Wednesday, October 22, 2008

100 tahun sudah ia tiada!

Siapa tak kenal Tjoet Njak Dhien? Pahlawan nasional yang satu ini telah membuat Aceh tersohor dengan semangat kepahlawanan yang tinggi. Lukisan Tjoet Njak Dhien sering dijumpai si ruangan-ruangan kelas SD di berbagai provinsi di Indonesia. Biasanya beliau digambarkan dengan pakaian adat Aceh dan sanggul rambut khas milik wanita Aceh terdahulu yang sering digambarkan tertutupi selembar kain kerudung. Tentu saja pemajangan di kelas-kelas itu ada objektifnya. Paling tidak anak-anak tahu bahwa pahlawan tidak selamanya laki-laki dan bahwa Aceh di sudut paling atas Sumatera itu punya andil dalam memperjuangkan keperawanan negeri dari hawa nafsu penjajah yang sempat membuat nenek moyang kita mengemisi hasil kebunnya sendiri lebih dari tiga abad lamanya.

Ya, hampir semua orang tahu Tjoet Njak Dhien. Orang Aceh mungkin akan berbusa-busa mulutnya jika menurutkan kebanggaannya dalam bernarasi tentang hebatnya Tjoet Njak Dhien dan wanita-wanita Aceh lainnya dalam mengusung perjuangan, tegarnya mereka ditinggal pergi suami-suami mereka atas nama memerangi yang bathil dan tabah serta kokohnya iman mereka ketika para suami berguguran satu per satu di medan laga. Uniknya, ketersohoran Tjoet Njak Dhien membuat beberapa orang luar Aceh mengenali pakaian adat wanita Aceh sebagai pakaiannya Tjoet Njak Dhien dari pada pakaian adatnya negeri Tjoet Njak Dhien.

Tapi apa semua orang Aceh yang tahu Tjoet Njak Dhien meneladani beliau? Apa semua yang bangga akan jerih payah dan tetesan darah beliau demi sepotong kehormatan nanggroe ini sudah meneruskan kebanggaan itu? Dan apa semua tahu, bahkan sampai kerentaan menyongsong dan pintu kematian beliau terbuka lebar, beliau masih tetap berperang?

Tidak. Tidak semua orang Aceh benar-benar meneladani beliau, tidak semua orang meneruskan kecintaan beliau dalam mempertahankan kehormatan nanggroe ini dan tidak semua orang tahu bahwa beliau selalu berperang bahkan saat sisa nafasnya sudah bisa dihitung dengan jumlah lembaran-lembaran Juz Amma.

Suami pertama Tjoet Njak Dhien bernama Teuku Ibrahim Lamnga. Saat perang Aceh meletus tahun 1873, suami Tjoet Njak Dien turut aktif di garis depan. Konsekuensinya, Teuku Ibrahim jarang berkumpul dengan istri dan anaknya. Tjoet Njak Dhien selalu mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan. Jika suaminya pulang sesekali, beliau selalu mendorong dan membakar semangat juang suaminya dan hanya membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kaum kafir Belanda. Terkadang, untuk mengobati kerinduan pada suaminya yang berada jauh di medan perang, sambil membuai sang buah hatinya, ia menyanyikan syair-syair yang menumbuhkan semangat perjuangan.

Bukankah keteguhan Tjoet Njak Dhien dalam mengartikan makna perjuangan tersirat di setiap perbuatannya? Mulai dari mengikhlaskan kepergian suaminya untuk berjuang, meninabobokan anaknya dengan syiar-syair perjuangan sampai tetap membakar semangat juang suaminya tanpa memedulikan kerinduan naluriah seorang wanita kepada kekasihnya.

Sekarang, mari bandingkan beliau dengan istri-istri produk modernisasi hari ini yang jika suaminya pergi maka ia pun ikut-ikutan pergi – tanpa izin tentunya – dan boro-boro menidurkan anaknya dengan syair-syair perjuangan, meninabobokan anaknya saja jarang karena ada banyak arisan. Bukankah perilaku Tjoet Njak Dhien di atas merupakan wujud kepahlawanan sejati dari seorang istri yang sebenarnya patut diteladani?

