Tuesday, October 21, 2008

Antara Aku dan Ari

Saya bukan penonton TV yang baik. Jika remote sudah berada di tangan saya, biasanya yang akan saya lakukan adalah menekan tombol-tombol channel ke atas dan ke bawah; mengganti-ganti sekedar ingin melihat pertukaran warna secara kilat di layar tv saja. Biasanya saya akan berhenti jika ada iklan komersial yang menarik. Ya, saya lebih suka menonton iklan dan meneliti berbagai pesan yang ingin disampaikan, mirip dengan kritik sastra yang sering saya lakukan semasa SMA dulu di Melbourne sih.
Suatu sore, tanggal 20 Oktober 2008, seperti biasa saya nukar-nukar channel. Benar-benar tidak peduli. Sampai akhirnya mata saya terhipnotis oleh sebuah scene.
Tumben saluran TV ini menampilkan sesuatu yang menarik perhatian saya. Lebih dari sering saya justru muak dengan acara-acara (lebih tepatnya sinetron) yang mereka tampilkan. Semuanya berbau ‘cinderellaisme’, semuanya memotret kehidupan gadis miskin dan pria kaya dan asmara di antara keduanya dan bla bla bla, ga penting banget deh buat dibahas.
Tapi apa yang saya lihat sore itu melelehkan sebongkah es dalam mataku. Benar-benar memecah karang keangkuhan, meluluhlantakkan benteng kesombongan.
Seorang anak laki-laki yang mungkin seusia adik bungsu saya yang masih kelas 2 SD, dengan kulit bersisik seperti biawak dari ujung kepala sampai ujung jari-jari kaki, ya, semuanya bersisik! Saya sempat bergidik.
Namanya Ari. Di layar TV-ku, ia sedang menangis, sangat pilu, tanpa pakaian bagian atas sehingga bisa kulihat setiap jengkal sisiknya. Tangis pilu di Jalan Palem Indah, RT 7/1 No.66, Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang itu tak butuh waktu lama membuatku melakukan hal yang sama di Aceh.
Kulit tubuhnya tak seperti anak seusianya. Terlihat kasar dan pecah-pecah. Hampir menyerupai batang kayu. Mulai kepala hingga ujung kaki. Ari mengalami kelainan kulit itu sejak lahir. Kepalanya terkesan plontos. Tapi bukan tak ada rambut, hanya memang rambut tak mampu berdiri tegak di kepalanya. Kulitnya yang pecah-pecah menyerupai kayu. Tak bisa digerakan sedikit pun. Bahkan kelopak mata tak bisa dipejamkan saat kaku menyerang kulit. Untuk mengembalikan kelenturan kulit, dikatakan harus melumuri tubuh Ari dengan salep kulit. Itu dilakukan setiap habis mandi. Dalam sehari perlu dimandikan sebanyak tiga kali. Atau jika tak ada salap, Ari, tiap kali merasa kulitnya mengering dan menimbulkan rasa sakit dan nyeri, akan segera menyiramkan air ke sekujur tubuhnya. Kata kakeknya, bahkan kadang-kadang Ari akan membasahi tubuhnya berkali-kali dalam waktu kurang dari setengah jam.
Tak ada SD yang ingin menerimanya. Padahal kata seorang dokter ahli kulit di acara tersebut, kelainan itu genetik, tidak menular. Tetapi tetap saja masyarakat terlalu jijik dengan keadaannya. Kecuali seorang ustadzah muda yang sudi mengajarinya mengaji dan mengenalkan huruf-huruf kepadanya.
Tepat di bagian ketika Ari terseok-seok berjalan karena jari kakinya tumbuh tidak sempurna, lengkap dengan baju koko dan peci putihnya, membaca ‘A – Ba – Ta’, aku luruh dari egoku.
Seorang Ari masih semangat belajar. Seorang Ari masih semangat mengaji. Sementara aku, dan bahkan kita semua masih sering menyia-nyiakan kesehatan ini dan mungkin bolong-bolong tilawahnya.
Adegan selanjutnya, lebih miris. Ari berkata, “Ari mau jadi tentara waktu besar.”
Semua orang memang bisa bermimpi, dan mimpi itu tak berbatas. Dalam mimpi seorang pengemis bisa menjadi Menteri Kesejahtraan, dalam mimpi seorang Susan bisa menjadi seorang dokter, dalam mimpi seorang anak TK bisa menjadi seorang artis terkenal.
Tetapi bagaimana dengan Ari? Bahkan untuk bermimpi saja ia sering tak bisa; malam-malamnya diisi dengan erangan kesakitan karena kulitnya mengering dan minta terus-terusan dibasahi.
Di mana orang tuanya? Tak tahu. Mereka menitipkan Ari ke kakek-neneknya sejak kecil. Mereka tak ada, dengan alasan mencari nafkah. Entah apa pekerjaan mereka, mereka tak pernah pulang menjemput Ari ke rumah baru hasil nafkah yang selama ini mereka cari.
Selanjutnya, kelihatan mengapa saya membenci saluran TV ini. Sebuah kenyataan di masa lampau terangkat. Konon, katanya ibunya sering mengikat biawak di rumah semasa kehamilan Ari. Kalau bepergian selalu dibawa-bawa, bahkan ada yang dibiarkan mati di empang. Dan mulailah acara tersebut menghubung-hubungkan antara kenyataan di masa lampau itu dengan ‘karma’ yang mungkin menimpa Ari.
Ah, memang sudah takdir Allah, bisikku. Ari tak pernah kena karma, Ari lahir seperti kertas putih tak bernoda.
Di akhir acara, Ari menangis lagi. Ia berbisik lirih, “Ibu, Bapak…Ari rindu sama Ibu dan Bapak.”
Tiba-tiba aku sadar, ayah dan ibuku sedang tak ada di rumah.




Tungkop, 20 Oktober 2008, 16.30 WIB

No comments:

Post a Comment