Monday, January 7, 2008

dilogi- Isi hatiku

Interval- Isi Hatiku I (26 November 2007)

Apa yang seharusnya bisa ditulis ketika pikiranku tertutup searak awan kelabu tipis yang tak berbentuk? Menggelayuti setiap helaan nafas dan detakan jantungku yang mulai tak teratur. Awan itu juga mengikuti setiap langkahku, setiap detik, setiap menit, setiap jam. Hingga aku pun mengaku kalah dan mengajak berbicara…

“Jadi, siapa dirimu?”, aku membuka percakapan.

“Kau kira aku siapa?”, balasnya bertanya.

Aku diam. Aku benar-benar tidak siap dibalas demikian. Aku tahu jawabannya, tetapi aku tidak mau mengakuinya. Simalakama.

“Jawab…”, bisiknya pelan.

“Aku, … aku tidak tahu.” Final ucapanku.

Ia menyandarkan punggungnya ke langit biru, mencoba mencari pegangan.

“Jangan berbohong padaku.”, serunya pelan dan tenang setelah ia benar-benar terpancang tenang di langit di atas kepalaku.

Aku menghela nafas panjang tanpa suara. Kiranya tak berguna perlawanan ini. Kuakui saja.

“Kau isi hatiku.” Lantas aku pun mengatup rapat.

Ia tersenyum. Kedua belah tangannya pun bertepuk dua kali; jawabanku benar.

Kupalingkan wajahku ke kehijauan semak di pinggir kananku. Aku malu.

“Apa yang membuatmu menghindar mengakuinya untuk beberapa waktu?”, tanyanya lagi.

Kulirik ia dengan seribu emosi. Bukankah ia tahu semuanya? Mengapa ia harus terus bertanya?

“Kau tahu semuanya. Berhenti bertingkah seperti pengacara pencari-cari kesalahan klien.” Jawabku datar.

“Tapi aku bertanya bukan karena ingin mengetahui jawabannya. Aku ingin menolongmu.”, disuruhnya angin yang berdesir untuk mengunjungi keningku, mengecup sekilas.

Keningku yang baru dikecup tadi pun berkerut tegas. Menolongku?

“Bagaimana?”, ketusku.

Ia semakin tersenyum. Kadang-kadang aku heran, bagaimana mungkin ia tersenyum di tengah kekelabuan dirinya (yang juga diriku). Apa yang ia minum atau apa yang ia makan?

“Kau butuh teman berbicara… seorang teman berbicara yang setia. Bukan yang selama ini kau kunjungi sekali-kali.”, lanjutnya. Ia terlihat lelah, sangat lelah. Batuk di sana-sini menyelangi, namun tatapannya masih memandang dalam. Aku salut akan cintanya padaku. Tapi aku terlalu angkuh; aku hampir tidak pernah mengunjunginya. Biasanya aku mendatangi beberapa kemayaan lewat layar yang lebih maya lagi.

“Dan.. kau mau menjadi ‘teman’ itu? Begitu maksudmu?”, selidikku.

Ia mengangguk. Masih pelan.

“Aku tidak begitu jauh darimu, tapi kau selalu menghindariku. Kelabuku sudah terlanjur kau ciptakan. Tak hendakkah kau memperbaikinya?” matanya makin sendu.

Aku sebenarnya terharu sangat. Ingin kudekap dirinya dan menyatu lagi denganku. Tapi aku masih terlalu angkuh untuk itu.

Kelabunya benar-benar menarik perhatianku. Itu aku yang ciptakan. Tapi aku malah takut untuk melihatnya, takut untuk berbicara dengannya yang makin kelabu. Aku selalu mencoba menghindar.

Aku memandang lurus. Ada kereta angin lewat sepintas.

“Kau tahu, kelabu itu dari siapa?” aku bertanya. Retoris.

Ia menggeleng lemah. Ia benar-benar tak bertenaga banyak lagi. Dan aku masih angkuh.

“Dari kemayaan duniaku. Dari kemayaan yang selama ini kugeluti. Dari kemayaan yang selama ini kupikir bisa membawaku terbang tinggi.” Pandanganku masih lurus.

Ia menghela lambat.

“Kau tak mau merubahnya? Tak mau pergi dan meninggalkan kemayaan itu?”, tanyanya lagi.

Kini aku yang menghela lambat.

“Aku tidak sanggup…”

“Tapi kau harus!”, ia mencoba terlihat tegas- tapi tetap lemah.

“Bukan tidak kucoba, tetapi…” aku tidak bisa menghabiskan sisa kalimatku.

“Tetapi kenapa?...”, kini ia terlihat sangat terpukul. Aku yang selalu terlihat tegar dan kuat ternyata bisa menyerah juga.

