Wednesday, October 22, 2008

100 tahun sudah ia tiada!

Siapa tak kenal Tjoet Njak Dhien? Pahlawan nasional yang satu ini telah membuat Aceh tersohor dengan semangat kepahlawanan yang tinggi. Lukisan Tjoet Njak Dhien sering dijumpai si ruangan-ruangan kelas SD di berbagai provinsi di Indonesia. Biasanya beliau digambarkan dengan pakaian adat Aceh dan sanggul rambut khas milik wanita Aceh terdahulu yang sering digambarkan tertutupi selembar kain kerudung. Tentu saja pemajangan di kelas-kelas itu ada objektifnya. Paling tidak anak-anak tahu bahwa pahlawan tidak selamanya laki-laki dan bahwa Aceh di sudut paling atas Sumatera itu punya andil dalam memperjuangkan keperawanan negeri dari hawa nafsu penjajah yang sempat membuat nenek moyang kita mengemisi hasil kebunnya sendiri lebih dari tiga abad lamanya.

Ya, hampir semua orang tahu Tjoet Njak Dhien. Orang Aceh mungkin akan berbusa-busa mulutnya jika menurutkan kebanggaannya dalam bernarasi tentang hebatnya Tjoet Njak Dhien dan wanita-wanita Aceh lainnya dalam mengusung perjuangan, tegarnya mereka ditinggal pergi suami-suami mereka atas nama memerangi yang bathil dan tabah serta kokohnya iman mereka ketika para suami berguguran satu per satu di medan laga. Uniknya, ketersohoran Tjoet Njak Dhien membuat beberapa orang luar Aceh mengenali pakaian adat wanita Aceh sebagai pakaiannya Tjoet Njak Dhien dari pada pakaian adatnya negeri Tjoet Njak Dhien.

Tapi apa semua orang Aceh yang tahu Tjoet Njak Dhien meneladani beliau? Apa semua yang bangga akan jerih payah dan tetesan darah beliau demi sepotong kehormatan nanggroe ini sudah meneruskan kebanggaan itu? Dan apa semua tahu, bahkan sampai kerentaan menyongsong dan pintu kematian beliau terbuka lebar, beliau masih tetap berperang?

Tidak. Tidak semua orang Aceh benar-benar meneladani beliau, tidak semua orang meneruskan kecintaan beliau dalam mempertahankan kehormatan nanggroe ini dan tidak semua orang tahu bahwa beliau selalu berperang bahkan saat sisa nafasnya sudah bisa dihitung dengan jumlah lembaran-lembaran Juz Amma.

Suami pertama Tjoet Njak Dhien bernama Teuku Ibrahim Lamnga. Saat perang Aceh meletus tahun 1873, suami Tjoet Njak Dien turut aktif di garis depan. Konsekuensinya, Teuku Ibrahim jarang berkumpul dengan istri dan anaknya. Tjoet Njak Dhien selalu mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan. Jika suaminya pulang sesekali, beliau selalu mendorong dan membakar semangat juang suaminya dan hanya membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kaum kafir Belanda. Terkadang, untuk mengobati kerinduan pada suaminya yang berada jauh di medan perang, sambil membuai sang buah hatinya, ia menyanyikan syair-syair yang menumbuhkan semangat perjuangan.

Bukankah keteguhan Tjoet Njak Dhien dalam mengartikan makna perjuangan tersirat di setiap perbuatannya? Mulai dari mengikhlaskan kepergian suaminya untuk berjuang, meninabobokan anaknya dengan syiar-syair perjuangan sampai tetap membakar semangat juang suaminya tanpa memedulikan kerinduan naluriah seorang wanita kepada kekasihnya.

Sekarang, mari bandingkan beliau dengan istri-istri produk modernisasi hari ini yang jika suaminya pergi maka ia pun ikut-ikutan pergi – tanpa izin tentunya – dan boro-boro menidurkan anaknya dengan syair-syair perjuangan, meninabobokan anaknya saja jarang karena ada banyak arisan. Bukankah perilaku Tjoet Njak Dhien di atas merupakan wujud kepahlawanan sejati dari seorang istri yang sebenarnya patut diteladani?

