Friday, October 30, 2009

Beginikah Rasanya?

"Beginikah rasanya?"

Saya berpikir seperti di atas tadi pagi saat berada dalam kelas tutorial terakhir untuk blok respiratori/pernapasan (baca : saya semester 3 kedokteran Unsyiah) ini. Di kelas yang terdiri dari 12 orang itu saya berkali-kali menahan tawa. Di antara kali-kali itu saya juga menahan ketidakenakan yang amat sangat. Lagi kalimat pertanyaan yang sama melintas,

"Beginikah rasanya?"

..................

Kisah ini bermula dari sehari sebelumnya, 29 Oktober 2009. Teriknya surya dan birunya langit yang kontrasi sejumput awan di sebuah kecamatan bernama Peukan Bada menjadi latarbelakang kisahnya. Puskesmas berdinding putih saksi diam sunyi atas tapak-tapak kami, para mahasiswa kedokteran dari negeri bernama Darussalam yang diutus bertemu para pencari obat di puskesmas tersebut. Kami berangkat dengan sebuah labi-labi (angkotnya Aceh) dan misi berjudul "Patient Encounter" alias - kira-kira - Temu Pasien. Yang menjadi fokus kami adalah jelas berhubungan dengan blok yang sedang kami pelajari; sistem pernapasan manusia. Kami harus mewawancara seorang pasien dengan gangguan sistem pernapasan dan memeriksa kondisi parunya dengan skill pemeriksaan fisik paru yang sudah kami pelajari sepanjang blok ini. Lalu kami harus mencatatkan hasilnya di form yang sudah kami siapkan untuk ditandatangani oleh dokter yang bertugas di puskesmas tersebut. Selesai misi, labi-labi jemput lagi, lalu kami ke Darussalam, kembali.

Jam 9 kami tiba di puskesmas Peukan Bada dengan jas-jas lab putih dengan tag nama tersemat rapi di sebelah dada kiri. Siap lah, untuk hadapi hari. Tapi ceritanya tak semulus plot rencananya. Jarum pendek terus bergerak dekati angka 12 di setiap arloji kami dan belum ada satu pun pasien tiba dengan keluhan yang kami cari. Peluh mulai banjir di balik jas-jas lab putih kami, sementara kami yang mulai bosan hanya bisa baca bahan kuliah yang kami bawa beberapa dan soal-soal ujian respiratori tahun lalu hasil edaran entah siapa. Ketua kelas saya yang selalu mencetak minimal nilai 90 dalam tutorial (baca : rata-rata kelas 75-80) pun mulai mondar-mandir, "Nuril, yakin belum ada pasien yang kita cari dari tadi?"

Saya nguap lalu cakap, "Yakin. Ada sih anak-anak, banyak, ISPA. Tapi kan susah, rewel meriksa mereka jadi dokternya bilang tunggu pasien dewasa aja."

Kulirik arloji lagi, makin dekat saja jarum pendek ke angka 12. Teman-teman lain makin bosan. Mulai lah mereka menggendong-gendong anak-anak orang (entah anak siapa) lalu foto-foto. Saya jalan sana jalan sini. Bergabung dengan yang belajar bahan kuliah sebentar, melihat-lihat bagian lain dari puskesmas, menimbang berat badan di timbangan yang manual dan entah apa kulakukan lagi.

Sampai sebuah ide terlontar. Kebetulan saya sedang batuk-batuk seminggu belakangan.

"Ha? Oh, bolehlah. Nuril aja jadi pasiennya."

Teman-teman setuju, saya pun ambil kartu. Lalu dokternya periksa saya dan teman-teman wawancara saya.

"Sejak kapan batuknya? Makan apa aja selama ini? Suka begadang nggak?"

Pertanyaan-pertanyaan yang amat memalukan jawaban-jawabannya. Ya, tentu saja memalukan jika saya yang di form namanya Nisa dan tinggal di Darussalam (tapi berobat ke Peukan Bada. Rancu banget kan?) ini diperdebatkan diagnosisnya di dalam sebuah kelas tutorial formal!

"Si Nisa ini kan orangnya sibuk. Suka bicara katanya, kan mahasiswi. Ngajar lagi, mungkin pun ngisi seminar ya? Wajar lah, selalu terpajan debu dan antigen."

"Udah batuk sejak Agustus? Wah, apa si Nisa ini nggak berobat-obat ya?"

"Pernah batuk gini juga waktu SMA. Di luar kota ya, katanya? Hmm.. Mungkin dia belum adaptasi cuaca di sana ya. Ada yang tahu daerah mana? Dengar-dengar Australia, ya?"

"Dia rajin membersihkan telinga, nggak?"

"Mungkin hobinya makan kerupuk itu..."

"Atau, kira-kira berat badannya ada kaitan dengan sakitnya ini?"

Benar-benar menyebalkan! T.T

Tapi lalu saya tiba-tiba berpikir, beginikah rasanya? Beginikah rasanya jika Allah tak tutupkan aib-aib kita di masa lampau? Digunjingkan orang terang-terangan tanpa bisa hidup tenang? Wah, alhamdulillah ada yang namanya sifat lupa. Jika tidak, pasti kita tak kan bisa bahagia karena ada saja duka atau luka yang terkenang atau 'dikenangkan' orang lain.

Baru didiskusikan secara dalam batas kasus medis yang memang harus bahas hal-hal di atas saja, sudah amat malu rasanya. Seperti dipojokkan dan ditodong tanpa kenal kasihan. Lalu bagaimanakah jika yang didiskusikan orang adalah kejelekan-kejelekan kita? Ah, tentu tidak elok.

Ya, beginikah rasanya digunjingkan? Dibicarakan aib (baca : sakitnya) sambil ditawa-tawai? Oh, dunia. Bukankah aib kita ditutup rapi oleh Allah jika kita pun menutup aib saudara kita? Nah, sudahkah kita menjalankannya? Bagaimana Allah ridha tutup aib kita jika kita masih gemar umbar aib saudara kita? Semua pertanyaan itu menyerang saya yang makin terpekur renungi waktu..

"Beginikah rasanya?"

Monday, October 26, 2009

Kau Ada di Mana?

Kau ada di mana? Degup detakku kalap Terlalu biasa kudekap Kita, warna, dan wajah sembab Sketsa buncah wajahmu Gesitku acap kutitip padamu Yang setia dengan jari-jariku Meregam erat sembilu Kau ada di mana? Para merpati kuperintah kelana Carikan kau yang lenyap entah di mana Detik desak menit sikut jam dorong waktu tak jua bicara Hempas lain perkara Karena kau, aku hela membaca Para aksara yang dirgantara Menyobek bintang di relung angkasa Kau ada di mana?


Lamkeunung, 8-26 Oktober 2009