Ah, aku pusing. Aku hanya ingin menari dalam kesendirian. Biar Dia yang menjawab semua tanyaku.

“Dan kau mau aku hilang begitu saja?” tanyanya lagi. Kali ini jari-jari tangannya dimain-mainkannya; resah.

“Bukan, bukan begitu!”, elakku.

“Lantas apa?”, matanya berkaca-kaca.

“Kau terlalu cengeng, itu mengapa.” Aku mencoba berpaling.

Kini ia bersedu-sedan. Aku pun sebenarnya sedih.

“Baiklah, biar aku pergi saja. Temui hati lain untuk kau miliki. Mungkin hati yang lebih sering diam dalam renungan tentang-Nya tidak lagi cocok untukmu. Kau sudah terlalu asing. Kau merenungi hal lain sekarang.”, keluar juga isi hati dari isi hatiku.

Aku kecewa. Aku tidak mau dilabel seperti itu. Aku belum berubah. Aku masih yang dulu. Aku hanya butuh waktu untuk merenungi diri lagi. Aku benar-benar gamang.

Tiba-tiba kutantang langit.

“Tuhan, jika Kau memang di situ, tunjukkan padaku; apa hati kelabu ini masih milikku atau tidak! Tuhan, jika Kau memang Satu, lerai perselisihanku dan hatiku! Tuhan…” suaraku mulai serak. “Kumohon dengan sangat…”

Tanpa sadar, air mataku pun tumpah. Sebelum kusadari lebih jauh, sudah kudekap lagi bagian dari diriku yang telah lama menghilang itu.

Preston, 26 November 2007

Interval- Isi Hatiku II (7 Januari 2008)

Beburung berdzikir di kandang raudhah

Menyambut azan di tabir senja

Insan berkasih kerana Allah

Bertemu, berpisah kerana cinta-Nya…

-Aisyah, dalam film “Syukur 21”

Kuhela dalam dan panjang nafasku yang tinggal satu-satu. Sebait larik-larik penuh cerita; tentang dongeng dalam film itu, tentang dongeng teman-temanku… dan tentang dongengku sendiri.

Tunggu, dongeng hidupku sendiri?!

Sejak kapan aku punya dongeng? Bukankah aku pernah berikrar untuk memiliki jalan dan bukan dongeng?

“Jadi kau sudah punya titik terang.”, seru sebuah suara dari atas.

Aku mendongak. Ada langit biru dan seonggok awan yang putih bersih. Kemarin awan itu masih kelabu mendung. Aku kembali menunduk.

“Kapan kau datang?”, aku bertanya.

“Pagi tadi.”, tukas awan putih itu singkat.

“Sudah hujan? Dari warnamu kau sudah tidak mendung lagi.”, tanyaku.

“Sudah.”, jawabnya pendek.

“Dan…?”, dasar jiwa interogarif.

“Dan?”, ia bertanya kembali; mencibir. “Ini kan yang kau inginkan? Kebersihan diriku, ketenangan alam pikiranmu… hatimu.”, ia menekankan suaranya di kata terakhir.

Aku kembali menghela nafas yang panjang dan berat.

“Aku manusia, kau tahu itu.”

Suara itu ikut menghela nafasnya, tak kalah berat dan panjangnya.

“Dan itu berarti kau juga punya perasaan, iya kan?”, tanyanya tak lama kemudian.

Aku mengangguk pelan. Tak sanggup rasanya kutantang matahari hari ini.

“Tapi kau sudah berikrar untuk memiliki jalan bukan dongeng. Ingat?”, tanyanya lagi.

Ku senderkan punggungku yang lelah menanggung sebuah beban yang manis kemarin pada sebuah dinding kokoh di tepi Banda. Aku ingat sekali semua itu, aku ingat, desisku.

“Jalan…”, kugantung suaraku.

“Jalan yang kau pilih beberapa tahun yang lalu. Jalan yang kau bilang akan kau pertahankan sampai tetes darah penghabisanmu. Jalan yang akan membuatmu punya arti dalam hidupmu. Kau masih ingat semua itu, bukan?”, ia menyambung ‘kegantunganku’.

Aku hanya diam. Kekuatanku yang tinggal sebongkah sudah habis kugunakan untuk menangis di hadapan-Nya lima belas menit yang lalu. Kuraih sebuah ranting kecil yang tergeletak di hadapanku. Kugoreskan bentuk-bentuk bangun datar tanpa arti.

“Selemah itukah dirimu?”, desaknya.

“Cukup!”, patah ranting di tanganku karena tergenggam terlalu erat. “Kau tidak punya perasaan! Apa yang kau tahu tentang perasaanku? Apa yang kau tahu tentang aku? Kau sama sekali tidak bisa mengerti aku!”, aku berteriak kepadanya lalu bangun dan berlari di jalanku. Entah kekuatan dari mana, tetapi lariku sangat kencang. Semakin kencang. Hingga akhirnya, aku pun lelah dan berhenti.