Tak hanya menyulut semangat kepahlawanan di rumah tangganya, Tjoet Njak Dhien juga lantang menyuarakan semangat juang di alam terbuka. Ketika Mesjid Besar Aceh (sekarang Mesjid Raya Baiturrahman, red) dibakar di tengah-tengah Perang Aceh, Tjoet Njak Dhien, dengan amarah dan semangat yang menyala-nyala berseru, “Hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala, tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda?” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perhatikan kata-kata Tjoet Njak Dhien di atas, bukankah beliau juga sedang berbicara kepada kita juga, orang-orang mukmin yang bernama orang Aceh? Dan lihatlah, mesjid-mesjid kita di mana-mana sedang ‘dibakar’ oleh kemalasan kita untuk memakmurkannya dengan ibadah. Jangankan mempertahankan kehormatan mesjid-mesjid itu jika suatu hari kita diserang oleh musuh antah-berantah dengan semangat kepahlawanan yang dimiliki oleh Tjoet Njak Dhien, bergerak dari keudee kuphie untuk memenuhi panggilan shalat magrib yang singkat itu saja kita masih malas!

Suatu hari, suaminya meninggal dalam suatu pertempuran. Tjoet Njak Dhien sama sekali tidak kehilangan pijakan, bahkan semangat juangnya semakin berkobar. Meski berstatus janda muda dengan seorang anak, Tjoet Njak Dhien tetap menggerilyai Belanda.

Pada 1878, Tjoet Njak Dhien menikah dengan Teuku Umar atas dasar ikatan berjuang fi Sabilillah. Teuku Umar kian mendapatkan dukungan. Meskipun telah menikah sebelumnya, Tjoet Njak Dien lah yang paling berpengaruh terhadap Teuku Umar. Tjoet Njak Dhienlah yang senantiasa membangkitkan semangat juangnya, mempengaruhi, mengekang tindakannya, sekaligus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Tjoet Njak Dhien sendiri juga ikut bertempur bersama suaminya; Tjoet Njak Dhien membangkitkan semangat juang dan kepahlawanan di rumah tangganya dan di medan pertempuran sekaligus, sesuatu yang sepatutnya dimiliki oleh setiap wanita mukmin yang bernama orang Aceh. Sudahkah semangat yang sama ada di tiap keluarga kita?

Dalam sebuah serangan ke Meulaboh Teuku Umar tertembak pada 11 Februari 1899. Dengan tabah dan tawakal Tjoet Njak Dien menerima berita duka ini. Sepeninggal Teuku Umar, selama enam tahun, Tjoet Njak Dien mengoordinasikan serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Segala benda berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk mengisi kas peperangan hingga putri bangsawan ini pun kian menurun kesehatannya akibat persediaan makanan yang sangat terbatas di dalam hutan, tempat selama itu ia bergerilya.

Mempertahankan kehormatan negeri dari percobaan penjajahan jihad namanya ,wajib hukumnya. Mengorbankan semua apa yang kita punya demi kelancaran perjuangan juga merupakan salah satu tuntutan dari jihad itu sendiri. Tjoet Njak Dhien telah melakukannya, dengan semangat kepahlawanan yang sebenar-benarnya. Tak peduli kebangsawanannya, tak peduli hartanya, tak peduli kesehatannya.

Lihat betapa lantang dan beraninya Tjoet Njak Dhien dalam menyebarkan benih-benih keberanian untuk berjuang dalam setiap kata-katanya! Lihat bagaimana rencongnya terhunus dan mengumumkan perang melawan penjajah! Dan lihatlah, ia seorang wanita dan ialah yang mengoordinasikan serangan! Hendak dicari di mana lagi semangat kepahlawanan serupa ini? Bukankah masih ada di antara para wanita kita yang lebih peduli tentang bedak mereka dari pada masa depan negerinya?

