamin, Aceh kan uda perjanjian 2 atau 3 tahun yang lalu. terus pendidikannya juga standar-lah. jadi wajar ajeee kallleee kalau dia mau ke tahap selanjutnya yaitu cinta dan rasa saling memiliki dalam sebuah kumpulan. baru setelah itu dia bisa mengaktualisasi dirinya."


lelah membayangkan perdebatan itu, aku tidur saja. di mimpiku aku melihat Jeung berkata, "kau sama dengan penduduk dunia lain, punya alam bawah sadar yang seragam! cinta salah satunya!"

Thursday, April 24, 2008

DICARI : cerpen!

uda lama ya saya ga ngempi....sibuk sih (sok sibuk kalee hehe)
btw ni ya, tiba2 kok saya teringat sepenggal cerita;
ceritanya katanya cerpen gitu dari Annida, yang nyeritain juga kawan saya. kira2 ceritanya gini:
ada seorang pria melamar wanita dan ada percakapan yang - bagi saya - sangat dalam maknanya...

kira2 ya, gini percakapannya
sang pria : "saya berniat menjadikanmu istri saya." (ini juga di rumah sang wanita, ada ortu dan abangnya)

sang wanita : "tapi saya tidak cantik."
sang pria : "saya sedang cari istri, bukan model."

sang wanita : "tapi saya tidak pintar."
sang pria : "saya sedang cari istri, bukan sekretaris."

sang wanita : "saya juga tidak bisa masak."
sang pria : "saya sedang cari istri, bukan koki."

sang wanita : "tapi, saya benar-benar tidak bisa apa-apa."
sang pria : "saya juga tidak mengharapkan apa-apa, saya hanya ingin kamu menjadi pendamping hidup saya."



ada yang tahu judul dan penulis cerpenyang kira2 seperti di atas????
BLS GPL ( waduh ni kebiasaan nge-SMS kebawa2 hehehe...)

Saturday, April 5, 2008

Cerita Hati

kau tahu ada jeruji-jeruji di setiap sisi diri ini
bukan mengekang hanya meniup kecemburuan ke buhul-buhul rindu
hingga aku terus-menerus memeluk perasaan
dalam ke-punguk-an di desa milik rembulan

temanku yang satu itu mengajak duduk
lalu aku hanya menendang kerikil ke ujung angkasa
di sana kerikil itu memecah dan membuncah
jatuh lagi ke bumiku dengan serpihan-serpihan yang lebih tajam

temanku yang satunya lagi mengajak berlari
lalu aku hanya memintal pelangi di lembah mimpi
merogok setiap saku demi coba temui koin pembayar benang warna untuk pelangi
lalu tanganku terkurung dalam saku tanpa koin

temanku yang ini lebih aneh lagi
mengajak mencuci
tetapi mencuci di pelimbahan noda-noda duniawi
mereguk ketinggian kasih-sayang dalam picingan menjauh mata Kekasih

wahai
biar aku duduk berdiri dan mencuci
tanpa ada yang mengajak susah-payah
atau meniup sejuta mantra

wahai
tak kah kau perhatikan cermin hatiku berkaca-kaca
otot-otot beraniku meluruh rapuh
tegap tiang diriku meleleh tanpa gaduh

remuk lebur atas hilangnya kunci hati
yang dulu kudekap erat-erat
yang dulu kusembunyikan baik-baik
yang dulu kusemir setiap pagi

Kekasih, lempar aku dalam tangan-Mu lagi
tak bosan ku memohon dan tak bosan Kau menonton
aku hanya berada di jembatan gantung yang hampir putus
di mana tak bisa banyak duduk berdiri atau mencuci






Darussalam, 5 April 2008 3:46 PM

Monday, March 3, 2008

rindu? kerupuk? ya gitu.

kriyuk-kriyuk, ringan. tetapi ternyata tidak bernutrisi
anyway, begitulah suasana hatiku sekarang.
sempat kutelusuri lagi kontak teman-teman lamaku sejak SD dulu (kalau yang se-SD biasanya se-TK) sampai yang baru aja kenalan kemarin.
ada rindu yang tiba-tiba hadir.
1)rindu keriyuhan di SD dulu, ketika aku hanya merupakan penonton setia keriyuhan itu, tak berani mengambil bagian.

2)rindu kediaman yang lebih dominan dari kecerewetanku dulu.

3)rindu pandang diamku akan jari tanganku yang senantiasa bergerak dan kebingungan akan tangan boneka yang tidak bergerak.

4)rindu akan pertanyaan-pertanyaan konyolku kepada Ayah yang hanya dijawab dengan "belajarlah, nanti dapat juga jawabannya."

