Wednesday, May 30, 2012

Seperti Corong Pengeras Suara



Tak harus berpikir. Tak harus menurutkan sekian juta neurotransmitter tumpah dari satu titik ke titik lain dalam sistem saraf pusat manusia. Tak harus mengiyakan adrenalin melompat dari satu pembuluh darah ke pembuluh lainnya. Sama sekali tidak perlu membiarkan tekanan intra kranial meningkat barang seberapa kecilpun.

Karena kita harusnya seperti corong pengeras suara saja.

Yang diambil para mahasiswa ketika mereka ingin suaranya bergema hingga ke setiap tiang dan dinding kampus. Yang dibawa pula ketika mereka ingin suaranya didengar dari balik tembok kantor gubernur yang tebal. Yang diusung pula ketika mereka ingin mengajak warga sekota yang kebetulan lalu lalang di simpang tengah kota agar segera membuang puntung rokoknya.

Suara besar dengan ide yang dikukus langsung dalam otak-otak segar milik para pemuda yang mengedepankan jernihnya masa depan bagi semua. Lantangnya pendapat seperti bumi pasti akan berguncang mendengar tiap tuntutan yang hadir murni dari simpati.

Seperti corong pengeras suara.

Yang patuh mendendangkan lagu-lagu perjuangan ketika aksi para tokoh masyarakat di tengah reformasi tertentu di peradaban tertentu pula. Yang gelegarkan setiap daun pintu, membuat malu para pemuda yang bersembunyi di balik selimutnya. Yang mengundang para wartawan dan pencari/pencuri berita bak makrofag yang diundang oleh Interleukin dalam proses peradangan suatu lesi di permukaan kulit manusia. Corong pengeras suara; tanpa baterai. Tanpa sakelar listrik. Dan seperti corong pengeras suara itulah, aku ingin.

Seperti corong pengeras suara. Dengan suara-suara tanpa harus berasal dari manusia beserta seluruh tamaknya. Dengan isi nurani tanpa ada yang memasang kawat tajam di bagian pegangan tangannya. Dengan mars-mars kemerdekaan tanpa mata-mata yang mencuri judul tajuk utama.

Seperti corong pengeras suara. Yang menjalankan tugasnya, tanpa mau dilumuri minyak gemuk kotor endapan mesin koloni berabad lalu pada jalan-jalan yang dilalui bersama bahananya kata-kata. Yang bersuara bahkan jika punah sudah semua manusia.

Seperti corong pengeras suara. Dikurangi mulut-mulut yang tidak stabil beridealisme di belakangnya.




Lamkeuneung, 15 September 2011
22.12 WIB

3 comments:

  1. ealah, si Isni ini.. (_ _")

    komen lain keeek!

    ReplyDelete
  2. seperti corong pengeras suara seperti itulah diri kita. apa yang kita ucapkan cerminan dari pribadi kita. :)

    ReplyDelete