Dengan setengah membungkuk sambil menelekan kedua tanganku di atas kedua lututku, aku tidak menahan lagi semua isakanku. Satu-satu tetes air mata membasahi tanah berdebu di bawah sepatuku. Bahuku berguncang-guncang hebat sementara langit masih tetap biru.

Sekilas ada angin lembut yang mencium keningku. Ada seekor burung yang datang menghampiri lalu bersiul mesra. Ada cahaya benderang dari ujung kanan langit menguapkan tangisku.

“Terkadang ada perasaan yang harus dipertahankan.” , rupanya awan putih itu masih mengikutiku. “Sedangkan di lain waktu, ada perasaan yang tak boleh dibiarkan hidup terlalu lama. Ayolah, kau lebih mengerti itu dari pada diriku…”

Aku lelah dengan posisiku, lantas aku pun duduk bersila. Aku masih diam, air mataku sudah kering karena cahaya benderang tadi.

“Kau sendiri yang berkeras dulu. Kau sendiri yang membuat benteng itu di depan pelupuk mataku. Kau sendiri yang selalu menghindari ketukan-ketukan di pintuku olehnya. Ya, sekali-kali kau ajak dia masuk dalam diriku untuk kau candai dan kau rindui. Tetapi bukankah setelah itu kau hanya bisa menangis, karena seolah-olah kau sedang menyimpangi jalanmu sendiri?”, ia turun dari langit dan mengusap lembut kepalaku.

Aku mengangguk lagi.

“Padahal kalau kukira-kira kau tak pernah bersalah. Demikian juga dirinya.”, ia terus bersuara menyampaikan pendapat.

“Itulah resikonya memilih jalan dari pada dongeng ;pasti ada persimpangannya. Dan di persimpangan itu selalu ada lebih dari satu jalan. Nah, kebetulan saja jalanmu dan jalannya bertemu di persimpangan itu. Tetapi yang namanya persimpangan kita tidak boleh berhenti terlalu lama, ada banyak pengguna jalan lain yang harus melewati persimpangan yang sama. Kalau semua memutuskan untuk berlama-lama di persimpangan itu, bisa macet lalu-lintasnya kan?” senyumnya mencoba bercanda.

“Apa yang terjadi dengan para pengguna jalan yang kebetulan melewati persimpangan yang sama itu? Apa aku adalah satu-satunya pengguna jalan yang malang dan berlalu dari persimpangan itu dengan seribu kesedihan?”, terbuka juga mulutku. Tatapku datar dan kosong ke depan.

Ia mengusap lagi kepalaku seperti seorang ibu yang mengusap kepala anaknya saat mendongeng sebelum tidur.

“Dari persimpangan itu, ada yang memutuskan untuk menapaki satu jalan berdua baik atas izin dari Yang Memiliki jalan-jalan maupun tanpa pengetahuan siapa-siapa.”, jawabnya.

“Tanpa pengetahuan siapa-siapa?”, heranku.

“Ya, tanpa pengetahuan siapa-siapa. Artinya, mereka menapaki satu jalan berdua tetapi bukan terang-terangan. Karena tidak mendapatkan izin dari Yang Memiliki jalan-jalan mereka memilih untuk berjalan dalam semak-semak di sepanjang pinggiran jalan dari pada di tengah-tengah jalannya. Jadi, ya, tidak ada yang bisa melihat kecuali ...”

“Kecuali oleh Yang Memiliki jalan-jalan, kan?” Ujarku menyambung kalimatnya.

“Ya.” Jawabnya singkat.

“Itu saja yang terjadi dengan para pengguna jalan itu?”

“Oh, tidak. Ada lagi yang lain.” Ia berhenti sesaat. “Jalan mereka yang ingin mereka tempuh ternyata berbeda atau mereka belum siap untuk mengarungi sebuah jalan dengan seseorang yang lain. Mereka biasanya berpisah di situ, menempuh jalan masing-masing hingga…” ia menggantung kalimatnya.

“Hingga?”

“Hingga mereka bertemu persimpangan yang lain. Di situ, ada banyak yang bisa diceritakan…” jawabnya mengambang.

“Misalnya?”

Ada yang bertemu pengguna jalan lain dan tiba-tiba merasa siap dan memutuskan untuk mengarungi sebuah jalan bersama-sama dengannya. Ada pula yang…”, ia kembali menggantung kalimatnya.

Ada pula yang…?”, aku makin penasaran.

“Ajaib, hal yang berikut ini ajaib.”, bukannya menyambung kalimatnya ia malah off-track.

