Friday, December 21, 2012

Rekam Jejak 5-6 Desember 2012


Ini zaman edan.Zaman di mana cerita tentang "Kijang" bisa diplintir jadi tentang "Sedan".
Ini zaman teknologi bermutu.Satu foto, seribu cerita; tak kisah ceritanya asli atau palsu. 
Ini zaman Hak Asasi Manusia.Kecuali diri sendiri, semua yang lain boleh diganggu kedamaiannya.
Ini zaman demokrasi. "Kalau belum aku yang berkuasa, akan kubusukkan mereka yang sedang memimpin kini." 
Ini zaman nasionalisme tinggi. Meski tak lagi dijajah Tuan-Noni, harus berani berkoar-koar di tengah damainya suasana pendidikan rakyat di tengah hari.
Ini zaman ajaib. Sebab seolah hanya yang berjanggut dan berjilbab lebarlah yang munafiq, yang lain cuma "manusia biasa" yang boleh beraib.
Aku? Butiran debu di pinggir kali. Menonton semua sambil bergumam dalam kunyah-kunyah cita-cita tinggi, "Duhai, aku mau diri yang terintegrasi dengan aturan Tuhan, lepas dari ajakan-ajakan maya dunia. Cukup sekali Tsunami."


Status Facebook, di-update di Tungkop, 5 Desember 2012.

Mendapat 77 likes dan 23 shares, saya masih merasa dunia masih saja belum seutuhnya bisa membuka mata tentang mana yang benar mana yang salah. Namun demikian, saya tidak khawatir. Sebab ada Yang Maha Melihat. Seperti yang saya update sehari setelahnya;


Allah tidak pernah tidur. Allah tahu tiap kronologis cerita, bahkan yang paling ngelindur.
Allah paling paham meski manusia kadang berusaha membuat suatu masalah kabur.
Allah selalu tahu, dalam niat dan konspirasi apa kita tercebur. 
Jika tidak di dunia, nanti di akhirat saja kita lihat, biar Allah yang memberikan keputusan, siapa yang sebenarnya berbohong dan siapa yang jujur. 
Selamat pagi para pencari kebenaran. Jangan pernah berhenti cuma karena tersandung satu dua batu. :)


Dan mengutip kata-kata seorang teman dalam salah satu statusnya di Facebook juga;

"Saya kasih tahu kenyataannya buat kalian2 yang ngomong anak LDK dan anak kantin. itu isu pantengong yang sudah dipelihara lebih puluhan tahun biar kalian bermusuhan. setelah tamat, kalian akan melihat dunia yang sebenarnya. kalian pikir kalian akan bisa hidup dengan anak kantin saja? atau anak LDK saja? tidak akan bisa. mungkin saja istri kalian nanti adiknya adalah anak LDK, ataupun teman kerja kalian adalah anak kantin. ataupun tentangga kalian adalah anak LDK atau anak kantin dulu. lalu kalian mau lemparan2 batu lagi? bawa lari kotak suara? koar2 kalian hebat? moga kalian cepat dewasa nak. yang kalian lakukan itu semua tidak berarti ketika kalian tamat kuliah. sooo...jaga perilaku agar jangan sampai sampai kalian menyesal dikemudian hari."

Sangat mengimpikan Universitas Syiah Kuala yang lebih cerdas dan intelektual, yang meskipun berbeda ideologi dalam berpikir dan menentukan solusi bagi pelbagai permasalahan yang ada, namun tidak sampai menunjukkan kebarbaran sambil mendongak bangga. Amin.

Monday, December 17, 2012

To A Man I Dearly Love

Once in a while, sometimes in life, you may feel a little down. Like me right now. No, I don't really have anything big in mind. Nothing that makes my life as if put onto a hot firing wire. It's just that certain time where you suddenly realize that you've been going on for far too long without having someone you dearly love to talk to beside you.

I have all thanks and gratitude to God for everyone around me right now. But really, somehow, everyone has that one hole in their heart which could only be filled but by particular person. That particular person you know has so great influence upon you. That particular person who defines who you are. That particular person that becomes the reason as to why you survive on every decision you take, including to stay within a situation you dislike greatly just because that particular person tells you to do so.

It is never wrong to love someone. It is even not wrong at all to have some tears poured upon our faces whenever we miss that someone. God had allowed the prophet Muhammad p.b.u.h. to cry over his passed away child, Ibrahim. Then God sure is not going to stop me from crying over some longing too, right? It is such a twisted feeling, been going on for long and for some reasons, I learn to know that these love and longing that I have have been shaping one side of my personalities; "the melancholic poet", who never talks too bravely about any sort of confession. For most of my longings had never been expressed much but into prayers in silence or swept away with every other things in life that I have to do. And on top of that, that someone who has been creating this feeling in me, has been more often far than close to me; making the "missing period" worsen along the way.

I never got too understand on how your race becomes something that made some people kept on reminding me to never admit your presence in my life. To disguise it, at least, not to admit it. But really, words orally could be monitored, but who dared to stop love from growing inwards? Who could ever tell my heart from growing all seeds of admiring and learning so much from you even in the frequent distances spread between us for you still have much to learn out there?

I learnt to be able to get into other people's shoes, from you.

I learnt to respect other people even if they don't respect you back.

I learnt to befriend with self-loneliness and kept on smiling with it when everyone else got away from me.

I learnt to be content for not having as much money as other people's.

I learnt to believe in me when other people kept on pointing my weaknesses in my face.

I learnt to make positive judgments for all the things I don't have.

I'm sorry, this time, I can't hold my tears any more like you taught me always. For I'm missing you so badly yet I don't know how to express it. Knowing that you get sick from this distance is enough to have me worried but not doing anything worthy but praying. So far, I don't see any other man I could let my tears fall for. So far, I don't see any other man I could offer my remaining love for. It is for the prophet p.b.u.h and you and so far, no one else.

Dad, come home soon.


From a room built with your years of love, 17 Dec 2012.

Tuesday, December 4, 2012

Paragraf-paragraf Waktu

Senja bermuara
Padamu
Yang berderap pada satu mimpi
Tegak
Payung bagi tiap lalang dan kanopi

Fajar menyelimuti
Gigilmu
Yang dirayapi harap dan takut
Gelantung cita-cita rapi di sudut pagi
Berkancing doa

Malam mengetuk pintu
Yang pelan-pelan kuukir sejak baheula
Jeparaku sendiri

Dhuha adalah
Cahaya yang tertunda
Bagi penjelajah dunia yang mencari gulungan
Ilmu dan bijaksananya
Angkasa

Jejak-jejak kita kelana jauh dan fana
Jelma lorong dan gang yang tak berujung
Belum beralamat
Pada satu rumahpun

Padamu
Yang mencari makna
Yang belum punya nama 
Dalam diamnya lautan bisu

Aku 
Mengirim
Harapan 
Panjang-panjang, lengkap dengan mendungnya dunia sebagai layar


4 Desember 2012.
Saat makan siang di kantin RSUD Meuraxa.

Thursday, November 29, 2012

Cinta Tak Perlu Wajah!


