Sunday, May 27, 2012

Behti Hawa Sa Tha Woh / He was Like a Flowing Wind (Sebuah Renungan dari film "3 Idiots")

Membaca Quick Note terakhir dari yang punya id "friewan" berisi beberapa kuotasi dari film "3 Idiots", saya jadi terkenang dengan film yang baru saya tonton beberapa bulan lalu itu. Kali ini, saya tidak akan membahas Sang Rektor alias Virus itu, sebab di Aceh belakangan itu sudah heboh duluan sebab ada yang menganalogikan universitas kami dengan film tersebut. Jadi, izinkan saya membahas film ini dari sisi lain. 

Saya ingat, saya menonton film itu dengan seorang saudari yang malam itu menginap di rumah saya. Dia membawa laptopnya serta dan mengajak saya menonton film "3 Idiots". Karena memang penasaran, maka jadilah kami menonton setelah agenda bekam-membekam di antara kami selesai (hayo, uda pernah bekam belum? Pengobatan ala Nabi yang keren banget dah!).

Nah, pas nonton, saya dituntun habis-habisan oleh teman saya. Dijelaskan plotnya de es be. Saya manut-manut saja, sampai kemudian ia diam sendiri; karena masing-masing kami tenggelam dalam perasaan masing-masing. Saya pribadi yang waktu itu sedang berada di titik jenuh pasca mumet ujian blok Neurologi dan Endokrinologi (Saraf dan Sistem Regulasi Hormon) merasa ditampar oleh si tokoh utama film tersebut yaitu Rancho. 

Menurut teman-teman, katanya saya orangnya aneh. Santai amat kalau urusan belajar. Ga pernah terlihat bergumul dengan buku-buku tebal kedokteran kami (suer dah, kalau empuk, itu buku-buku enak banget dijadiin bantal!). Awalnya saya cuek. Sejak kembali dari Melbourne dulu, saya memang terbiasa belajar dengan cara saya sendiri; mendengar dan mencatat, lalu sekedar membaca-baca lagi. Saya agak kurang terbiasa menghafal isi buku, lebih suka mendengar orang lain membaca keras-keras isi buku tersebut untuk lalu saya pahami dengan cara saya sendiri, lalu saya jelaskan dengan bahasa saya sendiri pula.

Nah, pasalnya, saya lama-lama "terintimidasi" dengan gaya belajar teman-teman di sekitar saya yang sering terlihat membaca lembar demi lembar buku lalu memandangi angkasa dan komat-kamit (bahasa nyastra dari menghafal hehe). Lama-lama saya merasa bersalah dengan "ketidakseriusan" saya dalam belajar di kedokteran. Duh, mau jadi dokter macam apa saya ini, pikir saya beberapa waktu lalu. Entah terpengaruh, saya pun mulai mencoba menghafal banyak hal demi menghadapi ujian demi ujian.

Dan hasilnya?

Nilai saya makin anjlok. Puncaknya adalah ketika saya "berhasil" mengumpulkan dua nilai C; satu untuk blok Kardiologi (Jantung) dan satu lagi untuk blok Urologi (Sistem Eskresi alias Pengeluaran).

Lalu saya sampaikan uneg-uneg saya pada seorang teman. Agak salah sih sebenarnya momentnya, karena rupanya dia lebih "berhasil" dari pada saya; dia mendapatkan beberapa huruf "E" dan lebih banyak "C" dari pada saya. Syukur, dia tidak tersinggung, malah marah-marah sama saya.

"Rin ( baca : Rin ini nama panggilan saya), kenapa sih? Kenapa harus dengar kata orang? Kenapa ga jadi diri sendiri aja? Tiap orang itu beda-beda. Nilai Rin kan selalu tinggi dulu-dulu walaupun ga sampe ngafal-ngafal gitu, kan? Artinya apa, cara mereka belajar itu ga lantas bikin nilai Rin meningkat kan? Tiap orang punya caranya masing-masing! Ga bisa dipaksain!"

Waktu itu, saya ingat tiba-tiba jadi "cengeng" untuk ke sekian kalinya, berderaian air mata di teras kantor BEM FK Unsyiah kami, padahal banyak orang lalu-lalang! Hehe, maklum, lagi melankolis ga bisa ditahan-tahan emosinya  *pembelaan diri 

Nah, pas nonton Rancho di 3 Idiots, saya jadi sangat terenyuh kembali. Melihat dia dan caranya memahami masalah, menyederhanakan hal-hal rumit dengan bahasanya sendiri. Begitu mudahnya ia untuk tetap mendapat nilai tertinggi meski "tidak belajar" seperti kebanyakan orang lain. Namun uniknya, sementara yang lain gelimpang dalam tidur malam, ia malah berjaga dan "belajar" yang ia ingin pelajari!Inilah kunci nomor satu, saya pikir!

