Wednesday, January 13, 2010

Man 'Arifa Nafsah, 'Arifa Rabbah

Pernah merasa tersedak
Seperti ada yang menghadang bolus untuk mengikuti gerak peristaltis
Menuju esofagus
Lalu gaster?

Pernah merasa tercekat
Seperti ada yang mengobstruksi di trakea
Hingga Alveoli tak lagi berdifusi
Hingga Oksigen drastis hilang untuk perfusi?

Pernah merasa terhujam ke bumi
Seperti ada limfadenopati
Gelantungi tungkai
Musabab Filariasis?

Pernah merasa ekstremitas nihil sensasi
Sebagaimana jika asam laktat
Massal terproduksi
Saat respirasi tak lagi aerob?

Pernah merasa regio torak parasternal sinistra nyeri
Seolah atherosklerosis
Sudah ruptur plaknya
Hingga akhirnya Miokard - dengan tak berdayanya - infark?

Lalu

Pernah ingat bahwa kita punya homeostatis?
Atau jejeran makrofag yang siap memfagositosis?
Lalu susunan phospholipid bilayer pada membran setiap sel yang ada?
Kemudian sel-sel leher mukosa yang sekresi mukus untuk melindungi gaster dari HCl yang begitu asamnya?

Pernah ingat bahwa kita punya Plantar Reflex?
Atau Saraf Autonom?
Lalu gen tp53 yang antah-berantah padahal membuatmu tidak berneoplasma?
Kemudian garam-garam Vesica Fellea yang membuat lipid lebih gampang dilerai di duodenum?

Pernah ingat Tuhan?
Pernah baca janji-Nya?
Pernah perhatikan tanda-tanda-Nya?
Pernah kembali pada-Nya?

Jangan hanya rasakan sakit dan derita
Tapi juga ingat ada banyak hal sebagai penawarnya
Imbang, Dia selalu cipta begitu
Tinggal kita yang memutuskan; tetap yakin atau mulai ragu.





Lamkeunung, ah, tanggal berapa hari ini..
23:02 PM

Monday, January 11, 2010

Dari Andalas Untuk Kutaraja

Wahai perempuan yang mengerti rasa sakit
Kubayangkan kau melangkah ringan ke ranjang pesakitanku
Di tempat yang jauh
Telah kuterjemahkan hidup dalam sakit yang lancang

Sakitku
Sakit rindu
Rindu yang menyuburkan rumput di jalan kepulanganmu.

Aku membayangkan dirimu seorang yang pandai menahan rasa sakit
Tidak hanya itu
Dirimu pandai menghalau kesakitan
Sementara kita berada di tempat dan waktu yang sangat berbeda

Dan boleh kutahu mengapa kauberpikir serupa itu?
Atau itu hanya kira-pikir-bayangmu belaka?
Ah apalah, kukira doa saja


Ya
Doa
Seperti munajat Ali sebelum Fatimah membuka pintu untuknya

Lalu hujan
Rinainya geliat dalam pekat angkasa
Kutaraja mendengung
Dalam tariannya dalami lakon seorang pesakitan



Berarti tak perlu lagi kujelaskan sakit rindu itu
Hujan sudah menjelaskannya

Maksudmu?

Bukankah hujan baru saja menderamu
Pada tungkai-tungkainya yang panjang telah kutitipkan cerita
Sudah ia sampaikankah?

Entah
Aku tidak beri ia detik apapun sampaikan cerita; aku yang riyuh celoteh tanpa jeda
Ia hanya basahi dan derasi sementara aku pekat dalam kontemplasi
Jadi apa cerita yang kautitip itu?

