Sunday, January 3, 2010

[curhat] Tentang Rindu

Pernah merasa sangat rindu?
Lalu menitiskan air mata karena sesak yang dipicu oleh rindu tersebut?
Bawaannya menyendiri terus-menerus dan gusar jika ada yang menuduh atau mereka-reka perasaan kita sampai ada yang mengira sedang patah hati?
Merasa ada yang 'kosong' dan minta 'diisi' sesegera mungkin?

Mungkin terkesan sangat melankolis dan random. Tapi tiba-tiba saya terkurung dalam sebuah kerinduan seperti dalam pertanyaan-pertanyaan di atas.

Imbasnya, saya tiba-tiba mendapati diri banyak 'bertapa' di beberapa tempat dalam sebulan belakangan. Mengembara mencari jawaban untuk rindu yang saya tak tahu untuk apa atau siapa.

Ada yang sekedar di mesjid kampus, di atas kendaraan yang sedang saya kendarai, di mesjid Raya Baiturrahman dan beberapa titik lain di seputaran Banda aceh dan sekitarnya. Bahkan, yang paling 'jauh', hari ini saya menjelajahi sebuah desa di pesisir bernama Alue Naga bersama seorang teman. Menemukan beberapa spot yang dalam pandangan kami menarik, kami mengambil beberapa foto dengan skenario dan setting tertentu. Foto-foto itu, tanpa disadari teman saya, sebenarnya adalah sebuah 'hasil penyutradaan' saya yang ada maksudnya. Di tiap pose yang saya arahkan padanya, saya sebenarnya seperti ingin mencari tahu, untuk siapa/apa-kah rindu yang saya punya ini? Adakah pose-pose tersebut terefleksi dalam kehidupan sehari-hari kami? Adakah ia mengganggu regulasi hubungan saya dengan banyak pihak yang memiliki saham tertentu dalam kehidupan saya ini?

Pantai. Saya seperti pulang kampung jika melihat pasir dan deru ombak. Meski tetap ada getar melihat riak-riak gelombang yang pasang kadang-kadang, saya tetap menikmati aroma asin pesisir sebagai sebuah pengisi rongga dada. Saya bisa memandang gelung-gelung gelombang itu berjam-jam maka kebanyakan saya tidak berani datang sendiri ke pantai, takut lupa diri. Seperti yang saya katakan tadi, hari ini saya ke pantai lagi. Alue Naga namanya. Saya sering ke mari sebelumnya. Dan uniknya, setiap teman yang saya ajak ke mari tak pernah tahu ada 'sudut' serupa ini di dekat daerah kampus, Darussalam. Memang hanya beberapa yang saya ajak ke mari, dan setiap yang saya ajak itu tentu saja tahu bahwa ini tempat 'buang teriak' favorit saya. Lautnya cenderung kehijauan, pertanda curam. Gelombangnya besar. Pasir bercampur hingga ke ujung buih-buih ombak, hingga jarang orang datang ke sana untuk 'mandi-mandi'. Cenderung sepi di hari apapun. Paling ramai jika liburan seperti beberapa hari ini, itu pun hanya oleh para pemancing.

Dan hari ini langit baru saja membuat basah bumi Darussalam dan sekitarnya. Kelabu mendungnya lebih tepat dibilang mengajak meringkuk di bawah selimut. Tapi bagi saya tidak. Semakin dipandang kelabu mendung hari ini, makin menusuk-nusuk rindu itu. Ia seperti ingin ditemukan dan berbisik pada saya, "Mungkin kau bisa temui aku di antara deru gelombang itu hari ini." Maka saya pun menderukan Revo saya menujunya. Di sana rerintik mengusili tiap inchi dari jilbab kami (saya dan seorang teman saya). Laut sedang pasang. Bentang pantai yang biasanya cukup bagi kami berlari-lari dan mengukir nama tadi menyempit oleh kejar-kejaran ombak yang menggulung sedikit lebih besar dari biasanya. Kentara sekali warna lautnya hari ini; hijau menggradasi. Rindu itu tiba-tiba menggelegak. Namun belum cukup menggelegak untuk memberi tahu banyak tentang dirinya. Saya masih bingung dengan 'kekosongan' yang saya miliki ini.

Maka kami memutuskan masuk ke perumahan warga di sekitar pantai. Desa itu begitu sunyi. Mungkin semua orang sedang tidur siang. Dan saya - beserta teman saya - cukup terkejut menemukan pemandangan-pemandangan baru. Ada tambak yang membentang mirip danau besar yang tenang dengan tepi-tepinya dipenuhi bunga-bungaan air berwarna ungu. Beberapa tepinya malah mengingatkan saya pada tundra (padang lumut) atau bahkan prairie (padang ilalang) serta savana (padang rumput). Langit kelabu tercerminkan sempurna di tenang permukaan air. Di tengahnya ada sebidang tanah membelah, seperti pematang. Pematang ini besar, penuh dengan bunga-bunga ungu tadi. Lama kami di sana, memotret beberapa sudut (baca : angle) dengan lebih banyak teman saya menjadi objeknya. Makin kami telusuri, makin kami temui banyak 'savana' lain di sisi lain tambak raya tersebut.

Tapi ternyata saya masih rindu. Saya bingung, apa yang sebenarnya saya rindukan. Dalam perjalanan pulang, saya renung-renungi lagi. Saya merasa ada yang hilang dari saya, dan ialah yang saya rindukan. Tapi apa?

"Ya ayyatuha an-nafsu al muthmainnah..."

Teman saya sangat mengidolakan sepenggal ayat dari Al-Fajr itu dan ia berkali-kali menceritakan asbabun nuzulnya pada saya sepanjang perjalanan sekaligus mengaitkannya dengan namanya yang memang mengandung kata "Muthmainnah". Saya, sedari dulu, menciut tiap kali mendengar ayat ini. Seperti merasa jauh, merasa belum bisa menjadi se-"tenang" kata "muthmainnah" itu. Jadi saya hanya bisa mengangguk-angguk mengaminkan doa teman saya bahwa ke-muthmainnah-an itu akan benar-benar tiba dalam diri kami masing-masing. Inikah kerinduan itu? Rindu akan ke-muthmainnah-an itu?

Saya belum puas. Buktinya saya masih merasa 'kosong'. Rindu ini menusuk terus. Tak jarang saya mengaitkannya dengan berbagai permasalahan yang saya temui. Tetapi tidak, ternyata ia berdiri sendiri, tidak terkontaminasi permasalahan-permasalahan lain.

Kemarin, saya memberanikan diri mengajak binaan-binaan saya bertemu di dekat pelabuhan di ujung kota Banda Aceh, Ulee Lheu. Di sana pun, saya heran, rindu itu 'berteriak' ketika saya memandangi Bukit Barisan di kejauhan dan samar-samar Pulau Weh. Kilau-kilau butir air diterpa gemerlap sinar mentari siang juga membuatnya 'bergejolak'. Saat shalat ashar di mesjid Baiturrahim di bibir pantai tersebut, saya tiba-tiba mendapati diri saya berdoa mengharapkan bisa segera menjawab tanya saya tentang rindu tersebut dengan sangat dalam.

Lalu tiba-tiba saya jadi suka menyanyikan dan mendengarkan nasyid-nasyid tentang rindu. Dan ah, entahlah. Apa ini normal? Atau hanya saya saja yang terdeviasi secara mental begini? Sementara lembar-lembar tilawah dan diskusi serta bincang dengan berbagai pihak saya telan, saya merasa secara tidak langsung rindu itu menyembunyikan diri. Ia hanya menggelegak di saat-saat tertentu saja. Perasaan ingin memeluk dan menjaga, semacamnya lah, jika ditanya bagaimana rasanya. Tapi ia tidak secara fisik juga.

Ada yang sudi beri nasihat?




Lamkeunung, 3 Januari 2009

No comments:

Post a Comment