Friday, August 29, 2008

Sebatang Bambu

baru balik dari kampus sebagai seorang mahasiswi baru yang baru menyerahkan barang2 yang akan dibawa ke AKMK (aksi kemanusian mahasiswa kedokteran) fakultas kedokteran universitas syiah kuala 2008,

trus katanya ntar jam 2 harus balik lagi buat tausiyah ramadhan plus konvoy ke Simpang Lima 'n Stui (hayyooooo...yang tau Banda Aceh tau donk daerah2 iniiiii) untuk Aksi Simpatik untuk Ramadhan gitu deh... yah sambil nunggu, ke warnet, ngecek sana-sini,

mau ngepost tulisan di MP tapi kok ga ada inspirasi ya?!!!

terus cek email deh, dan ada seorang rekan tentor di bimbel yang memang senang ngirim (atau lebih tepatnya forward) tulisan2 penuh hikmah dan kali ini ada satu lagi artikel yang nyentuh banget, cucok dengan kondisiku yang diamuk badai emosi dan ujian-ujian lainnya (yahhh...semua yang hidup pasti ada masalah juga!)

jadi ya..dishare gitu deh ke MP'ers, mau? (pake gaya iklan 3 )

Sebatang Bambu

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."

Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….., kemudian dia berkata kpd petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna ketimbang batang bambu yg lain. Inilah aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yg sarat, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa.

Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Inilah aku, Tuhan…perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki."

p.s. : Ya Allah, aku siap untuk mengejar mimpiku lagi!

Sebatang Bambu

baru balik dari kampus sebagai seorang mahasiswi baru yang baru menyerahkan barang2 yang akan dibawa ke AKMK (aksi kemanusian mahasiswa kedokteran) fakultas kedokteran universitas syiah kuala 2008,

trus katanya ntar jam 2 harus balik lagi buat tausiyah ramadhan plus konvoy ke Simpang Lima 'n Stui (hayyooooo...yang tau Banda Aceh tau donk daerah2 iniiiii) untuk Aksi Simpatik untuk Ramadhan gitu deh... yah sambil nunggu, ke warnet, ngecek sana-sini,

mau ngepost tulisan di MP tapi kok ga ada inspirasi ya?!!!

terus cek email deh, dan ada seorang rekan tentor di bimbel yang memang senang ngirim (atau lebih tepatnya forward) tulisan2 penuh hikmah dan kali ini ada satu lagi artikel yang nyentuh banget, cucok dengan kondisiku yang diamuk badai emosi dan ujian-ujian lainnya (yahhh...semua yang hidup pasti ada masalah juga!)

jadi ya..dishare gitu deh ke MP'ers, mau? (pake gaya iklan 3 )

Sebatang Bambu

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."

Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….., kemudian dia berkata kpd petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna ketimbang batang bambu yg lain. Inilah aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yg sarat, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa.

Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Inilah aku, Tuhan…perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki."

p.s. : Ya Allah, aku siap untuk mengejar mimpiku lagi!

Tuesday, August 19, 2008

Puisi untuk Pelangi

Puisi untuk Pelangi

Gemuruh di belakang rusukku mengawal kagum
Kau malah tersenyum
Menelungkup indah kau mengerjapkan warna
Aku makin terpana
Bayu menggelepar, lazuardi meratap
Demi indahmu yang bahkan tak tetap

Oh aku insan fana tak patut mencintai
Cintai senyummu yang jauh di kaki mimpi
Meski kumembubung dan menawarkan cintaku
Kepingan emas di selingkaranmu hanya akan menertawakanku

Aku sadar engkau maya
Tapi apa cinta kenal rupa?
Aku paham aku papa
Tapi apa cinta kenal harta?
Aku tahu kau terlalu indah
Tapi apa cinta tak lebih megah?

Biar kau menari dan aku tetap sendiri
Biar kau terlukis dan aku tetap meringis
Satu yang kau harus mengerti
Cinta dan kekagumanku padamu tak kan berhenti

Pepasir di kakiku berbisik, gebyar samudera di depanku berisik
Melatari orkestra pesonaku padamu, wahai Sang Cantik




Tungkop, 14 Agustus 2008, ba'da subuh,
pelengkap kisah sekeping hati di dunia seberang

Friday, August 1, 2008

Rencana A

Lueng Bata, 31 Juli 2008, siang.

