Thursday, May 15, 2008

Suci Sekeping Hati

Suci Sekeping Hati
Album : Kembara Cinta
Munsyid : Saujana
http://liriknasyid.com


Sekeping hati dibawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang

Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap menunggu mangsa

Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang meratap
Pada debu yang pastikan hinggap

Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba

Tuesday, May 6, 2008

mohon doanya!

assalamu'alaikum MP'ers!
berhubung dunia terus berputar dan saya (dan juga anda) bertambah tua,
maka tuntutan kehidupan terus bertambah.

maka saya yang sudah menamatkan SMA sekitar 6 bulan yang lalu yang kebetulan saya selesaikan di Australia atas nama beasiswa (alhamdulillah) akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingkat tinggi di Banda Aceh, Indonesia; daerah di mana saya menghabiskan waktu "9 tahun wajib belajar" saya dulu.

atas dasar itu, saya pun akan insya Allah mengikuti bimbingan belajar intensive SPMB (yang sekarang sudah berganti nama menjadi SNM-PTN) di sebuah layanan bimbingan belajar di Banda Aceh di mana saya juga merupakan seorang tentor di dalamnya. Yap, dua peran harus saya coba lakoni dalam kurang lebih dua bulan ke depan; mengajar dan belajar.

oleh karena itu saya mohon doanya agar Allah memberikan yang terbaik untuk saya. jika memang lulus tes dan menjadi seorang mahasiswi adalah yang terbaik atau sebaliknya maka saya akan ikhlas menerimanya. tentu saja, doa tidak lengkap tanpa ikhtiar. oleh karena itu pula, doakan saya bisa tetap keep up dengan rutinitas "berwajah dua" (karena mengajar 'n belajar ganti-gantian hehe...) ini.

doakan pula saudara-saudari kita yang lain yang juga sedang berjuang di "jalan" yang sama, amin...




Banda Aceh, 6 Mei 2008


nb : Ya Allah, bantu aku untuk menentukan pilihan yang terbaik dalam hal SNM-PTN ini dan yang "itu" (pssst...yang ini rahasia ) dan tetap fokus di jalan-Mu apapun yang terjadi.

Friday, May 2, 2008

surat cinta seorang mahasiswa matematika (hahahaha)

Saat aku bersua dengan eksponen jiwamu,
sinus kosinus hatiku bergetar
Membelah rasa

Diagonal-diagonal ruang hatimu
bersentuhan dengan diagonal-diagonal bidang hatiku

Jika aku adalah akar-akar persamaan
x1 dan x2
maka engkaulah persamaan dengan akar-akar
2(x1) dan 2(x2)

Aku ini manusia biasa
Dari himpunan yang kosong
Kaulah integral belahan jiwaku
Kaulah kodomain dari fungsi hatiku

Kemana harus kucari modulus vektor hatimu?
Dengan besaran apakah harus kunyatakan cintaku?

kulihat variabel dimatamu
Matamu bagaikan 2 elipsoid
hidungmu bagaikan asimptot-asimptot hiperbola
kulihat grafik cosinus dimulutmu

modus ponen…. podue tollens….
entah dengan modus apa kusingkap
logika hatimu…..
Beribu-ribu matriks ordo 2×2 kutempuh
Bagaimana kuungkap adjoinku padamu

kujalani tiap barisan geometri yang tak hingga jumlahnya
tiap barisan aritmatika yang tak terhitung…

Akhirnya kutemui determinan matriks hatimu
Tepat saat jarum panjang dan pendek
berimpit pada pukul 10.54 6/11

n.b : yang buat ini rekan kerja saya sendiri. kalau ada order seputar hal terkait bisa lobi saja, hehe...

cinta; secara psikologis (hahahaha)

aku ingin tidur tapi gelisah terus,
kata orang sih, gejala-gejala virus merah jambu!


ah, seandainya saja Freud ada di sini,
aku ingin bertanya padanya,
"Pak Freud, tiap malam aku bermimpi tentangnya.
ke mana kupergi kulihat wajahnya."

entah kenapa bisa kubayangkan Pak Freud berkata,
"Alam unconscious-mu mulai berkata lebih dari pre dan consciousmu.
maka itu mimpimu menjadi mediator penyampai pesan sang unconscous malang yang tak mungkin berbicara langsung padamu."

