Friday, October 10, 2008

CURHAT... ada masukan?

assalamu'alaikum MP'ers...uda lama ga ngempi nih.....

sibuk kuliah.....
sibuk latihan dengan Ceudah (tim nasyidku)...
sibuk bersih2 rumah....
sibuk mikir....
yah,
yang terakhir itu yang bikin saya makin menghindar dari dunia maya....


SIBUK MIKIR.



judul curhatan saya itu,
SIBUK MIKIR.




ya, saya berusia 18 tahun. perempuan. ga cacat lahir batin alhamdulillah.
uda mulai kuliah, kedokteran lagi (beberapa bilang gini, "wooooooowwwwww")
uda mulai kerja di usia 17, jadi tentor di SSC cabang Banda Aceh, guru di Lab School Unsyiah, freelance translator di beberapa NGO, dll,
sejarah keorganisasian saya cukup mendukung CV melamar kerja,
banyak yang bilang saya mirip Neno Warisman,
dan bersikap lebih dewasa untuk yang seusia saya,
saya selalu disuap untuk memahami diri saya seperti itu, hingga suatu hari seseorang berkata,


"ternyata untuk suatu hal, kamu masih sangat seperti anak-anak ya, Dek..."

apa itu 'suatu hal' yang sang pembicara katakan di atas?
mari saya eja katanya;
huruf pertamanya C
huruf keduanya I
huruf ketiganya N
hufur keempatnya T
huruf kelimanya A

kalau digabung jadi C-I-N-T-A, cinta, CiNtA, CINTA....

pernah saya berkenalan dengan seseorang lelaki di dunia maya yang kebetulan sedang bersekolah di luar negeri dan hubungan itu berkembang terus dan terus hingga bahkan di ebberapa waktu saya rasa cukup emosional. bagaimana bisa emosional? karena memang kebetulan saya waktu itu juga sedang bersekolah di Australia, menyelesaikan SMA saya atas nama beasiswa juga sehingga banyak suka duka merantau yang kami bagi bersama dalam komunikasi kami. plus kami sama-sama dari Aceh, jadilah kadang2 mengenang kampung halaman bersama untuk mengusir rindu rumah alias homesick.

setahun, ya setahun berjalan hingga aku mulai sadar bahwa ada virus-virus merah jambu yang muncul dalam hatiku, bahwa aku mengharapkan yang lebih darinya, bahwa aku seperti menemukan kepingan puzzle yang lama menghilang...

tidak, bukan setelah setahun kami kenal perasaan itu muncul, tetapi SELAMA setahun kami kenal. ya, virus-virus merah jambu itu TUMBUH bukan NUMPLEK dari pohon asam dekat rumahku.

lama-lama aku mulai tidak nyaman, awalnya sedikit tidak nyaman, lama-lama jadi lebih tidak nyaman dan akhirnya sangat amat tidak nyaman. komunikasi kami tetap lancar; sms, chatting, telepon, email dan ya, bahkan kartu pos. hal ini justru membuatku makin merasa membohongi sebuah janji di masa lalu.

bagaimana dari pihak sang lelaki? sampai saat ini saya tidak tahu apa yang dia rasakan kepada saya.

hingga akhirnya ia pulang kembali ke aceh untuk musim panas. tiba-tiba 'ketidaknyamanan' itu memuncak dan plek, aku tiba-tiba kalap. kujawab smsnya singkat2, kubiarkan saja telepon genggamku berdering jika namanya yang tertera di layarnya dan ah, banyak hal yang tiba-tiba terasa 180 derajat berbeda dengan apa yang pernah kurasakan kepadanya.

hingga aku mendengar kabar bahwa ia sudah memiliki belahan hati di suatu tempat yang lain. meski itu kabar burung, aku tidak mempersoalkan kebenaran berita itu,

aku hanya menangis sambil tertawa dan melamun,
menangis karena tiba-tiba harapanku kandas
tertawa karena aku begitu terseret arus virus merah jambuku tanpa logika,
melamun karena aku merasa telah terlalu GR selama ini dan karena aku hampir melanggar janjiku di masa silam itu.


hingga ada seorang lelaki lain yang aku kenal lewat dunia maya juga, datang menanyakan kesediaanku untuk ditunggunya suatu hari nanti, siapa tahu, aku bisa melengkapi separuh dinnya,

sebenarnya bisa saja kukatakan "ya", gampang, perasaan bisa ditumbuhkan.
tapi entah kenapa aku berbelit-belit menyampaikan jawaban, dibillang gantung bukan, dibilang jelas bukan, pokoknya untuk mengakhiri semua, aku mengatakan "Tidak"

ada lagi seorang lelaki rekan kerjaku yang sempat bertanya, "Nuril asalnya dari mana?"
aku menjawab, "Padang Tijie. Abang?"
"OOhhh...insya Allah Padang Tijie juga" sambil tersenyum ia menjawab seperti itu.
semua orang di situ sudah senyum-senyum sementara aku bingung sendirian.


