Friday, July 11, 2008

tak pernah bumi ini mengadu...

walau terinjak tapak, namun tetap tumbuh!


itulah penggalan dari sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Fully feat Vagabond, yang katanya salah satu OST Ayat-ayat Cinta (kurang tau bener atau nggak).

penggalan itu mengusikku.
aku tiba-tiba diam. aku berpikir.
iya, bumi ini tidak pernah mengadu walau bermilyar orang menginjaknya dengan berbagai kesombongan (ya,bahkan kesombongan pun bermacam jenisnya, tidak hanya parpol-parpol yang ada di dunia ini). ia diam, ia menanti perintah Sang Perkasa untuk suatu hari nanti mengguncangkan diri, membuat para penginjaknya ketakutan dan hilang harapan. bumi tak pernah mengadu, sementara aku? ah, bahkan punya keluarga utuh, uang saku lebih dari cukup dan pengalaman-pengalaman akademis yang belum tentu dimiliki remaja-remaja lainnya masih belum bisa membuatku berhenti mengeluhkan banyak hal.


gempita puja-puji semesta selaraskan pengakuan pada Yang Esa..


satu lagi penggalan liriknya menohokku. pohon di belakang rumahku sedang bertasbih menyebut-Nya, komputer yang sedang kuoperasikan mengirim sinyal-sinyal syukur pada-Nya, debu-debu yang memenuhi kota Banda Aceh mendesirkan nama-Nya saat menghiasi pinggiran-pinggiran jalan. dan aku? ah, bahkan al-ma'tsurat tadi pagi kulewatkan.



belai angin pada dedaunan ingatkan kembang untuk tetap merekah.


ya, angin-angin pengingat memang bertiup mesra di dedaunan kehidupan sekitarku agar aku bisa tetap ingat pada-Nya dan terus menuju Dia.


melukis wajah-Mu di langit-langit hatiku
aku kehabisan beberapa pewarna
aku kehabisan pewarna hijau yang bisa menenggelamkan alamku ke dalam danau-Mu
aku kehabisan pewarna putih yang bisa mengurung angkuhku saat bercinta dengan-Mu
aku kehabisan pewarna biru yang bisa menjadi latar pelangi-pelangi rasaku pada-Mu

memetaforakan-Mu dalam buku harianku
aku kehabisan kata-kata
aku kehabisan kata sayang untuk menceritakan merah jambunya Kau padaku
aku kehabisan kata rindu untuk mengabarkan berdentumnya jantung saat Kau memanggilku
aku kehabisan kata sifat untuk menulis indahnya Kau kepadaku.

Tuhan, aku menyeret langkahku
mereka bilang aku butuh bertemu dengan-Mu
tapi apa dayaku
aku masih mencari alamat-Mu





Banda Aceh, 11 Juli 2008

No comments:

Post a Comment