Thursday, November 13, 2008

Sang Bapak

Aku lapar
Aku menggelepar
Sang Bapak hanya melihat sebentar
Lalu berkoar-koar

"Dalam telunjuk yang sekarang, Ia lapar, Ia menggelepar," tunjuk Sang Bapak
"Demi Sang Penguasa,
Saya akan menyiram negeri ini dengan pasir yang terbuat dari permata
Saya akan menyelimuti malam kampung ini dengan kain sarung sutera"

Aku masih lapar
Aku menggelepar
Sang Bapak melihat lagi sebentar
Lalu kembali berkoar-koar

"Dalam telunjuk yang sekarang, Ia lapar, Ia menggelepar," seru Sang Bapak
"Lihat sayap saya lebar
Lihat badan saya besar
Nanti pasti tak ada lagi yang lapar."

Aku tetap lapar
Aku tetap menggelepar
Sang Bapak tetap melihat sebentar
Sembari tetap berkoar-koar

"Dalam telunjuk yang sekarang, Ia lapar, Ia menggelepar," ratap Sang Bapak
"Wahai Penelunjuk, di mana ceramahmu tentang perut yang kenyang?
Di mana petuahmu tentang hati yang lapang?
Di mana ceritamu tentang negeri yang tenang?"

Aku sudah tidak lagi lapar
Aku sudah tak lagi menggelepar
Sang Bapak sekedar melihat sebentar
Lalu melanjutkan berkoar-koar

"Dalam telunjuk yang sekarang, Ia lapar, Ia menggelepar," teriak Sang Bapak
"Dalam rangkulan Saya, rumput akan berbunga padi
Dalam rangkulan Saya, kelapa akan berbuah berlian jeli
Dan Saya bisa pastikan, dalam rangkulan Saya, tak akan ada yang mati seperti ini."

Sang Bapak menunjukiku
Aku hanya menatap, ada Izrail di sebelahnya,
mendekat ke arahku,
dan ke arahnya.



Banda Aceh, 13 November 2008
*tahun depan pemilu, kan?*