Tuesday, January 20, 2009

[curhat] FK (Fakultas Kesibukan)

“Nuril, besok aku nggak bisa ikut pelatihan OSCE karena tes BEM, jadi gimana?”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Ini bukan orang pertama yang bertanya hal serupa. Sudah ada sekitar 15 belas orang. Tanganku pegal meng-sms yang itu-itu saja. Pulsaku juga sepertinya juga mulai ‘capek’.

Sejak kapan aku terlibat dalam semua ini, pikirku. Rasanya baru kemarin aku menginjakkan kaki di Fakultas Kedokteran Unsyiah ini. Sekarang, aku serasa berasal dari angkatan 2006. Lebih dari 50% teman-teman menyapaku ‘Kakak’, tak jarang aku dianggap pusat informasi, dan aku tahu, ada yang menganggap aku hanya hobi menonjolkan diri (baca:sombong) sehingga banyak senior yang kenal akan diriku.

Ah, aku ingin tertawa besar-besar rasanya. Seandainya mulut-mulut usil itu tahu, aku kenal dengan banyak senior itu bahkan sebelum aku tiba di Indonesia, sebelum aku tahu pilihanku adalah Fakultas Kedokteran. Seandainya aku diterima di FKIP, tak ada bedanya, aku akan tetap kenal banyak senior di FK, simple, karena mereka ‘ikhwah’.

Dan sebenarnya itu merupakan suatu tantangan besar. Aku, yang bahkan masih ‘merangkak-rangkak’ di rancah kuliah kedokteran ini, sudah terlibat hal-hal yang lumrahnya paling mula diikuti oleh angkatan yang sudah setahun berada di fakultas.

Adalah sebuah program dari mushalla fakultas di mana disediakan layanan belajar skill untuk materi perkuliahan kami. Aku yang membuat kelompoknya, sumber informasinya, penyusunan shift jadwalnya, menjaga bahwa informasi tiba tepat waktu. Ya, siapa yang tidak kenal dengan ‘Kak Nuril’? meski lelah kujelaskan bahwa aku juga lahir pada tahun 1990, sama dengan lebih dari 50% dari jumlah angkatan, sepertinya itu tidak memberi efek apa-apa.

“Kakak terlihat lebih tua,” cengir seorang teman.

“Nggg…kan kakak tentor saya, masa saya nggak panggil ‘kakak’ lagi…”

“Duh, semua manggilnya kakak sih, ikut aja deh hehe..”
dan berbagai alasan lainnya.

Blek, HP-ku mati tiba-tiba, biasa, tidak bisa terlalu dibebani banyak sms atau telepon di saat yang bersamaan (dasar Nokia!!). Lebih dari 10 sms masuk sekalian. Ketika hidup lagi, ada sms yang seharusnya masuk jam 4 sore tadi. Sekarang sudah jam setengah sepuluh malam.

Ada sms darinya yang tentu saja ditujukan untuk ‘ikhwah fillah’. Di bawah sms itu, masih ada sms lagi darinya. Kali ini benar-benar ditujukan untukku, buktinya ia menyebut kata ‘dek’. Jujur, aku heran padanya, sesekali menggunakan bahasa Arab seperti ‘antum’, ‘anti’, ‘ana’, namun ada juga kalanya (apakah lupa atau tidak aku tidak tahu) ia (mungkin) keseleo dan tetap menyapaku dengan kata ‘dek’.

Untung aku bukan tipe yang gampang luluh dengan sekedar kata ‘dek’, tidak seperti seorang sahabat yang hari itu ‘blak-blakan’ mengatakan kepada beliau untuk tidak ber ‘abang-dek’ ria, karena ia tidak nyaman sekali. Aku tak pernah merasa itu masalah. Maka mungkin ia tetap menyapaku ‘dek’ sesekali. Nama “Nuril” mungkin lebih panjang dan membikin kelelep dibanding sekedar ‘dek’.

Terserah, karena bagiku yang justru menganggu adalah senyam-senyumnya dan caranya menyapaku yang sering kuprotes. Pasalnya, beliau sering menyapaku dengan “Hoy”. Jika aku memprotes “Nyapa kok bukan dengan salam?!”, pasti beliau akan membalas “assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu ya ukhti nuril yang berjilbab merah dan bros perak”.

Belum lagi kebiasaannya (biasakah beliau? Atau kebetulan saja waktunya berulang?) yang meneleponku untuk memberitahu bahwa ada rapat ini atau tugas itu saat aku sedang mengisi mentoring adik-adik SMA ba’da Jumat. Rasanya hampir setiap Jumat, sehingga para binaanku itu sudah hafal, “Ada rapat lagi ya, kak?”

Nanti, jika suatu hari sudah tak bisa kubendung lagi ketergangguan ini, aku berencana untuk ‘melabraknya’. Serius.

“Seorang kader dakwah memang seperti itu, Rin. Sering dituntut dengan lebih dari satu tanggung jawab dan kader itu mau tidak mau harus berusaha untuk tetap istiqomah.”, kata seorang senior akhwat yang sangat aku segani.

Aku meringis, kepalaku sakit sebelah, ada 10 sms lagi masuk sekalian, semuanya menanyakan hal yang sama meski tadi sudah diberikan briefing sepanjang sore. Ah, kadang aku suka buruk sangka, mereka semua tidak bisa mendengar dan mencerna informasi dengan baik.

“Kak Nuril nggak masuk BEM?”

Aku menggeleng. “Nggak sekarang.”

“Padahal kan Kak Nuril kan cocok tu, pinter ngomong…”

Aku tersenyum sinis sendiri, pinter ngomong atau banyak ngomong?

Sayang di Banda aceh tidak ada taman kota seperti di Melbourne dulu tempat aku bisa duduk sejenak, karena setiap siangku habis entah untuk apa. Aku ingin duduk dan menulis sedikit tentang hari-hariku di sini, di kota ini. Sudah lebih setahun dan aku nyaris tak ber-diary. Diaryku lebih tepat disebut agenda dan kumpulan materi tarbiyah hasil comot sana-sini.

“Mulai ‘memadukan’ FLP…”

Beberapa tertawa, ‘memadu’ itu kan biasanya dipakai untuk hubungan antar-kekasih. Namun tidak demikian denganku, aku menelan ludah, benarkah? Sepertinya aku termasuk ke dalam ‘dosa’ yang satu itu. Menomorduakan FLP yang selama ini ingin kupinjami prioritas duniawi dan ukhrawiku. Sesi tabayyun antar anggota FLP NAD ini serasa mengiris-iris egoku.

“Kakak dari mana, Nak? Pergi pagi pulang maghrib…”

Aku rasanya ingin menangis dan memeluknya kuat-kuat. Tapi langkahku hanya memburu pintu kamar di lantai dua. Di dalamnya, aku menangis. Aku juga ingin duduk di dapur menemaninya memasak atau sekedar berbicara tentang menantu harapannya di masa depan. Tetapi untuk sementara ini, waktu seperti tidak mau menyejajarkan diri dengan diriku.

“Kemarin, Nuril gak ikut Pleno ya? Kemana?”

Ternyata ada beberapa orang yang sadar. Ya, aku bolos. Ada aksi di depan mesjid raya Baiturrahman. Waktu itu Jalur Gaza sudah semingguan dibombardir oleh Israel.

“Ke depan, akan lebih banyak lagi yang harus kamu korbankan. Seandainya bukan saya yang mengisi Pleno, saya pasti ikut,” Dosenku berujar seperti itu.

Ah, entahlah. Terkadang, ketika imanku melemah, aku hanya ingin tidur dan tidur dan tidak pernah bangun lagi.

“Jangan terlalu stress, ke depan, akan lebih banyak lagi masalah yang akan Nuril hadapi, ya?” dengan cengiran khasnya, sang ikhwan yang tadi kuceritakan di atas (mungkin mencoba) memberi nasihat. Aneh, beliau tetap tertawa, menyengir, tersenyum dan menyapa semua orang dengan salamnya yang selalu penuh sampai ‘wabarakatuhu’ meski (aku tahu bahwa) ia punya segudang tanggung jawab dakwah. Plus lagi beliau berasal dari luar Aceh. Aku makin minder, aku yang aneuk nanggroe saja belum begitu paham kondisi daerah ini.

“Abang pernah sebulan di rumah sakit. Luka di lambung (aku lupa nama kedokterannya apa), terus tipes, terus hepatitis, wahhh.. pokoknya kalian jangan sampai kayak abang lah. Jaga kondisi biar nggak tumbang. Selama ini yang buat abang bisa bertahan tu semangat. Saking semangatnya, bahkan pernah lupa makan pake’ lauk apa di warung makan sampai-sampai pas mau bayar bingung sendiri, hehe..”

Sudah kubilang kan? Ia dengan rileksnya bercerita (waktu itu cuma cerita sambil lalu saat berpapasan di posko peduli Palestina di kampus). Seperti dongeng belaka, seperti bukan terjadi padanya. Benar-benar pribadi ‘tahan banting’. Aku tahu persis, banyak hati yang menaruh simpati (dan hati sekalian) padanya sekarang. Untuk hal yang satu ini, aku tidak ikutan. Hanya saja jika melihat beliau, aku jadi malu, karena hidupku belum lagi ‘setergencet’ itu namun aku sudah banyak mengeluh.

“Kalau dibawa enteng, semua akan terasa ringan. Easy…”, ia menyengir kembali.

Yah, aku akan mencobanya, Bang.