Sunday, November 8, 2009

"Apa yang Harus Aku Lakukan Untukmu?"

Suatu hari, saya diundang menjadi pembicara di sebuah stasiun radio swasta di Banda aceh. Waktu itu tentang siswi berprestasi. Keceplosan, penyiarnya membacakan nomor handphone saya ke khalayak pendengar. Deuh, nggak disebarin aja udah banyak yang miss-call nggak jelas, apalagi udah diumumkan begitu! Jadi jelas aja, konsekuensinya, setelah acara hari itu, saya disms oleh entah siapa dan entah sesuka hatinya.

"Barakallah alaiki ukhti.."

"Hai, boleh kenalan?"

"Wah, cerita hidupmu sangat inspiring! Pengen deh jadi kamu" (please deh)

"Pengen deh ketemu sama kakak..."

dsb

Jadi seleb mendadak lah. Kacau deh inbox hape saya, penuh sebentar-bentar. Nggak bakat jadi artis nih

Sampai akhirnya suatu siang. Waktu itu saya sedang di kantor (ehm, ngantor euy, waktu itu saya dikontrak oleh sebuah NGO jadi translator mereka selama sebulan. Mumpung nunggu hasil SNMPTN 2008), baru saja selesai waktu makan siang, jadi udah siap bergerak lagi mengunjungi klien.

Tiba-tiba handphone saya berdering,

Suara : "Assalamu'alaikum, kak Nuril..."

Saya : "Wa'alaikumussalam warahmatullah. iya, ini siapa ya?"

Suara : (terisak tiba-tiba) Kak, Allah itu Maha Pengampun, bukan?"

Saya : (deg, ini...apa ini? Ditanya nama kok malah nanya 'berat' gini), "Tentu aja, dek, Allah Maha Luas pengampunan-Nya..."

Suara : "Meski kesalahan kita itu besar sekali, Kak?"

Saya : (tertegun, ini pertanyaan dalam banget. Di satu sisi saya juga bimbang. Bos saya udah keliatan mau berangkat. Kan nggak enak saya nelpon-nelpon di jam kerja gitu.) "Ya, dek.. Allah mengampuni segala dosa, yakinlah..."

Suara : (makin terisak) "Kak, saya bisa nggak Kak, kaya Kakak, kuat?"

Saya : (makin bingung. Saya? Kuat? Wah, efek talk show radio ini!) "Kenapa bicara seperti itu, Dek? Jangan putus asa seperti itu..."

Suara : (lebih terisak lagi, menggugu malah) "Tapi dosa saya besar sekali, Kak, besar sekali. Saya takut Allah nggak mau mengampuni saya.."

Saya : (beneran, bingung!) "Astaghfirullah, Dek... Jangan ragukan keampunan Allah. Dia sayang pada semua hamba-Nya. Kembali pada-Nya, Dek.."

Di titik ini, saya mulai menggunakan bahasa telenovela, ya, merayu dan memelas agar dia tak begitu down-nya. Tapi saya juga panik sebenarnya, bos saya mulai dehem-dehem dan ngelirik saya. Duh,nggak enak banget..

Saya : (si Suara masih terisak dan terisak) Dek, Kakak masih pengen ngomong banyak sama Adek, kita bisa cerita-cerita biar Adek lega. Tapi nanti boleh? kalau Adek mau, nanti kita bicara lagi, ya? Kakak mohon maaf, tapi Kakak sedang di kantor, bos Kakak udah ngeliatin Kakak terus dari tadi, nggak enak, dia orang Barat dan bukan muslim. Sekarang tenang dulu,ya, nanti jam 5 Kakak telepon lagi ya?"

Suara : (Isak memelan) Iya Kak, maaf ya Kak, mengganggu, assalamu'alaikum..."

Dan sambungan pun terputus. Jam 5 sore kutelepon balik, nomor si Suara sudah tidak aktif lagi. Awalnya saya pikir itu bercanda, maka saya baru kena 'prank'. Tapi jika bukan, Ya Allah, saya baru saja membiarkan seseorang yang barusan ingin menceritakan bebannya pada saya jatuh dalam keadaan yang entah bagaimana sekarang. Semoga Allah memberinya kemudahan.