“Hallo, assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam (warahmatullah)”

“Apa kabar?”

“Baik, alhamdulillah.”

“Kapan pengumuman?”

“Tanggal 2.”

“Gimana perasaannya?”

“Biasa aja.”

Tunggu, barusan aku bilang ‘biasa aja’?! Oh well, aku terlalu lelah untuk berpikir lurus belakangan ini. Jelas-jelas kata-kata itu bertolak belakang dengan isi hatiku. Ah, bukan hal yang terlalu penting untuk diralat, pikirku. Biar saja, sang penelepon mengira-ngira sendiri. Aku lelah. Badanku lelah, pikiranku lelah, hatiku lelah.

Lampriek, 31 Juli 2008, sore.

“Udah lulus di mana, dek?”

“Aduh kakak, bikin tambah deg-degan aja. Belum pengumuman kak.”

Di window yahoo messenger ini lidahku tak mendustai isi hatiku. Meski demikian aku masih lelah, terlalu lelah malah.


Darussalam (di atas boncengan sebuah sepeda motor) 31 Juli 2008, magrib.

“Dek, nomor SNMPTN adek berapa?”

“1081101005. Kenapa, Kak Sisca?”

“Katanya pengumumannya udah keluar. Ni mau dicariin sama Kak Nanda. Nanti kakak hubungi lagi, ya.”

Kukira pengumumannya tanggal 2. Ah, satu lagi informasi salah bagi sang penelepon tadi siang.

Sebuah SMS masuk. Nama yang tertera di layar Nokia 3110C itu berbunyi ‘SSC_K Nanda’

“Nuril slamat yach dirimoe lulus dFK USK…kpn syukuran’a?, he..he..”

Aku menangis. Terus menangis di sajadah shalat magribku.

Tungkop, 31 Juli 2008, menjelang isya.

“Alhamdulillah didi udah lulus di ilmu komputer univ. Diponegoro Semarang.”

“Alhamdulillah, jd deh qt satu leting, Allah memperkenankan doa2 qt… Dilla n Dita biidznillah, lwt d FK USK. Nuz di Mipa Bio USK.”

Dan berjubelan lagi sms lain datang ke dalam layar Nokia 3110C ini. Siswa-siswiku lulus. Aku turut bahagia setulus-tulusnya. Aku menangis lagi.

“Rin, no spmb qe berapa?” kubalas dengan nomor SNMPTN-ku.

1 menit kemudian,

“Rin slamat ya… alhamdulillah q “LEWAT d FK unsyiah”… jgn lupa bersyukur tu, aq turut brbhgia.”

Aku terharu, bukan karena kelulusan itu. Tapi karena ia bukan orang terakhir yang menanyakan nomor itu dan mencari tahu arah jalan hidupku lewat dunia maya. Tiba-tiba lelahku hilang, banyak yang mencintaiku. Aku baru tahu itu.

“Kakak, selamat ya. Kakak lulus di FK, kan?”

“Adek?”

“Nggak lulus, kak.”

“Kak, harus coba taon depan. Mungkin masih ada harapan dengan STIS dan STAN.”

“Kakak yakin Allah adil dengan usaha yang kita kasi. Adek uda berusaha maximal, pasti akan dibalas setimpal insya Allah. Bukan dengan yang sangat baik, tapi pasti dengan yang terbaik.”

Lulus tidak lulusnya dirimu tak menentukan dewasa tidaknya dirimu, bisikku.


Tungkop, 31 Juli 2008, ba’da isya.

“Assalamu’alaikum. Lewat motivasi dan doa2 antum semua, Allah memberikan kelulusan di Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Unsyiah kepada Nuril. Terima kasih! n_n”

Tungkop, 1 Agustus 2008, jam 1 malam.

Doraemon di Nokia itu terus berteriak ada SMS. Ada beberapa yang menelepon, tak semua kuangkat.

“Ingat waktu dulu kita serung cemas dan gelisah setiap kali liat nilai TO kita yang down ya kak. Alhamdulillah, sekarang kita satu universitas. Jangan sok2 ya kak.”

Iya, aku ingat masa-masa itu. Ah, waktu cepat sekali berlalu.

Tungkop, 1 Agustus 2008, jam 8 pagi.

“So?”

“So..?”

“Udah ada keputusan?”

“Ya.”

Beurawee, 1 Agustus 2008, membuka halaman depan rencana A