Sunday, May 27, 2012

Antara Tulisan, Cinta, dan (Cukup Tidaknya) Luas Pikiran yang Kita Punya


note : tulisan ini dibuat atas concern terhadap keluhan beberapa teman mengenai penyalahartian tulisannya oleh beberapa oknum tertentu.

“Aku menyebut ini hujan. Sebab, aku basah olehnya. Aku dingin olehnya. Aku bungkam sebabnya. Aku akan tetap menyebut ini hujan meski nanti Darussalam tak lagi basah oleh guyuran. Karena ini hujanku sendiri.”
  -Status Facebook, 28 September 2010

Saya mengetikkan huruf demi huruf sambil membiarkan raut wajah yang buram. Terasa sekali buramnya, saya tak perlu bercermin lagi. Hujan pagi itu sangat menyejukkan dan sesuai dengan keinginan saya yang sedang ingin mengenakan jaket hari itu. Lalu membaca satu-satu komentar dari status yang saya posting seperti di atas, saya sedikit geli. Ada yang mengira saya sedang jatuh cinta. Teringat, beberapa status saya terdahulu malah ada yang diartikan sedang “patah hati” oleh beberapa orang. Aih, mengapa saya sering disalahartikan ke dalam dua hal yang paling sering diceritakan band-band lagu Indonesia itu; jatuh cinta dan patah hati (karena cinta itu juga)? Padahal, ada cerita yang cukup menegangkan (bagi saya) yang melatari munculnya status tersebut.

Kalau boleh jujur, kadang-kadang saya kesal. Kesal sebab buat saya kadang kita sudah egois mengartikan sensasi “bahagia” dan “ sedih” hanya dengan dua kondisi di atas  saja. Meskipun memang pembaca punya hak penuh untuk menginterpretasikan tulisan kita sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Tapi bukankah Allah menciptakan lebih dari sekedar dari dua hal tersebut untuk bahagia atau sedih sekalipun; orang tua yang senyum atas prestasi kita, adik-adik yang memberikan kita sebungkus hadiah ketika ulang tahun, awan yang membentuk wajah manusia yang mengingatkan kita akan seseorang yang sudah lama meninggalkan kita, rak gelombang buih pantai yang datang dan pergi. Banyak sekali. Dunia ini sungguh luas di samping segala persepsi sempit yang kita ciptakan atasnya.

“Aku menyebut ini badai. Sebab, aku gulana olehnya. Mataku picing karenanya. Jalanku limbung sebabnya. Aku akan tetap menyebut ini badai meski nanti hujan dan dinginkan aku lagi. Karena badai ini milikku sendiri.”
 -Status Facebook, 29 September 2010

Seolah sebuah sekuel, status Facebook saya menggunakan pola yang mirip. Hujan. Lalu badai. Sama  pertanyaan saya, apakah status itu berarti sesederhana saya jatuh hati pada seorang pemuda untuk lalu badai itu menunjukkan bahwa saya kemudian patah hati? Aih, memangnya bisa jatuh hati lalu langsung putus harapan dalam sehari? Mungkin ada cerita demikian di luar sana, tapi itu belum pernah terjadi pada saya. Lagi-lagi, sebenarnya ada cerita lain yang melatari munculnya status ini. Lebih tepatnya ini merupakan sebuah cerita lanjutan dari status pertama di atas.

Lantas apa maksudnya? Apa maksud semua kata-kata di atas?

Seorang teman pernah khusus meng-SMS saya dan bertanya, “Rin, apakah sebuah karya sastra itu harus selalu sulit dicerna seperti tulisan-tulisan Rin?”. Waktu itu saya sampaikan padanya apa yang saya anut selama ini; bahwa saya percaya setiap penulis punya hak untuk menulis apa saja yang dianggapnya penting dan sesuai dengan prinsipnya untuk lalu dikembalikan kepada sang pembaca untuk mengartikannya. Hanya saja saat mengartikan sebuah karya, menurut saya, sudah saatnya kita membuka pikiran kita lebih luas dari segala macam tema picisan yang kerap beredar dalam berbagai sumber infotainment di negeri kita tercinta ini.

Kembali ke pertanyaan di atas, sebenarnya apa yang sedang saya bicarakan melalui berbagai puisi dan status yang menurut beberapa orang sangat sulit dicerna dan dipahami. Saya hargai maksud mereka yang ingin mencoba memahami perasaan saya dan jika itu berupa masalah, mungkin mereka berniat untuk menjadi tempat berbagi atau malah sebagai pemberi solusi, begitu prasangka baik saya terhadap mereka. Hanya saja, saya rasa penting untuk menyampaikan bahwa saya adalah tipe orang yang jika butuh bantuan akan bicara blak-blakan. Saya, jika butuh solusi akan menyampaikan pendapat saya secara terang-terangan. Dan jika saya sedang “duduk di bulan” (istilah saya untuk mendeskripsikan keadaan saya yang sedang ingin berpuisi dan merenung), tidak pernah secara khusus ingin lantas ada yang menepuk pundak saya lalu berkata, “Tenang, Rin. Dunia ini memang penuh masalah. Tegarlah.”.

Sungguh, saya tidak pernah mengharapkan semua orang memahami apa yang saya tulis. Dan itu pun dengan catatan bahwa sesuatu yang saya tulis dan kurang bisa dipahami sebab terlalu abstrak itu biasanya adalah “curcol” saya di dunia maya. Mengapa demikian? Sebab saya ingin mengeluarkan “sampah” dan uneg-uneg dari kepala saya tanpa ingin membiarkan diri jatuh ke kondisi yang “cengeng” dan “mengeluh”. Kan, lebih baik semua “sampah” itu diurai jadi puisi daripada cuma coret-coret biasa di atas kertas. Lumayan, menambah koleksi puisi, bukan? Hanya itu. Saya juga selalu berusaha semampu saya untuk tetap mengakhiri “curcol” saya dengan sebuah kesimpulan dan solusi bagi diri saya sendiri. Dalam istilah Psikologi, ini disebut dengan self-coping. Saya nyaman dengan cara self-coping ini dalam mengendalikan emosi-emosi yang berkeliaran dalam diri saya. Bagaimana dengan anda? :)

Memang terkadang ada terlihat satu dua yang paham akan apa yang sedang saya tulis. Itu kebetulan saja. Mungkin dialah orang yang sedang tahu apa yang sedang menjadi masalah saya waktu itu. Mungkin sebelum menulis itu, saya sudah duluan bertukar pikiran dengannya. Mungkin dia memang murni menebak saja. Banyak mungkin yang lain. Dan itu jarang saya tanggapi juga, kecuali sesekali mereka memang persis bisa tahu apa yang saya sedang pikirkan dan saya bisa dapat solusi baru atas masalah yang sedang saya hadapi.

Apa yang sering saya pikirkan? Apakah setiap kali saya sebutkan kata “cinta” lantas itu pasti maksudnya berorientasi kepada lawan jenis? Sekali lagi saya mengajak kita semua berbaik sangka tidak hanya pada saya tetapi kepada saudara-saudari kita yang lain. Jika memang pun menurut kita ada hal-hal yang menjanggal dari tulisan-tulisan tersebut, ada baiknya kita langsung saja menanyakannya pada sang penulis secara personal dan sebaiknya menghindari menyebarkan isu hanya berdasar beberapa larik dan paragraf tulisan kita. Sungguh, bagaimana jika yang kita sebarkan itu salah? Bagaimana itu bukan lagi sebuah ghibah (membicarakan segala sesuatu tentang saudara kita yang ia tidak suka jika kita membicarakannya, sekalipun hal itu benar adanya), melainkan malah jatuh ke sebuah fitnah (berita yang jelas-jelas salah dan tidak sesuai kenyataan.)? na’udzubillahi min dzaalik. Semoga Allah menjauhkan saya dan serata teman-teman dari segala macam dosa yang sama dengan “memakan bangkai saudara sendiri” serta dosa “yang lebih keji dari pembunuhan” tersebut.

Satu hal. Yang jelas Allah memberikan kita hati (baca : perasaan) yang bisa mencinta bukan untuk ditujukan kepada lawan jenis saja. Allah juga tidak memberikan kita kemampuan berimajinasi dan menciptakan korelasi sekedar sebagai hardware dalam misi-misi menyebar gossip belaka. Allah juga tidak menciptakan mata, telinga, dan lisan pada wajah kita cuma untuk berbicara tentang satu makna dari tiga makna utama mitsaqan ghaliza saja (baca: pernikahan) misalnya. Teman, sudah saatnya kita keluar dari kotak yang membatasi pikiran kita itu. Keluarlah, dan lihat, kita pun bisa jatuh cinta pada sebaris semut yang sedang menelusuri sebidang tanah di samping sederet bunga asoka merah yang kemarin baru ditanam oleh ibu kita di halaman rumah.