Salah satu adegan terfavorit saya di dorama Jepang berjudul "Bara No Nai Hanaiya" (Toko Bunga tanpa Mawar) adalah yang di atas. Secara singkat, Ceritanya adalah tentang seorang penjual bungam Shiomi Eiji, yang merupakan ayah tunggal dari seorang anak bernama Shizuku. Di awal dorama, secara umum penonton biasanya akan menangkap kesan bahwa Eiji menjadi orang tua tunggal sebab pacarnya meninggal saat melahirkan putri mereka, Shizuku. Eiji bekerja sebagai tukang penjual bunga untuk mencukupi kebutuhan mereka. Walaupun kehidupannya cukup sulit tapi ada satu hal yang memberikan arti dan sukacita dalam hidup Eiji yaitu Shizuku, tapi terjadi suatu kesulitan ketika Shizuku mulai bertingkah aneh, menyembunyikan wajah dengan memakai topeng kain (ada yang berwarna kuning dan ada juga yang berwarna merah muda). Secara singkat, usut punya usut, Shizuku melakukan hal tersebut sebab ia pikir bahwa setiap kali Eiji melihat wajahnya, Eiji akan menjadi sedih sebab teringat akan ibunya Shizuku yang meninggal sebab melahirkan dirinya. Maka dengan niat ingin membuat ayahnya tak lagi sedih itulah mengapa ia menutup wajahnya. 

Eiji awalnya bingung dan khawatir. Bagaimana jika Shizuku di-bully teman-teman sekelasnya sebab menggunakan hal aneh semacam itu di kepalanya. Namun ternyata pada salah satu kesempatan di mana ada temannya yang mencoba melepaskan topeng tersebut, Shizuku malah dibela teman-teman sekelasnya sebab ia adalah seorang "bunga kelas".

Tapi Eiji, yang sama sekali tidak menginginkan anaknya merasa bersalah berkepanjangan seperti itu memohon agar Shizuku melepaskan topengnya dan bahwa ia sama sekali tidak bersedih tiap kali melihat wajah anaknya tersebut. Namun Shizuku tidak semudah itu melepaskan topengnya. Pada akhirnya Shizuku melepaskan topengnya, namun di episode 8-9, ia yang akhirnya tahu bahwa Eiji bukan ayah kandungnya (padahal ia sangat sayang pada Eiji) memberikan satu tes bagi Eiji, untuk tetap mengenalinya di antara sekelas teman-temannya dengan topeng-topeng yang mirip dengan yang ia gunakan di awal-awal episode.

Di sinilah saya benar-benar terhenyak. Benarlah. Bahasa cinta itu lebih dari sekedar rupa. Bahwa jika kita sudah mencintai seseorang (baik saudara seiman, rekan sejawat, dll) secara tulus dari jiwa, maka mengenalinya adalah bukan lagi dari wajah, tapi dari jiwa. Begitu saja terdeteksi keberadaannya. Teringat salah satu ucapan seorang teman ketika saya tanyakan padanya (ia sudah menikah dan punya 2 orang anak), bagaimana caranya kita tahu bahwa kita sudah jatuh cinta pada seseorang dalam petunjuk Allah (bukan sekedar cinta sebab ukuran fisik atau materiil lainnya). Katanya (kira-kira) :

"Tenang saja, Rin. Nanti ketika masanya tiba, kita akan tahu sendiri. Sebab cinta macam itu, jiwa-lah yang jatuh cinta, bukan raga. Maka tanpa alasan yang bisa dijabarkan secara akurat, tiba-tiba saja kita akan merasa, 'Ah, inilah dia.', sesederhana itu saja."

Ah, manis sekali. Jiwa yang jatuh cinta. Tanpa pemanis buatan. Tanpa pengawet apa-apa. Tanpa harus memasang konde atau celak mata tebal.

"Mereka adalah satu kaum yang cinta mencintai dengan ruh Allah tanpa ada hubungan sanak saudara, kerabat diantara mereka serta tidak ada hubungan harta benda yang ada pada mereka. Maka, demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa dikala orang lain takut, dan mereka tidak berduka cita dikala orang lain berduka cita." (H.R. Abu Daud)
Dan saya rasa, tak ada satu manusia normal pun yang akan menolak cinta yang semacam di atas. Cinta yang terpatri antar-ruh, lepas dari segala ukuran duniawi. Semoga kita termasuk ke dalam kaum yang menganut cinta serupa itu. Amin. 


Di sela jam jaga malam yang tenang (tanpa pasien yang tiba-tiba partus/ abortus/ kejadian-kejadian obstetrik-ginekologik lainnya di Rumah Sakit Meuraxa, 29 November 2012, 00:12 AM

Sunday, November 18, 2012

Sebuah Puisi untuk Sekomplek Bumi Suci

Aku mungkin seperti lilin
Yang menyala sejenak
Semalam saja
Lalu pagi-pagi meleleh

Yang bercahaya
Tanpa banyak daya
Bukan matahari yang punya energi sendiri
Bukan berdikari

Aku hanya sebohlam saja
Yang dalam temaram mencoba menerang
Yang ketika fajar, dimatikan hingga tiba lagi dwiwarna jingga

Aku hanya setitik bintang bagi sepandangan hitam
Langit malammu yang perak akan kiriman meluka
Sementara awan bersekutu menyembunyikan
Aku yang pudar dalam pendar ramai angkasa

Karena aku tetap rindu
Rindu engkau menjadi milik segenggam semesta merdeka

Sebab aku kadung tenggelam padamu
Meski masih sebongkah-setengah-mengenal

Oleh cemburu pada wanginya tanah basahmu
Dan semua senyum-senyum wajah yang bersimbah darah

Aku adalah noktah tak nyata
Sebutir debu bagi segurun pasir derap langkahmu di dera-dera waktu
Tapi dengan cinta paling sajadah
Dengan syahdu paling hayati
Dan rerumpun doa paling hakiki

Aku sebiji raga
Bagi segunung jiwa-jiwa tak takut senjata
Atau batu-batu yang menggelegak dalam udara
Tapi dengan susunan pinta di balik dinding kamarku sahaja
Aku memimpikanmu pelan-pelan

