Sunday, May 27, 2012

[Catatan Perjalanan Aceh-Jawa-Borneo] Beberapa Hikmah

Tulisan lawas, but worth re-reading. Jika dulu semangat begini untuk mengejar kebaikan, mengapa sekarang mundur-maju? SEMANGAT!  >.<




............................................................................................................


Saat mengetik ini di sebuah warnet di kota Darussalam di mana kampusku berada, sebuah nasyid dari Brothers berjudul "Warna-warna Cinta" mengalun memenuhi tiap bilik di sini. Saya tak akan menulis tentang nasyid ini, tetapi saya akui saya belakangan agak sensitif dengan kata "cinta" entah untuk alasan apa. So, ketika mendengar nasyid ini, saya jadi terpaku sesaat sebelum log in ke Multiply 

*anyway ga penting*

Yang penting adalah ternyata saya sudah kembali dari perjalanan panjang saya seminggu yang lalu dengan rute sebagai berikut:

Banda aceh - Jakarta - Depok - Jakarta lagi - Pontianak - Banda aceh


phiuwww....

Kepentingannya adalah sebagai berikut:

1. Jakarta untuk forum terakhir Young Leaders for Indonesia 2010 for Kampus
2. Depok untuk bermalam di rumah seorang teman untuk keesokan harinya saya akan bertolak ke Pontianak
3. Pontianak untuk Pekan Seni Mahasiswa Nasional X


Nah, yang menarik dari perjalanan ini adalah bahwa hari-hari ayyamul bidh Sya'ban saya rasakan di tiga kota di atas yang saya sebutkan kepentingannya untuk saya kunjungi. Dua dari shaum sunnah yang saya jalani adalah nir-sahur; simply karena tinggal di hotel dan saya cukup ceroboh tidak memperhitungkan membeli makanan untuk persiapan sahur. Namun ada satu hari saat saya di Depok di mana saya mendapat jamuan yang cukup mewah untuk sekedar sahur (maklum, anak kampung nginap di rumah gedong hehe) sehingga perjalanan yang agak tropis sepanjang sisa hari menuju Pontianak menjadi tidak begitu terasa membuat lemas.

Awalnya ibu saya menyarankan saya untuk tidak mengambil ayyamul bidh selama perjalanan ini. Toh saya musafir yang amat mobile waktu itu, takut tidak sanggup sementara semakin berjalan semakin banyak barang yang harus saya jejalkan ke dalam koper saya sampai-sampai terpaksa menggunakan ransel sebagai imbasnya; bagasi saya jadi melar sih dengan berbagai souvenir dari perusahaan-perusahaan besar di Jakarta ketika ada sesi temu ramah dengan mereka tentang pekerjaan-pekerjaan prospektif bagi peserta Young Leaders for Indonesia 2010.

Namun saya merasa ini adalah tantangan. Maka saya tetap shaum selama tiga hari itu dan benar-benar menikmati perjalanan yang ada. Ya, untuk ketiga hari shaum itu, saya mengawali shaumnya di tiga kota berbeda! Menurut saya ini adalah memori unik untuk dikenang dan diceritakan. 

Dan selama perjalanan ini saya menemukan satu hal; sesuatu dalam diri saya yang masih ada padahal sempat saya kita sudah tiada. Kemampuan saya untuk berjuang mempertahankan keyakinan saya!

Meski makanan a la buffet di hotel Four Seasons di Jakarta begitu membisik-bisik "Wahai, makanlah kami. Kapan lagi kau bertandang ke mari kalau bukan untuk acara serupa ini. Jarang-jarang lho!"

Tapi saya teringat nasihat ibu angkat saya ketika masih bersekolah di Melbourrne dulu,

"Anisa, makanan di syurga akan selalu lebih baik dari makanan sehebat apapun di dunia ini. Jadi, mengapa takut give up makanan-makanan dunia untuk puasa-puasa kita?"

Dan saya berhasil melalui shaum saat masih di Jakarta.

Ketika di Pontianak, saya kembali mendapat "bisikan", kali ini berasal dari dalam diri saya sendiri. "Kamu masih sangat lelah dan di sini sangat panas, kamu bisa dehidrasi! Kalau kamu sakit sekarang, nanti Ramadhanmu jadi tak maksimal lagi!"

