Thursday, December 31, 2009

Pentas yang Berderak

Apa dengan bertambahnya usia kita yang beranjak tinggalkan angka belasan, lantas kita bisa lebih leluasa melenggak di pentas yang kita ciptakan sendiri ini?

Apa pentingmu bertanya serupa itu?

Penting. Tentu saja penting bagiku. Pentas ini susah payah kita bina sejak awal. Ia berpondasikan bulir peluh kita bercampur riang kerjap cita-cita yang kita sulam sejak balita. Dan aku akan dengan mudahnya membiarkan ia berderak dalam keping gusar kehancurannya? Tidak, teman. Tidak!

Heh. Kau tahu apa? Kau mengerti apa? Pentas ini bukan milikmu saja. Bukan pula milikku semata. Apatah lagi cuma kita berdua. Bah! Ingat, teman, pentas ini milik setiap pendar yang ada dari tiap penjuru dunia! Dan kau dan inginmu itu tak akan menang.

[mengernyit] Dan mengapa aku tak akan menang? Mengapa inginku agar pentas ini tetap berbising nihil adalah mustahil?

Karena aku dan yang lain setuju bahwa sedikit gegap akan beri warna tertentu. Kau tahu bagaimana berdansa? Bersenang-senang. Nikmati sibakan layar dari pentas kita agar para tamu menonton pula sesekali jiwa muda kita. Hei, ini dunia!

[tertunduk lemas] Aku tak paham maksudmu, teman. Pentas ini begitu gemerlap di pertunjukan pertama kita. Dan mengapa kini harus kita beri tahu para penonton bahwa kita hanya bisa menggoyang dengkul dan tak lagi beri lakonan dengan kata-kata mutiara yang..

Ah! Munafik! Kau sebenarnya pun masih muda. Kau pun ingin derapkan langkah dalam nada-nada. Itu, pemuda itu butuh bahu untuk dipeluk, ke sana saja kau pergi. Ikut menari! Tak ada guna kau cecar aku, oh maaf, kami maksudku, terus-terusan. Kau tahu kan, domba yang memisahkan diri dari gembalaan hanya akan membuatnya menggiurkan untuk diburu serigala.

[bergetar dengan gigi merapat] Aku lebih memilih diterkam serigala daripada berderap langkah bersama kedurjanaan pentas yang kalian lenggakkan sendiri!

[melihat ke bawah] Silakan. Pintu keluar di sebelah sana.

[menyeret langkah, ragu] Aku, aku...

Kau pergilah. Tak ada gunanya. Kami hanya akan membuatmu semakin marah. Ha, atau kau mau bergabung saja?

[pipi membasah] Demi Pemilik Pentas, tak kah kauingat, Nabi kita pernah bersabda, seorang Pemercaya adalah cermin bagi Pemercaya lainnya dan jika ia melihat aib pada Pemercaya lain itu ia segera memperbaikinya*? Salahkah aku jika ingin menjadi cerminmu? Bukankah kita masih dalam garis Pemercaya?

[menggeleng, berlalu] Kau berkhotbah lagi. Saban Jumat sudah, jangan kautambah pula.

Kau berubah.

Dan semua orang memang berubah. Kini kita sudah tak lagi belasan dalam usia. Lihatlah, tentu saja aku, mereka, dan kau, nona, butuh bahu untuk dipeluk dalam dansa kita semua. Ayolah, pentas ini merah jambu dan kuning sudah. Bergabung atau tidak?


***


Lalu tiba-tiba kudapati aku tidak jadi pergi. Tapi aku pula tetap tidak ikut berderak di atas pentas. Aku duduk di bangku penonton dan memainkan jariku merunduk menatap sepatuku. Takut. Takut tiba-tiba lantai pun ikut berderak, lalu laut ikut berderak, lalu hati dan jantungku pun ikut berderak. Wahai Pemilik Pentas, aku harus bagaimana?

