Monday, January 11, 2010

Dari Andalas Untuk Kutaraja

Wahai perempuan yang mengerti rasa sakit
Kubayangkan kau melangkah ringan ke ranjang pesakitanku
Di tempat yang jauh
Telah kuterjemahkan hidup dalam sakit yang lancang

Sakitku
Sakit rindu
Rindu yang menyuburkan rumput di jalan kepulanganmu.

Aku membayangkan dirimu seorang yang pandai menahan rasa sakit
Tidak hanya itu
Dirimu pandai menghalau kesakitan
Sementara kita berada di tempat dan waktu yang sangat berbeda

Dan boleh kutahu mengapa kauberpikir serupa itu?
Atau itu hanya kira-pikir-bayangmu belaka?
Ah apalah, kukira doa saja


Ya
Doa
Seperti munajat Ali sebelum Fatimah membuka pintu untuknya

Lalu hujan
Rinainya geliat dalam pekat angkasa
Kutaraja mendengung
Dalam tariannya dalami lakon seorang pesakitan



Berarti tak perlu lagi kujelaskan sakit rindu itu
Hujan sudah menjelaskannya

Maksudmu?

Bukankah hujan baru saja menderamu
Pada tungkai-tungkainya yang panjang telah kutitipkan cerita
Sudah ia sampaikankah?

Entah
Aku tidak beri ia detik apapun sampaikan cerita; aku yang riyuh celoteh tanpa jeda
Ia hanya basahi dan derasi sementara aku pekat dalam kontemplasi
Jadi apa cerita yang kautitip itu?

Tentang angin yang nyinyir
Melulu menghembusku dengan wangi bunga padi
Tak peduli, bahwa sayapku belum utuh
Aku kini serupa anak pipit kedinginan
Lalau,hujan tiba-tiba merayuku
Jika air di dalam pelupukmu itu sudah penuh, mengapa meneteskannya ke dalam rongga dada?
Tidakkah kau cemas, jantungmu nanti berlubang?
Berikan air pelupuk itu padaku
Kau tak perlu lagi mengeluhkan angin nyinyir itu
Katakanlah, di halaman hati siapa air ini kujatuhkan
Maka, kepada hujan kubisikkan, turunkan tangismu di halaman seseorang yang mengerti sakit





Dari Andalas ke Kutaraja, 4 dan 5 November 2009.

*hasil menelusuri kotak masuk dunia maya berhuruf awal "F". Keren juga. Bisa dikembangin lagi jadi cerpen kayanya.*

No comments:

Post a Comment