Tak hanya menyulut semangat kepahlawanan di rumah tangganya, Tjoet Njak Dhien juga lantang menyuarakan semangat juang di alam terbuka. Ketika Mesjid Besar Aceh (sekarang Mesjid Raya Baiturrahman, red) dibakar di tengah-tengah Perang Aceh, Tjoet Njak Dhien, dengan amarah dan semangat yang menyala-nyala berseru, “Hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala, tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda?” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perhatikan kata-kata Tjoet Njak Dhien di atas, bukankah beliau juga sedang berbicara kepada kita juga, orang-orang mukmin yang bernama orang Aceh? Dan lihatlah, mesjid-mesjid kita di mana-mana sedang ‘dibakar’ oleh kemalasan kita untuk memakmurkannya dengan ibadah. Jangankan mempertahankan kehormatan mesjid-mesjid itu jika suatu hari kita diserang oleh musuh antah-berantah dengan semangat kepahlawanan yang dimiliki oleh Tjoet Njak Dhien, bergerak dari keudee kuphie untuk memenuhi panggilan shalat magrib yang singkat itu saja kita masih malas!

Suatu hari, suaminya meninggal dalam suatu pertempuran. Tjoet Njak Dhien sama sekali tidak kehilangan pijakan, bahkan semangat juangnya semakin berkobar. Meski berstatus janda muda dengan seorang anak, Tjoet Njak Dhien tetap menggerilyai Belanda.

Pada 1878, Tjoet Njak Dhien menikah dengan Teuku Umar atas dasar ikatan berjuang fi Sabilillah. Teuku Umar kian mendapatkan dukungan. Meskipun telah menikah sebelumnya, Tjoet Njak Dien lah yang paling berpengaruh terhadap Teuku Umar. Tjoet Njak Dhienlah yang senantiasa membangkitkan semangat juangnya, mempengaruhi, mengekang tindakannya, sekaligus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Tjoet Njak Dhien sendiri juga ikut bertempur bersama suaminya; Tjoet Njak Dhien membangkitkan semangat juang dan kepahlawanan di rumah tangganya dan di medan pertempuran sekaligus, sesuatu yang sepatutnya dimiliki oleh setiap wanita mukmin yang bernama orang Aceh. Sudahkah semangat yang sama ada di tiap keluarga kita?

Dalam sebuah serangan ke Meulaboh Teuku Umar tertembak pada 11 Februari 1899. Dengan tabah dan tawakal Tjoet Njak Dien menerima berita duka ini. Sepeninggal Teuku Umar, selama enam tahun, Tjoet Njak Dien mengoordinasikan serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Segala benda berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk mengisi kas peperangan hingga putri bangsawan ini pun kian menurun kesehatannya akibat persediaan makanan yang sangat terbatas di dalam hutan, tempat selama itu ia bergerilya.

Mempertahankan kehormatan negeri dari percobaan penjajahan jihad namanya ,wajib hukumnya. Mengorbankan semua apa yang kita punya demi kelancaran perjuangan juga merupakan salah satu tuntutan dari jihad itu sendiri. Tjoet Njak Dhien telah melakukannya, dengan semangat kepahlawanan yang sebenar-benarnya. Tak peduli kebangsawanannya, tak peduli hartanya, tak peduli kesehatannya.

Lihat betapa lantang dan beraninya Tjoet Njak Dhien dalam menyebarkan benih-benih keberanian untuk berjuang dalam setiap kata-katanya! Lihat bagaimana rencongnya terhunus dan mengumumkan perang melawan penjajah! Dan lihatlah, ia seorang wanita dan ialah yang mengoordinasikan serangan! Hendak dicari di mana lagi semangat kepahlawanan serupa ini? Bukankah masih ada di antara para wanita kita yang lebih peduli tentang bedak mereka dari pada masa depan negerinya?

Hingga suatu hari perjuangannya mempertahankan negeri diuji. Seorang tangan kanannya berkhianat karena sudah tidak tahan lagi melihat Tjoet Njak Dhien menderita hidup di dalam hutan. Tjoet Njak Dhien pun ditangkap dan dibawa ke Kutaraja (sekarang Banda Aceh, red).

Bahkan dalam keadaan tangan terikat pun, wanita mulia ini masih bisa menebarkan aroma jihad ke seluruh Aceh. Penempatan Tjoet Njak Dhien di Kutaraja ternyata mengundang kedatangan para pengikutnya ke kota itu! Karena khawatir masih bisa menggerakkan semangat perjuangan Aceh, Tjoet Njak Dien akhirnya dijatuhi hukuman pengasingan ke Sumedang, Jawa Barat.