5)rindu Elvina, seorang teman dekat yang harus berpisah karena pindah ke Kalimantan Selatan saat kelas 2 SD

6)rindu Bu Elfrida Saragih yang kabarnya eksodus saat aku kelas 5 SD dulu. seorang guru yang sebenar-benarnya. agamanya yang berbeda dengan kami malah membuatku semakin sadar bahwa Tuhan itu ada.

7)rindu tahun pertama MTsN; saat aku berkenalan dengan orang-orang yang ternyata mewarnai kehidupanku dengan berbagai warna hingga sekarang.

8)rindu Zahrani Balqis. seorang teman yang harus berpisah karena pindah ke Daerah Istimewa Yogyakarta saat aku kelas 1 MTsN.

9)rindu tahun kedua MTsN; saat aku mulai lebih tahu bahwa Tuhan itu ada. saat identitasku ditodong oleh dua hal yang saling memerebutkan diriku; kecengengan dan ketegaran. saat aku tahu bahwa ada yang namanya cinta dalam dunia ini. rindu sekali aku dengan tahajud-tahajudku yang belum tercemari dunia. aku yang masih dengan lugunya memohon untuk mendapat hidayah.

10)rindu tahun ketiga MTsN; saat aku sadar Tuhan itu menatap selalu. saat aku menangis karena tak ingin berpisah dengan banyak orang. saat aku paham bahwa mencintai itu tak butuh memiliki. saat aku sering berlarian dalam ketelatan setiap pagi, saat aku mengejar nilai dan bukan ilmu. saat aku sadar bahwa kita bisa bertanya pada Tuhan. saat aku sadar bahwa ada banyak hal di luar sana. saat aku tahu bahwa aku harus bisa memilih. saat aku bahagia hanya karena memandang dedaunan yang berguguran dan rumput yang hijau sendirian.

11)rindu Sinta Rahmi, seorang sahabat yang harus berpisah karena pindah ke alam sana di sisi Tuhan (amin) saat kelas 1 SMA, akhir Desember 2004, paham maksudku?

12)rindu tahun pertama SMA; saat aku sadar bahwa tak semua orang menyukai kita. saat aku sadar bahwa bayanganku tentang Tuhan diuji-Nya, saat aku memutuskan dengan kekuatan misterius untuk berkerudung terus-menerus. saat aku bahagia hanya dengan memandang langit saat pulang sekolah dengan sepedaku yang menemaniku sejak kelas 2 MTsN itu.

13)rindu mereka yang pernah mengisi hidupku dengan tangisan. mereka yang menitipkan masalah mereka ke atas pundakku. aku belajar untuk menangis dalam kesendirian.

14)rindu mimpi bertemu Sinta.

15)rindu pelukan Sinta setelah aku tidak hadir ke sekolah selama dua hari.

16)rindu suara Sinta saat menyanyikan lagu "Keluarga Bahagia" dari Saujana.

17)rindu nasihat Sinta tentang mencari kebahagiaan dari segelas 'Pop Ice', gula-gula kapas, nasyid.

18)aku rindu Sinta...

19)rindu weekend di Melbourne saat aku menapaki jalan-jalan komplek perumahan di bawah muntahan sinar mentari.

20)rindu musim gugur di Melbourne, aku suka dedaunan yang jatuh.

21)rindu merapatkan jaket hingga ke leher saat musim dingin di Melbourne lalu berjalan cepat menelusuri Swanston st hingga tiba ke State Library.

22)aku rindu untuk dirindu banyak orang sewaktu di Melbourne.

23)ah, basi.

Sunday, February 17, 2008

The Glory of Love Vs Jablay

I am the man who will fight for your honor

I’ll be the hero you’ve been dreaming of

We’ll live forever

Knowing together that we did it all for the glory of love…

-The Glory of Love, lupa siapa yang nyanyi

Sebuah tembang lawas menyapu telingaku. Aku tertawa kecil. Lagu ini memang romantis – terlalu romantis malah – tetapi aku tetap saja merasa geli setiap mendengar lagu ini.

Dulu, ketika aku masih muda dulu (not that I’m too old now ;D), aku sempat mendapatkan beasiswa untuk menyelesaikan high school di Melbourne. Aku tidak sendiri, ada seorang gadis lagi yang juga mendapatkan kesempatan yang sama. Kami bahkan sekamar selama dua setengah tahun; selama program itu berlangsung. Oleh karena itu pula, aku –dan dia- sudah saling tahu beberapa kebiasaan kami masing-masing, termasuk dalam hal selera musik.

Mendengarkan radio atau MP3 sambil membaca bahan pelajaran untuk keesokan harinya setelah makan malam memang lumayan menenangkan. Kebetulan, aku dan gadis itu dua-duanya suka melakukan hal tersebut. Tak hanya kami, anak guardian kami juga ternyata memiliki kebiasaan yang sama.

