Sunday, May 27, 2012

Teruslah Merindu


Aku menyeret sebongkah karung. Kuseret-seretnya ia dengan peluh menggumpal di tepi kening sebelah kanan. Genggamanku memerih dengan keringat yang menyatu dengan sayat-sayatan tipis hasil gesekan dengan karung yang kuseret ini. Kuseret dengan langkah yang tiada nyawa. Gontai bergerak menjejali lantai bumi dengan tapak-tapak tanpa warna.
"Kau mau ke mana?"
"Mengembalikan ini."
"Mengembalikan itu kepada siapa?"
"Kepada... Ah, bukan urusanmu."
"Apa gerangan memangnya?"
"Sekarung surat yang kugores dengan darah dan rasa rindu."
"Kau rindu?"
"Ya. Dulu. Kini sudah mati."
Gurun menjelma di hadapanku. Mendadak. Gulana menggulung semua danau dan air terjun yang biasa menjadi latar kata-kataku. Butir-butir pasir mengejar kelopak mata perlahan; memberatkan. Lalu kita makin jauh. Berpisah.


***
Aku tak lagi rindu. Janggal tapi. Sebab aku rela terluka demi menyerahkan surat-surat usang dari masa lampauku itu padamu. Menurutmu, mengapa aku berlaku begitu?
Ya, aku ingin kau tahu, aku tak bercanda ketika suatu kali sebelum kaupergi dan kurindui, aku pernah berkata, "Aku tak tahu seberapa lama kau akan pergi. Tapi aku tak akan berhenti menghujamkan huruf demi huruf pada lembar-lembar lontar yang kauhadiahi buatku. Aku hanya akan berhenti, jika aku berhasil melihatmu kembali."
Aku sesak dengan rindu ini. Aku hidup dalam maya. Terus merinduimu itu membuat semua sepatuku menyempit. Langkahku sakit. Kakiku lecet. Aku terlalu banyak berhenti hanya untuk membiarkannya pulih semula. Maka kupikir, aku harus menyelesaikan ini semua. Menemuimu. Memberikan semua surat yang gagal kukirim. Menemuimu. Agar aku punya alasan untuk berhenti merinduimu.
Dan sudah kutemui engkau untuk terakhir kali. Sudah kuserahkan seluruh tumpah ruah rinduku padamu. Kuberikan sekarung, sekarung penuh!
Kini, aku bingung. Setelah semua itu, aku masih saja rindu padamu.
***
"Karena di bumi ini, ada beberapa hal yang akan selalu menjadi bunga abadi di taman kehidupan manusia."
Aku senyap.
"Kita semua berjalan di tengah kegelapan, kecuali berhasil menyalakan lilin untuk menerangi sisa perjalanan kita."
Aku semakin menunduk.
"Maka, mengapa membuang cahaya padahal kau memang membutuhkannya?"
Pipiku basah.
"Jangan pernah kaubuang lagi. Itu karung berisi segala surat rindu, ambil lagi. Teruskan. Biarkan kertas-kertas itu membelamu nanti. Merindulah, meski itu akan menghabiskan segala sisa usiamu. Merindulah selalu."
Kau menepuk pundakku. "Hei, tak ada salahnya merindukan kebenaran. Walau nanti seluruh dunia mengiyakan kebohongan, tetap rinduilah kebenaran."
Waktu itu, kau pergi sambil melambaikan tangan. Matamu hangat, senyummu semangat.
Dan aku, kembali merindu.

"Yang kelabu Hening telaga biru
Berubah menjadi ungu senja
Tak terkikis batu hitam kelam
Di atas tegak tebing yang bersahaja
Semburat warna-warni cakerawala
Adalah lukisan terindah
Rindu air pada muara
Setelah lelah berliku" 
- Kidung Bumi (Fully feat Vagabond)
Lamkeuneung, 25 Februari 2012, dini hari.

2 comments:

  1. nice..
    kadang semua butuh pengorbanan, sekalipun itu perasaan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya. dan kadang mengorbankan perasaan itu bisa lebih menuntut energi. Allah Maha menilai :)

      Delete