“Ajaib…?”

“Ajaib, karena ada yang bertemu lagi dengan pengguna jalan yang sama di persimpangan yang pertama dan ternyata setelah beberapa persimpangan mereka terus bertemu.”, ia menerawang langit, seperti membayangkan apa yang barusan dikatakannya.

“Dan akhirnya mereka pun akan memutuskan untuk mengarungi sebuah jalan bersama-sama setelah beberapa kali berpapasan di beberapa persimpangan. Padahal di persimpangan pertama mereka sudah memutuskan untuk tetap menapaki jalan mereka masing-masing. Namun hati ternyata bukan milik pengguna jalan-jalan itu. Pemilik jalan-jalan memang jauh lebih berkuasa.”

“Begitukah? Lantas, apa mungkin jika aku termasuk ke dalam kategori yang terakhir itu? Bertemu lagi dengannya di persimpangan yang lain?”, aku benar-benar kosong.

Ia tersenyum.

“Kau tahu persis bahwa aku ini hatimu. Kau adalah aku, aku adalah kau. Maka apakah kau tetap akan mendengarkan kata-kataku?”

Aku mengangguk cepat.

“Terkadang, para pengguna jalan tidak pernah bisa melanjutkan perjalanan mereka. Ada yang terkilir dan memutuskan untuk memilih untuk berdongeng lagi. Ada yang tertabrak kendaraan seorang pengguna jalan lain dan berakhir kisahnya. Ada yang tidak sanggup menghadapi angin kencang dan kerikil yang terus-terusan mengaburkan matanya lantas tiba-tiba hilang akal dan tidak pernah berhasil melanjutkan perjalanan juga.”

Aku bergidik. Akankah aku sanggup menjalani jalanku hingga ke akhirnya tanpa berakhir dengan kegagalan?

“Sebagai hatimu, bolehkah aku memberimu sepotong nasihat?”

Kutatap dirinya, aku mengangguk sungguh-sungguh.

“Jangan pikirkan tentang persimpangan itu lagi. Lebih baik kau konsentrasi dengan perjalananmu. Perhatikan ayat-ayat kasih di baliho-baliho di pinggiran jalan, bertahanlah atas debu dan kerikil yang menerjang. Tak perlu kau berlari. Lambat asal selamat. Nanti kalau kau jatuh aku juga kan yang akan bersedih?” nasihatnya sambil mengecup keningku dengan kasih sayang.

“Jika kau bisa melewati perjalanan ini dengan baik dan kau sempat menemui persimpangan selanjutnya, mungkin kau akan bertemu dengan seseorang yang lebih baik...”

“Atau mungkin dirinya lagi.” Sambungku cepat.

“Atau mungkin dirinya lagi.”, ia mengulangi kata-kataku sambil memelukku dan mengangguk tanda setuju. “Tetapi ingat, itu masih kemungkinan.” Ucapnya mengingatkan.

“Iya.” Ujarku pelan dalam pelukannya.

“Hei, lihat itu!” serunya tiba-tiba sambil memandang ke arah langit.

Aku menoleh ke arah yang ditunjukinya. Ada pelangi di situ.

Warna-warna cinta yang terlukis di hatimu,

Semat pada senyum dan tangismu…

Agar mewarnai jiwamu yang tulus

Seperti sang pelangi selepas gerimis…

- Brothers dalam lagu “Warna-warna Cinta”

Ditulis saat sedang menyapu ‘pecahan-pecahan’ kaca

bernama perasaan dalam tanda petik agar tidak

melukai kakiku hari ini dan seterusnya…

Tungkop, 7 Januari 2008, 9:38 WIB (tanpa pengeditan)

Friday, January 4, 2008

in a phrase called long-winded waiting

extremely deep within,
keeps throbbing, keeps pumping.
with a reluctant glance, i was staring to a thing named hope.
a hope to soar,
a hope to roar.

i thought i was great; could fly, of course i could soar up to the sky.
but i was mistaken; i was slipping through the storm without being shy.
all i could ask was why,
the road seems to be so far away.

till that morning i was given a call,
a long call, a crying call.
a voice of hopeless, so was I.
I was lying upon the wall of cry-again.

they screamed.
they said i was blessed.
they said i was mad,
if i was not glad.

but i am mad,
that wasnt high enough to jump up.
that wasnt good enough to smile up.
i was brokenhearted.

yes i have passed the storm,
yes i have been given more than a norm,
but i was still a worm
that never feels warm.

dear LORD in YOUR land
grant me the patient to face all
give me the passion to grab all....




_______________________just passing my high school, my marks were good overall but i was disappointed that i didnt get good for a thing called extended essay.
oh well, Allah has his own way to guide us.
must be some hidden wisdom.....T_T