Hingga suatu hari perjuangannya mempertahankan negeri diuji. Seorang tangan kanannya berkhianat karena sudah tidak tahan lagi melihat Tjoet Njak Dhien menderita hidup di dalam hutan. Tjoet Njak Dhien pun ditangkap dan dibawa ke Kutaraja (sekarang Banda Aceh, red).

Bahkan dalam keadaan tangan terikat pun, wanita mulia ini masih bisa menebarkan aroma jihad ke seluruh Aceh. Penempatan Tjoet Njak Dhien di Kutaraja ternyata mengundang kedatangan para pengikutnya ke kota itu! Karena khawatir masih bisa menggerakkan semangat perjuangan Aceh, Tjoet Njak Dien akhirnya dijatuhi hukuman pengasingan ke Sumedang, Jawa Barat.

Di Sumedang, tak banyak yang mengenalinya. Selama masa tahanan hingga akhir hayatnya, ia dikenal masyarakat sebagai Ibu Perbu (Ratu). Baru pada tahun 60-an, berdasarkan keterangan dari pemerintah Belanda, baru diketahui bahwa Ibu Perbu itulah Tjoet Njak Dhien.

Ketika tiba di Sumedang, Tjoet Njak Dhien sudah tua renta dan bermata rabun. Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih dan juga sebuah periuk nasi dari tanah liat tak lekang dari tangannya. Dia datang ersama seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Teungku Nana berusia 15 tahun sebagai tahanan politik Belanda pada 11 Desember 1906. Tjoet Njak Dhien lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Bupati tak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat.

Sebagai tahanan politik, Tjoet Njak Dhien jarang keluar rumah. Meskipun demikian, banyak sekali ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang mengunjunginya, untuk belajar mengaji padanya meskipun matanya sudah rabun – karena ternyata banyak sekali ayat suci yang dihafalnya.

Memang tak lagi ia menghunus rencong melawan penjajah, tetapi lihatlah ia sedang menghunus pedang ilmunya untuk memerangi kebodohan. Bukankah ini semangat kepahlawanan yang sejati, terus berjuang memerangi ketidakadilan, kezaliman dan kebodohan dengan tiap potensi yang sudah diberikan Tuhan kepada kita?

Selain mengajar mengaji, Tjoet Njak Dhien hanyalah berdzikir dan beribadah di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Ia terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta di usia senjanya. Di antara mereka yang datang untuk belajar mengaji, banyak yang membawakan makanan atau pakaian. Hal ini selain karena mereka menaruh hormat dan simpati yang besar kepada beliau, juga karena Tjoet Njak Dhien masih tak bersedia menerima apapun yang diberikan oleh Belanda. Keadaan ini terus berlangsung hingga 6 November 1908, saat Tjoet Njak Dhien meninggal dunia.

Jika anda laki-laki, maka merasa malulah. Ini seorang wanita yang sedang kita bicarakan dan dengan berbagai keterbatasannya sebagai seorang wanita, ia masih bisa mengibarkan bendera perjuangan sejak remaja hingga di penghujung usianya!

Jika anda seorang wanita, maka ikut merasa malulah. Ini seorang wanita, bangsawan pula, yang tidak hidup dalam rumah ber-AC atau anaknya memakai popok yang baru harus diganti setelah beberapa kali buang air kecil. Ini seorang wanita yang hidup dari satu hutan ke hutan lainnya dan rela mengorbankan semua hartanya atas nama perjuangan. Ini juga seorang wanita yang tidak cengeng ditinggal berjuang oleh suaminya dan terus setia hingga suaminya pergi meninggalkannya. Ini seorang wanita yang kata-katanya pembakar semangat, yang tetap bisa mengurus anak dan suami sementara pemikirannya unggul dan bisa memimpin serangan-serangan.

Seabad sudah sejak kakinya tak lagi berpijak di bumi. Seabad sudah sejak matanya terpejam abadi. Seabad sudah sejak lisannya tak lagi menyulut api berani. Seabad sudah sejak rencongnya tinggal sendiri.

