Monday, December 21, 2009

Masih Sabit

"Hijau, padang. Putih, salju. Ada lorong penuh pintu. Aneh. Kerikil sudah remang-remang. Bagaimana aku harus berjalan, tanpa tuntunan. Jam tanganku berkata 4 dan mega sudah violet. Aku musti segera, sebelum senja menyapa rembulan. Sabit, katanya."


- Seorang teman nun jauh di negeri Paman Sam


Aku terpaku membaca kata-katanya. Sungguh. Dalam tahun-tahun aku mengenalnya, aku tak pernah tahu ia menekuni dunia "merangkai kata" serupa ini. Dan aku hanya bisa tertegun. Membaca kata-katanya seperti berdiri di depan sebuah cermin. Ya, aku seperti melihat wajahku sendiri di dalamnya. Menyegerakan langkah sebelum rembulan tiba. Sabit. Ya, belum lagi purnama, itu berarti masih banyak waktu.


Lamkeunung, Ruang Rindu, 21 Desember 2009.

No comments:

Post a Comment