Tentang angin yang nyinyir
Melulu menghembusku dengan wangi bunga padi
Tak peduli, bahwa sayapku belum utuh
Aku kini serupa anak pipit kedinginan
Lalau,hujan tiba-tiba merayuku
Jika air di dalam pelupukmu itu sudah penuh, mengapa meneteskannya ke dalam rongga dada?
Tidakkah kau cemas, jantungmu nanti berlubang?
Berikan air pelupuk itu padaku
Kau tak perlu lagi mengeluhkan angin nyinyir itu
Katakanlah, di halaman hati siapa air ini kujatuhkan
Maka, kepada hujan kubisikkan, turunkan tangismu di halaman seseorang yang mengerti sakit





Dari Andalas ke Kutaraja, 4 dan 5 November 2009.

*hasil menelusuri kotak masuk dunia maya berhuruf awal "F". Keren juga. Bisa dikembangin lagi jadi cerpen kayanya.*

Sunday, January 10, 2010

Narasi dari Seulawah Inong (Untuk Pinus di Seulawah Agam)

Dari Seulawah Inong aku menatapmu
Kau menari bersama pinus lain dan tertawa
Aku menggapai udara hendak memandang pucukmu berdendang
Temani para anak Adam yang hendak pulang kampung
Dari Kutaraja nun menghilang dalam pandang kita

Dari Seulawah Inong aku memperhatikanmu
Kau tegak dalam goda udara yang berlari
Rapat dengan para pinus itu bikinku iri
Megah
Aku mendesah

Dari Seulawah Inong aku melihat
Tumpah binar purnama atasmu dan para pinus
Sementara kabut menyelinap lamat-lamat
Pekat di selajur Seulimeum mendaki
Lalu berhenti di Laweung

Dari Seulawah Inong
Ah, kau gempita bersama pinus bersama
Kerjap kasih sayang di pinggir jalan
Hijau menjulang
Rapat dengan para pinus itu bikinku ingin bersama

Beberapa waktu berlalu

Dan kau yang di Seulawah Agam sana
Membuatku berteriak pada Tuhan
Kulihat beberapa anak Adam datang malam
Lalu penggal dan bakar satu-satu pelan-pelan
Kau, belukar, pinus

Kau yang di Seulawah Agam sana
Gidik cekam tubuhku melihatmu meronta
Tapi anak-anak Adam durhaka itu tetap penggal dan bakar sambil merokok dan tertawa
Aku geram
Aku berteriak pada Tuhan

Kau yang di Seulawah Agam sana
Hijau menjulang
Sejuk hari-hari kausulam
Kini tenggelam
Dalam debu arang yang buatku makin berteriak pada Tuhan

Tuhan Maha Adil, kau dengar itu anak Adam!
Tuhan balas sesuai buat-buat yang ada, camkan itu anak Adam!
Kaurenggut pinus-pinusku di Seulawah Agam sana
Aku kecewa, kaudengar ini, aku kecewa!
Ya, ilalang sepertiku juga bisa berdoa, tunggu saja Tuhan nanti menjawabnya!

Lamkeunung, 7 Januari 2010, 23:54 PM


Monday, January 4, 2010

Rumah

Bagiku ada rumah
Di jumput pinus
Di sela karang
Di tengah jerami
Di tepi mesjid tempat kita duduk dengar khutbah

Bagimu ada satu rumah
Ia kotak
Berbordir sulam - mirip - emas
Selimutnya sutera
Kaucerita, mewah

Aku meneguk rumah
Di serak pasir
Di tunggang-tunggang bakau
Di bulan
Kauperangah

Kautanam anggrek di teras rumah
Ungu
Putih
Loreng
Indah

Aku cari lain rumah
Di liuk angin menampar
Saat aku membelahnya seraya merajuk
Sementara tanganku mengepal
Dan mataku jelma merah

Rumah kita terpisah
Oleh mil-mil lorong
Oleh kotak-kotak kebun timun
Oleh pelepah kelapa yang jatuh saban hari
Kuulangi lagi, terpisah





Sebelum Cahaya, 5 Januari 2009. Dalam lantun "Thank You Allah" milik Maher Zein.
Menyetting satu nama dalam minda dalam Recycle Bin.