Nah, yang bikin unik adalah bahwa setiap orang dari kami mendengarkan stasiun radio dan menyenangi jenis musik yang berbeda pula! Saya sekali-kali tune in dengan Fox (109.5 FM) – saya biasanya lebih sering mendengarkan kaset-kaset nasyid yang saya borong dari kampung – ,anak guardian saya dengan Nova (lupa frekuensinya) sedangkan sang gadis dengan Mix (101.1 FM). Jika anda familiar dengan stasiun-stasiun radio di Melbourne, anda pasti sudah tahu jenis musik apa yang akan anda dengar dari setiap stasiun radio di atas.

Fox (109.5 FM) bisa disimilarkan dengan stasiun Flamboyan FM di Banda Aceh; lagu-lagunya yang lagi in semua. Di samping itu, penyiar-penyiarnya juga gokil semua, acaranya aneh-aneh, dialog-dialognya segar-segar dan gaul abis. Singkatnya, dari sinilah saya tahu tentang lagu-lagu Shannon Noll, runner up-nya Guy Sebastian, yang penuh inspirasi atau Pussy Cat Dolls yang ah, ga penting banget deh buat dibahas! Intinya, untuk bahan pembuat ketawa, OK-lah Fox ini.

Nova, gaul juga sih. Cuma kalau dirangkingkan, Nova ini satu tingkat di bawah ‘kegaulan’ Fox. Lagu-lagunya banyak yang lagi in, tetapi tetap ada lagu-lagu jenis lain yang baru tetapi tidak begitu terkenal, apalagi yang beraliran indie rock gitu deh! Yang khas dari mereka ya sang penyiar kondang yang juga pembawa acara terkenal di salah satu channel TV di Melbourne itu; Hughes. Katanya sih, dia itu lucu. Katanya; karena kalau menurut saya bahan candaannya ‘garing’, sekali gigit langsung kriuk-kriuk dan tertelan jauh ke dalam perut.

Mix (101.1 FM) yang – sesuai dengan yang disugestikan nama stasiunnya – selalu me-mix-kan lagu-lagu “old schools” dengan lagu-lagu keluaran millennium hari ini. Tak jarang si ‘Irreplaceable’ Beyonce diputar setelah Diana Ross bilang ‘When You Told Me that You Loved Me’ atau Elton John yang mengira bahwa ‘Sorry Seems to be the Hardest Thing to Say’ setelah Justin Timberlake memamerkan ‘Sexy Back’-nya.

Nah, bisa lihat kan selera musik kami? Aku yang sering ngakak sendirian malam-malam jika mendengar banyolan-banyolan penyiar Fox – lebih sering tenggelam sendiri dalam ‘kemelayuan’ nasyid sih hehe – , anak guardian-ku yang up to date dengan My Chemical Romance-nya dan sang gadis yang memanggil dirinya sendiri an old grandma karena memang suka lagu-lagu SUPER lawas. Kami sering menggunakan hal ini untuk saling menyeletuki. Aku yang paling sering ‘ditindas’; karena katanya nggak konsisten sama Fox dan lebih asyik ‘dangdutan’ sendiri. Biasanya aku akan membalas dengan menyindir sang gadis bahwa aku serasa berada di tengah koleksi lagu-lagu pop jaman ibuku SMA dulu atau dengan memprotes anak guardian-ku bahwa lagu-lagunya terlalu nge-rock dan membuat rambut jingkrak-jingkrak belaka.

Sang gadis memang punya favorite yang aneh jika dibandingkan dengan remaja-remaja seusia kami. Daftar lagu di playlist dalam laptop-nya berisi lagu-lagu yang dirilis tahun 90-an ke bawah. Termasuk salah satu darinya –yang pernah ia tawarkan kepadaku untuk di-copy ke MP3 player-ku namun ku tolak ;P- ya lagu The Glory of Love itu. Pernah aku diajak nonton video clip-nya di YouTube. Ternyata lagu itu merupakan soundtrack sebuah film laga Barat tahun 90-an gitu dan para ‘anak mudanya’ pada gondrong semua dengan baju perang lengkap dengan pedangnya. Kiranya setting cerita memang peperangan era Hamlet dulu, jadul abis dah!

Awalnya aku mah ogah saja dengar lagu yang begituan, tetapi lama-kelamaan dengar lagu itu diputar oleh sang gadis di kamar kami, lagu itu pun akhirnya nempel di kepalaku dan tanpa sadar sering terlantun dari bibirku. Suatu hari, ketahuanlah diriku (Wo-o, kamu ketahuan…;D) dan dengan bangganya sang gadis berkata, “Nah kan, lagu mana yang lebih bagus? Lagu nenek-nenek atau lagu jaman sekarang?!!”

