Sunday, November 22, 2009

Malam Ini Milik Kita

Malam ini milik kita
Sekam
Terendam
Buram

Hendak apa, ayo, malam ini milik kita
Selam
Jeram
Tenggelam

Marilah, malam ini milik kita
Bayam
Kenyam
Senyam

Terus, malam ini milik kita
Genggam
Peram
Salam

Bergeraklah, malam ini milik kita
Sulam
Tanam
Siram

Panjangkanlah, malam ini milik kita
Dalam
Diam
Gumam

Karena entah, esok pagi
Apatah lagi esoknya lagi
Atau esoknya lagi
Kemudian esoknya lagi

Karena tak pasti, esok lagi
Apatah lagi esoknya lagi
Atau esoknya lagi
Kemudian esoknya lagi

Kita
Bukan aku dan kau saja
Tapi tiap mata
Atau tiap prasangka
Mumpung malam ini milik kita




Lamkeunung, 22 November 2009

Thursday, November 19, 2009

Cerita Padaku, Nda

Nda,
Seonggok cahaya timur
Lalu bayang batang kelapa jingga
Kemudian kawah-kawah rembulan
Lantas munajat, rehat dan riwayat

Nda,
Jika kauturut gurindam nyawa
Maka aku tak tahu persembahkan cahaya manapun jua
Karena aku hanya selirik nada
Sedang engkau tembang bahana

Nda,
Saat kaututur hendak pinjam telinga
Aku geleng di balikmu tanpa suara
Padahal siapa sudi Nda-nya berwajah tanya
Tekuk, lipat, tenggelam dalam kertas dan pena

Nda,
Betapa aku kagum akan jiwa sedia
Milikmu yang payung bagi serata
Penelusur cemara dan kata-kata
Yang hidup dan mati dalam pinta-alpa

Nda,
Sampai jumpa bila ada masa
Di mana anak-anakku teman anak-anakmu
Atau di gelar permadani berwarna zamrud
Atau jauh sebelum itu
Kita kenang kisah kita muda dulu


Lamkeunung, 19 November 2009, ba'da Isya di Tungkop.






***Puisi di atas kudedikasikan untuk Nda-ndaku di manapun engkau berada. Terutama untuk yang pernah dengar sumpah serapah tentang derita, yang pernah kisahkan tentang bahtera, yang pernah bercerita di dekat tangga dan untuk yang pernah lewati beberapa senja bersama. Uhibbukum fillah katsiraan. =) ***

Wednesday, November 18, 2009

Hi There (May I Pick You Up?)

Terinspirasi seorang sahabat dalam rangkul Paman Sam nun jauh, jadi pengen bereksperimen lagi dengan poem..

HI THERE (MAY I PICK YOU UP?)
By : Anisa

Hi there,
May I pick you up
From the crater of moon that shone
The yesterday?
From the glimps of star that shone
The overnight?
From the end above your pine tree that shone
The iced hands?
From the horizon of my glory sunsets that shone
The hey lonesome?
From the lead of your pencil that shone
The glittering letter?
From the everfescent spell that shone
The mystical corners of my street?
From my poem that shone
The adventuring warrior?


Lamkeunung, 18th of November, 2009.

Monday, November 16, 2009

Cuma Pikiran Sepintas

"Kau buat aku bertanya.
Kau buat aku mencari.
Tentang rasa ini.
Aku tak mengerti."

-Sherina, Cinta Pertama dan Terakhir



Penggalan lagu di atas terus mengiang di telinga saya. Efek dari dengar tuh penggalan lagu di salah satu miniseri di salah satu stasiun tv swasta, yah, saya yang memang banyak 'berguru' teknik nyanyi dari Sherina dari masih imut dulu di SD (emang sekarang uda luntur gitu ya, imutnya? ah ga segitunya si hee ) jadi kenyanyi tu lagu terus-terusan deh. Sampe-sampe ni ya, saya download ni lagu terus direpeat deh dengernya beberapa jam. Ha? Apa? Saya kesambet? Ehehe. Nggak lah. Saya suka dengar satu lagu terus-terusan memang karna suka niru-niru cara penyanyinya nyanyi. Maklum, tuntutan peran artis ibukampung hoho. Saking hebohnya ni ya, nada-nada falsetnya Sherina yang emang tinggi banget malah kepeleset ama saya. Kucing-kucing di luar pada teriak-teriak pilu, jangkrik-jangkrik pun pada demon semua. :D

