Sunday, May 27, 2012

We Shall Overcome (Sebuah Renungan dari film "My Name is Khan")

Pertama kali mendengar lagu dari film "My Name is Khan" oleh para jemaat Kristiani yang ditemui Khan dalam perjalanannya menemui presiden Amerika Serikat ini, saya "ngena". Pas dengar lagunya, langsung suka. Air mata tumpah bak air bah. Sebab saat itu saya pribadi sedang dalam keadaan sangat penuh pikiran-pikiran (baca : masalah, problematika, atau apalah istilahnya) yang sempat membuat saya agak down. Saya merasa sendiri dan tidak tahu hendak menceritakan perasaan saya kepada siapa. Dan lagu ini hadir, tepat di saat saya bertanya kepada siapakah seharusnya saya menyandarkan kegelisahan dan menitipkan harapan.

"We Shall Overcome" merupakan lagu yang diciptakan sebagai wujud protes yang kemudian menjadi anthem untuk pergerakan hak-hak sipil rakyat Amerika Serikat. Lagu ini diangkat dari lagu Gospel oleh Charles Albert Tindley. Lagu ini pertama kali diluncurkan pada tahun 1947 di People's Songs Bulletin. Singkatnya, lagu ini sering dijadikan anthem dalam gerakan-gerakan protes di berbagai belahan dunia (sumber : Wikipedia)

Baik, anda mungkin berpikir saya mulai melenceng. Saya mulai menggunakan "ayat-ayat" agama lain dalam memotivasi diri saya dan bahwa saya tidak lagi menganggap kitab suci agama kita dapat memberi motivasi bahkan lebih dari apapun. Saran saya, kita semua membaca tulisan saya ini hingga akhir dan kemudian, beri saya masukan yang membangun dan buat saya mengapresiasi anda karena telah memberi masukan atas dasar melihat masalah - sudah dalam - keadaan yang menyeluruh.

Perhatikan lirik lagu "We Shall Overcome" berikut ini :


We shall overcome, We shall overcome, We shall overcome, some day.
(Kita akan bisa melewatinya, suatu hari nanti.)

Oh, deep in my heart, I do believe We shall overcome, some day.
(Oh, dari lubuk hati terdalam, aku percaya. Kita akan bisa melewatinya suatu hari nanti.)

We’ll walk hand in hand, We’ll walk hand in hand, We’ll walk hand in hand, some day.
(Kita akan berjalan bergandengan tangan, suatu hari nanti.)

Oh, deep in my heart,
(Dari lubuk hati terdalam,)

We shall live in peace, We shall live in peace, We shall live in peace, some day.
(Kita akan hidup dalam kedamaian suatu hari nanti.)

Oh, deep in my heart,
(Dari lubuk hati terdalam,)

We shall all be free, We shall all be free, We shall all be free, some day.
(Kita akan bebas suatu hari nanti)

Oh, deep in my heart,
(Dari lubuk hati terdalam,)

We are not afraid, We are not afraid, We are not afraid, TODAY
(Kita tidak takut bahkan hari ini)

Oh, deep in my heart,
(Dari lubuk hati terdalam,)

We shall overcome, We shall overcome, We shall overcome, some day.
(kita akan melewatinya suatu hari nanti)

Oh, deep in my heart, I do believe We shall overcome, some day.
(Dari lubuk hati terdalam, aku percaya kita akan dapat melewatinya suatu hari nanti)


Dari lirik di atas, apa yang teman-teman dapatkan?

Optimisme bukan?

Jika dilihat di film "My Name is Khan"-nya langsung, yang menyanyikan lagu ini adalah kaum Negro yang notabene mendapatkan banyak diskriminasi dalam kehidupan sehari-harinya di negeri Paman Sam sana. Ya, politik Apartheid sudah dikubur mati, tapi sisa-sisanya saya yakin sangat masih ada. Dapat dilihat di film tersebut, saat terjadi bencana, mereka hampir mati dibiarkan bertahan dalam badai besar yang melanda negara bagian mereka tanpa bantuan yang memadai. Bantuan malah datang pertama kali oleh masyarakat sipil dan Rizwan Khan yang jelas-jelas beda agamanya dengan mereka (baca : Rizwan adalah seorang muslim sementara mereka Kristiani).

Optimisme yang ditunjukkan oleh kaum "Black-skinned" ini yang membuat saya selalu takjub. Mereka sangat bisa menyanyikan optimisme ini dan menularkannya pada orang lain menurut saya.