Sunday, January 3, 2010

[curhat] Tentang Rindu

Pernah merasa sangat rindu?
Lalu menitiskan air mata karena sesak yang dipicu oleh rindu tersebut?
Bawaannya menyendiri terus-menerus dan gusar jika ada yang menuduh atau mereka-reka perasaan kita sampai ada yang mengira sedang patah hati?
Merasa ada yang 'kosong' dan minta 'diisi' sesegera mungkin?

Mungkin terkesan sangat melankolis dan random. Tapi tiba-tiba saya terkurung dalam sebuah kerinduan seperti dalam pertanyaan-pertanyaan di atas.

Imbasnya, saya tiba-tiba mendapati diri banyak 'bertapa' di beberapa tempat dalam sebulan belakangan. Mengembara mencari jawaban untuk rindu yang saya tak tahu untuk apa atau siapa.

Ada yang sekedar di mesjid kampus, di atas kendaraan yang sedang saya kendarai, di mesjid Raya Baiturrahman dan beberapa titik lain di seputaran Banda aceh dan sekitarnya. Bahkan, yang paling 'jauh', hari ini saya menjelajahi sebuah desa di pesisir bernama Alue Naga bersama seorang teman. Menemukan beberapa spot yang dalam pandangan kami menarik, kami mengambil beberapa foto dengan skenario dan setting tertentu. Foto-foto itu, tanpa disadari teman saya, sebenarnya adalah sebuah 'hasil penyutradaan' saya yang ada maksudnya. Di tiap pose yang saya arahkan padanya, saya sebenarnya seperti ingin mencari tahu, untuk siapa/apa-kah rindu yang saya punya ini? Adakah pose-pose tersebut terefleksi dalam kehidupan sehari-hari kami? Adakah ia mengganggu regulasi hubungan saya dengan banyak pihak yang memiliki saham tertentu dalam kehidupan saya ini?

Pantai. Saya seperti pulang kampung jika melihat pasir dan deru ombak. Meski tetap ada getar melihat riak-riak gelombang yang pasang kadang-kadang, saya tetap menikmati aroma asin pesisir sebagai sebuah pengisi rongga dada. Saya bisa memandang gelung-gelung gelombang itu berjam-jam maka kebanyakan saya tidak berani datang sendiri ke pantai, takut lupa diri. Seperti yang saya katakan tadi, hari ini saya ke pantai lagi. Alue Naga namanya. Saya sering ke mari sebelumnya. Dan uniknya, setiap teman yang saya ajak ke mari tak pernah tahu ada 'sudut' serupa ini di dekat daerah kampus, Darussalam. Memang hanya beberapa yang saya ajak ke mari, dan setiap yang saya ajak itu tentu saja tahu bahwa ini tempat 'buang teriak' favorit saya. Lautnya cenderung kehijauan, pertanda curam. Gelombangnya besar. Pasir bercampur hingga ke ujung buih-buih ombak, hingga jarang orang datang ke sana untuk 'mandi-mandi'. Cenderung sepi di hari apapun. Paling ramai jika liburan seperti beberapa hari ini, itu pun hanya oleh para pemancing.

Dan hari ini langit baru saja membuat basah bumi Darussalam dan sekitarnya. Kelabu mendungnya lebih tepat dibilang mengajak meringkuk di bawah selimut. Tapi bagi saya tidak. Semakin dipandang kelabu mendung hari ini, makin menusuk-nusuk rindu itu. Ia seperti ingin ditemukan dan berbisik pada saya, "Mungkin kau bisa temui aku di antara deru gelombang itu hari ini." Maka saya pun menderukan Revo saya menujunya. Di sana rerintik mengusili tiap inchi dari jilbab kami (saya dan seorang teman saya). Laut sedang pasang. Bentang pantai yang biasanya cukup bagi kami berlari-lari dan mengukir nama tadi menyempit oleh kejar-kejaran ombak yang menggulung sedikit lebih besar dari biasanya. Kentara sekali warna lautnya hari ini; hijau menggradasi. Rindu itu tiba-tiba menggelegak. Namun belum cukup menggelegak untuk memberi tahu banyak tentang dirinya. Saya masih bingung dengan 'kekosongan' yang saya miliki ini.