Jadi, moral yang bisa ditarik dari cerita di atas adalah lagu nenek-nenek pun bisa romantis :D

Hehe… canda. Setelah saya pikir-pikir lagi, saya memang setuju dengan pendapat sang gadis bahwa lagu-lagu jaman sekarang sudah tidak sebermutu lagu-lagu jadul lagi. Temanya sudah sangat sempit, katanya. Kalaupun berbicara tentang cinta pasti nggak jauh dari girls, break up, sex, promiscuity-lah! Sedangkan lagu lama, cinta itu masih tetap dihargai secukupnya. Lihat lagu The Glory of Love itu sebagai contoh, begitu agungnya makna cinta itu sehingga sang ‘hero’ pun rela mengorbankan dirinya demi yang dicintainya.

Tak usah jauh-jauh mencari contoh saudara-saudara; mari kita lihat nusantara jamrud khatulistiwa bertuah bernama Indonesia ini.

Malu aku malu, pada semut merah yang berbaris di dinding

Menatapku curiga…dst

(pokoknya dia menanti pacarnya gitu deh, lupa liriknya)

- Kisah Kasih di Sekolah, Chrisye

Nah, lihat keluguan remaja yang ditampilkan di situ; malu-malu karena dilanda perasaan yang sering mereka sebut “cinta” itu untuk pertama kalinya dan mulai menggambarkannya dengan metafora-metafora sederhana dan segar yang bikin tersenyum dan nostalgia sekalian (hayyyyoooooo loooooo!!!!), titik.

Tetapi coba lihat yang berikut ini.

Pergi tamasya ke Binaria,

Pulang-pulang ku berbadan dua

Tanpa restu orang tua sayang ,

Aku rela Abang bawa pulang

- Jablay, dari film “Mendadak Dangdut”

whaaaatzzzz?? *#@%^%*

Sudah berbadan dua, tanpa restu orang tua lagi!

Aduh, na’udzubillahi min dzalik ya ikhwati! Aina al-izzati allati minal imaan?

Sudah berapa kali kita dengar ini tidak hanya dari lirik lagu di atas melainkan terjadi di dunia nyata? SUDAH AMAT SERING! Wahai teman-teman remajaku yang disebut perempuan, do you like it better when guys look at you from the size of your bra and not of your brain? Ayo menjaga diri baik-baik!

Kembali ke permasalahan awal, intinya memang secara kasar (dan menurut pendapat saya dan beberapa teman saya), moral bangsa sudah melorot dan itu terefleksi dari banyak hal. Salah satunya, ya itu tadi, dari jenis musik dan lagu yang diproduksi manusia-manusia yang mengaku punya seni.

Tak hanya Indonesia, tetapi juga di setiap bagian lain dari dunia ini. Tak usah lagi membahas lagu-lagu Barat; lagu-lagu Indonesia masih terbilang ‘sangat sopan’ jika disejajarkan dengan hits-hits mereka yang kalau diterjemahkan kepada ureung tuha nyang seumajoh ranup di meunasah gampong akan membuat mereka (mungkin) dapat serangan jantung mendadak (hyperbole banget ya?)

Singkatnya, any comment?

(mau nyambung tulisannya tapi habis bahan sih hehe…)

Sunday, February 3, 2008

Sampai Nanti, Sampai Mati [by : Letto]

kalau kau pernah takut mati, sama
kalau kau pernah patah hati, aku juga iya
dan seringkali sial datang dan pergi
tanpa permisi kepadamu suasana hati
tak peduli

kalau kau kejar mimpimu, selalu
kalau kau ingin berhenti, ingat tuk mulai lagi
tetap semangat dan teguhkan hati
di setiap hari sampai nanti, sampai mati

kadang memang cinta yang terbagi, kadang memang
seringkali mimpi tak terpenuhi, seringkali

tetap semangat dan teguhkan hati
di setiap hari sampai nanti
tetap melangkah dan keraskan hati
di setiap hari sampai, sampai mati
sampai mati



p.s.: Letto, di manapun kalian berada dan walaupun kalian tidak kenal saya (emang penting?),

terima kasih untuk menciptakan lagu ini!

Friday, February 1, 2008

kacau!

untuk operator warnet Ryfa ini,
mengapakah lagu "Adakah" yang dinyanyikan oleh Maliq n D Essentials yang harus diputar?????

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH

sebuah puisi

bernama puisi,
isinya keluhan-keluhan hati.
basi,
tapi tak peduli.

mau bilang apa?
sebuah sudut hati sedang meratap
karena semakin lama sudut itu semakin tak miliki tempat
sepat.

resah,
gundah,
marah,
payah!

oh Tuhan...
melihat wajahnya...
mendengar suaranya..
tersebut namanya...
BENCI.....

the end