Lagi-lagi sesuatu yang lain datang dan mengusir bisikan itu dengan bisikan lain,

"Ramadhan katamu? Siapa bilang aku sudah pasti tiba di sana? Tugasmu sekarang wahai hamba Allah bernama Nuril Annissa, adalah berusaha mempersiapkan amal terbaikmu dalam menyambut Ramadhan itu sendiri. Ayyamul bidh saja, kemarin-kemarin dalam Sya'ban ini toh puasamu masih bisa dihitung pake jari-jari sebelah tangan saja. Jangan dengarkan bisikan itu!"

Lalu saya pun melanjutkan shaum. Dan alhamdulillah, meski lelah, diuji baik emosi dan pikiran sebab meski jauh dari Aceh tercinta tapi tetap di-SMS dan ditelepon oleh beberapa orang yang memiliki kepentingan dengan saya serta sederet masalahnya, saya bisa memenuhi shaum ayyamul bidh Sya'ban ini.

Satu kebaikan akan menyulut kebaikan lain, begitu seorang saudari pernah berkata.

Maka, dalam perjalanan seminggu yang lalu saya tiba-tiba mendapati beberapa doa saya terkabul!

1. Saya mendapat handphone yang kameranya bagus (5 MP); saya anggap pengganti kamera saya yang telah rusak. Handphone tersebut merupakan hadiah bagi setiap peserta Young Leaders for Indonesia 2010 sebab salah satu sponsor acara adalah sebuah perusahaan elektronika terkemuka di dunia.

2. Cash (uang jatah sebagai bagian kontingen Aceh ke Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Pontianak dan beberapa lain). Sudah lama rekening saya kosong sebab saya hanya bisa mengeluarkan biaya tanpa bisa mengisinya kembali sebab tidak punya cukup waktu untuk mengajar di bimbel atau menjadi translator atau sekedar translating dokumen orang sejak masuk semester 4 kemarin. Kuliah di kedokteran saja sudah cukup membuat nafas tercekat dan itu belum termasuk kegiatan "aksesoris" lainnya di BEM, LDK, FLP, dsb. 
*aksesoris gimana, kayanya lebih fokus ke "aksesoris" deh daripada kuliah hehe*

Sehingga saya sempat berdoa agar Allah memberi saya masukan lagi agar ketika Ramadhan dapat infaq dengan uang sendiri dan bukan uang jajan dari orang tua. Alhamdulillah 


3. Saya mendapat penghargaan terbaik I untuk kategori penulisan cerpen di Pontianak. Ini juga agak "sinetron" ceritanya. Mulai dari nulis draft awal cerpen dalam dua jam saja. Mengemis ide dari teman-teman FLP di tengah malam. Mendatangi pelatih nyaris tengah malam sementara keesokan harinya harus mengurusi teman-teman yang mendaftar DPM dan calon gubernur BEM (surat motivasi dan makalahnya dsb) demi mendapat sepotong masukan. Menghabiskan lembar biru terakhir dalam dompet demi mengkopi cerpen tersebut beberapa rangkap dan segala macam keperluannya. HIngga harus menunggu 2 jam dijemput dari bandara Supadio di Pontianak sebelum dibawa ke arena Pekan Seni Mahasiswa Nasional. Kapan-kapan ini dibahas sendirian deh. Yang jelas, teori "The Power of Kepepet" agak banyak aplikasinya di sini hehe.


4. Saya dapat menjelajahi meski sedikit, bagian dari Kalimantan. Ini akan saya ceritakan nanti. Mengesankan sekali. Saya membawa pulang sebotol pasir pantainya sebagai oleh-oleh paling berharga berbentuk riil dari sana.


Anyway,
terima kasih sudah bertandang ke mari dan membaca tulisan random ini!
Semoga bermanfaat dan tetap membuat semangat menjalani perjuangan meski aral apapun yang melintang! 

*pede banget sih ini tulisan bikin semangat?? hoho*

Darussalam menyambut Ramadhan,
3 Agustus 2010

No comments:

Post a Comment