Sunday, February 17, 2008

The Glory of Love Vs Jablay

I am the man who will fight for your honor

I’ll be the hero you’ve been dreaming of

We’ll live forever

Knowing together that we did it all for the glory of love…

-The Glory of Love, lupa siapa yang nyanyi

Sebuah tembang lawas menyapu telingaku. Aku tertawa kecil. Lagu ini memang romantis – terlalu romantis malah – tetapi aku tetap saja merasa geli setiap mendengar lagu ini.

Dulu, ketika aku masih muda dulu (not that I’m too old now ;D), aku sempat mendapatkan beasiswa untuk menyelesaikan high school di Melbourne. Aku tidak sendiri, ada seorang gadis lagi yang juga mendapatkan kesempatan yang sama. Kami bahkan sekamar selama dua setengah tahun; selama program itu berlangsung. Oleh karena itu pula, aku –dan dia- sudah saling tahu beberapa kebiasaan kami masing-masing, termasuk dalam hal selera musik.

Mendengarkan radio atau MP3 sambil membaca bahan pelajaran untuk keesokan harinya setelah makan malam memang lumayan menenangkan. Kebetulan, aku dan gadis itu dua-duanya suka melakukan hal tersebut. Tak hanya kami, anak guardian kami juga ternyata memiliki kebiasaan yang sama.

Nah, yang bikin unik adalah bahwa setiap orang dari kami mendengarkan stasiun radio dan menyenangi jenis musik yang berbeda pula! Saya sekali-kali tune in dengan Fox (109.5 FM) – saya biasanya lebih sering mendengarkan kaset-kaset nasyid yang saya borong dari kampung – ,anak guardian saya dengan Nova (lupa frekuensinya) sedangkan sang gadis dengan Mix (101.1 FM). Jika anda familiar dengan stasiun-stasiun radio di Melbourne, anda pasti sudah tahu jenis musik apa yang akan anda dengar dari setiap stasiun radio di atas.

Fox (109.5 FM) bisa disimilarkan dengan stasiun Flamboyan FM di Banda Aceh; lagu-lagunya yang lagi in semua. Di samping itu, penyiar-penyiarnya juga gokil semua, acaranya aneh-aneh, dialog-dialognya segar-segar dan gaul abis. Singkatnya, dari sinilah saya tahu tentang lagu-lagu Shannon Noll, runner up-nya Guy Sebastian, yang penuh inspirasi atau Pussy Cat Dolls yang ah, ga penting banget deh buat dibahas! Intinya, untuk bahan pembuat ketawa, OK-lah Fox ini.

Nova, gaul juga sih. Cuma kalau dirangkingkan, Nova ini satu tingkat di bawah ‘kegaulan’ Fox. Lagu-lagunya banyak yang lagi in, tetapi tetap ada lagu-lagu jenis lain yang baru tetapi tidak begitu terkenal, apalagi yang beraliran indie rock gitu deh! Yang khas dari mereka ya sang penyiar kondang yang juga pembawa acara terkenal di salah satu channel TV di Melbourne itu; Hughes. Katanya sih, dia itu lucu. Katanya; karena kalau menurut saya bahan candaannya ‘garing’, sekali gigit langsung kriuk-kriuk dan tertelan jauh ke dalam perut.

Mix (101.1 FM) yang – sesuai dengan yang disugestikan nama stasiunnya – selalu me-mix-kan lagu-lagu “old schools” dengan lagu-lagu keluaran millennium hari ini. Tak jarang si ‘Irreplaceable’ Beyonce diputar setelah Diana Ross bilang ‘When You Told Me that You Loved Me’ atau Elton John yang mengira bahwa ‘Sorry Seems to be the Hardest Thing to Say’ setelah Justin Timberlake memamerkan ‘Sexy Back’-nya.

Nah, bisa lihat kan selera musik kami? Aku yang sering ngakak sendirian malam-malam jika mendengar banyolan-banyolan penyiar Fox – lebih sering tenggelam sendiri dalam ‘kemelayuan’ nasyid sih hehe – , anak guardian-ku yang up to date dengan My Chemical Romance-nya dan sang gadis yang memanggil dirinya sendiri an old grandma karena memang suka lagu-lagu SUPER lawas. Kami sering menggunakan hal ini untuk saling menyeletuki. Aku yang paling sering ‘ditindas’; karena katanya nggak konsisten sama Fox dan lebih asyik ‘dangdutan’ sendiri. Biasanya aku akan membalas dengan menyindir sang gadis bahwa aku serasa berada di tengah koleksi lagu-lagu pop jaman ibuku SMA dulu atau dengan memprotes anak guardian-ku bahwa lagu-lagunya terlalu nge-rock dan membuat rambut jingkrak-jingkrak belaka.

Sang gadis memang punya favorite yang aneh jika dibandingkan dengan remaja-remaja seusia kami. Daftar lagu di playlist dalam laptop-nya berisi lagu-lagu yang dirilis tahun 90-an ke bawah. Termasuk salah satu darinya –yang pernah ia tawarkan kepadaku untuk di-copy ke MP3 player-ku namun ku tolak ;P- ya lagu The Glory of Love itu. Pernah aku diajak nonton video clip-nya di YouTube. Ternyata lagu itu merupakan soundtrack sebuah film laga Barat tahun 90-an gitu dan para ‘anak mudanya’ pada gondrong semua dengan baju perang lengkap dengan pedangnya. Kiranya setting cerita memang peperangan era Hamlet dulu, jadul abis dah!