"Lagipula kau wanita. pasti kau tidak menyelesaikan Elektra konflikmu. Kau cemburu pada ibumu karena menarik perhatian ayahmu ketika kau lima tahun dulu."

sekonyong-konyong Sperry datang menerobos,
"Freud, kau gila! mana itu unconscious-mu? aku tidak bisa membuat hipotesis dan kemungkinan-kemungkinan apapun darinya! tak bisa kuobservasi 'pikiran maya' itu!"

"anak ini hanya mengalami peningkatan jumlah serotonin dalam aliran darahnya sehingga pipinya memerah. progesterone-nya sedikit melunjak sehingga ia menangkap feromone dari makhluk satunya lagi yang berkapasitas lebih tinggi dalam hal testosterone. oleh karena itu adrenalinnya ikut-ikutan melonjak sehingga jantungnya berdegup lebih kencang, tangannya gemetaran, pikirannya tidak konsentrasi dan gelisah sepanjang hari. wajar kan kalau 'flight or fight' responsenya bekerja!"

"Sini biar ku-lobotomy corpus collosumnya biar otak kanannya tidak menyampaikan impi-impiannya ke otak kirinya terus-terusan!"

tiba-tiba Watson datang entah dari mana,
"salah! wajar saja ia begitu! bukankah ia telah mengalami operant conditioning belaka? ia mengasosiasikan ketampanan wajah dan kebaikan diri pria itu dengan kebahagiaan alias reward. so, wajar dong kalau ia mau lagi, lagi dan lagi bertemu dengannya!"

"yup, tepat sekali! seperti hukumku dengan percobaan kucingku!" seru Thorndike entah dari mana.

"ah itu aja kok susah! eh, kamu sering mengingat-ingatnya bukan?" ada yang datang lagi.

aku mengangguk.

"ya iyalah, masa ya iya dong. itu berarti dari sensory memorymu kau sudah meng-encode-kan ke long term memory-mu yang memang berkapasitas limitless! terus kamu terus-terusan retrieval sih, jadi kamu ingat-ingat terus di short term memory dan akhirnya karena nyesak, jadi kebawa ke sensory memory lagi deh!" oh rupanya ada si Miller nimbrung.

aku makin bingung.

lalu datanglah Maslow,
"Kita ini manusia. bukan sekantong karung dengan metabolisme empiris bagaikan robot." ia menatap tajam Sperry.
"atau makhluk perempuan yang pikirannya tak jelas berada di mana dan cemburu karena tidak punya (maaf) penis seperti katamu." Freud tertunduk.
"atau kaset kosong perekam yang memutar segalanya selalu." telunjuk Maslow menuding Miller.
"apalagi seperti binatang yang bisa dilatih menekan tombol untuk diberi makan saja seperti kucingmu!" Thorndike tersinggung, Watson sembunyi.

"anak ini hanya manusia yang bebas berpikir, bertindak, dan punya free will. ia punya segala kebebasan untuk memutuskan, termasuk memutuskan untuk jatuh cinta! dari piramida kebutuhanku bisa diukur jelas bahwa makan-minumnya beres, keamanannya terjamin, Aceh kan uda perjanjian 2 atau 3 tahun yang lalu. terus pendidikannya juga standar-lah. jadi wajar ajeee kallleee kalau dia mau ke tahap selanjutnya yaitu cinta dan rasa saling memiliki dalam sebuah kumpulan. baru setelah itu dia bisa mengaktualisasi dirinya."


lelah membayangkan perdebatan itu, aku tidur saja. di mimpiku aku melihat Jeung berkata, "kau sama dengan penduduk dunia lain, punya alam bawah sadar yang seragam! cinta salah satunya!"