Sunday, May 27, 2012

[Catatan Perjalanan dari dan ke Tanah Abang] Wajah-wajah Datar

Bahwa selama ini apa yang dipertontonkan di televisi terutama sinetron-sineton atau layar lebar yang menurutku berlebihan dalam memotret wajah kehidupan orang-orang itu, benar adanya, membuatku semakin mempertanyakan rasa syukurku kepada Tuhan.

Bahwa memang ada yang sliweran di sepanjang koridor gerbong kereta dan menjajakan entah barang apa lagi selain makanan dan minuman yang didorong dalam ember bekas cat berukuran besar. Ada yang menjual Quran mini, ada yang menjual masker, ada yang menjual stiker, ada yang menjual aksesoris rambut dan kepala, dan masih banyak.

Namun wajah-wajah berbedak debu itu tetap datar; susah bagiku mereka dari mana mereka berasal, apa yang mereka makan dan kapan itu terakhir kali mereka makan, dan bagaimana? Tentu saja tidak mudah hidup mereka. Karena jika mudah tentu mereka tidak akan susah payah lalu lalang menjual barang-barang demi lembar-lembar bernilai rupiah dalam genggaman.

Wajah mereka datar. Wajah yang tidak sedang pun mengerutkan kening. Wajah yang tidak meneteskan air mata. Wajah yang tidak sedang kesal. Wajah yang tidak tertindas. Mereka bebas bercumbu dengan angin stasiun demi stasiun dan akrab dengan lantai kotor dalam gerbong tiap kereta. Beberapa bahkan membiarkan tapaknya tanpa alas apa-apa.

Wajah mereka yang hidupnya pelik itu mengetuk pintu hatiku.

"Wahai perempuan yang bernama Cahaya."

"Ya? Kau memanggilku? Kau kah yang mengetuk pintu hatiku tadi?"

"Ya. Aku yang mengetuk pintu hatimu tadi."

"Apa gerangan kaudatangi aku begini? Apa yang mendorongmu ke mari?"

Kau menyenyumiku lalu berkata, "Wajahmu. Wajahmu yang menyirat luka itu. Wajahmu yang mengeja duka itu. Wajahmu yang menggambar nestapa itu. Wajahmu yang menghalau setiap garis kecewa dan sakit jiwa untuk berkumpul di setiap inchi raut yang ada itu yang memanggilku ke mari."

Aku tentu saja mengernyit. "Lantas?"

"Kau tak pantas memiliki wajah-wajah serupa itu. Wajah-wajah tak elok. Kaulukakan banyak dengan wajah serupa itu, tak ingatkah?"

Aku menghela nafas. Sambil mengatur agar ujung rokku tak kotor terkena becek di depan teras, aku perlahan duduk. Kau pun, di sampingku.

"Aku ingat sekali. Burai air mataku mengetahui luka-luka yang kutimbulkan di hati mereka sangat amat membuatku malu untuk kembali berjalan sebagaimana mestinya. Kautahu, makin nyaman hatiku berjauhan dari mereka. Aku ingin menjadi orang lain saja. Pindah kota segala. Mulai hidup baru saja. Wajah-wajah ini yang kumiliki tidaklah beri guna bagi yang sudah menitipkan banyak cerita pada jiwa yang begini papa."

Kau kembali menyenyumiku. Kautepuk pundakku dan berkata, "Bukan namamu yang harus kauganti. Wajahmu saja, ya, wajahmu saja yang kauganti. Itu kan, mengapa tadi kukata aku hadir ke depanmu begini?"

"Wajah-wajahku ini begitu beku, Kawan. Sebeku yang kusimpan di balik rusukku."

Kau ditelan senyap. Kali ini tanpa senyum hanya diam. Namun kautolehi aku dan menyambung, "Maka perlu sesekali kaurintangi bahaya itu dan ini. Cari cara agar beku itu hilang dan berganti dengan cair yang mengalir. Hingga wajah-wajahmu tak lagi beku. Hingga tak ada lagi yang luka. Ah, nama dan kota baru? Jika memang hatimu akan tetap begitu beku, dengan nama dan kota baru pun kau tidak akan pernah bisa merubah wajah-wajahmu."

Aku hela debu yang melintas. Kemudian membiarkan beberapa bulir menyesak kelopak mata mengecup pipi lantas membasahi kerudung hitamku.

"Wajah-wajah yang seperti apakah itu yang harus kuciptakan sekarang, wahai Kawan?"

Kaumenatapku dan bangkit dari dudukmu, lalu membuka suara, 
"Wajah-wajah yang dirasuki cahaya dari sana, ", kau menunjuki matahari, 
"Dan cahaya dari sana, ", kau menunjuki pantulan cahaya di cermin kereta,
"Dan cahaya dari sana, ", kau menunjuki kilau cahaya di embun yang enggan turun dari daun,
"Dan dari sini," katamu sambil menunjuk dadamu dalam-dalam.

Aku terus membiar pandanganku mengaca. Basah setiap angkuh, meski belum begitu rapuh untuk runtuh.

Maka ketika ku kembali ke dunia nyata, kudapati aku masih di sana dalam kereta dari stasiun Tanah Abang; duduk mendekap tas takut dicopet sementara bibirku terus merapal zikir senja. Wajahku? Kucoba datar juga.

               
"Karena berwajah manis adalah bagian dari rasa bersyukur. Bersyukur atas hidup kita yang JAUH lebih baik dari banyak manusia di luar sana. Bermuka datar terus, apa bedanya kita dengan boneka Danbo yang benda MATI itu?"

Darussalam, 11 Agustus 2010

No comments:

Post a Comment