Saturday, April 5, 2008

Cerita Hati

kau tahu ada jeruji-jeruji di setiap sisi diri ini
bukan mengekang hanya meniup kecemburuan ke buhul-buhul rindu
hingga aku terus-menerus memeluk perasaan
dalam ke-punguk-an di desa milik rembulan

temanku yang satu itu mengajak duduk
lalu aku hanya menendang kerikil ke ujung angkasa
di sana kerikil itu memecah dan membuncah
jatuh lagi ke bumiku dengan serpihan-serpihan yang lebih tajam

temanku yang satunya lagi mengajak berlari
lalu aku hanya memintal pelangi di lembah mimpi
merogok setiap saku demi coba temui koin pembayar benang warna untuk pelangi
lalu tanganku terkurung dalam saku tanpa koin

temanku yang ini lebih aneh lagi
mengajak mencuci
tetapi mencuci di pelimbahan noda-noda duniawi
mereguk ketinggian kasih-sayang dalam picingan menjauh mata Kekasih

wahai
biar aku duduk berdiri dan mencuci
tanpa ada yang mengajak susah-payah
atau meniup sejuta mantra

wahai
tak kah kau perhatikan cermin hatiku berkaca-kaca
otot-otot beraniku meluruh rapuh
tegap tiang diriku meleleh tanpa gaduh

remuk lebur atas hilangnya kunci hati
yang dulu kudekap erat-erat
yang dulu kusembunyikan baik-baik
yang dulu kusemir setiap pagi

Kekasih, lempar aku dalam tangan-Mu lagi
tak bosan ku memohon dan tak bosan Kau menonton
aku hanya berada di jembatan gantung yang hampir putus
di mana tak bisa banyak duduk berdiri atau mencuci






Darussalam, 5 April 2008 3:46 PM

No comments:

Post a Comment