Tapi bukan Sherinanya yang mau saya bahas di sini lho, melainkan video klipnya. Kemarin seorang teman cerita, video klipnya tentang seorang gadis jatuh cinta pada seorang pemuda. Clich� memang. T. A. P. I... Sang pemuda ternyata rada punya dunia sendiri alias Skizofrenik! Iya, mau makan aja, dia makan pake sendok, piring bayangannya. Ih, horor deh. Pokoknya tuh gadis lama-lama kalau nggak salah bete juga terus ditinggalin deh tu pemuda. Waduh waduh...

Tapi pertanyaannya, kok bisa ya, tu gadis jatuh cinta ama tu pemuda dari awal? Kalau dari permulaan lirik sih, si pemuda, meski rada gimana gitu, tapi bisa bikin si gadis merasa terselamatkan dari 'kesendirian'. Hmm...menarik, meski, masih aja saya bingung, kok masih jatuh cinta aja sama si 'punya dunia sendiri' ya


KESENDIRIAN
Betapa sering ini dianggap masalah oleh kebanyakan orang. Dan anehnya, bisa sampai ke titik "merasa sendiri di tengah keramaian" alias uda ga berasa lagi tuh sumpeknya pasar, kampus, jalan, de el el tempat lain yang juga 'semak manusia' saking diselimuti oleh rasa kesendiriannya. Boleh ga sih kaya gini? Ga tau ya, kalau saya mah nanggepinnya, terserah mau mikir apa, tapi kalau harus orang lain kecipratan kasian kali ya, ga tau apa-apa eh malah kena manyunnya. Lagian sebenarnya yang punya kuasa kita lho, untuk nentuin apa yang ada di pikiran kita. Free will, atau semacamnya lah. Sulit? Mungkin. Tapi kalau ga dicoba kapan bisanya? Kalau cuma mandang-mandang daun jatuh kapan 'sembuh'-nya? Kalau cuma bikin puisi/ tulisan/ bla bla, ga bakal deh sempurna selesai tu masalah.

Lebih lucu lagi, pernah ga, ngerasa kaya gini, itu kesendirian kok malah dengan gampangnya menguap oleh kehadiran seseorang yang tiba-tiba antah berantah? dan sekali bisa diusir oleh kehadiran itu orang, lupa deh, banyak yang lain yang sebenarnya udah nyoba ngusir kesendirian kita itu dari dulu alias itik lupa induknya (he? nyambungnya di mana ya? hoho).

contoh : kawan-kawan kampus saya ada yang agak sedikit lebih 'gaul' dibanding kami yang anak kampung ini. Cukup gaul sampe-sampe kalau mau hang out jalan-jalan ama temennya yang sejenis itu (hampir tiap malam), bakal ke salon dulu sorenya, ngeritingin rambut, pedi-medi, bla bla (sebel banget ceritainnya, kecentilan ngalor ngidul menurut saya). Nah, apa kerjaan mereka? Kopdar ama cowok yang uda dikecengi di facebooknya selama ini, nyari pacar baru, bla bla (ya, panjang amir daftar hang outnya sih).
Baca punya baca status facebooknya tuh cewek-cewek emang sering yang, "aku butuh kawan", "sekarang sendiri lagi..." dan seterusnya khas curhat yang diulang-ulang.
Lha? Orang tuanya di mana tho? Kawan-kawannya di kampus yang nyapa tiap hari lha kok tak disapa balik gitu? Masih banyak lho yang mau nemenin situ, daripada keluar malam-malam ga jelas...


Dapet satu teori (ga ada yang suruh ambil jadi dasar teori bikin tesis ya hoho) : KITA MEMUTUSKAN MERASA SENDIRI, LALU KITA PULA YANG MEMUTUSKAN UNTUK BERHENTI MERASA SENDIRI PADA ORANG/BENDA YANG KITA PILIH SENDIRI.

Ya. Dan itu sebenarnya tidak sulit.