Dan Tuhan saksinya
Bahwa aku akan selalu menyimpan namamu dalam kantung besar di kamar depan nuraniku
Meski aku tak sinar sesinarmu dalam berdiri menentang tirani
Walau aku tak tegap berani turut berdiri
Aku selalu di sini
Mendoakanmu merdeka lagi


sumber gambar: http://pkskudus.org/wp-content/uploads/2012/11/palestine.jpg

Lamkeuneung, 18 November 2012, 01:41 WIB

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu


Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu 

Oleh: Taufik Ismail





Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu, 
serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku, 
meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor agraria,
serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-sepatu serdadu
menginjaki tumpuan kening kita semua, 
serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam, 
di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi air mataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun  bilangan umur mereka, 
menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, 
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya, 
siapakah yang tak menjerit 

serasa anak-anak kami Indonesia jua yang dizalimi mereka – tapi saksikan tulang muda
mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,
pembelit leher lawan mereka, 
penyeret tubuh si zalim ke neraka.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani 
dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, 
jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu, 
darah kami pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi

‘Allahu Akbar!’
dan 
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta,
menebarkannya ke media cetak dan elektronika, 
mengoyaki tenda-tenda pengungsi di padang pasir belantara, 
membangkangi resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila, 
mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda, 
aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia: 
doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak jalanNya, yang ditembaki dan kini dalam penjara,
lalu dengan kukuh kita bacalah ‘laquwwatta illa bi-Llah!’

Palestina,
bagaimana bisa aku melupakanmu 
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

1989

Wednesday, November 7, 2012

Kau, Kita, Kota



Dalam negeri ini ada satu kota
Di mana kupu-kupu bersayap permata
Pendar sahaja binar pelita
Tiada gang yang sudi gulita

Dalam kota ini ada kita
Burai terali dalam cahaya
Mahligai abadi tanpa mantera
Kau kasih, aku terima

Dalam kita ada cerita
Yang jalari dedahan langit dan pintu angkasa
Penuhi dada dengan tamanna
Akan hidup sesuci-suci muara

Kita; tak ada cakap selain cinta

Cinta yang serenade penuhi bejana
Yang isinya kita ciprat cuma-cuma
Sorai suka, derai lara

***
Sementara kata-kata kita terus bertahta
Aku dan kau selalu suka cita
Bunda Yanda senantiasa restu wibawa
Kita – tentu saja – semai teduh di sawah-sawah tepi jantung kita

Lalu sebuah cahaya timur

Kau kerja, aku menganggur
Lalu jingga satu senja
Kau – harusnya – kembali, aku belanja

Kemudian begitu saja
Andalas kita bak dansa
Entah wortel entah mentega
Kutinggal semua, takut kau entah bagaimana

***

Kau ada di mana?
Kata mereka hadiri acara
Tapi di mana?
Mereka merunduk dan tak sambung apa-apa
 
Kau ada di mana?
Jantung, paru-paru dan rusukku tabrak sini-sana
Makin senja makin merana
Hilang akal musabab durja

***

Detik didesak menit diusir jam disodok hari
Aku tanpa henti mencari
Kau yang telah mencuri hati
Kan kucari, kan kucari

Selayang berita

Waktu itu kau ada di pesta
Sepasang jiwa ikat cinta
Kau diundang, tak kautolak itu pinta

Gegas langkah
Gopoh-gopoh bertanya
Alamat yang helat acara nikah
Setelah jawab mereka, udara dan kulitku bersenyawa

***

Bayangkan satu kota
Di dalamnya ada kita
Bagi kita mutiara, intan, permata
Semua jelma-jelma cinta

Di sana, bayangkan kita

Gelak dalam lembar-lembar tak dusta
Canda dalam renda songket mutiara
Gadang-gadang yang bercahaya

Kita; tak ada cakap selain cinta

Cinta yang serenade penuhi bejana
Yang isinya kita ciprat cuma-cuma
Sorai suka, derai lara

***

Ah, Kanda, imajiku berlari penuh gulana
Reguk titis-titis impi tanpa sebenar kita
Aku lukis padang rumput tanpa kata
Pelosoti pita-pita pelangi nirwarna

Kanda, apa ini durjana

Aku lihat tanah itu onggok segunung tutup acara
Bisu dan tuli pepohon tak cerita
Bahwa mungkin kau titip pesan satu saja
 
Kanda, lalu bagaimana?
Rumah kita reruntuh menganga
Aku dan kau tak lagi bersama
Baik kulelang bahagia pada Yang Punya

***

Yang Punya ingin titip hikmah berita
Pada tiap hilang-hilang kasih dan cinta
Yang muram yang nestapa
Begitu kata imam mesjid kita
Dulu di Banda
Sempat di Tasikmalaya
Beberapa ranah lain jua ada
Kini di Pariaman kita

Apa, kita ini mungil kerdil daya tiada

Mungkin ada beberapa kita
Yang punya sajadah-sajadah tapi lupa lipat di mana
Begitu kata imam mesjid kita

Apa, kita ini kecil-kecil bertingkah pula
Terima kasih sering alpa dikata
Padahal Yang Punya selalu beri tak bisa dikira
Begitu imam mesjid kita sambung bicara

Apa, kita ini buih-buih semata
Limpah di pantai atau selam dengan gurita
Acap tepuk dada untuk beberapa perkara
Minta ampunlah dan berdoa, imam mesjid akhiri kata
 
***
Aku tolak gejolak saja
Pada tiap genggam yang kurindu pada tangan kita
Yang Punya, ya, Yang Punya
Dia yang punya rencana

Kanda, untung sajadah kita masih bersisa

Untung aku masih bisa eja a ba ta
Aku percaya syurga
Kurapal pinta pada-Nya agar kita sua di sana
Lebih dari itu biar tetap kusapa
Angin dan hujan di kota kita
Agar mereka tahu kau – sempat – kagumi mereka
Dan helai-helai puisi kautoreh demi segala rasa

Banda aceh, 17 Oktober 2009

Puisi ini terinspirasi oleh kejadian di mana 200-300 orang terkubur longsor ketika menghadiri resepsi pernikahan di sebuah restoran di Pariaman). Dimuat di antologi Sebilah Sayap Bidadari; Memorilibia 7.9 SR (Pustaka Fahima, Jogja).

13 April 2010 - Sekarang

Dan hari terus digesuk malam,
Tinggal kita yang harus menyegerakan Isya
lalu Tahajjud dan Witr di penghujungnya
Kemudian kembali Fajar
Dan lewati hari tanpa melewati Dhuha
Lalu kembali senja


Ini hidup, anak muda
Kita bukan boneka
Kita adalah sebuah jiwa
Yang bisa berkata-kata
Dan bisa menentukan cerita

Kita boleh menangis
Lalu tertawa
Yang penting
Tetap selalu berkaca
Dan berdoa


Darussalam, 21:29 WIB.

Wednesday, October 31, 2012

Kita Ini Pengembara Terasing

Kita ini pengembara terasing
Dengan sekantung air
Dan segulung tikar bergelung di tengkuk
Serta kelontang piring dan gelas kaleng menggantung pada ikatan tikar itu

Lalu para cuaca hadangi
Merajam kita dengan tusukan salju
Kecaman cahaya siang
Lemparan jarum-jarum air
Dan tamparan angin

Dan beberapa dari kita tak punya peta
Sementara yang lain punya peta tak punya mata
Atau ada mata tapi tak bawa apa-apa
Ada juga bawa peta, punya mata, tapi tersasar jua

Kita gegas tembusi badai sesak pepasir
Hingga saga mata kita menatap saujana
Perih tak hanya mata tapi juga jiwa
Hanya jeda mengerang tiap habis senja

Ya
Malam masih hela
Dan kita masih bergerilya
Bersama kunang-kunang di sela gemintang
Dalam hitam beludru malam

Jadi mari ingat lagi
Kita ini pengembara terasing
Dengan sekantung air
Dan segulung tikar bergelung di tengkuk
Serta kelontang piring dan gelas kaleng menggantung pada ikatan tikar itu


Lamkeunung, sehari jelang Februari, 2010.

Diuji Sebab Beriman


"Jadi, Pak, apa bedanya antara berpikir secara negatif dan berpikir realistis? Berpikir negatif akan selalu membuat kita merasa tidak mampu atau pantas menjalankan sebuah gebrakan sementara berpikir realistis akan membuat kita berpikir tentang sederet kemungkinan terburuk yang akan menghambat. Kadang-kadang kita mencoba berpikir realistis tapi malah jatuh ke dalam sebuah kenegatifan."

Pertanyaan di atas ditanyakan oleh salah satu peserta workshop Young Leaders for Indonesia di Hotel Borobudur, 6-7 Februari 2010 yang lalu. Saya tercekat. Tiba-tiba saya berteriak, "Ya, saya punya pertanyaan yang sama! Itulah pertanyaan yang harusnya saya tanyakan sejak dulu! Beri saya jawabannya!". Dan semua orang terbengong-bengong melihat seorang muslimah berjilbab yang selama workshop terlihat ceria dan senang-tenang saja ini mulai emosional. Seorang peserta wanita berwajah oriental di sebelah saya langsung mengelus-elus pundakku yang waktu itu sudah mulai menitikkan air mata.

Alhamdulillah.

Paragraf kedua fiktif adanya.

Tapi ya, benar, agaknya sedikit saya pun mulai berpikir; apakah selama ini saya sedang mencoba menjadi realistis dengan kehidupan saya sendiri atau saya sedang mengembangkan pola pikir negatif dalam membuat keputusan-keputusan sejauh ini.

"Nuril merasa ingin berhenti di sini saja."

Orang yang saya ajak bicara diam dan melihat saya dengan tatapan lurus yang sulit diartikan. Lalu dia menghela nafas dan berkata, "Berhenti? Berhenti dari apa? Young Leaders for Indonesia? Atau?"

"Ya. Yang itu. Rasanya terlalu membuat sempit. Entahlah. Target-target yang ada begitu terasa buyar sejak Nuril ikut serta ke dalamnya. Nilai Nuril pun mulai ada C-nya. Workshop-workshop selanjutnya akan membuat Nuril akan ketinggalan dua sesi skills lab dan itu berarti akan harus mengulang tiga hal; satu ujian blok yang dapat C tadi dan dua skills lab blok (urogenitalia & birth and pregnancy). Apa yang harus Nuril katakan pada orang tua?"

"Ah, Nuril," katanya tertawa kecil. "Coba bayangkan, apalah dua sesi skills lab yang bisa diulang itu dengan kesempatan yang hanya diberikan kepada dua orang saja dari Aceh ini ke Jakarta sana! Tidak mudah, tidak mudah. Sayang kalau harus berhenti di sini. Memangnya di luar sana Nuril ada amanah lain apa?" Ia tertawa. Saya paham benar tertawanya bukan bermaksud mengejek melainkan menganggap saya sedang bercanda dengan apa yang saya katakan.

"Jika pun harus berhenti, Nuril sudah merampas posisi yang Nuril dapatkan sekarang itu dari seseorang yang lain yang harusnya mau menggantikannya. Orang lain mungkin mau membayar berapapun untuk mengikuti workshop itu jika saja seandainya Nuril tidak mendapatakannya dulu. Secara singkat, orang-orang itu sudah menitipkan amanahnya pada Nuril, jadi tidak bisa dibuang seenaknya."

Saya menelan ludah. Benar juga. Lalu saya ulang pertanyaan yang saya tulis di awal tulisan ini pada orang tersebut.

"Iya juga sih. Tapi bedakan. Banyak yang bisa kita lakukan, lakukan. Tapi sesuaikan dengan kapasitas kita, nah, di situlah poin realistisnya. Bukan meremehkan potensi diri, tetapi mengenalinya dengan hati-hati. Tak mungkin kita bisa melakukan semua hal."

Saya diam saja. Hingga seorang lain menyeletuk, "Istikharah."

Saya mendongak dan sang penyeletuk senyum dalam diamnya.

"Sudah pernah sekali untuk sesuatu bersifat amanah."

"Dan hasilnya?" Ia bertanya

"Melepasnya. Asisten anatomi. Sengaja Nuril jawab soalnya salah satu dan tidak begitu teliti dengan yang lainnya. Nilai Nuril cuma beda satu dengan yang lulus terakhir dari tes tahap pertama itu. Jadi jatah itu bisa diambil orang lain, alhamdulillah."

Dia senyum lagi. Ternyata, dulu pun ia begitu. Ia memutuskan untuk tidak menjadi seorang yang berkutat di akademis serumit Laboratorium Anatomi. Ah, saya ingin belajar lagi bagaimana senyum seringan itu.

"Dan Rin mulai merasa disorientasi. Sedikit kelabakan dengan apa-apa yang Rin kerjakan sekarang. Mereka semua seperti tidak berkaitan."

Kali ini orang lain yang saya ajak bicara. Dan dia senyum juga. Senyum, senyum. Subhanallah, saya begitu kagum dengan orang-orang yang senyum (tanpa tekanan dan damai. Entahlah, senyum-senyum serupa ini hanya bisa dirasakan dengan batin dan bukan sekedar senyum biasa dalam basa-basi percakapan).

"Tapi Allah tidak pernah menguji kita lebih dari yang kita mampu, kan?"

"Ya," jawabku, "Al-Baqarah ayat 286 kan? Tapi di ayat tersebut ada juga doa yang berbunyi, "Ya Allah, janganlah Kaupikulkan kepada kami beban lebih dari yang sanggup kami pikul." Nah, itu, berarti apa? Apa memang sebenarnya bisa ada kondisi kita diuji lebih dari yang kita mampu?"

Dia senyum lagi. Dia bilang, "Itu berarti Allah menuntun kita untuk berdoa kepada-Nya. Hanya orang-orang sombong yang tidak melibatkan Allah dalam urusan-Nya. Allah sebenarnya tahu kita maunya apa, tapi, ud'unii fastajib lakum,kan? Berdoa dulu, baru dikabulkan..."

Saya tertegun lagi. Ya, berdoa.

"Tidak beriman seseorang sampai dia diuji dulu keimanannya..."

Yang ini orang lain lagi yang menyeletuk. Ia yang diam saja sedari tadi ternyata menyimak.

"Dan itu berarti, Allah masih menganggap kita beriman, pantas untuk diuji," sambungnya.

Rabb, limpahi berkah dan keluasan pikiran bagi mereka yang sudah memberikan aku nasihat-nasihat hari ini.



Kantor BEM FK Unsyiah, 22 Februari 2010, qabla ashar.

Dua Langit (Dari Medan ke Banda Aceh, 20 tahun)




Waktu itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari Jakarta menuju Banda aceh. Menumpangi sebuah pesawat, saya yang cuma bisa melorot lemas di kursi waktu itu hanya sanggup memandang ke luar jendela dan terpaku pada beberapa pemandangan yang sebenarnya itu-itu saja; langit dan awan. Kurang kerjaan banget kan? Tapi mau gimana lagi, Traveller’s Diarrhea yang menyerang saya waktu itu terlalu menguras energi dan konsentrasi. Boro-boro untuk membaca atau sekedar menulis puisi, untuk menegakkan kepala saja susah. Bawaannya mual dan pengen muntah melulu. Saya pikir, ha, ini lah dia satu dari sekian orang yang ga bisa jadi orang kaya di masa depan nanti. Baru nginap di hotel bintang lima sekali aja udah gitu, begh, apalagi kalau harus tinggal di Istana Negara nanti tho! Aduh, aduh, hoho..

Eh ya, belum cerita kenapa harus ke Jakarta plus nginap di hotel bintang lima ya?


Jadi singkatnya, saya, bersama 49 orang mahasiswa(i) lain dari universitas yang ada di beberapa penjuru Indonesia (ada yang dari UI, ITB, ITS, USU, UNSRI, UNHAS, dsb) mengikuti workshop berjudul Young Leaders for Indonesia Kampus 2010 yang diadakan oleh Mc Kinsey & Company, sebuah perusahaan yang bergelut di bidang leadership advisor semacamnya yang – katanya sih – cukup terkenal secara global. Kami para mahasiswa (i) ceritanya semacam sedang digodok dan dibentuk untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia pada tahun 2020 dalam berbagai bidang yang kami geluti di perkuliahan masing-masing. Program ini cukup serius digarap. Buktinya, untuk akomodasi dan transportasi semuanya ditanggung. Tempat nginapnya aja bikin Traveller’s Diarrhea, eh, salah, maksudnya, tempatnya bikin melongo! (baca: yang jelas-jelas melongo minimal saya sendiri lah hehe) Judul hotelnya Borobudur. Konon, dulu pas Pemilu, teman-teman KPU (haiyah, TEMAN-TEMAN? Sadar, Rin, sadar..) ngitung suaranya di hotel ini. Anaknya Om Esbeye (what? OM? Heleh-heleh, Rin, bangun, bangun..) juga resepsi pernikahannya di sini. Bintang lima cuy! Apa ga bling-bling ni mata anak kampung kaya saya begini? Pas nyampe ke hotel, hampir ga tega mau tidur di atas tempat tidurnya, cosy banget!! (nah kan, saya ga bakat jadi orang kaya kan??)


Untuk para pengisi workshop yang pertama waktu itu, juga bukan orang-orang yang bisa gampang ditemui di kesempatan lain; Anies Baswedan (rektor Universitas Paramedina yang jadi moderator debat kandidat capres 2009 itu lho), Dino Pati Djalal (Jubirnya Om Esbeye sekaligus pendiri lembaga bernama Modernisator), Sandi Uno (satu dari 10 orang terkaya di Indonesia gitu deh) dan Butet Manurung (seorang guru yang mengajar dari rimba ke rimba yang udah terkenal mendunia, meski saya juga awalnya ga tau tentang beliau :D ). Bagi beberapa, tokoh-tokoh tersebut tidak terlalu sesuai dengan platform prinsip kehidupannya, tetapi paling tidak pengalaman dan cerita mereka banyak yang bisa diambil ibrahnya lho. Ha? Oh, tidak, tentang apa yang mereka bicarakan nanti saja terpisah ya diceritainnya. Sabar, sabar, nanti tanda tangan saya menyusul (lho????)


Eniwei, mari kembali ke jalan tol.


Nah, pas saya dalam perjalanan pulang dari workshop yang dari tanggal 6 sampai tanggal 7 Februari yang lalu itu (pulangnya tanggal 8 Februari), saya kan merhatiin tuh, langitnya. Standar sih. Langit biru. Awan putih. Jadi teringat lagu kesenangan saya waktu masih kanak-kanak dulu;


Kulihat awan

Seputih kapas
Berarak-arak di langit luas
Andai kudapat terbang ke sana
Akan kuraih kubawa pulang


Memandangi langit dari dalam pesawat membuat saya teringat ayah saya. Suatu hari, ketika beliau baru pulang dari sebuah workshop dari luar kota ketika saya masih SD (info: saya sekarang udah kuliah semester 4), saya iri sekali dengan passing board yang ada dalam tas beliau. Saya jadi pengen naik pesawat juga. Walhasil, rewel lah saya minta naik pesawat. Beliau berkata, “Kalau mau naik pesawat, rajin-rajin belajar. Jaga nilai Bahasa Inggris-nya. Kalau pintar, nanti bisa naik pesawat, dibayarin orang lain malah.”


Sepertinya pesan itu benar-benar menghantui saya. Saya yang tidak pernah dibolehkan kursus Bahasa Inggris (sebab alasan ekonomi dan lain-lain) mulai bercakap-cakap dengan diri sendiri di depan cermin. Cas, cis, cus. Grammar salah, ga peduli. Ga tau arti kata, buka Hassan Shadily (nyolong dari lemari ayah). Bermodal materi pelajaran Bahasa Inggris dari sekolah, saya selalu mempraktekkan materi tersebut di depan cermin setiap pulang sekolah. Ah, saya rindu masa-masa itu, masa-masa di mana saya begitu mengenal potensi diri dan konsisten dalam mempertajamnya. Motivasi dari ayah saya begitu besar pula, saya harus akui itu.


Baru sekarang saya paham apa maksud ayah saya waktu itu. Bukan bermaksud ‘matre’ dengan iming-iming naik pesawat atas bayaran orang lain, melainkan nilai penghargaan dari orang lain atas diri kita yang dimaksudkan beliau. Rasanya saya ingin mengajak langit berbincang, mengajaknya mengingat bahwa waktu itu bukan pertama kalinya saya naik pesawat dan bukan atas dana pribadi sama sekali. Ayah, ah, butuh satu novel untuk menjelaskan cerita apa saja yang sudah engkau tanamkan padaku sedari kecil yang ternyata baru berbuah sekarang.


Dan langit berpendar di bawah mentari punya sinar. Begitu kerlap dalam lautan gulali putih. Terang dan tenang sekali langit hari itu. Begitu benderang. Seolah memeluk saya yang sedang rapuh (karena Traveller’s Diarrhea ya, plis deh). Awan-awan membentuk pulau-pulau gembul menggemaskan di satu sudut langit.

Sementara di sudut lainnya, awan-awannya berpencar. Ada juga yang membentuk wajah manusia, kuda, bla bla.


Ha, akhirnya, ini dia, ini dia yang membawa inspirasi; ada sehampar luas awan yang datar seperti lapangan sepak bola. Luas dan putih. Imajinasi saya bergerak menembusi jendela pesawat dan mulai menjelma diri menjadi istana-istana besar dan kecil di atas ‘kapling melayang’ tersebut. Tep! Lanjutan sebuah cerpen yang menggantung di folder computer di rumah pun dapat sebuah pencerahan! (ha, nantikan cerpen ini, harus masuk media pokoknya insya Allah!)


“Penumpang yang terhormat, beberapa saat lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Polonia, Medan. Harap kembali ke tempat duduk dan mengencangkan sabuk di kursi anda, menegakkan sandaran kursi dan menutup meja di depan anda serta membuka tutup jendela.”


Hiyah, mau ‘saldo’ lagi nih perut, pikir saya. Siap-siap menahan gerakan peristaltic ekstra yang akan menuai mual-mual kembali. Ayo, ayo, focus pada pemandangan di luar jendela saja. Alihkan perhatian, alihkan perhatian! Tahan, tahan, jangan muntah!!!! (ceritanya mensugesti diri, yak, tatap mata saya…halah!)


Lalu saya kembali terpana.


Pesawat pun mendarat dengan sempurna dan selamat, meski gerimis mengguyur bandara dan sekitarnya. Ya, ada hujan! Padahal tadi di atas sana benderang! 


Dan saya pun sadar. Ada dua langit hari itu. Dua langit yang batasnya entah di mana. Tiba-tiba saja kehangatan di atas sana berganti sejuk rinai air menerpa. Dan saya, beserta puluhan penumpang lain melewati kedua-duanya. Dari atas turun ke bawah.


Mari curhat sedikit. Hari itu adalah tanggal 8 Februari, hari di mana jatah usia saya berkurang lagi setahun. Hari yang sempurna memangkas usia belasan saya. Hari yang membuat saya hanya berjarak  satu tahun dari batas usia minimal yang sudahg harus punya NPWP (hei, serius dong ah!) 


Dan saya, jika bisa dibaca pada blog-blog entry sebelumnya, sedang dalam fase-fase mempertanyakan banyak hal tentang jalan yang saya pilih, masa depan yang saya rancang dan rindu yang saya tidak tahu apa yang membuat beberapa puisi lahir tanpa bisa dicegah.


Dan melihat langit yang ‘mendua’ serupa itu, saya sadar. Ya, itulah ibarat hidup kita. Ia memang satu, tetapi selalu punya minimal dua sisi. Katakanlah dua sisi itu terdiri dari sisi gelap dan sisi terang. Atau ethos dan tharnatos (Freud bilang kaya gini). Atau yin dan yang (Kungfu mode on). Atau, teori yang paling saya favoritkan, fujjar dan taqwa (baca QS Asy-Syams di Quran masing-masing). Apa yang kita rasakan terhadap hidup itu ditentukan posisi yang kita pilih di antara kedua sisi. 

Kembali ke dua langit tadi, langit terang dan langit gelap yang berbatas tipis dan samar itu jelas sekali topografinya. Ya, langit di atas sana akan selalu terang karena awan nyaris tak bisa menutupi mentari karena memang ‘jarak apung’-nya tak akan pernah bisa menutupi pandangan kita dari mentari. Sementara langit di bawah yang gelap adalah karena memang hujan selalu turun ke bawah (ditarik oleh gravitasi) maka awan hanya bisa terlihat kelabu dari bumi. Lantas, untuk menikmati langit yang terang itu selalu, bagaimana? Tak ada cara lain, kita harus melakukan obsesi masa kanak-kanak saya tadi; naik pesawat! Ya, hanya dengan naik pesawat dan menembus langit cukup tinggi di atas para awan-awan lah nasyid “Sebiru Hari Ini”-nya Edcoustic akan cocok menjadi soundtrack-nya sepanjang tahun.


Dalam kehidupan ini, saya pikir, begitu pulalah seharusnya kita. Kita harus selalu mencari ‘pesawat’ yang akan membawamu terbang selalu sehingga langit akan sering-sering terasa cerah dalam pandangmu. Sesekali bolehlah turun ke bawah untuk transit dan ganti ‘pesawat’, untuk lalu terbang lagi. Dan perhatikan, siapakah yang bisa naik pesawat? Mau tidak mau, harus diakui, yang bisa naik pesawat ya yang harus punya cukup duit untuk beli tiket, kan? Tanpa penghasilan yang cukup, mana bisa naik pesawat. Nah, begitu pula hidup ini. Tak akan pernah bisa merasa cerah (seperti saat di langit atas) jika kita tidak cukup ‘kaya’. Dan ‘kekayaan’ itu harus dicari, tak bisa menunggu sambil goyang-goyang kaki saja. Bangun, bekerja, cukup ‘kaya’, baru belilah tiket ‘pesawat’-mu untuk lalu menikmati kecerahan yang memberi inspirasi seperti di langit atas sana. Dan ingat, orang ‘kaya’ mungkin banyak, tapi tak semua dari mereka naik ‘pesawat’ karena mengharap ‘kecerahan’ .


Kaya? Ya. Wajib kaya. Dan kekayaan ini berasal dari apa yang kita kerjakan. Sudahkah selama ini kita cukup bermanfaat bagi sekitar kita? Sudahkah kontribusi kita maksimal dalam dakwah misalnya? Sudahkah, sudahkah, sudahkah (sambung sendiri pertanyaan introspektifnya)??? Ya, kata kaya di atas pake tanda petik. Kekayaan yang akan membuat kita bisa naik pesawat dalam tanda petik pula. Untuk lalu bisa merasakan kecerahan dalam tanda petik juga. (nah lho, bingung? hehe)


Tidak, tidak bermaksud mengatakan bahwa di langit bawah (alias dari bumi ini) kita tidak akan pernah bisa menikmati kecerahan. Hanya saja, kita tak pernah tahu kapan ia cerah dan kapan ia sembunyi di balik tabir mendung. Sementara di langit atas sana, seperti yang sudah saya sampaikan, nyaris tak ada yang menutupi mentari dari benderang. Eniwei, ini cuma analogi lho, jadi jelas masih bisa didebat.


Lalu saat transit, saya hidupkan handphone dan menyetel mp3 player. Melantunlah sebuah nasyid;

Hujan gerimis yang akan menemani
Perjalananku pulang
Tiada dapat lagi kutunggu
Terasa rindu untuk bersua denganmu
(Rast, Hujan Gerimis)


Ya, saya memutuskan untuk pulang meski masih mendung (ya iyalah, emang tiket pesawatnya mau dibatalin? hehe). Saya sudah rindu. Rindu pada kampung halaman yang sempat ingin saya jauhi sejauh-jauhnya dalam beberapa tahun yang lalu. Dari sana, saya akan cari ‘duit’ untuk membeli tiket ‘pesawat’ lain. Perjalanan hari itu membuat saya juga sadar, kampung halaman saya memiliki banyak sekali ‘pekerjaan’ yang akan memungkinkan saya mendapat tiket-tiket ‘pesawat’  yang akan mengantarkan saya ke ‘langit atas’. Saya ingin merasakan kehangatan tadi lagi. Merasakan kelapangan dada seperti yang tadi menyelimuti saat berada di atas sana. 


Hujan memang indah, menenangkan. Tetapi terlalu lama berkubang di dalamnya kiranya bisa membuat kita alpa tentang birunya angkasa yang tak kalah ramahnya dalam mengecup mimpi-mimpi anak Adam. Dalam perjalanan pulang ke Banda, saya lafalkan lagi beberapa doa titipan beberapa orang saudara(i) sebelum safar, mengaminkan beberapa doa atas milad saya hari itu, dan agar saya selalu bisa mengajak orang lain senyum (tanpa awalan “ter-“) dengan senyuman saya lahir seutuhnya dari hati yang cerah. Secerah langit atas.


Doa adalah kekuatan terbesar seorang mu’min,

Dan aku akan menjadi kekuatan terbesar itu untukmu.
(seorang saudara, 2007)




Banda Aceh, 8 Februari 2010

Tungkop vs Tungkob!




Tungkop adalah sebuah kemukiman yang terletak di Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bersama 2 kemukiman lainnya, yaitu Siem dan Lambaro Angan, ketiganya membentuk daerah seluas 76,42 Km 2 dan menaungi 29 desa di Kecamatan Darussalam dengan kodepos-nya 23373.
Kemukiman Tungkop sendiri memiliki 12 Desa, yaitu:
1. Desa Lampuja
2. Desa Lam Ujung
3. Desa Lam Gawe
4. Desa Lam Keuneung (pengumuman : saya tinggal di sini! :D )
5. Desa Lam Puuk
6. Desa Lamtimpeung
7. Desa Limpok
8. Desa Barabung
9. Desa Tungkop
10. Desa Lam Duroi
11. Desa Tanjung Deah
12. Desa Tanjung Selamat (data by: http://www.acehbesarkab.go.id)

Pusat dari Kemukiman Tungkop terletak di Simpang Tungkop (The Junction of Tungkop), sebuah persimpangan tiga yang menghubungkan Kotamadya Banda Aceh, Lambaro Angan dan Cot Keu’eung, yang juga merupakan jalan akses menuju Bandara Sultan Iskandar Muda.



Namun di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sendiri, nama Tungkop tidak hanya berada di Aceh Besar, masih ada Tungkob juga ada di Aceh Barat (pehatikan baik-baik Tungkop Aceh Besar[dengan P] dan Tungkob Aceh Barat [dengan B] ).
Tungkob adalah sebuah kerajaan bawahan Kesultanan Aceh (data by: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kerajaan_yang_pernah_ada_di_Nusantara). Tungkob ini terletak di Pantai Barat Aceh dan merupakan tempat kelahiran pejuang wanita Aceh Pocut Baren, putri seorang uleebalang Tungkob bernama Teuku Cut Amat (data by:http://pusaka2aceh.wordpress.com/2008/01/28/pocut-baren).



catatan : 
Wah, ternyata, pahlawan yang namanya diabadikan sebagai nama jalan MTsN I Banda Aceh (baca: Pocut Baren) alias madrasah tsanawiyah saya dulu, lahir di Tungkob alias kota kembaran tempat tinggal saya sekarang yaitu Tungkop. Wah, kebetulan yang unik (ih ga penting banget) 

sumber : http://freddysetiawan.wordpress.com/2009/01/25/tungkop-dalam-coretan/

Kuotasi (Tak Biasa) Tentang Cinta

Antoine de Saint-Exupery:

    "Love does not consist of gazing at each other, but in looking together in the same direction."

artinya : "Cinta tidak memerlukan pandang-memandang kepada satu sama lainnya, tetapi memandang bersama ke satu arah yang sama."

contoh kasus versi saya : Jika memang mencintai teman-teman seperjuanganmu, kamu tidaklah akan memandangi satu sama lain dan sibuk saling memuji atau bahkan mencela, tetapi menyatukan visi misi untuk tujuan perjuanganmu itu.

______________________________________________________


Barbara De Angelis:
    "Love is a choice you make from moment to moment."

artinya : "Cinta adalah pilihan yang kau tentukan dari waktu ke waktu."

contoh kasus versi saya : Tuhan memang sudah menyirami kita dengan cinta, untuk kita yang memutuskan, mau memungutnya atau tidak. Sama seperti daun-daun mapple yang jatuh saat Fall, banyak, lalu kitalah yang datang dan memungut satu untuk kita jadikan pembatas buku. Dan tolong perhatikan, cinta di sini bisa berarti cinta kepada artis luar negeri (ngefans gila), cinta belajar, cinta nulis, cinta bernyanyi, dan cinta-cinta lainnya, termasuk cinta pada manusia. Ya, saya percaya dalam mencintai manusia sekalipun, kita tetap bisa memilih untuk mencintainya atau tidak.

______________________________________________________


Karl Menninger:

   "Love cures people -- both the ones who give it and the ones who receive it. "

artinya : "Cinta menyembuhkan orang -- baik bagi yang memberikannya maupun bagi yang menerimanya."

contoh kasus versi saya : Pernah suatu hari sepulang sekolah (saat masih bersekolah di Melbourne) saya melihat setangkai bunga yang cantik di atas meja di kamar; ternyata teman sekamar saya yang membawa pulangnya. Bunga itu masih segar, warnanya kuning, cantik. Lalu keesokan paginya ia layu, sementara teman sekamar saya sudah berangkat duluan dan tidak menyuruh menyiram atau menyelamatkan bunga tersebut. Tapi saya luluh, lalu saya ambil botol dan isi air, lalu bunga itu saya masukkan ke dalamnya. Sepulang sekolah hari itu, bunga itu kembali segar merona kuningnya. Saya yang sedang sakit kepala berat memikirkan tugas akhir sekolah essai 4000 kata yang tak kunjung selesai, tiba-tiba merasa sangat ringan. Ya, cinta saya pada bunga itu menyerikan tidak hanya kelopak kuningnya tapi juga perasaan saya sendiri.


______________________________________________________


Anne Morrow Lindbergh:

    "Him that I love, I wish to be free -- even from me."

artinya : "Dia yang kucintai, selalu kuinginkan untuk bebas -- bahkan dari diriku sendiri."

contoh kasus versi saya : Burung, setelah anak-anaknya bisa terbang, apakah masih menahannya untuk bermalam di sarang tempat ia dilahirkan? Tidak. Anak-anak itu akan dibiarkan merasakan kehidupan dan belajar untuk melaluinya dengan kekuatannya sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Meski pasti terasa sedih seperti tidak lagi diingati bagaikan Mak-nya Malin Kundang, tetapi mendengarkan berita bahagia orang tercinta akan melebihi semua kebahagiaan yang ada. Saya selalu ingin orang-orang yang saya cintai menjadi kuat dan tegar, dapat memberi sebanyak-banyaknya tanpa lama bergantung pada orang lain (selain pada Tuhan, ini tidak mungkin kita tinggalkan).


______________________________________________________


Zora Neale Hurston:

    "Love, I find, is like singing. Everybody can do enough to satisfy themselves, though it may not impress the neighbors as being very much."

artinya : "Cinta, menurut saya, adalah seperti menyanyi. Semua orang bisa menyanyi untuk memuaskan diri sendiri, meskipun mungkin nyanyian itu tidak begitu mengesankan bagi para tetangga."

contoh kasus versi saya : Jika kita menggunakan ukuran artis-artis Holywood sebagai ukuran kebahagiaan, maka banyak sekali yang menjadi sisa penduduk dunia yang tidak bahagia. Tapi apakah anda pernah melihat pasangan suami istri yang suaminya lumpuh? Atau yang istrinya stroke seluruh tubuh? Atau seorang ibu dengan empat orang anak yang mentalnya terbelakang secara berat? Atau keluarga pemulung yang hidup di tengah gunungan sampah? Atau para pengamen yang dibedaki asap kendaraan dan debu jalanan? Mereka tetap bisa menyenyumi dunia, dengan kondisi yang menurut pandangan kita tidak akan pernah menjanjikan kebahagiaan. Apa yang memungkinkan senyum itu? Bagi saya, cinta. Cinta akan hidupnya sendiri (baca : mensyukuri hidupnya) yang membuatnya begitu menikmati "nyanyiannya" meski bagi yang lain tidak begitu "terdengar" bagus.
______________________________________________________

Ada lagi yang ingin berbagi tentang kuotasi (tak biasa) tentang cinta yang patut direnungi? :)

Pahit Membawa Manis

Jangan bertanya ke mana yang lain
Jangan bertanya kenapa kita sendiri
Jangan mengingat apa yang akan kita dapatkan
Jangan mengingat apa yang telah kita korbankan
Karena sungguh Allah telah memilih diri-diri kita
Maka tetap sabar & ikhlaslah Merupakan kesyukuran terbesar ketika kita masih hidup seiring berkembangnya dakwah ini.
Jika ditanya mengapa perjalanan dakwah itu pahit?

Jawabannya karena JANNAH ALLAH ITU MANIS..


Memandang hujan penuh rindu dan doa yang terus menyambung, 6 Juni 2010

Dulu & Sekarang

Jadi teringat masa-masa di mana
Aku berjalan sendirian
Dengan mata yang kututupi kaca
Berwarna cokelat berbingkai putih
Dengan earphone menyumbat sempurna
Dengan lagu-lagu tentang langit, awan, kampung halaman
Lalu di balik kaca
Berwarna cokelat berbingkai putih
Air terkumpul tiada yang tahu
Namun dalam mengerjakan soal jadi lebih menggebu
Guru pun takjub

Lain episode lain lagi
Di sekitar jalan bertapak
Ada serpihan besar-besar botol
Entah bir entah apa
Tapi bau alkohol kentara
Lalu ada jarum suntik dalam trolley
Atau sekotak kondom bergambar buah-buahan di kapling dekat sekolah
Atau pakaian dalam yang tersangkut di ranting semak dekat rumah
Dalam pikirku
Ini semua binatang
Tak punya tujuan
Maka aku terus saja melangkah menuju masjid hendak sembahyang di hari Jumat

Dan kini azan kumandang lima kali sehari
Mengaji di tengah rumputan masjid pun bisa
Tak ada item-item yang gelimpang gaya hidup binatang
Tapi ada yang mengganjal
Di sini
Berbeda
Iman tetap diuji tapi berbeda
Kerasnya hidup ada tapi berbeda
Karena
Mereka yang berdua-dua berkerudung juga
Mereka yang menentang kita bersembahyang juga
Ah
Dunia

Nilai kuliah
Sungguh dikejar bukan utama
Meski masih bisa bertahan
Tapi 
Oh
Sungguh berbeda
Lalu aku sadar
Kita selalu semakin tua
Dengan ujian yang semakin banyak pula

Suatu hari di 2010.