Di Sumedang, tak banyak yang mengenalinya. Selama masa tahanan hingga akhir hayatnya, ia dikenal masyarakat sebagai Ibu Perbu (Ratu). Baru pada tahun 60-an, berdasarkan keterangan dari pemerintah Belanda, baru diketahui bahwa Ibu Perbu itulah Tjoet Njak Dhien.

Ketika tiba di Sumedang, Tjoet Njak Dhien sudah tua renta dan bermata rabun. Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih dan juga sebuah periuk nasi dari tanah liat tak lekang dari tangannya. Dia datang ersama seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Teungku Nana berusia 15 tahun sebagai tahanan politik Belanda pada 11 Desember 1906. Tjoet Njak Dhien lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Bupati tak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat.

Sebagai tahanan politik, Tjoet Njak Dhien jarang keluar rumah. Meskipun demikian, banyak sekali ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang mengunjunginya, untuk belajar mengaji padanya meskipun matanya sudah rabun – karena ternyata banyak sekali ayat suci yang dihafalnya.

Memang tak lagi ia menghunus rencong melawan penjajah, tetapi lihatlah ia sedang menghunus pedang ilmunya untuk memerangi kebodohan. Bukankah ini semangat kepahlawanan yang sejati, terus berjuang memerangi ketidakadilan, kezaliman dan kebodohan dengan tiap potensi yang sudah diberikan Tuhan kepada kita?

Selain mengajar mengaji, Tjoet Njak Dhien hanyalah berdzikir dan beribadah di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Ia terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta di usia senjanya. Di antara mereka yang datang untuk belajar mengaji, banyak yang membawakan makanan atau pakaian. Hal ini selain karena mereka menaruh hormat dan simpati yang besar kepada beliau, juga karena Tjoet Njak Dhien masih tak bersedia menerima apapun yang diberikan oleh Belanda. Keadaan ini terus berlangsung hingga 6 November 1908, saat Tjoet Njak Dhien meninggal dunia.

Jika anda laki-laki, maka merasa malulah. Ini seorang wanita yang sedang kita bicarakan dan dengan berbagai keterbatasannya sebagai seorang wanita, ia masih bisa mengibarkan bendera perjuangan sejak remaja hingga di penghujung usianya!

Jika anda seorang wanita, maka ikut merasa malulah. Ini seorang wanita, bangsawan pula, yang tidak hidup dalam rumah ber-AC atau anaknya memakai popok yang baru harus diganti setelah beberapa kali buang air kecil. Ini seorang wanita yang hidup dari satu hutan ke hutan lainnya dan rela mengorbankan semua hartanya atas nama perjuangan. Ini juga seorang wanita yang tidak cengeng ditinggal berjuang oleh suaminya dan terus setia hingga suaminya pergi meninggalkannya. Ini seorang wanita yang kata-katanya pembakar semangat, yang tetap bisa mengurus anak dan suami sementara pemikirannya unggul dan bisa memimpin serangan-serangan.

Seabad sudah sejak kakinya tak lagi berpijak di bumi. Seabad sudah sejak matanya terpejam abadi. Seabad sudah sejak lisannya tak lagi menyulut api berani. Seabad sudah sejak rencongnya tinggal sendiri.

Sementara kita masih di sini, masih di atas bumi yang sama dengan tantangan yang berbeda. Seorang pahlawan tidak akan diam, ia akan terus berjuang dengan setiap kekuatan yang dimilikinya. Ada kerusakan moral, ada ketidakseimbangan sosial, ada kebodohan, ada kekurangpahaman akan agama, dan ada sedaftar panjang hal lain yang harus kita perangi. Buktikan bahwa kita juga bisa seperti Tjoet Njak Dhien, buktikan bahwa kita mewarisi kecintaannya akan negeri ini dan akan senantiasa memperjuangkan kehormatannya seperti beliau. Penuhi panggilannya sebagai mukmin bernama orang Aceh. Perangi dengan tinta, perangi dengan lisan, perangi dengan tangan, dan lalu, perangi dengan doa! (Real, dari berbagai sumber)


*sebenarnya ini buat buletin d'zero FLP NAD edisi OKtober-NOvember (promosiiii promosiiiiii) tapi gpp deh....hehehe...mau sharing aja :D

No comments:

Post a Comment