Dan Rizwan Khan? Lepas dari kontroversi ia menikahi seorang non muslim (Ada yang mau memberi pandangannya tentang hal ini? Saya tidak cukup ilmu untuk membahasnya), ia membuat saya mengingat sebuah hadits

Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ad-Daruquthni dan Ath-Thabaran)

Duh! Saya jadi terpikir, sudah seberapa bermanfaatnya saya sebagai seorang muslim? Padahal agama kita Islam adalah Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi seluruh alam)! Entahlah untuk seluruh alam, tapi untuk umat manusia saja, sudah seberapa besar manfaat yang kita kontribusikan? Atau kita hanya terjebak dalam lingkaran memberi manfaat hanya pada diri sendiri saja dengan hanya melakukan hal-hal yang cuma bisa memberi keuntungan untuk diri sendiri atau paling banter untuk sekedar keluarga saja? Padahal Allah tidak mungkin mengatakan bahwa agama kita rahmat bagi seluruh alam jika kita (sebagai orang-orang yang ber-Islam itu sendiri) tidak bisa mencoba melakukan hal yang sama!

Kembali ke topik utama, lagu "We Shall Overcome" di atas memang lagu umat agama lain, tapi bagi saya lagu itu malah membawa saya ke beberapa ayat Alquran berikut ini

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.  Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap."      - QS Al-Insyirah ayat 5-8

Dan saya akhirnya kembali "sadar". Ya, bukankah memang begini diciptakan-Nya? Diciptakan-Nya kesulitan untuk lalu kita akan melewatinya suatu hari nanti dan kemudahan itu akan menggantikannya?

Dan perhatikan, Allah membuat penekanan akan janji-Nya ini dengan mengulang isi ayat 5 pada ayat 6! Maha Suci Allah, bukankah Dia sedang memotivasi kita semua dengan kata-kata-Nya langsung?

Dan lihat juga, pada akhir surat Dia berkata, bahwa hanya pada-Nya lah hendaknya kita berharap. Di poin ini, saya luluh. Ya, ada makna "hendaknya" di sini. Allah tentu tahu bahwa kita manusia ini suka sekali berharap pada yang lain dulu sebelum kapok harapannya tidak berbalas baru pada akhirnya berharap pada Tuhannya.

Saya malu. Malu sekali. Sebab saya sudah masuk ke golongan kebanyakan itu yang sudah menggantungkan harapan tidak pada-Nya yang pertama. Maka saya berakhir dengan kekecewaan. Kesakitan. Keterpurukan. Patah hati. Tergelincir dosa. Dan ah, sungguh, berharap pada selain-Nya benar-benar tidak bisa membuat saya cukup yakin untuk terus melanjutkan kehidupan ini.

Maka ketika melihat umat agama lain itu begitu yakin dengan agamanya ketika menyanyikan lagu ini, saya tertampar untuk ke sekian kalinya dalam hidup ini. Saya punya Allah yang ayat-ayat-Nya lebih bisa menggemparkan egoisme saya dan saya atau mungkin kita semua masih suka menutup mata dan malah menyepelekan agama kita. Padahal lihatlah, bukankah semua kekuatan sebenarnya berasal dari keteguhan dan kedamaian hati? Sementara keteguhan dan kedamaian hati mustahil didapatkan tanpa perenungan yang mendalam akan hidup ini! Dan jika sudah merenungi alam ini dalam-dalam, manusia PASTI akan bertemu Tuhannya. Seperti Ibrahim (alaihissalam). Seperti Cat Steven. Seperti banyak muallaf di luar sana rasakan. Seperti yang saya secara personal juga rasakan. Ah, itulah mengapa Allah menyuruh kita untuk "bertebaran" di atas muka bumi ini seperti disampaikan-Nya dalam QS Al-Jumu'ah ayat 5

"Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung"       -QS Al-Jumuah ayat 5
Ya, bahkan sebelum Rizwan Khan berkelana ke berbagai negara bagian di Amerika Serikat dalam "My Name is Khan" , Tuhan kita sudah menyuruh kita untuk "merantaui" dunia ini dalam rangkat mengingat-Nya alias bertafakkur tenntang ciptaan-Nya. Bertafakkur tentang bagaimana meski musim gugur merontokkan hampir seluruh daun-daun pepohon yang ada, musim semi akan kembali hadir dan menyuguhi mata kita dengan dedaun muda yang hijau kembali. Bahwa beku mencekam musim dingin akan segera dicairkan pula oleh musim semi dengan kehangatan. Bahwa setelah kesulitan itu ada kemudahan. Yes, we shall overcome! Mengapa takut mengarungi semua hambatan dan masalah ini jika kita tahu Dia akan menggantikan semua ini dengan kebahagiaan nanti di akhirnya? Yakin, kita hanya perlu yakin. Sekali lagi, yakinlah, we shall overcome!



Lamkeunung, 18 September 2010, 22 : 31 WIB
*tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman di kampus FK Unsyiah secara khusus dan SEMUA PEMBACA secara umum dari berbagai elemen yang selama ini selalu saya temui dalam berbagai rapat/meeting/syuro/istilah lain untuk hal serupa dari hari ke hari. Ah, mengapa cuma untuk teman-teman saya saja? Saya dedikasikan ini untuk teman-teman yang mungkin sedang atau pernah mengalami masa-masa sulit, apapun itu! 


4 comments: