Wednesday, May 30, 2012

Seperti Corong Pengeras Suara



Tak harus berpikir. Tak harus menurutkan sekian juta neurotransmitter tumpah dari satu titik ke titik lain dalam sistem saraf pusat manusia. Tak harus mengiyakan adrenalin melompat dari satu pembuluh darah ke pembuluh lainnya. Sama sekali tidak perlu membiarkan tekanan intra kranial meningkat barang seberapa kecilpun.

Karena kita harusnya seperti corong pengeras suara saja.

Yang diambil para mahasiswa ketika mereka ingin suaranya bergema hingga ke setiap tiang dan dinding kampus. Yang dibawa pula ketika mereka ingin suaranya didengar dari balik tembok kantor gubernur yang tebal. Yang diusung pula ketika mereka ingin mengajak warga sekota yang kebetulan lalu lalang di simpang tengah kota agar segera membuang puntung rokoknya.

Suara besar dengan ide yang dikukus langsung dalam otak-otak segar milik para pemuda yang mengedepankan jernihnya masa depan bagi semua. Lantangnya pendapat seperti bumi pasti akan berguncang mendengar tiap tuntutan yang hadir murni dari simpati.

Seperti corong pengeras suara.

Yang patuh mendendangkan lagu-lagu perjuangan ketika aksi para tokoh masyarakat di tengah reformasi tertentu di peradaban tertentu pula. Yang gelegarkan setiap daun pintu, membuat malu para pemuda yang bersembunyi di balik selimutnya. Yang mengundang para wartawan dan pencari/pencuri berita bak makrofag yang diundang oleh Interleukin dalam proses peradangan suatu lesi di permukaan kulit manusia. Corong pengeras suara; tanpa baterai. Tanpa sakelar listrik. Dan seperti corong pengeras suara itulah, aku ingin.

Seperti corong pengeras suara. Dengan suara-suara tanpa harus berasal dari manusia beserta seluruh tamaknya. Dengan isi nurani tanpa ada yang memasang kawat tajam di bagian pegangan tangannya. Dengan mars-mars kemerdekaan tanpa mata-mata yang mencuri judul tajuk utama.

Seperti corong pengeras suara. Yang menjalankan tugasnya, tanpa mau dilumuri minyak gemuk kotor endapan mesin koloni berabad lalu pada jalan-jalan yang dilalui bersama bahananya kata-kata. Yang bersuara bahkan jika punah sudah semua manusia.

Seperti corong pengeras suara. Dikurangi mulut-mulut yang tidak stabil beridealisme di belakangnya.




Lamkeuneung, 15 September 2011
22.12 WIB

Aku, Si Penjala Bahagia




Dalam rengkuhan gelombang yang enggan menari lepas
Aku bercermin
Cerita dalam satu dua purnama

Bahwa
Aku si penjala bahagia
Kini kembali duduk di tepi karang
Memimpikan bulan berkepanjangan

Dalam redupnya surya yang merajuk
Dan jalan-jalan sepi yang duri
Tangan membeku
Pena membatu
Meragu

Tapak-tapak gerilya
Menyembuhi cedera-cedera nir-daya
Berkaca
Debu terlalu tebal untuk sebuah bayangan mata

Musik
Gentayangan dalam telinga
Mencuri perasaan
Pelan diam merayap
Hanyut

Ah, aku ini penjala bahagia
Yang cerita
Yang melompat di atas pelangi
Resah
Meminjam konflik dari dalam novel
Menerawang
Menggembala duka ke dunia nyata




Darussalam, 15 Feb 2012, 15.47 WIB

Monday, May 28, 2012

Foto-foto Yang Boleh Diupload dan Yang Tidak (Kartu SNMPTN 2012)


CEKIDOT lah!

Yang paling menggelikan di bagian foto-foto YANG GA SEHARUSNYA DIUPLOAD; alay-nya ga nahan. Ga nyangka panitia pusat SNMPTN "tega" jadiin wajah-wajah remaja itu sebagai contoh pas foto yang tidak seharusnya diupload untuk kartu SNMPTN. Mereka pada nyadar ga ya, dijadiin "hujjah" buat seantero Indonesia? :D

____________________________________________________________________

sumber info di bawah ini adalah : http://ujian.snmptn.ac.id/pasfoto.php

PENDAFTARAN ONLINE SNMPTN 2012 JALUR UJIAN TERTULIS

PERSYARATAN PASFOTO UNTUK PENDAFTARAN ONLINE SNMPTN 2012 :

  • Pasfoto ukuran 4 cm x 6 cm dengan resolusi minimal 400 x 600 pixel (± 250 dpi) dalam format JPG atau PNG.
  • Ukuran file Pasfoto tidak boleh lebih dari 100 KB.
  • Kualitas gambar harus cukup tajam dan fokus.
  • Posisi badan dan kepala tegak sejajar menghadap kamera.
  • Proporsi wajah antar 25% - 50% dari foto.
  • Tidak ada bagian kepala yang terpotong dan wajah tidak boleh tertutupi ornamen
  • Kepala terletak di tengah secara horisontal (jarak kepala ke batas kiri kurang lebih sama dengan jarak kepala ke batas kanan)

Contoh Pasfoto yang benar :

          



Contoh Pasfoto yang salah:

  Kesalahan :
  • Foto tidak berukuran 4 cm x 6 cm.
  • Posisi kepala dan badan tidak sejajar.
  • Posisi badan tidak menghadap kamera.
  • Bagian atas kepala terpotong sebagian.
  Kesalahan :
  • Resolusi kurang dari 400 x 600 pixel (<250 dpi).
  • Posisi kepala dan badan tidak tegak sejajar.
  • Posisi badan tidak menghadap kamera.
  • Proporsi wajah kurang dari 25%.
  • Kepala tidak terletak di tengah secara horisontal.
  Kesalahan :
  • Resolusi kurang dari 400 x 600 pixel (<250 dpi).
  • Posisi kepala dan badan tidak tegak menghadap kamera.
  • Sebagian kepala terpotong.
  • Proporsi wajah kurang dari 25%.
  • Kepala tidak terletak di tengah secara horisontal.
  Kesalahan :
  • Kualitas gambar kurang tajam (agak kabur)
  • Posisi kepala dan badan tidak menghadap kamera.
  • Sebagian kepala terpotong.
  • Kepala tidak terletak di tengah secara horisontal.
  Kesalahan :
  • Foto tidak berukuran 4 cm x 6 cm.
  • Sebagian wajah tertutup ornamen yang tidak seharusnya.
  • Bagian atas kepala terpotong sebagian.
  • Kepala tidak terletak di tengah secara horisontal.
  Kesalahan :
  • Foto tidak berukuran 4 cm x 6 cm.
  • Posisi kepala dan badan tidak tegak (miring).
  • Posisi kepala dan badan tidak tegak menghadap kamera.
  • Bagian atas kepala terpotong sebagian.
  • Kepala tidak terletak di tengah secara horisontal.
  Kesalahan :
  • Resolusi kurang dari 400 x 600 pixel (<250 dpi).
  • Posisi kepala dan badan tidak tegak menghadap kamera.
  • Bagian atas kepala terpotong sebagian.
  • Kepala tidak terletak di tengah secara horisontal.
  Kesalahan :
  • Foto tidak berukuran 4 cm x 6 cm.
  • Posisi kepala dan badan tidak tegak menghadap kamera.
  • Bagian atas kepala terpotong sebagian.
  • Sebagian wajah tertutup ornamen yang tidak seharusnya (kacamata hitam & topi).
  • Kepala tidak terletak di tengah secara horisontal.
  Kesalahan :
  • Foto tidak berukuran 4 cm x 6 cm.
  • Resolusi kurang dari 400 x 600 pixel (<250 dpi).
  • Posisi kepala dan badan tidak tegak menghadap kamera.
  • Bagian atas kepala terpotong sebagian.

Sunday, May 27, 2012

PEMA Unsyiah Kumpulkan Sumbangan Seragam Lulusan SMA di Banda Aceh

Kemarin, saya sebenarnya, bermodal kesebalan yang membara melihat adek-adek yang ugal-ugalan ngebut motornya dengan seragam bercoret-coret, akhirnya update status di Facebook kaya gini:
Buat ADEK-ADEK yang baru lulus SMA, boleh ga kakak minta seragam-seragamnya yang bekas (DAN TIDAK DICORET-CORET)? Mau kakak sumbangin ke adek-adek kita yang kurang mampu dan masih butuh seragam buat sekolahnya.
Ini SERIUS.
Sebarkan jika berminat. Ditunggu ya! Kalau minat, message/ sms/ telepon/ komen di sini/ mention di Twitter (follow kakak di @nurilannissa). Ocre? :)

Terus, di akun Twitter saya pun mulai bikin twit dengan hashtag #saynotocoretcoret dan minta di-RT sama beberapa akun yang followernya banyak dan alhamdulillah jadi tersebar dan diketahui oleh beberapa "target" alias anak-anak SMA yang masih punya rasa berbagi yang tinggi dan anti kemubaziran. Mereka akhirnya bergabung dengan gerakan #saynotocoretcoret  dan mengatakan akan menyumbangkan seragam bekasnya serta akan mengajak teman-teman lainnya.

Keesokan harinya, alias hari ini, alhamdulillah Pemerintah Mahasiswa Unsyiah, organisasi yang saya juga aktif terlibat di dalamnya mau diajak kerja sama secara lembaga dan kita sangat berharap bisa membuat gerakan ini lebih besar lagi. Yang harus digarisbawahi di sini adalah bahwa kita sangat ingin menanamkan semangat "GO GREEN" dengan tidak "menyampahkan" segala sesuatu yang masih bisa digunakan, misalnya seragam bekas. Dan bayangkan dengan sekian banyak siswa yang corat-coret seragamnya itu, selain mubazir, juga menambah sampah kaleng "Pylox" yang saya ragu apakah semuanya dibuang sesuai dengan peraturan atau tidak. See? Ini gerakan anti mubazir dan cinta lingkungan! Ayo bergabung bersama kami! 

so, coret-coret seragam? NO! (-_-)/


______________________________________________________________

BANDA ACEH - Budaya coret-coret baju yang dilakukan siswa SMA dan SMP saat merayakan kelulusan mendapat perhatian dari Pemerintah Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (PEMA Unsyiah).


PEMA Unsyiah menghimbau kepada Siswa untuk tidak melakukan hal yang tidak bermanfaat tersebut. Hal ini di sampaikan Safrianto, Wamen Kominfo PEMA Unsyiah kepada The Atjeh Post Minggu, 27 Mei 2012.


"Lebih baik seragam adik-adik SMA dan SMP disumbangkan ke teman-teman mereka yang kurang mampu saja sebagai bentuk rasa syukur atas kelulusan mereka," kata Safrianto.


Untuk itu, PEMA Unsyiah mengajak seluruh siswa agar mengumpulkan baju mereka kepada pihak PEMA Unsyiah dan nantinya melalui PEMA Unsyiah yang akan menyumbangkan seragam tersebut kepada yang membutuhkannya.


"Kami sudah mengirimkan pesan singkat kepada adik-adik SMA dan SMP agar mereka tidak mencoret-coret bajunya dan baju tersebut bisa disumbangkan ke PEMA Unsyiah, baju itu nantinya akan kita sumbangkan melalu acara Baksos yang dibuat PEMA,"


Pada bulan Juni mendatang, ujar Safrianto,  PEMA Unsyiah akan melaksanakan Bakti Sosial (Baksos) ke Aceh Tamiang dan Aceh Timur selama 10 hari, jadi seragam yang sudah terkumpul akan dibagikan di tempat Baksos kepada anak-anak yang kurang mampu.


Sampai dengan hari ini, sudah ada puluhan siswa dari berbagai sekolah di seputaran Banda Aceh, seperti siswa dari SMA Negeri 3 Banda Aceh yang menghubungi Pihak PEMA Unsyiah untuk menyumbangkan baju mereka.


PEMA Unsyiah akan terus membuka program yang disebut dengan "Gerakan Anti Coret Seragam” ini  sampai dengan kelulusan Siswa SMP dan SD nantinya.


Bagi yang ingin menyumbangkan seragam sekolah atau pakaian layak pakai lainnya kepada PEMA Unsyiah bisa menghubungi 085762000071 (Revina) atau dapat langsung mengantarkannya ke Sekretariat PEMA Unsyiah di Jalan Syeikh Abdurrauf, No. 01.01, Gelanggang Mahasiswa Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh.


sumber : http://atjehpost.com/read/2012/05/27/10142/46/6/PEMA-Unsyiah-Kumpulkan-Sumbangan-Seragam-Lulusan-SMA-di-Banda-Aceh

Musyawarah Wilayah Forum Lingkar Pena Aceh 2012

Hari ini spesial. Dan begitu kontemplatif sekaligus. Hari di mana apapun jabatan banyak manusia semisal Kak Riza RahmiPiyaBang BaiquniKak DeaBang Ibnu, dan lain-lain akan dicopot baik mereka senang atau tidak (tapi kayaknya lebih ke senangnya haha) dari Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, terutama kepengurusan 2010-2012. Alkisah saya pun terseret ke dalamnya, sebagai wakil direktur Kamoe Publishing House, lini penerbitan khusus di bawah FLP Aceh, di bawah kepemimpinan Bang Ferhat, sang mantan ketua FLP Aceh selama sekian dekade (oke ini lebay, beliau jadi ketua selama 2 masa kepengurusan atau kira-kira 4 tahun, 2004-2006, 2006-2008). Adalah setiap dua tahun sekali ini prosesi terjadi. Dan selama saya bergabung dengan organisasi tercinta ini, selalu saya merasa energi positif yang memancar dan "menampar" saya atas tiap kata yang saya tulis atau tidak (sebab lalai dsb).

Pergantian posisi serupa begini pun sering diwarnai tawa dan keramahan suasanan anti serius, tidak seperti musyawarah-musyawarah alot di luar sana. Bukan, bukan karena kami tak ingin membangun FLP Aceh jadi lebih baik lagi. Ini sebab murni, kami tak ingin baku hantam untuk hal-hal sepele. Sebab kami percaya, kejayaan kami sebagai sebuah "jama'ah kebaikan" tidak hanya hadir dari kompleksitas program kerja, tapi juga oleh sebuah "tali" bernama UKHUWWAH dan RABITHAH. Long Life FLP Aceh! :)


Kalau kata Kak Riza Rahmi, "Kecintaan kita pada Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh ini justru lebih teruji jika posisi kita sebagai anggota, saat tak ada lagi "ikatan amanah" yang membuat kita - mau tidak mau - harus memikirkan Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh. Saya takut, esok pagi, ketika saya bangun dan saya bukan lagi ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, apa saya masih mencintai Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh ini dengan cinta yang sama besar atau tidak."



Well, let's see how much love we have for our beloved Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh. :)

Teruslah Merindu


Aku menyeret sebongkah karung. Kuseret-seretnya ia dengan peluh menggumpal di tepi kening sebelah kanan. Genggamanku memerih dengan keringat yang menyatu dengan sayat-sayatan tipis hasil gesekan dengan karung yang kuseret ini. Kuseret dengan langkah yang tiada nyawa. Gontai bergerak menjejali lantai bumi dengan tapak-tapak tanpa warna.
"Kau mau ke mana?"
"Mengembalikan ini."
"Mengembalikan itu kepada siapa?"
"Kepada... Ah, bukan urusanmu."
"Apa gerangan memangnya?"
"Sekarung surat yang kugores dengan darah dan rasa rindu."
"Kau rindu?"
"Ya. Dulu. Kini sudah mati."
Gurun menjelma di hadapanku. Mendadak. Gulana menggulung semua danau dan air terjun yang biasa menjadi latar kata-kataku. Butir-butir pasir mengejar kelopak mata perlahan; memberatkan. Lalu kita makin jauh. Berpisah.


***
Aku tak lagi rindu. Janggal tapi. Sebab aku rela terluka demi menyerahkan surat-surat usang dari masa lampauku itu padamu. Menurutmu, mengapa aku berlaku begitu?
Ya, aku ingin kau tahu, aku tak bercanda ketika suatu kali sebelum kaupergi dan kurindui, aku pernah berkata, "Aku tak tahu seberapa lama kau akan pergi. Tapi aku tak akan berhenti menghujamkan huruf demi huruf pada lembar-lembar lontar yang kauhadiahi buatku. Aku hanya akan berhenti, jika aku berhasil melihatmu kembali."
Aku sesak dengan rindu ini. Aku hidup dalam maya. Terus merinduimu itu membuat semua sepatuku menyempit. Langkahku sakit. Kakiku lecet. Aku terlalu banyak berhenti hanya untuk membiarkannya pulih semula. Maka kupikir, aku harus menyelesaikan ini semua. Menemuimu. Memberikan semua surat yang gagal kukirim. Menemuimu. Agar aku punya alasan untuk berhenti merinduimu.
Dan sudah kutemui engkau untuk terakhir kali. Sudah kuserahkan seluruh tumpah ruah rinduku padamu. Kuberikan sekarung, sekarung penuh!
Kini, aku bingung. Setelah semua itu, aku masih saja rindu padamu.
***
"Karena di bumi ini, ada beberapa hal yang akan selalu menjadi bunga abadi di taman kehidupan manusia."
Aku senyap.
"Kita semua berjalan di tengah kegelapan, kecuali berhasil menyalakan lilin untuk menerangi sisa perjalanan kita."
Aku semakin menunduk.
"Maka, mengapa membuang cahaya padahal kau memang membutuhkannya?"
Pipiku basah.
"Jangan pernah kaubuang lagi. Itu karung berisi segala surat rindu, ambil lagi. Teruskan. Biarkan kertas-kertas itu membelamu nanti. Merindulah, meski itu akan menghabiskan segala sisa usiamu. Merindulah selalu."
Kau menepuk pundakku. "Hei, tak ada salahnya merindukan kebenaran. Walau nanti seluruh dunia mengiyakan kebohongan, tetap rinduilah kebenaran."
Waktu itu, kau pergi sambil melambaikan tangan. Matamu hangat, senyummu semangat.
Dan aku, kembali merindu.

"Yang kelabu Hening telaga biru
Berubah menjadi ungu senja
Tak terkikis batu hitam kelam
Di atas tegak tebing yang bersahaja
Semburat warna-warni cakerawala
Adalah lukisan terindah
Rindu air pada muara
Setelah lelah berliku" 
- Kidung Bumi (Fully feat Vagabond)
Lamkeuneung, 25 Februari 2012, dini hari.

Sepucuk Surat untuk Bulan Sesudah Sya'ban

Kpd Ytr
Sabit pertama setelah Sya'ban
Di
Tempat

Assalamu'alaikum wrwb,
Melalui surat ini saya sampaikan bahwa saya yang bertandatangan di bawah ini amat sangat merindukan anda untuk segera melalui atap bumi saya. Sampaikan salam saya pada bulan yang engkau tandai hadirnya dengan hadirmu. Tanyakan padanya, apakah masih boleh berjumpanya sementara persiapan saya masih lemah menyambutnya? Entah esok saya tiada, maka tak pun bertemunya; tolong sampaikan saya rindunya jua. Terima kasih.

Tabek,
Seorang Pemerhati Rembulan

[Catatan Perjalanan Aceh-Jawa-Borneo] Beberapa Hikmah

Tulisan lawas, but worth re-reading. Jika dulu semangat begini untuk mengejar kebaikan, mengapa sekarang mundur-maju? SEMANGAT!  >.<




............................................................................................................


Saat mengetik ini di sebuah warnet di kota Darussalam di mana kampusku berada, sebuah nasyid dari Brothers berjudul "Warna-warna Cinta" mengalun memenuhi tiap bilik di sini. Saya tak akan menulis tentang nasyid ini, tetapi saya akui saya belakangan agak sensitif dengan kata "cinta" entah untuk alasan apa. So, ketika mendengar nasyid ini, saya jadi terpaku sesaat sebelum log in ke Multiply 

*anyway ga penting*

Yang penting adalah ternyata saya sudah kembali dari perjalanan panjang saya seminggu yang lalu dengan rute sebagai berikut:

Banda aceh - Jakarta - Depok - Jakarta lagi - Pontianak - Banda aceh


phiuwww....

Kepentingannya adalah sebagai berikut:

1. Jakarta untuk forum terakhir Young Leaders for Indonesia 2010 for Kampus
2. Depok untuk bermalam di rumah seorang teman untuk keesokan harinya saya akan bertolak ke Pontianak
3. Pontianak untuk Pekan Seni Mahasiswa Nasional X


Nah, yang menarik dari perjalanan ini adalah bahwa hari-hari ayyamul bidh Sya'ban saya rasakan di tiga kota di atas yang saya sebutkan kepentingannya untuk saya kunjungi. Dua dari shaum sunnah yang saya jalani adalah nir-sahur; simply karena tinggal di hotel dan saya cukup ceroboh tidak memperhitungkan membeli makanan untuk persiapan sahur. Namun ada satu hari saat saya di Depok di mana saya mendapat jamuan yang cukup mewah untuk sekedar sahur (maklum, anak kampung nginap di rumah gedong hehe) sehingga perjalanan yang agak tropis sepanjang sisa hari menuju Pontianak menjadi tidak begitu terasa membuat lemas.

Awalnya ibu saya menyarankan saya untuk tidak mengambil ayyamul bidh selama perjalanan ini. Toh saya musafir yang amat mobile waktu itu, takut tidak sanggup sementara semakin berjalan semakin banyak barang yang harus saya jejalkan ke dalam koper saya sampai-sampai terpaksa menggunakan ransel sebagai imbasnya; bagasi saya jadi melar sih dengan berbagai souvenir dari perusahaan-perusahaan besar di Jakarta ketika ada sesi temu ramah dengan mereka tentang pekerjaan-pekerjaan prospektif bagi peserta Young Leaders for Indonesia 2010.

Namun saya merasa ini adalah tantangan. Maka saya tetap shaum selama tiga hari itu dan benar-benar menikmati perjalanan yang ada. Ya, untuk ketiga hari shaum itu, saya mengawali shaumnya di tiga kota berbeda! Menurut saya ini adalah memori unik untuk dikenang dan diceritakan. 

Dan selama perjalanan ini saya menemukan satu hal; sesuatu dalam diri saya yang masih ada padahal sempat saya kita sudah tiada. Kemampuan saya untuk berjuang mempertahankan keyakinan saya!

Meski makanan a la buffet di hotel Four Seasons di Jakarta begitu membisik-bisik "Wahai, makanlah kami. Kapan lagi kau bertandang ke mari kalau bukan untuk acara serupa ini. Jarang-jarang lho!"

Tapi saya teringat nasihat ibu angkat saya ketika masih bersekolah di Melbourrne dulu,

"Anisa, makanan di syurga akan selalu lebih baik dari makanan sehebat apapun di dunia ini. Jadi, mengapa takut give up makanan-makanan dunia untuk puasa-puasa kita?"

Dan saya berhasil melalui shaum saat masih di Jakarta.

Ketika di Pontianak, saya kembali mendapat "bisikan", kali ini berasal dari dalam diri saya sendiri. "Kamu masih sangat lelah dan di sini sangat panas, kamu bisa dehidrasi! Kalau kamu sakit sekarang, nanti Ramadhanmu jadi tak maksimal lagi!"

Lagi-lagi sesuatu yang lain datang dan mengusir bisikan itu dengan bisikan lain,

"Ramadhan katamu? Siapa bilang aku sudah pasti tiba di sana? Tugasmu sekarang wahai hamba Allah bernama Nuril Annissa, adalah berusaha mempersiapkan amal terbaikmu dalam menyambut Ramadhan itu sendiri. Ayyamul bidh saja, kemarin-kemarin dalam Sya'ban ini toh puasamu masih bisa dihitung pake jari-jari sebelah tangan saja. Jangan dengarkan bisikan itu!"

Lalu saya pun melanjutkan shaum. Dan alhamdulillah, meski lelah, diuji baik emosi dan pikiran sebab meski jauh dari Aceh tercinta tapi tetap di-SMS dan ditelepon oleh beberapa orang yang memiliki kepentingan dengan saya serta sederet masalahnya, saya bisa memenuhi shaum ayyamul bidh Sya'ban ini.

Satu kebaikan akan menyulut kebaikan lain, begitu seorang saudari pernah berkata.

Maka, dalam perjalanan seminggu yang lalu saya tiba-tiba mendapati beberapa doa saya terkabul!

1. Saya mendapat handphone yang kameranya bagus (5 MP); saya anggap pengganti kamera saya yang telah rusak. Handphone tersebut merupakan hadiah bagi setiap peserta Young Leaders for Indonesia 2010 sebab salah satu sponsor acara adalah sebuah perusahaan elektronika terkemuka di dunia.

2. Cash (uang jatah sebagai bagian kontingen Aceh ke Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Pontianak dan beberapa lain). Sudah lama rekening saya kosong sebab saya hanya bisa mengeluarkan biaya tanpa bisa mengisinya kembali sebab tidak punya cukup waktu untuk mengajar di bimbel atau menjadi translator atau sekedar translating dokumen orang sejak masuk semester 4 kemarin. Kuliah di kedokteran saja sudah cukup membuat nafas tercekat dan itu belum termasuk kegiatan "aksesoris" lainnya di BEM, LDK, FLP, dsb. 
*aksesoris gimana, kayanya lebih fokus ke "aksesoris" deh daripada kuliah hehe*

Sehingga saya sempat berdoa agar Allah memberi saya masukan lagi agar ketika Ramadhan dapat infaq dengan uang sendiri dan bukan uang jajan dari orang tua. Alhamdulillah 


3. Saya mendapat penghargaan terbaik I untuk kategori penulisan cerpen di Pontianak. Ini juga agak "sinetron" ceritanya. Mulai dari nulis draft awal cerpen dalam dua jam saja. Mengemis ide dari teman-teman FLP di tengah malam. Mendatangi pelatih nyaris tengah malam sementara keesokan harinya harus mengurusi teman-teman yang mendaftar DPM dan calon gubernur BEM (surat motivasi dan makalahnya dsb) demi mendapat sepotong masukan. Menghabiskan lembar biru terakhir dalam dompet demi mengkopi cerpen tersebut beberapa rangkap dan segala macam keperluannya. HIngga harus menunggu 2 jam dijemput dari bandara Supadio di Pontianak sebelum dibawa ke arena Pekan Seni Mahasiswa Nasional. Kapan-kapan ini dibahas sendirian deh. Yang jelas, teori "The Power of Kepepet" agak banyak aplikasinya di sini hehe.


4. Saya dapat menjelajahi meski sedikit, bagian dari Kalimantan. Ini akan saya ceritakan nanti. Mengesankan sekali. Saya membawa pulang sebotol pasir pantainya sebagai oleh-oleh paling berharga berbentuk riil dari sana.


Anyway,
terima kasih sudah bertandang ke mari dan membaca tulisan random ini!
Semoga bermanfaat dan tetap membuat semangat menjalani perjuangan meski aral apapun yang melintang! 

*pede banget sih ini tulisan bikin semangat?? hoho*

Darussalam menyambut Ramadhan,
3 Agustus 2010

[Catatan Perjalanan dari dan ke Tanah Abang] Wajah-wajah Datar

Bahwa selama ini apa yang dipertontonkan di televisi terutama sinetron-sineton atau layar lebar yang menurutku berlebihan dalam memotret wajah kehidupan orang-orang itu, benar adanya, membuatku semakin mempertanyakan rasa syukurku kepada Tuhan.

Bahwa memang ada yang sliweran di sepanjang koridor gerbong kereta dan menjajakan entah barang apa lagi selain makanan dan minuman yang didorong dalam ember bekas cat berukuran besar. Ada yang menjual Quran mini, ada yang menjual masker, ada yang menjual stiker, ada yang menjual aksesoris rambut dan kepala, dan masih banyak.

Namun wajah-wajah berbedak debu itu tetap datar; susah bagiku mereka dari mana mereka berasal, apa yang mereka makan dan kapan itu terakhir kali mereka makan, dan bagaimana? Tentu saja tidak mudah hidup mereka. Karena jika mudah tentu mereka tidak akan susah payah lalu lalang menjual barang-barang demi lembar-lembar bernilai rupiah dalam genggaman.

Wajah mereka datar. Wajah yang tidak sedang pun mengerutkan kening. Wajah yang tidak meneteskan air mata. Wajah yang tidak sedang kesal. Wajah yang tidak tertindas. Mereka bebas bercumbu dengan angin stasiun demi stasiun dan akrab dengan lantai kotor dalam gerbong tiap kereta. Beberapa bahkan membiarkan tapaknya tanpa alas apa-apa.

Wajah mereka yang hidupnya pelik itu mengetuk pintu hatiku.

"Wahai perempuan yang bernama Cahaya."

"Ya? Kau memanggilku? Kau kah yang mengetuk pintu hatiku tadi?"

"Ya. Aku yang mengetuk pintu hatimu tadi."

"Apa gerangan kaudatangi aku begini? Apa yang mendorongmu ke mari?"

Kau menyenyumiku lalu berkata, "Wajahmu. Wajahmu yang menyirat luka itu. Wajahmu yang mengeja duka itu. Wajahmu yang menggambar nestapa itu. Wajahmu yang menghalau setiap garis kecewa dan sakit jiwa untuk berkumpul di setiap inchi raut yang ada itu yang memanggilku ke mari."

Aku tentu saja mengernyit. "Lantas?"

"Kau tak pantas memiliki wajah-wajah serupa itu. Wajah-wajah tak elok. Kaulukakan banyak dengan wajah serupa itu, tak ingatkah?"

Aku menghela nafas. Sambil mengatur agar ujung rokku tak kotor terkena becek di depan teras, aku perlahan duduk. Kau pun, di sampingku.

"Aku ingat sekali. Burai air mataku mengetahui luka-luka yang kutimbulkan di hati mereka sangat amat membuatku malu untuk kembali berjalan sebagaimana mestinya. Kautahu, makin nyaman hatiku berjauhan dari mereka. Aku ingin menjadi orang lain saja. Pindah kota segala. Mulai hidup baru saja. Wajah-wajah ini yang kumiliki tidaklah beri guna bagi yang sudah menitipkan banyak cerita pada jiwa yang begini papa."

Kau kembali menyenyumiku. Kautepuk pundakku dan berkata, "Bukan namamu yang harus kauganti. Wajahmu saja, ya, wajahmu saja yang kauganti. Itu kan, mengapa tadi kukata aku hadir ke depanmu begini?"

"Wajah-wajahku ini begitu beku, Kawan. Sebeku yang kusimpan di balik rusukku."

Kau ditelan senyap. Kali ini tanpa senyum hanya diam. Namun kautolehi aku dan menyambung, "Maka perlu sesekali kaurintangi bahaya itu dan ini. Cari cara agar beku itu hilang dan berganti dengan cair yang mengalir. Hingga wajah-wajahmu tak lagi beku. Hingga tak ada lagi yang luka. Ah, nama dan kota baru? Jika memang hatimu akan tetap begitu beku, dengan nama dan kota baru pun kau tidak akan pernah bisa merubah wajah-wajahmu."

Aku hela debu yang melintas. Kemudian membiarkan beberapa bulir menyesak kelopak mata mengecup pipi lantas membasahi kerudung hitamku.

"Wajah-wajah yang seperti apakah itu yang harus kuciptakan sekarang, wahai Kawan?"

Kaumenatapku dan bangkit dari dudukmu, lalu membuka suara, 
"Wajah-wajah yang dirasuki cahaya dari sana, ", kau menunjuki matahari, 
"Dan cahaya dari sana, ", kau menunjuki pantulan cahaya di cermin kereta,
"Dan cahaya dari sana, ", kau menunjuki kilau cahaya di embun yang enggan turun dari daun,
"Dan dari sini," katamu sambil menunjuk dadamu dalam-dalam.

Aku terus membiar pandanganku mengaca. Basah setiap angkuh, meski belum begitu rapuh untuk runtuh.

Maka ketika ku kembali ke dunia nyata, kudapati aku masih di sana dalam kereta dari stasiun Tanah Abang; duduk mendekap tas takut dicopet sementara bibirku terus merapal zikir senja. Wajahku? Kucoba datar juga.

               
"Karena berwajah manis adalah bagian dari rasa bersyukur. Bersyukur atas hidup kita yang JAUH lebih baik dari banyak manusia di luar sana. Bermuka datar terus, apa bedanya kita dengan boneka Danbo yang benda MATI itu?"

Darussalam, 11 Agustus 2010

We Shall Overcome (Sebuah Renungan dari film "My Name is Khan")

Pertama kali mendengar lagu dari film "My Name is Khan" oleh para jemaat Kristiani yang ditemui Khan dalam perjalanannya menemui presiden Amerika Serikat ini, saya "ngena". Pas dengar lagunya, langsung suka. Air mata tumpah bak air bah. Sebab saat itu saya pribadi sedang dalam keadaan sangat penuh pikiran-pikiran (baca : masalah, problematika, atau apalah istilahnya) yang sempat membuat saya agak down. Saya merasa sendiri dan tidak tahu hendak menceritakan perasaan saya kepada siapa. Dan lagu ini hadir, tepat di saat saya bertanya kepada siapakah seharusnya saya menyandarkan kegelisahan dan menitipkan harapan.

"We Shall Overcome" merupakan lagu yang diciptakan sebagai wujud protes yang kemudian menjadi anthem untuk pergerakan hak-hak sipil rakyat Amerika Serikat. Lagu ini diangkat dari lagu Gospel oleh Charles Albert Tindley. Lagu ini pertama kali diluncurkan pada tahun 1947 di People's Songs Bulletin. Singkatnya, lagu ini sering dijadikan anthem dalam gerakan-gerakan protes di berbagai belahan dunia (sumber : Wikipedia)

Baik, anda mungkin berpikir saya mulai melenceng. Saya mulai menggunakan "ayat-ayat" agama lain dalam memotivasi diri saya dan bahwa saya tidak lagi menganggap kitab suci agama kita dapat memberi motivasi bahkan lebih dari apapun. Saran saya, kita semua membaca tulisan saya ini hingga akhir dan kemudian, beri saya masukan yang membangun dan buat saya mengapresiasi anda karena telah memberi masukan atas dasar melihat masalah - sudah dalam - keadaan yang menyeluruh.

Perhatikan lirik lagu "We Shall Overcome" berikut ini :


We shall overcome, We shall overcome, We shall overcome, some day.
(Kita akan bisa melewatinya, suatu hari nanti.)

Oh, deep in my heart, I do believe We shall overcome, some day.
(Oh, dari lubuk hati terdalam, aku percaya. Kita akan bisa melewatinya suatu hari nanti.)

We’ll walk hand in hand, We’ll walk hand in hand, We’ll walk hand in hand, some day.
(Kita akan berjalan bergandengan tangan, suatu hari nanti.)

Oh, deep in my heart,
(Dari lubuk hati terdalam,)

We shall live in peace, We shall live in peace, We shall live in peace, some day.
(Kita akan hidup dalam kedamaian suatu hari nanti.)

Oh, deep in my heart,
(Dari lubuk hati terdalam,)

We shall all be free, We shall all be free, We shall all be free, some day.
(Kita akan bebas suatu hari nanti)

Oh, deep in my heart,
(Dari lubuk hati terdalam,)

We are not afraid, We are not afraid, We are not afraid, TODAY
(Kita tidak takut bahkan hari ini)

Oh, deep in my heart,
(Dari lubuk hati terdalam,)

We shall overcome, We shall overcome, We shall overcome, some day.
(kita akan melewatinya suatu hari nanti)

Oh, deep in my heart, I do believe We shall overcome, some day.
(Dari lubuk hati terdalam, aku percaya kita akan dapat melewatinya suatu hari nanti)


Dari lirik di atas, apa yang teman-teman dapatkan?

Optimisme bukan?

Jika dilihat di film "My Name is Khan"-nya langsung, yang menyanyikan lagu ini adalah kaum Negro yang notabene mendapatkan banyak diskriminasi dalam kehidupan sehari-harinya di negeri Paman Sam sana. Ya, politik Apartheid sudah dikubur mati, tapi sisa-sisanya saya yakin sangat masih ada. Dapat dilihat di film tersebut, saat terjadi bencana, mereka hampir mati dibiarkan bertahan dalam badai besar yang melanda negara bagian mereka tanpa bantuan yang memadai. Bantuan malah datang pertama kali oleh masyarakat sipil dan Rizwan Khan yang jelas-jelas beda agamanya dengan mereka (baca : Rizwan adalah seorang muslim sementara mereka Kristiani).

Optimisme yang ditunjukkan oleh kaum "Black-skinned" ini yang membuat saya selalu takjub. Mereka sangat bisa menyanyikan optimisme ini dan menularkannya pada orang lain menurut saya.

Dan Rizwan Khan? Lepas dari kontroversi ia menikahi seorang non muslim (Ada yang mau memberi pandangannya tentang hal ini? Saya tidak cukup ilmu untuk membahasnya), ia membuat saya mengingat sebuah hadits

Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ad-Daruquthni dan Ath-Thabaran)

Duh! Saya jadi terpikir, sudah seberapa bermanfaatnya saya sebagai seorang muslim? Padahal agama kita Islam adalah Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi seluruh alam)! Entahlah untuk seluruh alam, tapi untuk umat manusia saja, sudah seberapa besar manfaat yang kita kontribusikan? Atau kita hanya terjebak dalam lingkaran memberi manfaat hanya pada diri sendiri saja dengan hanya melakukan hal-hal yang cuma bisa memberi keuntungan untuk diri sendiri atau paling banter untuk sekedar keluarga saja? Padahal Allah tidak mungkin mengatakan bahwa agama kita rahmat bagi seluruh alam jika kita (sebagai orang-orang yang ber-Islam itu sendiri) tidak bisa mencoba melakukan hal yang sama!

Kembali ke topik utama, lagu "We Shall Overcome" di atas memang lagu umat agama lain, tapi bagi saya lagu itu malah membawa saya ke beberapa ayat Alquran berikut ini

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.  Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap."      - QS Al-Insyirah ayat 5-8

Dan saya akhirnya kembali "sadar". Ya, bukankah memang begini diciptakan-Nya? Diciptakan-Nya kesulitan untuk lalu kita akan melewatinya suatu hari nanti dan kemudahan itu akan menggantikannya?

Dan perhatikan, Allah membuat penekanan akan janji-Nya ini dengan mengulang isi ayat 5 pada ayat 6! Maha Suci Allah, bukankah Dia sedang memotivasi kita semua dengan kata-kata-Nya langsung?

Dan lihat juga, pada akhir surat Dia berkata, bahwa hanya pada-Nya lah hendaknya kita berharap. Di poin ini, saya luluh. Ya, ada makna "hendaknya" di sini. Allah tentu tahu bahwa kita manusia ini suka sekali berharap pada yang lain dulu sebelum kapok harapannya tidak berbalas baru pada akhirnya berharap pada Tuhannya.

Saya malu. Malu sekali. Sebab saya sudah masuk ke golongan kebanyakan itu yang sudah menggantungkan harapan tidak pada-Nya yang pertama. Maka saya berakhir dengan kekecewaan. Kesakitan. Keterpurukan. Patah hati. Tergelincir dosa. Dan ah, sungguh, berharap pada selain-Nya benar-benar tidak bisa membuat saya cukup yakin untuk terus melanjutkan kehidupan ini.

Maka ketika melihat umat agama lain itu begitu yakin dengan agamanya ketika menyanyikan lagu ini, saya tertampar untuk ke sekian kalinya dalam hidup ini. Saya punya Allah yang ayat-ayat-Nya lebih bisa menggemparkan egoisme saya dan saya atau mungkin kita semua masih suka menutup mata dan malah menyepelekan agama kita. Padahal lihatlah, bukankah semua kekuatan sebenarnya berasal dari keteguhan dan kedamaian hati? Sementara keteguhan dan kedamaian hati mustahil didapatkan tanpa perenungan yang mendalam akan hidup ini! Dan jika sudah merenungi alam ini dalam-dalam, manusia PASTI akan bertemu Tuhannya. Seperti Ibrahim (alaihissalam). Seperti Cat Steven. Seperti banyak muallaf di luar sana rasakan. Seperti yang saya secara personal juga rasakan. Ah, itulah mengapa Allah menyuruh kita untuk "bertebaran" di atas muka bumi ini seperti disampaikan-Nya dalam QS Al-Jumu'ah ayat 5

"Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung"       -QS Al-Jumuah ayat 5
Ya, bahkan sebelum Rizwan Khan berkelana ke berbagai negara bagian di Amerika Serikat dalam "My Name is Khan" , Tuhan kita sudah menyuruh kita untuk "merantaui" dunia ini dalam rangkat mengingat-Nya alias bertafakkur tenntang ciptaan-Nya. Bertafakkur tentang bagaimana meski musim gugur merontokkan hampir seluruh daun-daun pepohon yang ada, musim semi akan kembali hadir dan menyuguhi mata kita dengan dedaun muda yang hijau kembali. Bahwa beku mencekam musim dingin akan segera dicairkan pula oleh musim semi dengan kehangatan. Bahwa setelah kesulitan itu ada kemudahan. Yes, we shall overcome! Mengapa takut mengarungi semua hambatan dan masalah ini jika kita tahu Dia akan menggantikan semua ini dengan kebahagiaan nanti di akhirnya? Yakin, kita hanya perlu yakin. Sekali lagi, yakinlah, we shall overcome!



Lamkeunung, 18 September 2010, 22 : 31 WIB
*tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman di kampus FK Unsyiah secara khusus dan SEMUA PEMBACA secara umum dari berbagai elemen yang selama ini selalu saya temui dalam berbagai rapat/meeting/syuro/istilah lain untuk hal serupa dari hari ke hari. Ah, mengapa cuma untuk teman-teman saya saja? Saya dedikasikan ini untuk teman-teman yang mungkin sedang atau pernah mengalami masa-masa sulit, apapun itu! 


Behti Hawa Sa Tha Woh / He was Like a Flowing Wind (Sebuah Renungan dari film "3 Idiots")

Membaca Quick Note terakhir dari yang punya id "friewan" berisi beberapa kuotasi dari film "3 Idiots", saya jadi terkenang dengan film yang baru saya tonton beberapa bulan lalu itu. Kali ini, saya tidak akan membahas Sang Rektor alias Virus itu, sebab di Aceh belakangan itu sudah heboh duluan sebab ada yang menganalogikan universitas kami dengan film tersebut. Jadi, izinkan saya membahas film ini dari sisi lain. 

Saya ingat, saya menonton film itu dengan seorang saudari yang malam itu menginap di rumah saya. Dia membawa laptopnya serta dan mengajak saya menonton film "3 Idiots". Karena memang penasaran, maka jadilah kami menonton setelah agenda bekam-membekam di antara kami selesai (hayo, uda pernah bekam belum? Pengobatan ala Nabi yang keren banget dah!).

Nah, pas nonton, saya dituntun habis-habisan oleh teman saya. Dijelaskan plotnya de es be. Saya manut-manut saja, sampai kemudian ia diam sendiri; karena masing-masing kami tenggelam dalam perasaan masing-masing. Saya pribadi yang waktu itu sedang berada di titik jenuh pasca mumet ujian blok Neurologi dan Endokrinologi (Saraf dan Sistem Regulasi Hormon) merasa ditampar oleh si tokoh utama film tersebut yaitu Rancho. 

Menurut teman-teman, katanya saya orangnya aneh. Santai amat kalau urusan belajar. Ga pernah terlihat bergumul dengan buku-buku tebal kedokteran kami (suer dah, kalau empuk, itu buku-buku enak banget dijadiin bantal!). Awalnya saya cuek. Sejak kembali dari Melbourne dulu, saya memang terbiasa belajar dengan cara saya sendiri; mendengar dan mencatat, lalu sekedar membaca-baca lagi. Saya agak kurang terbiasa menghafal isi buku, lebih suka mendengar orang lain membaca keras-keras isi buku tersebut untuk lalu saya pahami dengan cara saya sendiri, lalu saya jelaskan dengan bahasa saya sendiri pula.

Nah, pasalnya, saya lama-lama "terintimidasi" dengan gaya belajar teman-teman di sekitar saya yang sering terlihat membaca lembar demi lembar buku lalu memandangi angkasa dan komat-kamit (bahasa nyastra dari menghafal hehe). Lama-lama saya merasa bersalah dengan "ketidakseriusan" saya dalam belajar di kedokteran. Duh, mau jadi dokter macam apa saya ini, pikir saya beberapa waktu lalu. Entah terpengaruh, saya pun mulai mencoba menghafal banyak hal demi menghadapi ujian demi ujian.

Dan hasilnya?

Nilai saya makin anjlok. Puncaknya adalah ketika saya "berhasil" mengumpulkan dua nilai C; satu untuk blok Kardiologi (Jantung) dan satu lagi untuk blok Urologi (Sistem Eskresi alias Pengeluaran).

Lalu saya sampaikan uneg-uneg saya pada seorang teman. Agak salah sih sebenarnya momentnya, karena rupanya dia lebih "berhasil" dari pada saya; dia mendapatkan beberapa huruf "E" dan lebih banyak "C" dari pada saya. Syukur, dia tidak tersinggung, malah marah-marah sama saya.

"Rin ( baca : Rin ini nama panggilan saya), kenapa sih? Kenapa harus dengar kata orang? Kenapa ga jadi diri sendiri aja? Tiap orang itu beda-beda. Nilai Rin kan selalu tinggi dulu-dulu walaupun ga sampe ngafal-ngafal gitu, kan? Artinya apa, cara mereka belajar itu ga lantas bikin nilai Rin meningkat kan? Tiap orang punya caranya masing-masing! Ga bisa dipaksain!"

Waktu itu, saya ingat tiba-tiba jadi "cengeng" untuk ke sekian kalinya, berderaian air mata di teras kantor BEM FK Unsyiah kami, padahal banyak orang lalu-lalang! Hehe, maklum, lagi melankolis ga bisa ditahan-tahan emosinya  *pembelaan diri 

Nah, pas nonton Rancho di 3 Idiots, saya jadi sangat terenyuh kembali. Melihat dia dan caranya memahami masalah, menyederhanakan hal-hal rumit dengan bahasanya sendiri. Begitu mudahnya ia untuk tetap mendapat nilai tertinggi meski "tidak belajar" seperti kebanyakan orang lain. Namun uniknya, sementara yang lain gelimpang dalam tidur malam, ia malah berjaga dan "belajar" yang ia ingin pelajari!Inilah kunci nomor satu, saya pikir!

Lalu melihat karakter Farhan dan Raju, saya kembali terenyuh. Yang terjadi pada mereka malah kebalikan dari prestasi akademik Rancho; nilai mereka mendekam di posisi bawah daftar nilai. Namun lihat apa yang Rancho lakukan pada mereka? Memotivasi mereka. Mendorong mereka untuk mengerjakan hal yang mereka cintai dan untuk keluar dari ketakutan-ketakutan buatan mereka sendiri. Ah, ini dia. Ini dia, pikir saya, sosok sahabat yang seharusnya adalah yang begini. Ia yang tidak membiarkan kita mengalir bagaikan air, yang kadang ngalirnya bisa ke comberan! Seorang sahabat yang berani memarahi sahabatnya ketika sahabatnya melakukan hal yang salah (oke, saya tidak akan bahas definisi salah-benar di sini, sebab Rancho dkk beda agamanya dengan saya, jadi pasti akan berbeda). Membiarkan sahabatnya berkembang. Bebas berdiri di atas kakinya. Paham akan betapa berharganya dia bagi dunia ini; sebab ia sudah hadir ke dunia ini dengan kelebihannya yang unik dibanding orang lain!

Dan saya mulai menghisab diri; apakah saya sudah bisa menjadi sahabat yang begitu? Atau kerja saya hanya menyusahkan sahabat saya dengan segala "keparasitan" dan ketidakbermanfaatan? Duh, lalu saya berdoa pada Allah, saya ingin menjadi seseorang yang membuat sahabat-sahabatnya berkembang dengan potensi mereka masing-masing! Amin! 

Oh ya, tentang cara belajar saya tadi, saya akhirnya mengikuti kata-kata teman saya tersebut, untuk tetap menjalani studi dengan apa yang saya biasa dengannya. Maka saya kembali ke "mendengar dan mencatat" lalu "membaca-baca" tanpa menghafal. Saya tidak menyalahkan orang-orang yang menghafal; karena pada beberapa kasus memang harus dihafal, misalnya nama obat, nama penyakit, dsb. Kembali lagi ke tadi, semua orang punya cara belajarnya masing-masing. Maka jalanilah cara belajarmu dengan penuh percaya diri sebab engkaulah yang paling tahu cara seperti apa yang paling nyaman. Dan alhamdulillah, saya bisa dapat nilai A di blok selanjutnya dengan cara belajar saya yang sudah saya sesuaikan lagi dengan diri saya. Tentu, ini semua atas izin Allah juga! 

Dan sebuah soundtrack dari film ini, seperti judul di atas, adalah satu hal lagi yang menyentuh saya. Tentang kehadiran seseorang yang seperti angin, datang dan pergi, namun selalu bisa bertahan dengan keadaannya. Seorang sahabat yang mampu membuat sahabatnya menghentikan pesawat yang sedang taking off sebab begitu rindunya. Seorang sahabat yang sampai lupa mengenakan celana sebab buru-buru ingin bertemu. Lagi-lagi rindu. Jadi tercenung,adakah di luar sana orang yang merindukan kita sebegitunya sebab sudah begitu memberi kesan? Tanyakan pada diri kita masing-masing..





Behti Hawa Sa Tha Woh
He was like a flowing wind

Udti Patang Sa Tha Woh
He was like a soaring kite

Kahan Gaya Usse Dhoondo
Where he vanished, lets find him

Humko Toh Raahein Thi Chalati
While the paths always lead us

Woh Khud Apni Raah Banata
He always made his path

Girta Sambhalta Masti Mein Chalta Tha Woh
Sometimes fell, sometimes balanced but always went ahead cheerfully

Humko Kal Ki Fikar Sataati
We were always worried about tomorrow

Woh Bas Aaj Ka Jashn Manaata
He always celebrated today

Har Lamhe Ko Khulke Jeeta Tha Woh
He lived every minute fully

Kahan Se Aaya Tha Woh
From where did he come

Chhooke Hamare Dil Ko Kahan Gaya Usse Doondo
Where did he vanished, touching our hearts

Sulagti Dhoop Mein Chhaaon Ke Jaisa
He was like shade in scorching sun

Registaan Mein Gaaon Ke Jaisa
He was like an oasis in a vast desert

Mann Ke Ghaav Me Marham Jaisa Tha Woh
He was like the medicine for wounded heart

Hum Sahme Se Rehte Kuwein Mein
We were limited to well

Woh Nadiya Mein Gote Lagata
He will do somersault in the river

Ulti Dhara Cheerke Tairta Tha Woh
He used to swim against the waterfall

Baadal Awara Tha Woh
He was like a carefree cloud

Yaar Hamara Tha Woh
He was our friend

Kahan Gaya Usse Dhoondo
Where he vanished, lets find him

Lamkeunung, 22 September 2010, 00:22 WIB 
*Suatu hari. Saat mengusir bosan di tengah ngerjain laporan Patient Encounter dan Program Kerja departemen di BEM FK Unsyiah 2010-2011*