Saturday, May 26, 2012

Sudah Empat Tahun (Bahkan Lebih)


Sudah empat tahun (bahkan lebih) sejak kepulanganku dari Melbourne. Sudah empat tahun aku mulai menata kembali kepingan-kepingan baru yang terserak di Kutaraja ini. Memori-memori baru. Kesibukan baru. Sepeda motor baru. Prioritas-prioritas baru. Dan itu semua, kali ini tanpa Musim Dingin yang biasanya membalut luka dengan sempurna ketika masih merantau di Australia sana. Ya, di sini hanya ada kemarau dan hujan. Matahari terhitung setia menemani angkasa dalam hitungan tahun. Hangat. Cukup hangat bagi banyak bakteri dan kuman di luar sana untuk menciptakan berbagai wabah dan bencana biologis dalam masyarakat.

Bukan, aku bukan sedang menyombongkan perantauanku yang cuma 2.5 tahun di negeri Kangguru itu. Karena sungguh, sebenarnya aku lebih banyak menghabiskan usiaku di Tanoh Endatu ini, Aceh yang diberkahi Allah ini. Aku lahir di sini. Jika menggunakan teori Freud di mana kepribadian itu dipengaruhi oleh usia belia, maka hampir bisa dipastikan, asam sunti dan pliek u lah yang kebanyakan mengalir dalam darahku; aku orang Aceh, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya.

Lalu Tsunami terjadi. Sekian ratus teman seangkatanku di SMAN 3 Banda aceh meninggal atau hilang. Seorang saudari yang turut andil dalam rantai penerimaan hidayah dalam hidupku pun diambil-Nya. Kelam sekelam-kelamnya. Tak pernah kulihat kotaku sedemikian matinya. Tanpa listrik, tanpa sinyal telepon genggam. Mayat bergelimpangan. Reruntuh menjadi hiasan kota. Lumpur menjadi permadani baginya. Langit kadang membiru, cerah dengan awan-awan indah putih berkilau, namun untuk beberapa waktu, kecerahan itu tidak sepadan dengan sendunya wajah-wajah di hamparan negeriku ini. Kesedihan meraja. Dunia nestapa.

Dan satu per satu orang-orang datang. Memberi bantuan itu bantuan ini. Pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, psikologis, dan entah apa lagi terminologi yang mewakilkan bantuan yang mereka berikan kepada kami di negeri yang waktu itu masih dalam kecekaman konflik.

Dan lalu aku pun mendapat satu hikmah darinya. Beasiswa menyelesaikan SMA di ibukota state of Victoria pun atas segala puji bagi-Nya Yang Kuasa, aku dapatkan. Dari Juli 2005 hingga Desember 2007, dengan kepulangan setiap Summer Holiday (Desember-Januari).

Di sana aku belajar bangun tidur lebih tepat waktu, agar sempat shalat subuh dengan waktu yang dijaga sendiri. Agar tidak ketinggalan bus yang selalu datang sesuai jadwalnya. Agar tidak harus menunggu bus selanjutnya yang jelas akan membuat terlambat keseluruhan jadwal lainnya.

Di sana aku belajar mengantri dengan tenang. Membayar dengan jujur. Menyapa tetangga dengan baik. Menjaga jilbab meski dikata-katai. Mendirikan shalat di pinggir danau, di tepi sungai, di kebun binatang, di dalam tram, di dalam train, di perpustakaan, dan entah di mana lagi.

Di sana aku belajar berdiri sendiri. Sebab teman-teman yang dulu ada di sisi tak ada lagi. Tak pun sering mereka komunikasi. Faktanya, kebanyakan punya hidupnya sendiri-sendiri. Maka aku belajar percaya akan diri sendiri. Tegak berdikari. Mengalokasikan uang jajan ke sana ke mari, agar sekedar bisa punya flash disc, kamera, celengan, dan pulsa untuk SMS dan telepon ke Aceh sesekali.

Di sana aku belajar menghargai kedua belah tanganku ini. Di sana aku mulai menggunakan laptop untuk pertama kali. Menulis itu dan ini. Tugas sekolah kadang, ada juga menulis pengalaman di laman ini. 

Di sana aku belajar tentang daun-daun yang jatuh. Rumput yang senantiasa hijau. Danau yang selalu menyenangkan. Jalan-jalan lebar. Es krim 50 cent. Spaghetti sebagai makan malam. Kentang goreng sebagai pengganjal perut di siang hari. Segalam macam pan pizza dan toppingnya.

Ah, banyak memori. Banyak kenangan. Meski hanya selama tiga tahun kurang sedikit, aku belajar banyak. Aku berkembang banyak.

Lalu aku kembali ke negeri ini. Aku seperti diturunkan ke Pasar Aceh dari sebuah taxi. Dari kenyamanan AC ke lembabnya udara ramai. Kembali ke realita. Bahwa Banda bukan Australia. Bahwa aku punya banyak hal yang harus dikerjakan. Bahwa bumi tidak hanya berisi kebahagiaan tetapi juga duri-duri untuk dilompati.

Awalnya sulit. Malah sangat depresi melihat banyak orang melanggar lampu merah. Sangat marah melihat orang membuang sampah dari jendela mobilnya. Sangat tidak nyaman melihat orang-orang tetap merokok di halaman mesjid. Sangat tidak suka dengan yang menyebut-nyebut kata "munafiq" bagi mereka yang sedang mencoba menjalankan syariat dengan baik. Singkatnya, aku hampir seperti tidak mengenali negeriku sendiri.

Sudah empat tahun sejak itu. Sejak aku membatalkan kelulusanku di Bio Medicine di University of Melbourne. Sejak aku kembali ke negeriku ini. Mengadu nasib di sini. Menjadi guru, tentor, translator, interpreteur, dan entah apa lagi. Lalu akhirnya berakhir di sini, menjadi seorang mahasiswi.

Sudah empat tahun sejak itu. Kini sudah tujuh semester aku menimba ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala ini. Dengan segala macam kelebihan dan kekurangan sistemnya, aku tiba-tiba sudah di akhir masa belajar pre-klinik ini. Dengan berbekal cita-cita ingin menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain dan cita-cita orang tua yang ingin anaknya menjadi seorang dokter, aku bertahan di sini.

Awalnya aku sempat sangat marah dengan diriku sendiri. Menolak semua hal yang terjadi padaku dengan menggerutu. Seperti sangat sampah dibandingkan keteraturan yang ditawarkan Australia yang sempat kuhidupi selama hampir tiga tahun itu.

Sumpek. Sesak. Panas. Korupsi. Penipuan. Gerakan. Kemahasiswaan. Politik. Hitam. Putih. Dan sederet hal lain yang membuatku semakin sering mengurut dada dan memijit kening.

Sudah empat tahun. Selama empat tahun terakhir inilah aku pun mencoba menyeimbangkan isi pikiran. Kulengkapi kebahagiaan dengan ujian. Kulengkapi Musim Dingin dengan panas yang menggigit dan AC yang tidak bekerja di kampus. Kulengkapi kelengkapan dan kemudahan mengakses bahan kuliah dengan bersusah-payah ke toko fotocopy di Darussalam untuk bahan kuliah yang baru lengkap sehari sebelum ujian. Kulengkapi kamus kehidupanku dengan banyak cerita yang tangguh melewati badai pasir setelah pernah kuketahui apa itu laut yang beku.

Sudah empat tahun. Sejak aku mengenal saudara-saudari yang sesungguhnya. Yang tidak hanya di sisi untuk tertawa, tetapi juga menyusun rencana dan strategi. Tidak larut akan dunia. Tidak ikut tidur atau pulang kampung ketika liburan. Mengorbankan diri bagi perbaikan demi perbaikan. Dan aku pun tersentuh. Ada yang masih tegak berdiri di tengah segala badai, dan mereka tidak banyak jumlahnya. Yang membuatku malu, sebab tidak menggerutu melainkan berbuat sesuatu. Yang turut menyeretku dalam perubahan demi perubahan di tengah angkara murka dan lalainya dunia.

Sudah empat tahun aku tidak banyak menulis sesuatu seperti ini. Biarlah ini menjadi sesuatu yang kusimpan hingga mati. Ya, tentang syurga yang harus dibeli dengan sepenuh harga diri. Meski itu berupa tak lagi kucicipi keindahan taman duniawi. Karena sebenarnya, tak perlu ke luar negeri untuk mencicipi aroma syurgawi.


Lamkeuneung, 20 Desember 2011, 23:01 WIB
di tengah lantunan Lirih-nya Chrisye dari Winamp.

No comments:

Post a Comment