Sementara kita masih di sini, masih di atas bumi yang sama dengan tantangan yang berbeda. Seorang pahlawan tidak akan diam, ia akan terus berjuang dengan setiap kekuatan yang dimilikinya. Ada kerusakan moral, ada ketidakseimbangan sosial, ada kebodohan, ada kekurangpahaman akan agama, dan ada sedaftar panjang hal lain yang harus kita perangi. Buktikan bahwa kita juga bisa seperti Tjoet Njak Dhien, buktikan bahwa kita mewarisi kecintaannya akan negeri ini dan akan senantiasa memperjuangkan kehormatannya seperti beliau. Penuhi panggilannya sebagai mukmin bernama orang Aceh. Perangi dengan tinta, perangi dengan lisan, perangi dengan tangan, dan lalu, perangi dengan doa! (Real, dari berbagai sumber)


*sebenarnya ini buat buletin d'zero FLP NAD edisi OKtober-NOvember (promosiiii promosiiiiii) tapi gpp deh....hehehe...mau sharing aja :D

Tuesday, October 21, 2008

Antara Aku dan Ari

Saya bukan penonton TV yang baik. Jika remote sudah berada di tangan saya, biasanya yang akan saya lakukan adalah menekan tombol-tombol channel ke atas dan ke bawah; mengganti-ganti sekedar ingin melihat pertukaran warna secara kilat di layar tv saja. Biasanya saya akan berhenti jika ada iklan komersial yang menarik. Ya, saya lebih suka menonton iklan dan meneliti berbagai pesan yang ingin disampaikan, mirip dengan kritik sastra yang sering saya lakukan semasa SMA dulu di Melbourne sih.
Suatu sore, tanggal 20 Oktober 2008, seperti biasa saya nukar-nukar channel. Benar-benar tidak peduli. Sampai akhirnya mata saya terhipnotis oleh sebuah scene.
Tumben saluran TV ini menampilkan sesuatu yang menarik perhatian saya. Lebih dari sering saya justru muak dengan acara-acara (lebih tepatnya sinetron) yang mereka tampilkan. Semuanya berbau ‘cinderellaisme’, semuanya memotret kehidupan gadis miskin dan pria kaya dan asmara di antara keduanya dan bla bla bla, ga penting banget deh buat dibahas.
Tapi apa yang saya lihat sore itu melelehkan sebongkah es dalam mataku. Benar-benar memecah karang keangkuhan, meluluhlantakkan benteng kesombongan.
Seorang anak laki-laki yang mungkin seusia adik bungsu saya yang masih kelas 2 SD, dengan kulit bersisik seperti biawak dari ujung kepala sampai ujung jari-jari kaki, ya, semuanya bersisik! Saya sempat bergidik.
Namanya Ari. Di layar TV-ku, ia sedang menangis, sangat pilu, tanpa pakaian bagian atas sehingga bisa kulihat setiap jengkal sisiknya. Tangis pilu di Jalan Palem Indah, RT 7/1 No.66, Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang itu tak butuh waktu lama membuatku melakukan hal yang sama di Aceh.
Kulit tubuhnya tak seperti anak seusianya. Terlihat kasar dan pecah-pecah. Hampir menyerupai batang kayu. Mulai kepala hingga ujung kaki. Ari mengalami kelainan kulit itu sejak lahir. Kepalanya terkesan plontos. Tapi bukan tak ada rambut, hanya memang rambut tak mampu berdiri tegak di kepalanya. Kulitnya yang pecah-pecah menyerupai kayu. Tak bisa digerakan sedikit pun. Bahkan kelopak mata tak bisa dipejamkan saat kaku menyerang kulit. Untuk mengembalikan kelenturan kulit, dikatakan harus melumuri tubuh Ari dengan salep kulit. Itu dilakukan setiap habis mandi. Dalam sehari perlu dimandikan sebanyak tiga kali. Atau jika tak ada salap, Ari, tiap kali merasa kulitnya mengering dan menimbulkan rasa sakit dan nyeri, akan segera menyiramkan air ke sekujur tubuhnya. Kata kakeknya, bahkan kadang-kadang Ari akan membasahi tubuhnya berkali-kali dalam waktu kurang dari setengah jam.
Tak ada SD yang ingin menerimanya. Padahal kata seorang dokter ahli kulit di acara tersebut, kelainan itu genetik, tidak menular. Tetapi tetap saja masyarakat terlalu jijik dengan keadaannya. Kecuali seorang ustadzah muda yang sudi mengajarinya mengaji dan mengenalkan huruf-huruf kepadanya.
Tepat di bagian ketika Ari terseok-seok berjalan karena jari kakinya tumbuh tidak sempurna, lengkap dengan baju koko dan peci putihnya, membaca ‘A – Ba – Ta’, aku luruh dari egoku.
Seorang Ari masih semangat belajar. Seorang Ari masih semangat mengaji. Sementara aku, dan bahkan kita semua masih sering menyia-nyiakan kesehatan ini dan mungkin bolong-bolong tilawahnya.
Adegan selanjutnya, lebih miris. Ari berkata, “Ari mau jadi tentara waktu besar.”
Semua orang memang bisa bermimpi, dan mimpi itu tak berbatas. Dalam mimpi seorang pengemis bisa menjadi Menteri Kesejahtraan, dalam mimpi seorang Susan bisa menjadi seorang dokter, dalam mimpi seorang anak TK bisa menjadi seorang artis terkenal.
Tetapi bagaimana dengan Ari? Bahkan untuk bermimpi saja ia sering tak bisa; malam-malamnya diisi dengan erangan kesakitan karena kulitnya mengering dan minta terus-terusan dibasahi.
Di mana orang tuanya? Tak tahu. Mereka menitipkan Ari ke kakek-neneknya sejak kecil. Mereka tak ada, dengan alasan mencari nafkah. Entah apa pekerjaan mereka, mereka tak pernah pulang menjemput Ari ke rumah baru hasil nafkah yang selama ini mereka cari.
Selanjutnya, kelihatan mengapa saya membenci saluran TV ini. Sebuah kenyataan di masa lampau terangkat. Konon, katanya ibunya sering mengikat biawak di rumah semasa kehamilan Ari. Kalau bepergian selalu dibawa-bawa, bahkan ada yang dibiarkan mati di empang. Dan mulailah acara tersebut menghubung-hubungkan antara kenyataan di masa lampau itu dengan ‘karma’ yang mungkin menimpa Ari.
Ah, memang sudah takdir Allah, bisikku. Ari tak pernah kena karma, Ari lahir seperti kertas putih tak bernoda.
Di akhir acara, Ari menangis lagi. Ia berbisik lirih, “Ibu, Bapak…Ari rindu sama Ibu dan Bapak.”
Tiba-tiba aku sadar, ayah dan ibuku sedang tak ada di rumah.