Sayup-sayup terdengar dengung dalam telingaku:

"Wahai Cahaya yang Nyata, ingat, seorang Pemercaya yang mau menghadapkan wajahnya dan bersabar terhadap gangguan suatu kaum itu jauh lebih banyak pahalanya daripada yang tidak**. Wahai Cahaya yang Nyata, ingat, kau tak akan pernah tahu, Sebelum Cahaya mana yang terakhir kali akan kau sujudi. Mungkin Sebelum Cahaya kali ini, mungkin tidak. Maka biar mereka berdansa, kau bisa sujud dan cerita diam-diam pada Pemilik Pentas tentang gulana. Gulana yang akan terus menggenang cuka di tengah luka, jika kau tak segera mencari penawarnya."

Lalu kudapati aku tertidur. Panjang. Lalu terbangun dalam keadaan pentas masih berderak.





Dari Tungkop ke Darussalam,

31 Desember 2009, dalam rapal doa rabithah.

* HR Bukhari

** Shahih Sunan Ibnu Majah, Syaikh al-Albani, kitab Al-Fitan, Bab ke-23, No. 3257 (shahih)

Di Tengah Banda

Ada Mesjid Raya Baiturrahman. Berhalamankan rerumput dan beberapa batang pohon. Di tengah halaman ada kolam. Kolam itu berisi - mungkin - puluhan ikan mas. Biasanya ada air mancur di tengahnya, tapi hari ini tidak. Menara di ujung halaman tegak menentang atap kota yang entah kenapa, tiap kali aku duduk 'bertapa' di sini, selalu mendung. Seliweran fotografer dan orang-orang yang datang untuk sekedar memandikan anaknya tak begitu ramai siang ini. Cenderung sepi. Buktinya, aku bisa duduk sendiri saja di teras tengah mesjid tanpa orang lain. Di kejauhan sebelah Selatan, Bukit Barisan samar dalam pandang sementara terus saja buai bayu mengusili ujung-ujung jilbab para wanita yang lalu lintasi halaman mesjid. Pemandangan kehidupan. Dan aku jarang sekali memerhati.

Mesjid ini banyak kenangannya. Ya, aku ingat pernah difoto di halaman mesjid ini. Waktu itu aku sedang menangis dalam gendongan ibuku. Lalu juga ada foto saat aku berusia dua tahun. Di foto itu aku seperti melihat adik bungsuku berdiri ragu dan wajah merajuk-cemberut.

Dan menaranya. Dulu, tiap Idul Fitri aku akan tiba dengan teman-teman dari Lamkeunung di tingkat paling atas dan menatap Lhok Nga, Ulee Lheu, Lhong Raya dan Darussalam dalam kitaran balkon yang sudah dilindungi dengan lingkupan kawat. Kami akan berdecak kagum lalu berandai terbang ke sini, melayang ke sana. Lama kami akan di sana, bisa dari mulai awal Dhuha hingga jelang Dzuhr. Mencumbui sepersekianribu lapisan langit. Riang dalam impi-impi kanak-kanak kami. Dan kagum, selalu kagum pada Krueng Aceh yang membelah kota ini menjadi dua.

Kini menara itu tak boleh dinaiki lagi. Sejak diajak berdansa oleh beberapa gulung gelombang dulu, katanya, ia tak lagi aman untuk dinaiki.

"Kak Ririn! Ngapain?"

Seorang siswi SMA barusan menyapaku. Hei, tetanggaku rupanya! Salah satu dari rekanku meninjau Banda dari menara dulu. Ah, sudah besar dia. Jarang sekali kami bertemu di Lamkeunung. Ia melambaikan tangan saja sementara aku hanya senyum dan mengangguk. "Mau pergi ke tempat lain nanti.", kataku. Dan memang benar, aku sebentar lagi akan berguru pada seorang guru. Aku biasa begitu setiap minggu.

Mesjid ini, ah, banyak cerita. Aku sahaja tak akan mampu kisahkan semua. Teras yang kududuki ini mungkin akan bisa cerita banyak jika ia berbicara. Ia sudah ditandangi banyak manusia. Entah dari mana-mana. Dari Geurutee, dari Tangse, dari Idie, dari Amerika. Ia terlanjur terkenal.

Cericit beburung gereja mengajakku sumringah. Tiba-tiba kudapati hidupku seringan kepakan sayapnya.