Lalu melihat karakter Farhan dan Raju, saya kembali terenyuh. Yang terjadi pada mereka malah kebalikan dari prestasi akademik Rancho; nilai mereka mendekam di posisi bawah daftar nilai. Namun lihat apa yang Rancho lakukan pada mereka? Memotivasi mereka. Mendorong mereka untuk mengerjakan hal yang mereka cintai dan untuk keluar dari ketakutan-ketakutan buatan mereka sendiri. Ah, ini dia. Ini dia, pikir saya, sosok sahabat yang seharusnya adalah yang begini. Ia yang tidak membiarkan kita mengalir bagaikan air, yang kadang ngalirnya bisa ke comberan! Seorang sahabat yang berani memarahi sahabatnya ketika sahabatnya melakukan hal yang salah (oke, saya tidak akan bahas definisi salah-benar di sini, sebab Rancho dkk beda agamanya dengan saya, jadi pasti akan berbeda). Membiarkan sahabatnya berkembang. Bebas berdiri di atas kakinya. Paham akan betapa berharganya dia bagi dunia ini; sebab ia sudah hadir ke dunia ini dengan kelebihannya yang unik dibanding orang lain!

Dan saya mulai menghisab diri; apakah saya sudah bisa menjadi sahabat yang begitu? Atau kerja saya hanya menyusahkan sahabat saya dengan segala "keparasitan" dan ketidakbermanfaatan? Duh, lalu saya berdoa pada Allah, saya ingin menjadi seseorang yang membuat sahabat-sahabatnya berkembang dengan potensi mereka masing-masing! Amin! 

Oh ya, tentang cara belajar saya tadi, saya akhirnya mengikuti kata-kata teman saya tersebut, untuk tetap menjalani studi dengan apa yang saya biasa dengannya. Maka saya kembali ke "mendengar dan mencatat" lalu "membaca-baca" tanpa menghafal. Saya tidak menyalahkan orang-orang yang menghafal; karena pada beberapa kasus memang harus dihafal, misalnya nama obat, nama penyakit, dsb. Kembali lagi ke tadi, semua orang punya cara belajarnya masing-masing. Maka jalanilah cara belajarmu dengan penuh percaya diri sebab engkaulah yang paling tahu cara seperti apa yang paling nyaman. Dan alhamdulillah, saya bisa dapat nilai A di blok selanjutnya dengan cara belajar saya yang sudah saya sesuaikan lagi dengan diri saya. Tentu, ini semua atas izin Allah juga! 

Dan sebuah soundtrack dari film ini, seperti judul di atas, adalah satu hal lagi yang menyentuh saya. Tentang kehadiran seseorang yang seperti angin, datang dan pergi, namun selalu bisa bertahan dengan keadaannya. Seorang sahabat yang mampu membuat sahabatnya menghentikan pesawat yang sedang taking off sebab begitu rindunya. Seorang sahabat yang sampai lupa mengenakan celana sebab buru-buru ingin bertemu. Lagi-lagi rindu. Jadi tercenung,adakah di luar sana orang yang merindukan kita sebegitunya sebab sudah begitu memberi kesan? Tanyakan pada diri kita masing-masing..





Behti Hawa Sa Tha Woh
He was like a flowing wind

Udti Patang Sa Tha Woh
He was like a soaring kite

Kahan Gaya Usse Dhoondo
Where he vanished, lets find him

Humko Toh Raahein Thi Chalati
While the paths always lead us

Woh Khud Apni Raah Banata
He always made his path

Girta Sambhalta Masti Mein Chalta Tha Woh
Sometimes fell, sometimes balanced but always went ahead cheerfully

Humko Kal Ki Fikar Sataati
We were always worried about tomorrow

Woh Bas Aaj Ka Jashn Manaata
He always celebrated today

Har Lamhe Ko Khulke Jeeta Tha Woh
He lived every minute fully

Kahan Se Aaya Tha Woh
From where did he come

Chhooke Hamare Dil Ko Kahan Gaya Usse Doondo
Where did he vanished, touching our hearts

Sulagti Dhoop Mein Chhaaon Ke Jaisa
He was like shade in scorching sun

Registaan Mein Gaaon Ke Jaisa
He was like an oasis in a vast desert

Mann Ke Ghaav Me Marham Jaisa Tha Woh
He was like the medicine for wounded heart

Hum Sahme Se Rehte Kuwein Mein
We were limited to well

Woh Nadiya Mein Gote Lagata
He will do somersault in the river

Ulti Dhara Cheerke Tairta Tha Woh
He used to swim against the waterfall

Baadal Awara Tha Woh
He was like a carefree cloud

Yaar Hamara Tha Woh
He was our friend

Kahan Gaya Usse Dhoondo
Where he vanished, lets find him

Lamkeunung, 22 September 2010, 00:22 WIB 
*Suatu hari. Saat mengusir bosan di tengah ngerjain laporan Patient Encounter dan Program Kerja departemen di BEM FK Unsyiah 2010-2011*

No comments:

Post a Comment