Thursday, December 31, 2009

Di Tengah Banda

Ada Mesjid Raya Baiturrahman. Berhalamankan rerumput dan beberapa batang pohon. Di tengah halaman ada kolam. Kolam itu berisi - mungkin - puluhan ikan mas. Biasanya ada air mancur di tengahnya, tapi hari ini tidak. Menara di ujung halaman tegak menentang atap kota yang entah kenapa, tiap kali aku duduk 'bertapa' di sini, selalu mendung. Seliweran fotografer dan orang-orang yang datang untuk sekedar memandikan anaknya tak begitu ramai siang ini. Cenderung sepi. Buktinya, aku bisa duduk sendiri saja di teras tengah mesjid tanpa orang lain. Di kejauhan sebelah Selatan, Bukit Barisan samar dalam pandang sementara terus saja buai bayu mengusili ujung-ujung jilbab para wanita yang lalu lintasi halaman mesjid. Pemandangan kehidupan. Dan aku jarang sekali memerhati.

Mesjid ini banyak kenangannya. Ya, aku ingat pernah difoto di halaman mesjid ini. Waktu itu aku sedang menangis dalam gendongan ibuku. Lalu juga ada foto saat aku berusia dua tahun. Di foto itu aku seperti melihat adik bungsuku berdiri ragu dan wajah merajuk-cemberut.

Dan menaranya. Dulu, tiap Idul Fitri aku akan tiba dengan teman-teman dari Lamkeunung di tingkat paling atas dan menatap Lhok Nga, Ulee Lheu, Lhong Raya dan Darussalam dalam kitaran balkon yang sudah dilindungi dengan lingkupan kawat. Kami akan berdecak kagum lalu berandai terbang ke sini, melayang ke sana. Lama kami akan di sana, bisa dari mulai awal Dhuha hingga jelang Dzuhr. Mencumbui sepersekianribu lapisan langit. Riang dalam impi-impi kanak-kanak kami. Dan kagum, selalu kagum pada Krueng Aceh yang membelah kota ini menjadi dua.

Kini menara itu tak boleh dinaiki lagi. Sejak diajak berdansa oleh beberapa gulung gelombang dulu, katanya, ia tak lagi aman untuk dinaiki.

"Kak Ririn! Ngapain?"

Seorang siswi SMA barusan menyapaku. Hei, tetanggaku rupanya! Salah satu dari rekanku meninjau Banda dari menara dulu. Ah, sudah besar dia. Jarang sekali kami bertemu di Lamkeunung. Ia melambaikan tangan saja sementara aku hanya senyum dan mengangguk. "Mau pergi ke tempat lain nanti.", kataku. Dan memang benar, aku sebentar lagi akan berguru pada seorang guru. Aku biasa begitu setiap minggu.

Mesjid ini, ah, banyak cerita. Aku sahaja tak akan mampu kisahkan semua. Teras yang kududuki ini mungkin akan bisa cerita banyak jika ia berbicara. Ia sudah ditandangi banyak manusia. Entah dari mana-mana. Dari Geurutee, dari Tangse, dari Idie, dari Amerika. Ia terlanjur terkenal.

Cericit beburung gereja mengajakku sumringah. Tiba-tiba kudapati hidupku seringan kepakan sayapnya.


Banda, 31 Desember 2009.

No comments:

Post a Comment