Tungkop, 20 Oktober 2008, 16.30 WIB

Friday, October 10, 2008

CURHAT... ada masukan?

assalamu'alaikum MP'ers...uda lama ga ngempi nih.....

sibuk kuliah.....
sibuk latihan dengan Ceudah (tim nasyidku)...
sibuk bersih2 rumah....
sibuk mikir....
yah,
yang terakhir itu yang bikin saya makin menghindar dari dunia maya....


SIBUK MIKIR.



judul curhatan saya itu,
SIBUK MIKIR.




ya, saya berusia 18 tahun. perempuan. ga cacat lahir batin alhamdulillah.
uda mulai kuliah, kedokteran lagi (beberapa bilang gini, "wooooooowwwwww")
uda mulai kerja di usia 17, jadi tentor di SSC cabang Banda Aceh, guru di Lab School Unsyiah, freelance translator di beberapa NGO, dll,
sejarah keorganisasian saya cukup mendukung CV melamar kerja,
banyak yang bilang saya mirip Neno Warisman,
dan bersikap lebih dewasa untuk yang seusia saya,
saya selalu disuap untuk memahami diri saya seperti itu, hingga suatu hari seseorang berkata,


"ternyata untuk suatu hal, kamu masih sangat seperti anak-anak ya, Dek..."