Banda, 31 Desember 2009.

Wednesday, December 23, 2009

Tangan Ini Berjuang Untukmu, Ummi

Tangan ini berjuang untukmu, Ummi
Memanah langit
Melukis pelangi
Memetik kuntum





Tangan ini mengepal untukmu, Ummi
Membunuh goda syaithani
Menolak bara duniawi
Harap antar kita ke taman syurgawi




Tangan ini menyulam untukmu, Ummi
Beludru
Kelambu
Songket rindu





Tangan ini tengadah untukmu, Ummi
Pinta ridha
Mohon mahabbah
Rentangi siang dan malammu.






*****


Saat tulisan ini lahir, aku tenggelam dalam dekapan seorang saudari karena tak sanggup lagi tegak dalam sesenggukan. Beberapa lain di sekitar kami larut, membiarkan kasih sayang basah lewat pipi-pipi mereka menyertai.

"Ukhti, tak kah kau ingin menulis puisi, hanya satu yang pendek saja, lalu kaukirimkan ke ibumu? Pernahkah kaumenulis tentangnya?"

Dan ketika aku menjawab pertanyaannya, ia langsung mendekapku. Aku, yang memang sudah rindu padanya karena sekian waktu tak sua, membiarkan cerita - yang hanya kami yang tahu - menyatu dalam guncang bahu dan pelukannya. Siang itu, beberapa mata terbukti masih punya beberapa genggam cinta, untuk ibunya. Ukhti, aku mencintaimu (sangat, sangat mencintaimu) karena Allah. Maaf aku jarang memberi waktuku untuk mendengar keluh-kesahmu.

Tuesday, December 22, 2009

Toko Jodoh

Alkisah, suatu hari seorang pria mendatangi sebuah toko. Toko itu bernama Toko Jodoh; ya, dia ingin mencari jodohnya yang sejauh itu tak kunjung datang mencuri hatinya ke toko tersebut yang memang sedang hangat diperbincangkan orang di negerinya. Maka ia pergilah ke lokasi dengan harap segera menemukan sang pelabuhan hati di toko tersebut hingga cintanya pun dapat dilabuh dengan damainya (haiyah, ini agak hiperbola dikit ye ).

Nah, setibanya ia di toko tersebut, ia mendapati bahwa toko tersebut terdiri dari beberapa lantai dan tidak ada yang menjaga. Di pintu depan didapati pemberitahuan bahwa pintu masuk dan pintu naik ke lantai-lantainya toko tersebut hanya bisa membuka dan tak bisa dipakai untuk keluar dari toko (hmm..seperti katup-katup pada jantung gitu kali ye? hehe), semacam one way lah alur dalam itu toko. Toko tersebut juga hanya boleh dikunjungi sekali, jadi sekali masuk, dapat tidak dapat itu jodoh yang dicari, nanti jika sudah keluar, tak boleh balik lagi.

Sang pria mengukuhkan niatan hati. Dan memang karena penasaran, maka masuklah ia ke dalam Toko Jodoh tersebut dengan harapan yang membuncah akan bertemu sang bidadari hati.

Masuklah ia ke lantai pertama. Di sana, ditemuinya tulisan:

BERHENTI DI SINI JIKA INGIN ISTRI YANG CANTIK DAN LEMAH LEMBUT PERANGAINYA. JIKA INGIN YANG LEBIH BAIK LAGI, SILAKAN KE LANTAI DUA.

Ahai, sang pria tentu saja ingin yang lebih baik dari sekedar cantik dan lemah-lembut perangainya, maka ia pun naik ke lantai dua. Di sana ada tulisan:

BERHENTI DI SINI JIKA INGIN ISTRI YANG CANTIK, LEMAH-LEMBUT PERANGAINYA DAN BAIK AGAMANYA.
JIKA INGIN YANG LEBIH BAIK LAGI, SILAKAN KE LANTAI TIGA.