HEI, LIHAT SEKELILINGMU
Dan perhatikan angin yang berdesir. Atau air yang mengalir. Adakah mereka diam? Tidak. Mereka selalu berpindah hingga menimbulkan kekuatan; kincir angin dan air ---> menghasilkan listrik.
Intinya bergeraklah. Kekuatan itu akan hadir setelah pergerakan ke sekian kali. Sendiri itu memang hakikinya serupa itu. Kita lahir sendiri dan akan kembali sendiri. Masalahnya sekarang bagaimana kita menjalani kesendirian itu tanpa merasa ekstra sendiri lalu bersedih, sendiri pula.

Oke, lewat seseorang kita menemukan beberapa hal yang selama ini kita cari. Lalu, apa cukup bergantung pada orang itu tanpa tetap berkelana mencari hikmah lain? Tentu saja tidak. Ilmu Allah luas, nggak mungkin numpuk di satu orang doang (kasian kan, gendut ntar kepalanya dengan ilmu ), jadi, cari lagi.
Iya, karena lebih parahnya ya nih, kalau sempat kita terlanjur 'nemplok' ama tu orang trus dianya tiba-tiba berubah sementara kita udah duluan pasang harga, eh salah, harapan ketinggian, wuih, yakinlah, kita akan JATUH dan hancur berkeping-keping!

So, belajarlah dari sekelilingmu tanpa bertumpu pada satu sumber pelajaran saja, agar lebih luas lagi sudut-sudut yang bisa kita gunakan dalam memandang kehidupan ini dan setiap permasalahan yang ada.


KESIMPULAN; HUBUNGANNYA DENGAN LAGU SHERINA DI ATAS?
Ya. Dia di lagu itu kan katanya capek tuh, dibikin bertanya dan mencari terus. Eh, dianya malah pasang prinsip, "kau cinta pertama dan terakhirku" di ujung lagu. Beuh, kasian banget kan? Udah ga diperatiin, ga mau buka hati lagi buat cinta yang lain. Padahal Allah kan Maha Menebar Cinta tuh ya, ade cinte di mane-mane! Kagak ada di elo ada di gue, kagak ada di gue, ya lo cari aje lagi di tempat laennye, ye! Ada cinta dari orang tua, kawan, guru, dan bla bla (panjang), dan bener deh, itu semua tergantung kita bisa ngeliat aje sih, seberapa gede cinta yang laen-laen ke kita. Biasanya mah nyadarnya kalau tuh cinta udah kagak ada lagi alias NYESEL KAGAK ADA GUNANYE.
Udah gitu, tetep ada sisi baiknya sih. Saya sebenarnya salut ini ama tuh cowok yang skizofrenik, yang meski secara mental agak 'berlebih' dalam melihat/mendengar, tapi tetep aja bisa memberi hiburan bagi orang lain meski mungkin dia nggak sadar total. You know, being beneficial dan jadi sandaran orang 'melarikan diri dari masalah' itu nggak selalu gampang. And Allah knows best.



regards,
sheRIRINa
(hehe)

Tuesday, November 10, 2009

Dari Tungkop ke Darussalam

Dari Tungkop ke Darussalam
Tepi-tepi tanpa trotoar tenggelam
dalam mereka yang masih berseragam
Bakso goreng dalam plastik, tergenggam
Tidak, tidak laku lagi jual apam

Lalu para pohon asam Jawa
Sebagai sandaran jiwa-jiwa
Yang sebagiannya tertawa
Sementara sebagian lain sendawa

Wajah-wajah penuh sinetron
Yang berkelebat padahal monoton
Bertumpuk-tumpuk di bawah pohon
Terhadap kekasihnya, gombal memohon
Agar salah yang sudah lebih lima kali dianggap guyon

Gedung-gedung di depan cemara
Satu sudah termakan yang membara
Sedang yang lain masih bisa dikembara
Oleh berbagai otak yang terus bersuara
Meski tak sedikit otak yang hanya teracun asmara

Dari Tungkop ke Darussalam
Aku setia usir muram
Sepuh mimpi pualam
Coba tegak teguh lawan demam
Yang selalu datang tiap kali diam




Lamkeunung, Hari Pahlawan 2009, setelah menjemput Nyak Loet pulang dari sekolahnya.