Awalnya aku mah ogah saja dengar lagu yang begituan, tetapi lama-kelamaan dengar lagu itu diputar oleh sang gadis di kamar kami, lagu itu pun akhirnya nempel di kepalaku dan tanpa sadar sering terlantun dari bibirku. Suatu hari, ketahuanlah diriku (Wo-o, kamu ketahuan…;D) dan dengan bangganya sang gadis berkata, “Nah kan, lagu mana yang lebih bagus? Lagu nenek-nenek atau lagu jaman sekarang?!!”

Jadi, moral yang bisa ditarik dari cerita di atas adalah lagu nenek-nenek pun bisa romantis :D

Hehe… canda. Setelah saya pikir-pikir lagi, saya memang setuju dengan pendapat sang gadis bahwa lagu-lagu jaman sekarang sudah tidak sebermutu lagu-lagu jadul lagi. Temanya sudah sangat sempit, katanya. Kalaupun berbicara tentang cinta pasti nggak jauh dari girls, break up, sex, promiscuity-lah! Sedangkan lagu lama, cinta itu masih tetap dihargai secukupnya. Lihat lagu The Glory of Love itu sebagai contoh, begitu agungnya makna cinta itu sehingga sang ‘hero’ pun rela mengorbankan dirinya demi yang dicintainya.

Tak usah jauh-jauh mencari contoh saudara-saudara; mari kita lihat nusantara jamrud khatulistiwa bertuah bernama Indonesia ini.

Malu aku malu, pada semut merah yang berbaris di dinding

Menatapku curiga…dst

(pokoknya dia menanti pacarnya gitu deh, lupa liriknya)

- Kisah Kasih di Sekolah, Chrisye

Nah, lihat keluguan remaja yang ditampilkan di situ; malu-malu karena dilanda perasaan yang sering mereka sebut “cinta” itu untuk pertama kalinya dan mulai menggambarkannya dengan metafora-metafora sederhana dan segar yang bikin tersenyum dan nostalgia sekalian (hayyyyoooooo loooooo!!!!), titik.

Tetapi coba lihat yang berikut ini.

Pergi tamasya ke Binaria,

Pulang-pulang ku berbadan dua

Tanpa restu orang tua sayang ,

Aku rela Abang bawa pulang

- Jablay, dari film “Mendadak Dangdut”

whaaaatzzzz?? *#@%^%*

Sudah berbadan dua, tanpa restu orang tua lagi!

Aduh, na’udzubillahi min dzalik ya ikhwati! Aina al-izzati allati minal imaan?

Sudah berapa kali kita dengar ini tidak hanya dari lirik lagu di atas melainkan terjadi di dunia nyata? SUDAH AMAT SERING! Wahai teman-teman remajaku yang disebut perempuan, do you like it better when guys look at you from the size of your bra and not of your brain? Ayo menjaga diri baik-baik!

Kembali ke permasalahan awal, intinya memang secara kasar (dan menurut pendapat saya dan beberapa teman saya), moral bangsa sudah melorot dan itu terefleksi dari banyak hal. Salah satunya, ya itu tadi, dari jenis musik dan lagu yang diproduksi manusia-manusia yang mengaku punya seni.

Tak hanya Indonesia, tetapi juga di setiap bagian lain dari dunia ini. Tak usah lagi membahas lagu-lagu Barat; lagu-lagu Indonesia masih terbilang ‘sangat sopan’ jika disejajarkan dengan hits-hits mereka yang kalau diterjemahkan kepada ureung tuha nyang seumajoh ranup di meunasah gampong akan membuat mereka (mungkin) dapat serangan jantung mendadak (hyperbole banget ya?)

Singkatnya, any comment?

(mau nyambung tulisannya tapi habis bahan sih hehe…)

2 comments:

  1. awalnya pengen tau dan nyari2 lagu2 yang diputerin di Flamboyan FM Banda Aceh waktu break sholat magrib atau ashar. eh nyari2 di google malah nemu "ginian". i do like it.

    dan jadi nya malah ngubeg2 blog ini.
    "bingung mau komentar apa karena ngebandingin musik sekarang dan musik "jaman dulu" ( era 90'an ) yaaa rasanya memang sedih liat perkembangan musik jaman sekarang. mungkin karena hal itu juga karena "kita" generasi "90an. tapi mungkin bagi mereka adek2 kita yang generasi setelah kita merasa hal itu wajar2 saja. inilah salah satu hal nyata yang dapat kita lihat dari dampak krisis moral yang kita hadapi. Indonesia dan Dunia. kalau kita telaah lebih dalam lagi hal ini merupakan pengaruh dari barat yang masuk tanpa ada filterisasi dari Pemerintah dan masyarakat ( Manusia ). contohnya ya seperti yang udah diungkapkan di tulisan ini. lagu "jablay", bukankah ini mengungkapkan sepasang manusia yang melakukan seks sebelum mereka menikah?
    panjang juga jadinya komentarnya. lama2 buat blog sendiri juga. haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf baru baca komennya sekarang, belakangan sempat sibuk sama aktifitas sebagai koas hehe.
      waah, merasa tersanjung bisa menjadi hasil searching, meski rupanya nyasar yak :D
      memang sih, dunia ga bakal berhenti berputar dan berubah, asimilasi budaya juga sebuah keniscayaan, tapi kok ya sistem filternya udah rapuh. sebenarnya betapa rusak dan bobroknya coba, budaya pop dan musik di US misalnya, tapi banyak kok muslim2 yang keluarganya tetap practice Islam dengan baik, padahal di lingkungan yang sangat jauh dari kata Islami. nah ya kita ini, gimana? :)

      Delete