Dan tentang dua status di atas, kali ini saya berniat membahasnya di sini. Dua status di atas tentang sebuah event rutin di kampus FK Unsyiah tercinta berjudul penerimaan asisten Laboratorium Fisiologi.

Status pertama adalah tentang hujan.

Saya, jujur saja, selalu bermimpi bisa menjadi seorang asisten dosen di laboratorium Fisiologi. Terutama setelah melihat sepak terjang beberapa asisten-asisten sebelumnya yang sebelumnya lebih saya kenal cemerlang di kehidupan organisasi lain baik di dalam maupun luar kampus. Saya cemburu melihat keseimbangan akademik dan kehidupan “lain”-nya itu. Saya pun bertekad dan memasang target “MENJADI ASISTEN SALAH SATU LABORATORIUM DI KAMPUS” dalam target awal tahunan saya Januari lalu.

Dan tiba-tiba saya menjadi obsesif  dengan keinginan saya itu. Meski menemui kenyataan bahwa waktu luang untuk mempelajari berbagai bab kedokteran yang sudah dipelajari selalu terasa sedikit, saya selalu berusaha belajar dengan apa yang saya bisa adakan. Namun lalu hari yang dinanti tiba. Penerimaan asisten laboratorium pun dibuka. Singkat cerita, saya yang sudah mendaftar jauh-jauh hari sebelum deadline, ternyata hari itu, ketika dites mengajar, mendadak grogi dan mulai tertukar antara jumah lobus paru-paru kanan dan kiri! Padahal itu hal yang sangat sederhana yang sudah saya turut hafalkan ketika belajar.

Lalu malam setelah tes tersebut, saya mendapat sms yang berbunyi sebagai berikut :
“Kemenangan hanyalah sebuah hasil, tidak berarti tanpa usaha yang jujur. Banyak orang meraih kemenangan tapi tidak mengerti hakikat usaha yang sebenarnya. Apapun hasilnya yang penting terus belajar. Syukran.”

Deg, saya langsung “buruk sangka” bahwa ini sms mengatakan secara tidak langsung pada saya bahwa “saya belum beruntung”. Namun di satu sisi, saya mengiyakan kata-kata tersebut. Dan gejolak saya yang terlalu bersemangat menjadi asisten laboratorium pun mendadak dingin. Saya sadar saya harus meluruskan niat saya. Bukan sekedar ingin jadi “keren” dengan menjadi asisten laboratorium, melainkan lebih lagi. Maka lahirlah status “hujan”itu.  Saya sadar ilmu saya masih sangat sedikit dibandingkan yang sudah harus saya kuasai sekarang.

Lalu keesokan harinya, pengumuman kelulusan pun ditempel. Dan saya diluluskan oleh tim penguji (Alhamdulillah, apapun). Saya yang memang sedang berkondisi kesehatan buruk waktu itu mendadak tambah limbung. Saya mendadak sadar bahwa amanah baru sudah disematkan ke pundak saya sementara saya masih merasa ciut sebab pengalaman “grogi” pada saat tes sebelumnya. Semalaman saya “tumbang” pasrah membiarkan badan saya “hilang nyawa” tanpa belajar apalagi online. Mimpi saya malam itu pun agak suram. Ada badai di laut yang terhampar luas dalam mimpi saya. Sehingga di pagi harinya, ketika saya sudah semakin sehat, saya update status tentang “badai’ itu, di mana badai itu adalah milik saya sendiri untuk saya selesaikan. Karena badai pasti berlalu.


*menyelesaikan tulisan ini di sela rapat suatu sore di kampus, 2 tahun lalu, 29 Sept 2010, jelang Magrib*

1 comment:

  1. Badai pasti berlalu. Sebaiknya juga kita memberikan sangka baik kepada orang lain walaupun sangka baik itu salah, daripada menduga buruk kepada orang lain padahal sebenarnya baik. Dua pelajaran super dari tulisan ini... :-)

    ReplyDelete