Tuesday, November 10, 2009

Dari Tungkop ke Darussalam

Dari Tungkop ke Darussalam
Tepi-tepi tanpa trotoar tenggelam
dalam mereka yang masih berseragam
Bakso goreng dalam plastik, tergenggam
Tidak, tidak laku lagi jual apam

Lalu para pohon asam Jawa
Sebagai sandaran jiwa-jiwa
Yang sebagiannya tertawa
Sementara sebagian lain sendawa

Wajah-wajah penuh sinetron
Yang berkelebat padahal monoton
Bertumpuk-tumpuk di bawah pohon
Terhadap kekasihnya, gombal memohon
Agar salah yang sudah lebih lima kali dianggap guyon

Gedung-gedung di depan cemara
Satu sudah termakan yang membara
Sedang yang lain masih bisa dikembara
Oleh berbagai otak yang terus bersuara
Meski tak sedikit otak yang hanya teracun asmara

Dari Tungkop ke Darussalam
Aku setia usir muram
Sepuh mimpi pualam
Coba tegak teguh lawan demam
Yang selalu datang tiap kali diam




Lamkeunung, Hari Pahlawan 2009, setelah menjemput Nyak Loet pulang dari sekolahnya.

No comments:

Post a Comment