Sunday, November 8, 2009

"Apa yang Harus Aku Lakukan Untukmu?"

Suatu hari, saya diundang menjadi pembicara di sebuah stasiun radio swasta di Banda aceh. Waktu itu tentang siswi berprestasi. Keceplosan, penyiarnya membacakan nomor handphone saya ke khalayak pendengar. Deuh, nggak disebarin aja udah banyak yang miss-call nggak jelas, apalagi udah diumumkan begitu! Jadi jelas aja, konsekuensinya, setelah acara hari itu, saya disms oleh entah siapa dan entah sesuka hatinya.

"Barakallah alaiki ukhti.."

"Hai, boleh kenalan?"

"Wah, cerita hidupmu sangat inspiring! Pengen deh jadi kamu" (please deh)

"Pengen deh ketemu sama kakak..."

dsb

Jadi seleb mendadak lah. Kacau deh inbox hape saya, penuh sebentar-bentar. Nggak bakat jadi artis nih

Sampai akhirnya suatu siang. Waktu itu saya sedang di kantor (ehm, ngantor euy, waktu itu saya dikontrak oleh sebuah NGO jadi translator mereka selama sebulan. Mumpung nunggu hasil SNMPTN 2008), baru saja selesai waktu makan siang, jadi udah siap bergerak lagi mengunjungi klien.

Tiba-tiba handphone saya berdering,

Suara : "Assalamu'alaikum, kak Nuril..."

Saya : "Wa'alaikumussalam warahmatullah. iya, ini siapa ya?"

Suara : (terisak tiba-tiba) Kak, Allah itu Maha Pengampun, bukan?"

Saya : (deg, ini...apa ini? Ditanya nama kok malah nanya 'berat' gini), "Tentu aja, dek, Allah Maha Luas pengampunan-Nya..."

Suara : "Meski kesalahan kita itu besar sekali, Kak?"

Saya : (tertegun, ini pertanyaan dalam banget. Di satu sisi saya juga bimbang. Bos saya udah keliatan mau berangkat. Kan nggak enak saya nelpon-nelpon di jam kerja gitu.) "Ya, dek.. Allah mengampuni segala dosa, yakinlah..."

Suara : (makin terisak) "Kak, saya bisa nggak Kak, kaya Kakak, kuat?"

Saya : (makin bingung. Saya? Kuat? Wah, efek talk show radio ini!) "Kenapa bicara seperti itu, Dek? Jangan putus asa seperti itu..."

Suara : (lebih terisak lagi, menggugu malah) "Tapi dosa saya besar sekali, Kak, besar sekali. Saya takut Allah nggak mau mengampuni saya.."

Saya : (beneran, bingung!) "Astaghfirullah, Dek... Jangan ragukan keampunan Allah. Dia sayang pada semua hamba-Nya. Kembali pada-Nya, Dek.."

Di titik ini, saya mulai menggunakan bahasa telenovela, ya, merayu dan memelas agar dia tak begitu down-nya. Tapi saya juga panik sebenarnya, bos saya mulai dehem-dehem dan ngelirik saya. Duh,nggak enak banget..

Saya : (si Suara masih terisak dan terisak) Dek, Kakak masih pengen ngomong banyak sama Adek, kita bisa cerita-cerita biar Adek lega. Tapi nanti boleh? kalau Adek mau, nanti kita bicara lagi, ya? Kakak mohon maaf, tapi Kakak sedang di kantor, bos Kakak udah ngeliatin Kakak terus dari tadi, nggak enak, dia orang Barat dan bukan muslim. Sekarang tenang dulu,ya, nanti jam 5 Kakak telepon lagi ya?"

Suara : (Isak memelan) Iya Kak, maaf ya Kak, mengganggu, assalamu'alaikum..."

Dan sambungan pun terputus. Jam 5 sore kutelepon balik, nomor si Suara sudah tidak aktif lagi. Awalnya saya pikir itu bercanda, maka saya baru kena 'prank'. Tapi jika bukan, Ya Allah, saya baru saja membiarkan seseorang yang barusan ingin menceritakan bebannya pada saya jatuh dalam keadaan yang entah bagaimana sekarang. Semoga Allah memberinya kemudahan.

Bagi saya, selain memang rada random ceritanya, saya jadi kepikiran. Saya kira cerita hidup saya standar saja, cuma mungkin agak terdramatisir sedikit di beberapa episodenya. Tapi, lihatlah, orang-orang mulai memberi harapan dapat mendapatkan yang lebih dari saya tanpa bisa saya cegah. Salahkah? Saya rasa tidak. Kita tidak punya hak mengendalikan apa yang orang pikirkan atas kita, TAPI, minimal kita punya kendali atas pikiran kita, kan? Kita punya kendali untuk lebih mensyukuri tiap nikmat yang dikaruniai atas kita dan selalu mencoba menjadi manusia yang paling bisa memberi manfaat bagi sekitarnya, semampunya. Kita juga harus punya kendali agar apa yang orang pikirkan atas kita tidak justru malah menjadi niat awal kita dalam terus-terusan memperbaiki diri, melainkan tetap memperbaiki diri dalam rangka mendekatkan diri pada Yang Punya semua potensi kita ini.

Mengenai si Suara, ah, pertanyaannya simpel, tapi 'berat'. Ya, kita, secara teoretis memang paham, bahwa Allah Maha Mengampuni. Tapi, dalam nyatanya, apakah kita sudah benar-benar yakin dan berprasangka baik pada-Nya bahwa kita bisa hijrah dari yang buruk ke yang baik, dari yang baik ke yang lebih baik? Sudahkah kita mengharapkan ampunan Allah dengan hati setawadhu' yang seharusnya? Berapa kali kita malah putus asa dari rahmat-Nya dan lupa untuk meminta? Suara, terima kasih, Dek, pernah singgah dalam kehidupan Kakak.

Dan, "Kak?" Saya memang agak sedikit biasa dipanggil "Kak" di angkatan 2008 di kampus saya. Meski jelas, bahwa sebenarnya saya juga lahir tahun 1990, sama dengan lebih dari 50% jumlah mahasiswa di angkatan 2008. Alasannya?

"Terlihat lebih dewasa, sih."

Kalimat di atas yang sering diucapkan orang sebagai alasannya. Ow, jangan, jangan terpana dengan kata 'dewasa'nya, tapi perhatikan kata 'TERLIHAT'-nya. Sungguh, saya masih sangat jauh dari kata 'dewasa' itu.

Ya. Saya bisa saja TERLIHAT lebih dewasa dan bukan BENAR-BENAR sudah dewasa, begitulah penafsiran saya pribadi. Artinya? Kedewasaan itu sejatinya mendarah daging dalam cara kita berpikir, berkata-kata, bertindak dan bersikap, terintegrasi (ceila bahasanya), dan tidak hanya TERLIHAT, melainkan juga TERDENGAR, TERASA, dan yang paling penting, TERPANCAR. So? Ya, teruslah berproses, karena kedewasaan itu tumbuh, bukan datang tiba-tiba. Ia butuh waktu. Sekarang hanya TERLIHAT, insya Allah mungkin kita akan TERDENGAR, TERASA dan TERPANCAR kedewasaannya tak hanya di mata manusia tapi juga di hadapan Allah.

Lalu tiba-tiba malam ini, ada lagi yang tiba-tiba menelpon saya. Seorang 'Adek' lagi. Kali ini tidak menangis, hanya saja seperti mengerang, suaranya tak jelas.

X : "Assalamu'alaikum, Kak.."

Saya : "Wa'alaikumussalam warahmatullah, kenapa, Dek?"

X : "Nggak tau, Kak, tiba-tiba saya, saya, (suara seperti mengerang, menahan tangis), saya cuma pengen telepon Kakak."

Saya : (Yang ini saya khawatir sebab saya kenal betul dengan Adek yang satu ini), "Ada apa, Dek? Ada yang bisa Kakak bantu?"

X : "Nggak tau, Kak, tiba-tiba, tiba-tiba, saya...saya, nggak enak perasaan aja. Saya merasa perlu telepon Kakak. Saya nggak tau kenapa, Kak. Saya benar-benar nggak tau."

6 menit dan saya tidak berhasil mendapatkan informasi lebih dari "Saya nggak tau, Kak." Kemampuan anamnesis saya masih belum top cer ini, wah, masih harus belajar lagi! Gimana mau wawancara pasien yang sulit cerita gini juga kalau nggak punya keahlian terlatih! Untuk dosen-dosen saya, saya janji saya akan belajar lagi, Dok!

Dan telepon terputus tiba-tiba. Saya tidak menelepon lagi karena saya rasa ia sedang labil dan memang keukeuh tak mau cerita. Esoklah insya Allah. Untuk sekarang, saya sms saja. Itu pun belum ada balasan.

Tapi lalu saya teringat, ini bukan pertama kalinya. Bukan pertama kalinya orang datang dan bertanya atau sekedar curhat pada saya. Tapi, apa sebenarnya yang sudah saya berikan untuk mereka? Saya merasa tidak pantas menjadi bahu labuhan mereka.

Kadang-kadang sebenarnya saya bingung, hendak memberi solusi apa pada beberapa curhat. Akhirnya hanya bisa mendengarkan dan mengutip kata-kata beberapa orang bijak saja. Atau paling banter, saya mikir lama-lama, lalu saya tulis, apa puisi apa tulisan lepas di blog, baru saya suruh orangnya baca, itupun udah bermetafora bunga-bunga, udah nggak begitu orisinil lagi.

Sebenarnya saya juga ingin bertanya, "Apa yang harus kulakukan untukmu?" agar jelas dia dapat apa yang dia inginkan. Tapi? Semua hanya tertelan dalam diam. Entahlah

Saya adalah tipe orang yang sulit ber-mellow-mode-ria dalam kata-kata langsung secara oral dalam percakapan sehari-hari. Secara tulisan mungkin masih bisa sembunyi di 'balik awan' atau di 'atas bulan' de es be, tapi, di dunia yang nyata? Saya lebih suka diam saat marah atau sedih (deuhhh, curhat euy hoho).

Lalu dihadapkan pada orang-orang yang dalam keadaan 'desperate' ingin diberi nasehat di dunia nyata? Oh, agak sedikit menantang. Harus berpikir cepat sebelum melontar kata-kata, mikirin hadits atau sekedar riwayat yang bisa diambil ibrahnya aja udah ngambil waktu, apatah lagi menenangkan dia?

Tapi kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, "Sebenarnya yang kamu mau bikin senang itu orang ini atau Allah? Jika saya bisa membuat Allah senang, maka otomatis penduduk dunia akan senang pada saya. Tapi jika saya hanya bisa membuatnya senang, apakah Allah pasti akan turut senang?"

INI BENAR-BENAR UJIAN SPIRITUAL BERAT.

Namun kemudian saya teringat, bukankah Allah tak pernah menguji kita lebih dari kemampuan kita?
Kalaupun ujiannya berupa sesuatu yang malah - kelihatannya - tidak begitu kita kuasai, apakah lantas kita tidak meyakini saja bahwa Allah punya rencana dan lebih baik kita jalani saja ujian itu sebaik-baiknya?
Begitu pula dengan apa yang orang lain pikirkan pada kita, baik itu berupa UNDER-ESTIMASI ataupun OVER-ESTIMASI, saya tiba di kesimpulan bahwa itu hanya semak belukar yang mencoba menutupi jalan labirin yang benar agar kita tertipu dan mengikuti jalan yang dibentuk oleh semak belukar tadi. Padahal jika kita tetap fokus pada labirin kita, kita tak akan tertipu dengan 'semak belukar' tadi. Jika kita jeli, kita pasti akan tetap melihat cahaya di balik semak lalu memangkasnya sehingga kita bisa melanjutkan perjalanan dalam jalur yang benar.

Berusaha menjadi yang paling bermanfaat bagi orang lain adalah sebuah tujuan mulia, karena bukankah sebaik-baik mu'min adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sekitarnya? Inilah dia jalan benar dari labirin kita tadi. Dan apa yang orang pikirkan kepada kita (dalam kasus saya, saya merasa dianggap 'lebih' dari apa yang saya miliki alias OVER-ESTIMASI) adalah rintangan yang harus kita lewati. Ya, tebarlah manfaat karena mengharap Allah yang membalas dan bukan karena ingin memuaskan pertanyaan "Apa yang harus kulakukan untukmu?" belaka.

Wallahu a'lam.