Jika masih ada yang lebih baik, mengapa harus berhenti di sini, pikir sang pria. Maka ia pun naik ke lantai selanjutnya. Di lantai tiga, ia temui tulisan berikut:

BERHENTI DI SINI JIKA INGIN ISTRI YANG CANTIK, LEMAH-LEMBUT PERANGAINYA, BAIK AGAMANYA DAN INTELEKTUAL.
JIKA INGIN YANG LEBIH BAIK LAGI, SILAKAN KE LANTAI EMPAT.

Wow, sebegini "hebat" sudah kriteria istri yang ditawarkan, dan masih ada yang lebih baik? Ah, ayolah ke lantai empat, pikir sang pria. Ke lantai empat lah ia. Di sana, ia temui:

BERHENTI DI SINI JIKA INGIN ISTRI YANG CANTIK, LEMAH-LEMBUT PERANGAINYA, BAIK AGAMANYA, INTELEKTUAL, KAYA-RAYA DAN AHLI DALAM MENGATUR PERIHAL RUMAH TANGGA.
JIKA INGIN YANG LEBIH BAIK LAGI, SILAKAN KE LANTAI LIMA.

Maka ia pun bergegas naik ke lantai lima. Karena siapa tahu, di sana ada yang pintar bernyanyi dan menulis puisi, wah, makin bagus lagi, begitu pikir sang pria.

Namun apa yang ia dapati di lantai lima? KOSONG! Tak ada tulisan petunjuk tentang kriteria istri yang ada di lantai tersebut. Hanya ada satu pintu di pojok ruangan yang berhubungan langsung dengan tangga di luar bangunan, jalur untuk EXIT atau keluar.
Karena tak bisa lagi mundur ke lantai sebelumnya, ia pun dengan lesu menuju pintu keluar. Namun sejenak sebelum ia keluar, ia melihat sebuah papan pemberitahuan:

KEPADA : ANDA YANG TERPAKSA PULANG KARENA TERJEBAK OLEH LANTAI EMPAT INI.
SADARILAH, JIKA INGIN MENCARI SESEORANG YANG SEMPURNA KARAKTERISTIKNYA, ANDA TAK AKAN PERNAH BISA MENGGENAPKAN SEPARUH DIN ANDA. SYUKURILAH APA YANG ANDA MILIKI, BUKALAH HATI DAN LAPANGKANLAH PIKIRAN MENERIMA ORANG LAIN DALAM HIDUP ANDA. JIKA SAJA ANDA CUKUP REALISTIS DALAM MENCARI PASANGAN HIDUP, MAKA LANTAI DUA SUDAH LEBIH DARI SEKEDAR MEMADAI. MAKA KINI CARILAH TOKO JODOH LAIN, DAN JANGAN LUPA, BELAJARLAH DARI PENGALAMAN INI!
TTD, PEMILIK TOKO.



************************************

cerita di atas dapat dari email seorang teman, bertahun-tahun yang lalu. yang di atas itu betewe hasil rekonstruksi memori, jadi ga persis sama dengan cerita aslinya. TAPI, inti ceritanya tetap sama kok. So, mau ikut ke Toko Jodoh?

Monday, December 21, 2009

Masih Sabit

"Hijau, padang. Putih, salju. Ada lorong penuh pintu. Aneh. Kerikil sudah remang-remang. Bagaimana aku harus berjalan, tanpa tuntunan. Jam tanganku berkata 4 dan mega sudah violet. Aku musti segera, sebelum senja menyapa rembulan. Sabit, katanya."


- Seorang teman nun jauh di negeri Paman Sam


Aku terpaku membaca kata-katanya. Sungguh. Dalam tahun-tahun aku mengenalnya, aku tak pernah tahu ia menekuni dunia "merangkai kata" serupa ini. Dan aku hanya bisa tertegun. Membaca kata-katanya seperti berdiri di depan sebuah cermin. Ya, aku seperti melihat wajahku sendiri di dalamnya. Menyegerakan langkah sebelum rembulan tiba. Sabit. Ya, belum lagi purnama, itu berarti masih banyak waktu.


Lamkeunung, Ruang Rindu, 21 Desember 2009.

Gata

Seumaluen lam lumpoe jula
Gata
Nyang peutroh geunta
Nyang peusaho ie mata
Gata
Han han lee lon deungoe caritra
Gata
Peugura nyawong nyang na
Peulhoh meuchen nyang leh pat phoen tan na
Gata
Pakoen na?