sebenarnya, di tiga skenario di atas,
ada hal-hal yang berkaitan erat dengan sebuah janjiku di masa silam.
1. dengan yang di luar negeri, sebenarnya saya bisa saja menanyakan perasaannya kepada saya. syukur-syukur kalau dia tidak ikut-ikutan terjangkit virus merah jambu. kalau iya? ini dia masalahnya. saya tidak mau pacaran sementara saya tidak sanggup untuk menikah sekarang.

2. dengan yang menanyakan kesediaan saya, jujur saya agak kurang nyaman dengan pertanyaan berupa "boleh ditunggu?" karena kesannya tetap tidak berupa kepastian. plus saya tahu sebuah kisah tentangnya dan seorang teman dekat saya di masa lampau yang saat itu masih mengganggu saya. (buat yang merasa diomongin, sorry ya, ga maksud ngungkit2 masa lalu, cuma untuk bahan renungan aja sedikit)

3. dengan rekan kerja itu, saya sebenarnya pura-pura bingung. tidak berusaha nangkap kesan-kesan merah jambu apapun.


kesimpulannya sebenarnya adalah:
SAYA MEMANG MASIH SANGAT KECIL DALAM HAL CINTA. saya akui sikap saya menarik diri drastis dari peredaran dengan yang di skenario pertama itu kekanak-kanakan, dan jika itu membuat banyak praduga yang tidak mengenakkan, saya minta maaf sebesar-besarnya (saya yakin yang sedang saya bicarakan di sini akan tahu sedang dibicarakan tanpa saya harus sebut namanya)

tapi justru saat-saat itu saya belajar bahwa itu kekanak-kanakan dan itu karena memang saya masih kekanak-kanakan. saya sudah belajar untuk menutup pintu hati untuk virus-virus merah jambu itu kepada anda, jadi saya mohon maafkan saya atas silap yang pernah saya lakukan walaupun komunikasi kita sudah sangat jarang sekarang.

buat yang ada di skenario kedua, saya mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, anda telah membuka mata saya untuk memahami arti metamorfosis kehidupan; tak akan ada kupu-kupu tanpa ada ulat. larva dan kepompong terlebih dahulu. jika satu tahap dilewati maka metamorfosis tak akan sempurna. ya, saya memang harus belajar banyak sebelum bisa jadi kupu-kupu. tak boleh langsung terbang tanpa belajar merayap...

buat yang di skenario ketiga, no comment.

sekarang? alhamdulillah saya berhasil melewati fase-fase kelabu itu dan saya benar-benar merasa bebas untuk mengepakkan sayap saya lagi.


pasti ada yang bingung tentang janji di masa silam itu.
janji itu pernah saya ucapkan di sebuah rumah Allah di kawasan Gegerkalong, Bandung, tepatnya di komplek Daarut-tauhid. selesai dari salah satu tarawih ramadan itu, saya, yang sedang menahan merebaknya virus merah jambu kepada seorang teman sekelas yang mengenalkan saya kepada nasyid hingga akhirnya saya mencoba belajar lebih banyak tentang Islam dan memutuskan untuk hijrah, berjanji,

"Ya Allah, aku tak akan membiarkan lidah ini mengutarakan cinta kepada siapapun kecuali kepada Engkau, Rasulmu, guru-guruku, orang tuaku, saudari-saudariku, sahabat-sahabat perempuanku dan kepada orang-orang yanag sesuai di jalan-Mu....dan Rabb, tahan lidah ini jika hendak mengutarakan cinta yang merah jambu kepada seorang pria sebelum ijab qabul, sebelum aku boleh memegang tangannya. Rabb, aku ingin bersih dari itu semua, aku ingin menyimpan cintaku hanya kepada satu orang dan aku ingin suatu hari ketika aku menjumpainya aku bisa berkata, "kau tahu, banyak cinta yang kutepis dalam hidupku karena aku dari dulu menunggumu dan mencintaimu dan aku sudah setia dari dulu..."





n.b.:
maaf jika entry blog ini terkesan muluk (tapi inilah adanya)
maaf jika ada pihak-pihak tertentu yang ikut-ikutan terbawa
maaf jika kesannya saya menghiba,
maaf...karena saya benar-benar tak tahu harus menceritakan ini kepada siapa-siapa yang lain...




Darussalam, 9 Oktober 2008


No comments:

Post a Comment