Sunday, December 20, 2009

Lihatlah Televisimu

Lihatlah televisimu
Dan kau pun mengerti
Bahwa kau tak sendiri
Yang gemar dan cinta hanya sendiri
Dan kau lihat apa yang dia dapatkan di akhir hari?
Sedih yang tak akan pernah bisa berhenti


Dia berkata jika kau sendiri maka kau akan bebas berkreasi
Lalu tawarkan pabrik cokelatnya untuk diwarisi
Dan kau tahu, wahai saudari
Lihat dan resapi
Kata-kata sang anak kecil yang menolak pabrik untuk dimiliki sendiri
Musabab keluarga syaratnya tak boleh ikut menyertai


Kaulihat itu, saudari
Tiket emas sungguh tak berarti
Dibanding bahagia yang memang sulit dicari
Dan untuk apa lagi diberi itu-ini
Jika semua ada di sini (menunjuk ke hati)



Baru nonton Charlie and Chocolate Factory, dan aku menangis
Kenapa? Ini, yang untuk beberapa alasan, hanya bisa kutulis dalam larik-larik di atas.
Dan aku harus bisa memulai mencintai. Tak boleh lagi hanya tenggelam dalam dunia sendiri. Ya, karena ternyata dalam mencintai itu ada yang akan menghangatkan segala kebekuan. Dan aku butuh itu, butuh untuk mencairkan segala sesuatu yang selama ini beku.


No comments:

Post a Comment