apa itu 'suatu hal' yang sang pembicara katakan di atas?
mari saya eja katanya;
huruf pertamanya C
huruf keduanya I
huruf ketiganya N
hufur keempatnya T
huruf kelimanya A

kalau digabung jadi C-I-N-T-A, cinta, CiNtA, CINTA....

pernah saya berkenalan dengan seseorang lelaki di dunia maya yang kebetulan sedang bersekolah di luar negeri dan hubungan itu berkembang terus dan terus hingga bahkan di ebberapa waktu saya rasa cukup emosional. bagaimana bisa emosional? karena memang kebetulan saya waktu itu juga sedang bersekolah di Australia, menyelesaikan SMA saya atas nama beasiswa juga sehingga banyak suka duka merantau yang kami bagi bersama dalam komunikasi kami. plus kami sama-sama dari Aceh, jadilah kadang2 mengenang kampung halaman bersama untuk mengusir rindu rumah alias homesick.

setahun, ya setahun berjalan hingga aku mulai sadar bahwa ada virus-virus merah jambu yang muncul dalam hatiku, bahwa aku mengharapkan yang lebih darinya, bahwa aku seperti menemukan kepingan puzzle yang lama menghilang...

tidak, bukan setelah setahun kami kenal perasaan itu muncul, tetapi SELAMA setahun kami kenal. ya, virus-virus merah jambu itu TUMBUH bukan NUMPLEK dari pohon asam dekat rumahku.

lama-lama aku mulai tidak nyaman, awalnya sedikit tidak nyaman, lama-lama jadi lebih tidak nyaman dan akhirnya sangat amat tidak nyaman. komunikasi kami tetap lancar; sms, chatting, telepon, email dan ya, bahkan kartu pos. hal ini justru membuatku makin merasa membohongi sebuah janji di masa lalu.

bagaimana dari pihak sang lelaki? sampai saat ini saya tidak tahu apa yang dia rasakan kepada saya.

hingga akhirnya ia pulang kembali ke aceh untuk musim panas. tiba-tiba 'ketidaknyamanan' itu memuncak dan plek, aku tiba-tiba kalap. kujawab smsnya singkat2, kubiarkan saja telepon genggamku berdering jika namanya yang tertera di layarnya dan ah, banyak hal yang tiba-tiba terasa 180 derajat berbeda dengan apa yang pernah kurasakan kepadanya.

hingga aku mendengar kabar bahwa ia sudah memiliki belahan hati di suatu tempat yang lain. meski itu kabar burung, aku tidak mempersoalkan kebenaran berita itu,

aku hanya menangis sambil tertawa dan melamun,
menangis karena tiba-tiba harapanku kandas
tertawa karena aku begitu terseret arus virus merah jambuku tanpa logika,
melamun karena aku merasa telah terlalu GR selama ini dan karena aku hampir melanggar janjiku di masa silam itu.


hingga ada seorang lelaki lain yang aku kenal lewat dunia maya juga, datang menanyakan kesediaanku untuk ditunggunya suatu hari nanti, siapa tahu, aku bisa melengkapi separuh dinnya,

sebenarnya bisa saja kukatakan "ya", gampang, perasaan bisa ditumbuhkan.
tapi entah kenapa aku berbelit-belit menyampaikan jawaban, dibillang gantung bukan, dibilang jelas bukan, pokoknya untuk mengakhiri semua, aku mengatakan "Tidak"

ada lagi seorang lelaki rekan kerjaku yang sempat bertanya, "Nuril asalnya dari mana?"
aku menjawab, "Padang Tijie. Abang?"
"OOhhh...insya Allah Padang Tijie juga" sambil tersenyum ia menjawab seperti itu.
semua orang di situ sudah senyum-senyum sementara aku bingung sendirian.


sebenarnya, di tiga skenario di atas,
ada hal-hal yang berkaitan erat dengan sebuah janjiku di masa silam.
1. dengan yang di luar negeri, sebenarnya saya bisa saja menanyakan perasaannya kepada saya. syukur-syukur kalau dia tidak ikut-ikutan terjangkit virus merah jambu. kalau iya? ini dia masalahnya. saya tidak mau pacaran sementara saya tidak sanggup untuk menikah sekarang.