Kamar lantai dua, ba'da Magrib, 21 Des 09.

Sunday, December 20, 2009

Lihatlah Televisimu

Lihatlah televisimu
Dan kau pun mengerti
Bahwa kau tak sendiri
Yang gemar dan cinta hanya sendiri
Dan kau lihat apa yang dia dapatkan di akhir hari?
Sedih yang tak akan pernah bisa berhenti


Dia berkata jika kau sendiri maka kau akan bebas berkreasi
Lalu tawarkan pabrik cokelatnya untuk diwarisi
Dan kau tahu, wahai saudari
Lihat dan resapi
Kata-kata sang anak kecil yang menolak pabrik untuk dimiliki sendiri
Musabab keluarga syaratnya tak boleh ikut menyertai


Kaulihat itu, saudari
Tiket emas sungguh tak berarti
Dibanding bahagia yang memang sulit dicari
Dan untuk apa lagi diberi itu-ini
Jika semua ada di sini (menunjuk ke hati)



Baru nonton Charlie and Chocolate Factory, dan aku menangis
Kenapa? Ini, yang untuk beberapa alasan, hanya bisa kutulis dalam larik-larik di atas.
Dan aku harus bisa memulai mencintai. Tak boleh lagi hanya tenggelam dalam dunia sendiri. Ya, karena ternyata dalam mencintai itu ada yang akan menghangatkan segala kebekuan. Dan aku butuh itu, butuh untuk mencairkan segala sesuatu yang selama ini beku.


Thursday, December 17, 2009

Bukan Apa-apa

Bukan Apa-apa



Bukan kejora
Karena memang bukan warisan angkasa
Menatapmu dalam hitung-hitung cerita
Aku tak jera

Bukan kejora

Lalu ada yang bertanya tentang asmara
Terkira aku sedih terdera-dera
Tidak, aku sama sekali tidak merana
Karena aku tidak jatuh cinta

Bukan Ilalang

Yang goyang ikut bayu jingga
Atau sekedar pencari bara
Dalam rusuhnya dunia
Fana

Bukan gembira

Bukan ini yang aku pinta
Tidak sedang jatuh cinta, aku ulang pula
Leluruh ungu kan tak mendosa
Bagi saja

Tapi entah, Nda

Karena kau bukan kejora
Atau ilalang digoyang jingga
Apatah lagi riak-riak gembira
Kau biasa






Lamkeunung, 17 Desember 2009, 23:30 AM
menjawab pertanyaan seorang Yunda

Monday, December 14, 2009

Great, People Change, Get It.

Great, people change, get it.
None you can do upon, since it is all their decision.
None you can say since sometimes you are the one that changes the most.
None you can tell people to return to how they were since you knew, if they told you to do so, you wouldn't.
None you can wish to The Almighty but a prayer; that whatever it is that changes, may it be the best that anyone can get.

Great, people change, get it.
Some change their 'pressy' shirts with 'abaya,
While some others change their huge head scarf with a bandana.
Some change their weekly islamic gathering with a hang out session,
While some others change their non beneficiable days with almost-everyday-meeting full of reminding-ful conversation

Great, people change, get it.
Great,
Just great,
And let The Greatest take all into accounts
When The Great Day comes
Soon
Or later

Tuesday, December 8, 2009

A Poetry

Yesterday she cried
Today she had begun to shine
Eventhough the tears were gone
Inside she had still died

Emotions of fear, anger, and hatred
All rushed through her mind
Like a little baby
She cried, cried, cried

Rushing to catch up with the crowd
But always falling behind
"Why is life such a misery?"
She cried

Life had brought her down
The answers she would not find
She believed she would find them one day
When life decided to be kind

written by Nurdan Tabak,
Meadowsheight, Monday, 23rd of February 2007, 1.13 AM.

*ini ditulis sahabat dekat saya waktu masih SMA dulu, buat saya. Tadi nemu di buku harian lama. Tulisan tangannya masih utuh di kertas yang ditempeli stiker 'smile' di ujung kanan bawahnya.*