Bagi saya, selain memang rada random ceritanya, saya jadi kepikiran. Saya kira cerita hidup saya standar saja, cuma mungkin agak terdramatisir sedikit di beberapa episodenya. Tapi, lihatlah, orang-orang mulai memberi harapan dapat mendapatkan yang lebih dari saya tanpa bisa saya cegah. Salahkah? Saya rasa tidak. Kita tidak punya hak mengendalikan apa yang orang pikirkan atas kita, TAPI, minimal kita punya kendali atas pikiran kita, kan? Kita punya kendali untuk lebih mensyukuri tiap nikmat yang dikaruniai atas kita dan selalu mencoba menjadi manusia yang paling bisa memberi manfaat bagi sekitarnya, semampunya. Kita juga harus punya kendali agar apa yang orang pikirkan atas kita tidak justru malah menjadi niat awal kita dalam terus-terusan memperbaiki diri, melainkan tetap memperbaiki diri dalam rangka mendekatkan diri pada Yang Punya semua potensi kita ini.

Mengenai si Suara, ah, pertanyaannya simpel, tapi 'berat'. Ya, kita, secara teoretis memang paham, bahwa Allah Maha Mengampuni. Tapi, dalam nyatanya, apakah kita sudah benar-benar yakin dan berprasangka baik pada-Nya bahwa kita bisa hijrah dari yang buruk ke yang baik, dari yang baik ke yang lebih baik? Sudahkah kita mengharapkan ampunan Allah dengan hati setawadhu' yang seharusnya? Berapa kali kita malah putus asa dari rahmat-Nya dan lupa untuk meminta? Suara, terima kasih, Dek, pernah singgah dalam kehidupan Kakak.

Dan, "Kak?" Saya memang agak sedikit biasa dipanggil "Kak" di angkatan 2008 di kampus saya. Meski jelas, bahwa sebenarnya saya juga lahir tahun 1990, sama dengan lebih dari 50% jumlah mahasiswa di angkatan 2008. Alasannya?

"Terlihat lebih dewasa, sih."

Kalimat di atas yang sering diucapkan orang sebagai alasannya. Ow, jangan, jangan terpana dengan kata 'dewasa'nya, tapi perhatikan kata 'TERLIHAT'-nya. Sungguh, saya masih sangat jauh dari kata 'dewasa' itu.

Ya. Saya bisa saja TERLIHAT lebih dewasa dan bukan BENAR-BENAR sudah dewasa, begitulah penafsiran saya pribadi. Artinya? Kedewasaan itu sejatinya mendarah daging dalam cara kita berpikir, berkata-kata, bertindak dan bersikap, terintegrasi (ceila bahasanya), dan tidak hanya TERLIHAT, melainkan juga TERDENGAR, TERASA, dan yang paling penting, TERPANCAR. So? Ya, teruslah berproses, karena kedewasaan itu tumbuh, bukan datang tiba-tiba. Ia butuh waktu. Sekarang hanya TERLIHAT, insya Allah mungkin kita akan TERDENGAR, TERASA dan TERPANCAR kedewasaannya tak hanya di mata manusia tapi juga di hadapan Allah.

Lalu tiba-tiba malam ini, ada lagi yang tiba-tiba menelpon saya. Seorang 'Adek' lagi. Kali ini tidak menangis, hanya saja seperti mengerang, suaranya tak jelas.

X : "Assalamu'alaikum, Kak.."

Saya : "Wa'alaikumussalam warahmatullah, kenapa, Dek?"

X : "Nggak tau, Kak, tiba-tiba saya, saya, (suara seperti mengerang, menahan tangis), saya cuma pengen telepon Kakak."

Saya : (Yang ini saya khawatir sebab saya kenal betul dengan Adek yang satu ini), "Ada apa, Dek? Ada yang bisa Kakak bantu?"

X : "Nggak tau, Kak, tiba-tiba, tiba-tiba, saya...saya, nggak enak perasaan aja. Saya merasa perlu telepon Kakak. Saya nggak tau kenapa, Kak. Saya benar-benar nggak tau."

6 menit dan saya tidak berhasil mendapatkan informasi lebih dari "Saya nggak tau, Kak." Kemampuan anamnesis saya masih belum top cer ini, wah, masih harus belajar lagi! Gimana mau wawancara pasien yang sulit cerita gini juga kalau nggak punya keahlian terlatih! Untuk dosen-dosen saya, saya janji saya akan belajar lagi, Dok!

