Friday, May 25, 2012

Sedikit Tentang Alue Naga

Tiap kali merasa penat, saya sering menciptakan "getaway" sendiri dengan mengunjungi Alue Naga, sebuah pantai yang jaraknya hanya 10 menit dari wilayah kampus Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda aceh. Di sana saya suka duduk memandangi laut sambil mendengarkan musik dan sesekali mengajak satu dua teman untuk menyertai.

Pantai ini tidak semenarik pantai-pantai lain di sisi berbeda kota ini. Bahkan bisa dibilang, ia cukup tidak terurus dan sepi dari restoran dan penyedia akomodasi khas liburan a la tepi pantai.

Dan bagi saya, justru ketenangan (yang kadang ditemani teriknya mentari sebagai atap) yang ditawarkan Alue Naga adalah sebuah sedatif bagi kecamuknya pikiran. Ianya menjadi semacam simbol antara hidup yang saya sedang jalani dan mimpi-mimpi yang saya ingin capai. Mengapa? Sebab ianya terletak antara kampus tempat saya menghabiskan sebagian besar usia saya dalam 4 tahun terakhir dan pulau Weh di kejauhan, tempat saya belum lagi pernah puas melampiaskan rasa petualangan di sana. Sehingga, tiap kali duduk di Alue Naga, saya selalu mendapatkan diri saya merenung panjang. Tentang kenyataan dan impian masa depan.

Meski tidak seindah banyak lokasi wisata lain di Banda Aceh, daerah ini tetap tidak terlalu buruk. Di kejauhan gunung Seulawah masih setia tegak dan kadang puncaknya diselimuti awan. Seulawah tak sendiri, di kejauhan yang lebih jauh, Bukit Barisan anggun melatari. Dengan jembatan yang membelah Krueng (Sungai) Aceh yang menghubungkan Lingke dan Krueng Cut yang sayup-sayup dilalui pengendara, apik dan panoramik terasa di hati. Lautnya cenderung hijau, terutama saat langit memutuskan biru cerah pada masa-masa tertentu. Di sisi lainnya, tampak pula puing-puing pilar jembatan yang suatu hari pernah ada; sebelum dihancurkan oleh gelombang Tsunami di 2004. Perumahan beratap biru dan sebuah mesjid berkubah perak dan berdinding hijau-putih yang dibangun pasca bencana akbar itu pun menghiasi mata.

Tempat favorit di mana saya bisa mengobservasi gambaran di atas adalah di bebatuan di tepi Krueng Aceh yang bermuara langsung ke Samudera Hindia, sebelum benar-benar bertemu pepasir pantai. Di sini para pemancing sering ditemui. Tak jarang pelancong-pelancong berupa pasangan (saya baik sangka mereka sudah menikah) atau keluarga terlihat duduk makan bakso goreng atau jagung di sana juga. 

Dulunya area ini kurang terkenal. Namun semenjak Visit Banda Aceh Year 2011, nama Alue Naga dapat ditemui di beberapa papan hijau penunjuk arah di beberapa titik menuju Alue Naga. Alhasil, pantainya yang dulu lebih sering sepi dari jejak dan sisa manusia kini tak lagi demikian. Meski tak seramai lokasi wisata lainnya, jumlah sampah di pantai ini seingat saya sudah berkali lipat dari yang pernah saya lihat 4 tahun lalu. Sebuah PR besar bagi siapapun yang bangga akan nama Alue Naga sebagai salah satu objek wisata di kota Banda Aceh ini. Saya jadi terpikir kadang-kadang, ingin membuat gerakan mengutip sampah di sepanjang garis pantai Alue Naga ini, tapi belum kesampaian hingga kini. Suatu masa insya Allah.

Sebenarnya keberadaan pulau Weh di kejauhan Alue Naga adalah sebuah pemantik ketenangan yang spesial dari pantai ini. Keindahan kota Sabang atau pulau Weh secara umum seperti terasa begitu dekat, mudah sekali dicapai bahkan oleh para kapal nelayan yang banyak tinggal di desa di tepi pantai Alue Naga ini. Buat saya hal ini selalu mengingatkan saya bahwa mimpi itu bisa saja begitu dekat, namun tetap mustahil bagi mereka yang tidak "naik perahu/kapal" menujunya. Sebuah semangat merenungi cita-cita yang bisa dilihat secara nyata, tambah sedikit permulaan untuk berusaha , lalu melanjutkan usaha tersebut, lalu lanjut lagi, lalu lanjut lagi. Sampai tiba ke sana.

Sebab menuju pulau Weh, meski terlihat jelas dari Alue Naga, harus tetap berangkat menggunakan kapal dari pelabuhan Ulee Lheue, yang jaraknya sekitar 20-30 menit dari Darussalam. Di sana harus membayar tiket, lalu naik kapal dan bertahan di atasnya selama 45 menit atau 2 jam perjalanan (tergantung kapal;kapal cepat atau kapal penumpang yang lebih lambat). Lalu baru tiba.

Begitu pula dengan kehidupan kita. Meski mimpi-mimpi kita hias sebagai bahan majalah dinding di kamar kita, tanpa usaha untuk bergerak menujunya, itu semua hanya pemanis dinding kamar belaka. Dan bukan untuk itu kan, kita menaruhnya di sana?

Alue Naga menenangkan saya. Alue Naga juga memberi saya pelajaran. Alue Naga mengingatkan saya akan banyak kenangan bersama teman-teman yang pernah saya ajak ke mari. Alue Naga seperti memahami kepribadian saya. Alhamdulillah.

No comments:

Post a Comment