Maka kami memutuskan masuk ke perumahan warga di sekitar pantai. Desa itu begitu sunyi. Mungkin semua orang sedang tidur siang. Dan saya - beserta teman saya - cukup terkejut menemukan pemandangan-pemandangan baru. Ada tambak yang membentang mirip danau besar yang tenang dengan tepi-tepinya dipenuhi bunga-bungaan air berwarna ungu. Beberapa tepinya malah mengingatkan saya pada tundra (padang lumut) atau bahkan prairie (padang ilalang) serta savana (padang rumput). Langit kelabu tercerminkan sempurna di tenang permukaan air. Di tengahnya ada sebidang tanah membelah, seperti pematang. Pematang ini besar, penuh dengan bunga-bunga ungu tadi. Lama kami di sana, memotret beberapa sudut (baca : angle) dengan lebih banyak teman saya menjadi objeknya. Makin kami telusuri, makin kami temui banyak 'savana' lain di sisi lain tambak raya tersebut.

Tapi ternyata saya masih rindu. Saya bingung, apa yang sebenarnya saya rindukan. Dalam perjalanan pulang, saya renung-renungi lagi. Saya merasa ada yang hilang dari saya, dan ialah yang saya rindukan. Tapi apa?

"Ya ayyatuha an-nafsu al muthmainnah..."

Teman saya sangat mengidolakan sepenggal ayat dari Al-Fajr itu dan ia berkali-kali menceritakan asbabun nuzulnya pada saya sepanjang perjalanan sekaligus mengaitkannya dengan namanya yang memang mengandung kata "Muthmainnah". Saya, sedari dulu, menciut tiap kali mendengar ayat ini. Seperti merasa jauh, merasa belum bisa menjadi se-"tenang" kata "muthmainnah" itu. Jadi saya hanya bisa mengangguk-angguk mengaminkan doa teman saya bahwa ke-muthmainnah-an itu akan benar-benar tiba dalam diri kami masing-masing. Inikah kerinduan itu? Rindu akan ke-muthmainnah-an itu?

Saya belum puas. Buktinya saya masih merasa 'kosong'. Rindu ini menusuk terus. Tak jarang saya mengaitkannya dengan berbagai permasalahan yang saya temui. Tetapi tidak, ternyata ia berdiri sendiri, tidak terkontaminasi permasalahan-permasalahan lain.

Kemarin, saya memberanikan diri mengajak binaan-binaan saya bertemu di dekat pelabuhan di ujung kota Banda Aceh, Ulee Lheu. Di sana pun, saya heran, rindu itu 'berteriak' ketika saya memandangi Bukit Barisan di kejauhan dan samar-samar Pulau Weh. Kilau-kilau butir air diterpa gemerlap sinar mentari siang juga membuatnya 'bergejolak'. Saat shalat ashar di mesjid Baiturrahim di bibir pantai tersebut, saya tiba-tiba mendapati diri saya berdoa mengharapkan bisa segera menjawab tanya saya tentang rindu tersebut dengan sangat dalam.

Lalu tiba-tiba saya jadi suka menyanyikan dan mendengarkan nasyid-nasyid tentang rindu. Dan ah, entahlah. Apa ini normal? Atau hanya saya saja yang terdeviasi secara mental begini? Sementara lembar-lembar tilawah dan diskusi serta bincang dengan berbagai pihak saya telan, saya merasa secara tidak langsung rindu itu menyembunyikan diri. Ia hanya menggelegak di saat-saat tertentu saja. Perasaan ingin memeluk dan menjaga, semacamnya lah, jika ditanya bagaimana rasanya. Tapi ia tidak secara fisik juga.

Ada yang sudi beri nasihat?




Lamkeunung, 3 Januari 2009