Dan telepon terputus tiba-tiba. Saya tidak menelepon lagi karena saya rasa ia sedang labil dan memang keukeuh tak mau cerita. Esoklah insya Allah. Untuk sekarang, saya sms saja. Itu pun belum ada balasan.

Tapi lalu saya teringat, ini bukan pertama kalinya. Bukan pertama kalinya orang datang dan bertanya atau sekedar curhat pada saya. Tapi, apa sebenarnya yang sudah saya berikan untuk mereka? Saya merasa tidak pantas menjadi bahu labuhan mereka.

Kadang-kadang sebenarnya saya bingung, hendak memberi solusi apa pada beberapa curhat. Akhirnya hanya bisa mendengarkan dan mengutip kata-kata beberapa orang bijak saja. Atau paling banter, saya mikir lama-lama, lalu saya tulis, apa puisi apa tulisan lepas di blog, baru saya suruh orangnya baca, itupun udah bermetafora bunga-bunga, udah nggak begitu orisinil lagi.

Sebenarnya saya juga ingin bertanya, "Apa yang harus kulakukan untukmu?" agar jelas dia dapat apa yang dia inginkan. Tapi? Semua hanya tertelan dalam diam. Entahlah

Saya adalah tipe orang yang sulit ber-mellow-mode-ria dalam kata-kata langsung secara oral dalam percakapan sehari-hari. Secara tulisan mungkin masih bisa sembunyi di 'balik awan' atau di 'atas bulan' de es be, tapi, di dunia yang nyata? Saya lebih suka diam saat marah atau sedih (deuhhh, curhat euy hoho).

Lalu dihadapkan pada orang-orang yang dalam keadaan 'desperate' ingin diberi nasehat di dunia nyata? Oh, agak sedikit menantang. Harus berpikir cepat sebelum melontar kata-kata, mikirin hadits atau sekedar riwayat yang bisa diambil ibrahnya aja udah ngambil waktu, apatah lagi menenangkan dia?

Tapi kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, "Sebenarnya yang kamu mau bikin senang itu orang ini atau Allah? Jika saya bisa membuat Allah senang, maka otomatis penduduk dunia akan senang pada saya. Tapi jika saya hanya bisa membuatnya senang, apakah Allah pasti akan turut senang?"

INI BENAR-BENAR UJIAN SPIRITUAL BERAT.

Namun kemudian saya teringat, bukankah Allah tak pernah menguji kita lebih dari kemampuan kita?
Kalaupun ujiannya berupa sesuatu yang malah - kelihatannya - tidak begitu kita kuasai, apakah lantas kita tidak meyakini saja bahwa Allah punya rencana dan lebih baik kita jalani saja ujian itu sebaik-baiknya?
Begitu pula dengan apa yang orang lain pikirkan pada kita, baik itu berupa UNDER-ESTIMASI ataupun OVER-ESTIMASI, saya tiba di kesimpulan bahwa itu hanya semak belukar yang mencoba menutupi jalan labirin yang benar agar kita tertipu dan mengikuti jalan yang dibentuk oleh semak belukar tadi. Padahal jika kita tetap fokus pada labirin kita, kita tak akan tertipu dengan 'semak belukar' tadi. Jika kita jeli, kita pasti akan tetap melihat cahaya di balik semak lalu memangkasnya sehingga kita bisa melanjutkan perjalanan dalam jalur yang benar.

Berusaha menjadi yang paling bermanfaat bagi orang lain adalah sebuah tujuan mulia, karena bukankah sebaik-baik mu'min adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sekitarnya? Inilah dia jalan benar dari labirin kita tadi. Dan apa yang orang pikirkan kepada kita (dalam kasus saya, saya merasa dianggap 'lebih' dari apa yang saya miliki alias OVER-ESTIMASI) adalah rintangan yang harus kita lewati. Ya, tebarlah manfaat karena mengharap Allah yang membalas dan bukan karena ingin memuaskan pertanyaan "Apa yang harus kulakukan untukmu?" belaka.

Wallahu a'lam.

2 comments: