Saturday, September 19, 2009

Masih Dunia yang Sama

Kupandang atap Bandaku. Kelabu. Sedikit tiris hingga menitis satu-satu air dari Tuhan. Umpama salju mengepung, aku terbata-bata mengeja tetesnya. Begitu beku, begitu lesu.

Adakah kiranya kabar itu benar? Bahwa sepotong hati sudah lama merasa sukar? Sementara ada hatiku yang bisa kuberi untuk kutukar. Tapi malang, aku tak pernah sadar.

Makin kupeluk remah-remah hangat agar aku tak lagi dingin. Menggodam depan dan belakang kepalaku. Dari masa lalu pun aku pantang berhadap masalah serupa itu. Wahai saudari, takkah kau lihat aku mencintai?

Apa guna aku bersenandung jika ternyata ia tersandung? Apa guna aku - mencoba - merangkak sementara ia diam tak bergerak? Kukira kusedang mendulang pelangi. Tapi rupa-rupa aku harus bercermin lagi.

Aku pernah seperti ini. Di dunia yang lampau. Saat aku belum lagi sempurna letakkan kain di atas kepalaku. Waktu itu kuruah semua cinta yang kupunya padanya, seorang saudari jua. Sedih aku bukan kepalang, di ujung waktu kami, ia tutur banyak dusta ia sembunyi dariku ini yang hamba.

Tuhan, kukira aku sudah pindah. Sudah habis marah. Tapi lihat ini kisah. Tak selesai-selesai Kaukirim gundah.

Ternyata aku masih di dunia yang sama. Jantungku masih yang sama, yang belum bisa peroleh detak orang lain yang seirama. Simfoniku angkuh masih belum bisa menyamakan nada. Tuhan, ini bencana. Karena berarti tambah lagi bukti aku tak mampu mencinta.

Kutoleh ke jembatan. Di bawahnya muda-mudi mabuk bercinta. Kutoleh ke tepi selat Selatan. Di sana bintang-bintang bercengkrama. Lalu kutoleh cerminku. Di situ ada aku yang buruk dengan air mata.

Tuhan, aku tahu tak pantas tanya mengapa. Oleh itu kupinta saja. Pindahkan aku ke dunia sebelah sana saja. Aku akan berkarat terus jika masih di dunia yang sama.




Tungkop, 19 Desember 2009.