2. dengan yang menanyakan kesediaan saya, jujur saya agak kurang nyaman dengan pertanyaan berupa "boleh ditunggu?" karena kesannya tetap tidak berupa kepastian. plus saya tahu sebuah kisah tentangnya dan seorang teman dekat saya di masa lampau yang saat itu masih mengganggu saya. (buat yang merasa diomongin, sorry ya, ga maksud ngungkit2 masa lalu, cuma untuk bahan renungan aja sedikit)

3. dengan rekan kerja itu, saya sebenarnya pura-pura bingung. tidak berusaha nangkap kesan-kesan merah jambu apapun.


kesimpulannya sebenarnya adalah:
SAYA MEMANG MASIH SANGAT KECIL DALAM HAL CINTA. saya akui sikap saya menarik diri drastis dari peredaran dengan yang di skenario pertama itu kekanak-kanakan, dan jika itu membuat banyak praduga yang tidak mengenakkan, saya minta maaf sebesar-besarnya (saya yakin yang sedang saya bicarakan di sini akan tahu sedang dibicarakan tanpa saya harus sebut namanya)

tapi justru saat-saat itu saya belajar bahwa itu kekanak-kanakan dan itu karena memang saya masih kekanak-kanakan. saya sudah belajar untuk menutup pintu hati untuk virus-virus merah jambu itu kepada anda, jadi saya mohon maafkan saya atas silap yang pernah saya lakukan walaupun komunikasi kita sudah sangat jarang sekarang.

buat yang ada di skenario kedua, saya mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, anda telah membuka mata saya untuk memahami arti metamorfosis kehidupan; tak akan ada kupu-kupu tanpa ada ulat. larva dan kepompong terlebih dahulu. jika satu tahap dilewati maka metamorfosis tak akan sempurna. ya, saya memang harus belajar banyak sebelum bisa jadi kupu-kupu. tak boleh langsung terbang tanpa belajar merayap...

buat yang di skenario ketiga, no comment.

sekarang? alhamdulillah saya berhasil melewati fase-fase kelabu itu dan saya benar-benar merasa bebas untuk mengepakkan sayap saya lagi.


pasti ada yang bingung tentang janji di masa silam itu.
janji itu pernah saya ucapkan di sebuah rumah Allah di kawasan Gegerkalong, Bandung, tepatnya di komplek Daarut-tauhid. selesai dari salah satu tarawih ramadan itu, saya, yang sedang menahan merebaknya virus merah jambu kepada seorang teman sekelas yang mengenalkan saya kepada nasyid hingga akhirnya saya mencoba belajar lebih banyak tentang Islam dan memutuskan untuk hijrah, berjanji,

"Ya Allah, aku tak akan membiarkan lidah ini mengutarakan cinta kepada siapapun kecuali kepada Engkau, Rasulmu, guru-guruku, orang tuaku, saudari-saudariku, sahabat-sahabat perempuanku dan kepada orang-orang yanag sesuai di jalan-Mu....dan Rabb, tahan lidah ini jika hendak mengutarakan cinta yang merah jambu kepada seorang pria sebelum ijab qabul, sebelum aku boleh memegang tangannya. Rabb, aku ingin bersih dari itu semua, aku ingin menyimpan cintaku hanya kepada satu orang dan aku ingin suatu hari ketika aku menjumpainya aku bisa berkata, "kau tahu, banyak cinta yang kutepis dalam hidupku karena aku dari dulu menunggumu dan mencintaimu dan aku sudah setia dari dulu..."





n.b.:
maaf jika entry blog ini terkesan muluk (tapi inilah adanya)
maaf jika ada pihak-pihak tertentu yang ikut-ikutan terbawa
maaf jika kesannya saya menghiba,
maaf...karena saya benar-benar tak tahu harus menceritakan ini kepada siapa-siapa yang lain...




Darussalam, 9 Oktober 2008