Sunday, May 27, 2012

Beruntungnya Aku (Catatan Singkat Suatu Masa Saat Masih Kuliah Dulu)


Sesekali dalam perjalanan kita, aku bertanya padamu. Entah kau ingat, tapi bagiku pertanyaan itu penting sekali, aku amat sering menanyakannya. Terakhir kali, aku menanyakannya di bawah basahnya purnama menyirami jalan setapak yang membelah padang rumput yang kita lalui dua malam lalu.

"Mendulang untungkah aku sudah membuntutimu selama satu windu?"

Saat itu kau nir-respon. Tak ada senyum atau anggukan. Pun tiada pula gelengan atau sorot mata bertanya. Datar. Sedatar sol sepatu yang makin hari makin menipis milik kita ini.

Saat itu pula aku tertular kediamanmu. Dan yang aku tahu, aku sudah kembali menghitungi bintang membuntuti malam. Mengekori langkahmu yang menuju Timur. Dan sebelum fajar membuka mata, kita sudah tiba di ujung bukit menanti Dhuha.

Dan baru kali itu kulihat matahari terlalu berang. Sinarnya kuning menyesatkan retina. Menyipit mata sebab tak tahan akan cahaya. Terlalu benderang. Jika sepanjang malam aku kauajak mengarungi kedinginan, di sini aku menadah kepanasan. Dan kau masih geming sunyi, menelekan lengan di kedua lutut kaki sembari duduk menatap searak awan di sudut Barat angkasa.
Dan sesuai aku punya prasangka. Ke Barat lah kini kau bawa tapak-tapak kita. Peluh menjagung dalam kerudung sementara kau terus saja berjalan. Masih dengan kediaman yang sama. Aku manut saja. Entah. Diammu membuatku enggan bertanya lagi setelah beberapa malam lalu itu. Meski pertanyaan itu masih menggema dalam kepalaku. Niatku, pemberhentian yang tepat suatu hari nanti, kutanya lagi pertanyaan itu.

"Mendulang untungkah aku sudah membuntutimu selama satu windu?"

Kau masih beku. Bisu. Aku masih di belakangmu. Mengikutimu yang terus berjalan. Kini menuju Utara.

Bekumu lalu tiba-tiba jelma batu-batu yang sebenar beku. Membatu putih dalam salju di mana mata memandang. Lalu aurora perlahan membayang dan mengatapi gemerutuk gigi kita di sini. Kau kentara menahan beku udara. Sayang, kau tetap saja bungkam sejuta kata.

Di Selatan pun begitu. Bedanya kini samudera yang terhampar dan kita entah untuk alasan apa seperti melayang di atasnya. Dengan kebekuan yang sama. Aku masih tidak ingin berhenti mengikuti perjalananmu meski sehari saja.

Kemudian istirahat di Negeri Zamrud di pertengahan dunia, kau akhirnya membuka suara.

"Hidup ini adalah tentang menangis; itu saat kita dilahirkan.
Hidup ini juga tentang terjatuh; itu saat kita belajar berdiri.
Hidup ini pun tentang tertawa; itu saat kita bisa merasa lucu oleh pengalaman yang entah kapan.
Hidup ini jua tentang mengulum senyum; saat jatuh cinta. Kau pernah jatuh cinta?
Tapi hidup pula tentang bergerak; saat terus berjalan menembus segala penjuru yang ada. Walau kau harus menahan gersang. Atau gelap yang temaram. Atau aurora yang membuat mata senang. Segala-segala adalah pelajaran."

Aku tetap menyeruput air dari batok kelapa yang kutemui di tepi pantai tempat kita rehat sejenak.

"Kau mempertanyakan keberuntunganmu setelah ikut denganku selama sewindu, bukan?"

Aku mengangguk. Sudah mulai malas mengharap jawaban.

"Seharusnya, setiap kali kau masih mampu bertanya, kau tahu, kau masih beruntung. Kau masih bisa bicara. Kau masih kuat untuk melangkah. Kau masih tahan meski hujan ataupun gempa. Kau masih bisa menyeruput air kelapa setelah demikian jauh perjalanan tertempa. Kau masih beruntung."

Jantungku berdebam. Jawaban bagi pertanyaanku terasa sangat memalukan untuk didengar. Aku terlambat mendapat kesadaran.

"Kau lihat, hidup ini terdiri dari banyak hal; manis, asam, pahit, hambar.
Kadang ada yang terbatas hingga tak mampu merasakan segalanya; entah matanya tak sanggup diganggu debu, entah kakinya tak sanggup dijagal batu, atau badannya yang amat gampang menjadi layu. Kau masih riang dan kau selalu punya peluang untuk bebas berpetualang. Itu artinya satu; kau - selama ini - selalu beruntung. Bahkan jauh sebelum sewindu kau ikuti aku."

"Maka aku, selalu..."

"Ya, beruntung. Selalu beruntung."




Lamkeuneung, 26 November 2010, 21:56 WIB
*mencoba kembali mengetak-ngetikkan jemari, berlatih lagi setelah sekian lama seperti mati suri*

No comments:

Post a Comment